Minggu, 23 Januari 2011

MENGARUSUTAMAKAN PENDIDIKAN KARAKTER

Saya sangat terkejut ketika membaca berita bahwa pada acara National Summit di Hotel Bidakara, Presiden SBY menyebutkan pentingnya pendidikan karakter dan reformasi pembelajaran di sekolah. Sepengetahuan saya, Persiden SBY tidak memiliki anak kandung yang sedang sekolah di SD, SMP, SMA atau kuliah di jenjang S1 dan cucu satu-satunya masih kecil yang tentunya belum sekolah. Artinya Presiden SBY tidak memiliki anak atau cucu yang mungkin bercerita bagaimana pembelajaran di sekolah. Jadi sangat mungkin ada faktor lain atau informasi lain yang masuk ke Presiden tentang pentingnya pendidikan karakter.
Kemungkinannya tentu sangat banyak, tetapi kalau sampai hal itu disebutkan secara eksplisit dalam pidato resmi di National Summit, tentu ada pihak yang dapat meyakinkan Presiden, sehingga hal itu dianggap sangat penting oleh Presiden dan mendesak untuk dilakukan. Saya jadi teringat suatu peristiwa makan siang pada hari Jum’at beberapa hari sesudah Idul Fitri tahun 2009. Saat itu saya diajak makan siang bersama oleh Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA (saat itu sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika). Makan siang sederhana dan diikuti oleh beberapa staf di Kementerian Kominfo.
Yang pokok bukan makan siangnya, tetapi diskusi sesudah makan siang. Setelah selesai makan siang, P Nuh mengajak diskusi santai dan seingat saya waktu itu hadir Prof. Dr. Abdullah Alkaf dan Dr. Son Kuswadi (keduanya saat itu sebagai staf khusus Menkominfo). Nah saat itu dibahas masalah pendidikan dan salah satunya pendidikan akhlak dan perilaku anak-anak kita yang cukup mengkhawatirkan. Seingat saya, saya bercerita tentang masalah nyontek yang sangat serius di sekolah. Dalam beberapa kesempatan bertemu dengan guru, saya bertanya: “jika ulangan dan bapak/ibu guru harus meninggalkan kelas untuk ke kamar kecil, berapa persen anak-anak yang nyontek?”. Sedihnya, para guru pada umumnya menyebutkan hampir seluruhnya, 90%, 80% dan seterusnya. Tidak pernah dijumpai guru yang berani mengatakan, tidak ada yang menyontek atau katakanlah yang menyontek dibawah 50%. Bukankah menyontek itu awal dari kebiasaan hidup menerabas, hidup yang inginnya punya hasil baik tetapi dengan tidak jujur. Bukankah itu indikator kita tidak berhasil atau katakanlah belum berhasil menanamkan kejujuran kepada anak-anak kita. Cerita itu kemudian menjadi diskusi yang panjang. Intinya kami yang saat itu ikut diskusi, sepakat betapa pentingnya pendidikan akhlak untuk memperbaiki perilaku anak bangsa.
Saya tidak tahu apakah saat diskusi itu Pak Nuh sudah tahu akan ditunjuk menjadi Mendiknas atau hanya karena sesama pendidik, kemudian mengajak diskusi tentang pendidikan. Yang pasti, dalam diskusi itu kami yang hadir merasa prihatin terhadap perilaku anak-anak kita. Waktu itu muncul seloroh: “orang tidak jujur sebaiknya tidak perlu pintar, agar tidak pandai berbuat jahat”, dan seterusnya. Intinya semua yang hadir dalam diskusi itu prihatin atas perilaku anak-anak kita, yang menunjukkan bahwa akhlaknya kurang baik.
Berangkat dari ingatan itu, saya berpikiran mungkin Pak Nuh yang saat menjadi Mendiknas berhasil meyakinkan Presiden SBY akan pentingnya pendidikan karakter. Mungkin juga dugaan saya salah, mungkin juga benar atau mungkin juga banyak masukan ke Presiden dan masukan dari Mendiknas hanya salah satu diantaranya. Yang penting adalah bahwa Presiden sudah menyatakan pentingnya pendidikan karakter dan itu dapat dimaknai, Kemendiknas harus melaksanakannya sebagai kebijakan penting. Dan betul juga, pendidikan karakter menjadi salah satu program 100 hari Kemdiknas.
Ketika tahu bahwa Pendidikan Karakter menjadi program 100 hari Kemdiknas, saya berseloroh: Itu timing-nya pas dan orangnya juga pas. Timing-nya pas, karena semua orang sedang risau tentang perilaku bangsa ini, sehingga pendidikan karakter dapat menjadi salah satu jawaban yang tepat. Orangnya pas, karena Pak Nuh sangat tepat sebagai figur karakter. Selama ini Pak Nuh dikenal sebagai orang yang pandai, santun, sederhana, pekerja keras, selalu menghargai orang lain dan dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Dalam rapat pimpinan di Kemdiknas ditetapkan bahwa yang menjadi penanggung jawab Pendidikan Karakter dalam program 100 hari Kemendiknas adalah Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan) dan unit utama lainnya menjadi mitra kerja pendukung. Oleh karena itu, Prof. Dr. Mansyur Ramli (Kepala Balitbang) segera bergerak cepat mengambil langkah menggelindingkan pendidikan karakter dan menunjuk Dra. Diah…..Sebagai Pembina perguruan tinggi, Ditjen Dikti tentu lebih tepat mendukung dari sisi konsep dan pengembangan serta pelaksanaan di perguruan tinggi. Namun, mungkin karena ingat pembicaraan saat makan malam di Kominfo itu, Pak Nuh secara khusus berpesan agar saya membantu pengembangan pendidikan karakter. Sebagai anak buah tentu saya siap melaksanakan perintah itu, apalagi jika mengingat dalam diskusi sesudah makan siang di Kominfo, kita yang hadir sepakat betapa penting dan mendesaknya pendidikan karakter di sekolah kita.
Kami segera mengadakan komunikasi dengan berbagai pihak, baik para ahli pendidikan, budayawan, praktisi dan para pemerhati pendidikan. Bak gayung bersambut, hampir semua pihak yang kami hubungi menyatakan sepakat dan mendukung pendidikan karakter. Dan yang lebih menggembirakan ternyata sudah banyak orang, sekolah, lembaga pelatihan dan sejenisnya yang sudah merintis pendidikan karakter dengan berbagai variasi nama dan pendekatannya. Oleh karena itu perlu dihimpun pemikiran dan pengalaman berbagai pakar, paktisi dan pemerhati pendidikan karakter. Itulah salah satu alasan dilakukannya Sarasehan Nasional Pendidikan Karakter di Hotel Bidakara, tanggal 14 Januari 2010. Saat itu hadir lebih 200 orang peserta terdiri dari pakar, praktisi dan pemerhati dengan latar belakang yang sangat beragam. Guru, kepala sekolah, pengawas, dosen, ahli pendidikan, pemerhati pendidikan, budayawan, agamawan, ilmuwan dan sebagainya. Walaupun semula peserta dirancancang 200 orang, ternyata yang berminat sangat banyak. Bahkan, pada malam sebelum sarasehan dilaksanakan, masih ada yang menelpun dan setengah “memaksa” untuk ikut. “Tidak usah undangan Mas, kalau sampeyan ijinkan saya besuk akan datang”, begitu permintaan teman tersebut. Tampil sebagai pembicara utama, Prof Yahya Muhaimin, Prof Magnis Suseno dan KH Sukri Zarkasyi (Pimpinan Pondok Gontor). Juga hadir figur ternama antara lain, Brigjen (pur) Soemarno Soedarsono dari Yayasan Jati Diri Bangsa, Mario Teguh dan sebagainya.
Sarasehan dirancang sedemikian rupa, sehingga semua peserta mendapat kesempatan menyampaikan gagasan dan pengalamannya. Oleh karena itu, sesudah penyampaian pemikiran tiga orang pembicara utama, sarasehan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dengan peserta sekitar 25 orang. Ternyata diskusi berjalan baik, semua peserta menyampaikan pendapatnya dengan antusias. Bahkan secara spontan muncul deklarasi tentang Pentingnya Pendidikan Karakter Bangsa yang dibacakan oleh wakil peserta yaitu Pak Irsyad Sudiro (seingat saya beliau juga anggota DPR RI) didampingi Ibu Femy dari Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
Dari dokumen yang kita pelajari, baik berupa acuan hukum yang merupakan landasan yuridis maupun teori dan konsep dari berbagai literatur, pendidikan karakter bukankah hal baru. Jauh sebelum kemerdekaan, Bapak Pendidikan Indonesia (Ki Hajar Dewantara) menyebutkan bahwa pendidikan adalah daya upaya memajukan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita. Jadi jauh-jauh Ki Hajar sudah mengingatkan bahwa salah satu potensi yang harus dikembangkan pada anak-anak adalah karakter. Bahkan jika kita empat pilar pendidikan yang dikenalkan oleh Unesco, yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together, maka pilar ketiga dan pilar ke empat identik dengan karakter.
Jika kita telusur pola pendidikan di awal peradaban, yang pada saat itu banyak dilakukan di padepokan, pondok pesantren dan institusi seperti itu, pendidikan yang menyangkut nilai-nilai kehidupan, watak, budi pekerti dan hal-hal yang seperti itu merupakan bagian pokok. Bahkan kata guru yang berasal dari bahasa Sansekerta bermakna pendidik spiritual, yang disamping mengajarkan hal-hal yang bersifat pengetahuan dan keterampilan juga mengajarkan nilai-nilai kebajikan.
Bagaimana dengan landasan hukum dalam pendidikan? Pasal 3 Undang-undang Sisdiknas menyebutkan bahwa pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tampak sekali bahwa secara yuridis sebagaimana disebutkan pada UU Sisdiknas pendidikan di Indonesia seharus menekankan aspek karakter. Dari delapan aspek yang disebut sebagai tujuan pendidikan, ternyata hampir semua terkait erat dengan karakter. Permendiknas nomor 23 Tahun 2003 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) ternyata mendukung pikiran tersebut. Pencermatan kami, dari 22 butir kompetensi lulusan SMA/MA/SMK, ternyata 11 butir sangat dekat dengan karakter.
Dengan demikian program Pendidikan Karekter yang menjadi salah program utama Kemendiknas bukankah hal baru, karena sudah diamanatkan UU Sisdiknas, Permendiknas 23/2003 dan didukung oleh teori/konsep pendidikan. Yang perlu dilakukan adalah mengarusutamakan pendidikan karakter dalam pelaksanaan pendidikan kita. Harus diupayakan agar pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam pendidikan, baik dalam proses pembelajaran sampai pada penilaian hasil belajar.
Menyadari bahwa istilah karakter memiliki cakupan yang luas dan juga menyadari untuk memulai hal baru dalam pendidikan dikenal prinsip “dimulai dari yang mudah, yang murah dan yang menyenangkan”, maka langkah selanjutnya kami berkerja keras menjabarkan apa itu cakup karakter yang harus dikembangkan dan bagaimana cara mengembangkannya. Topik itu juga yang sudah digali dalam Sarasehan Nasional Pendidikan tanggal 14 Januari 2010 dan juga dari sekolah/lembaga pendidikan yang telah merintisnya. Pak Nuh selalu menyebutkan, karakter tidak hanya tentang berbuat santun tetapi juga memiliki kepenasaranan intelektual (intellectual courioucity), sehingga pemikiran tersebut juga menjadi salah satu pegangan.
Kajian terhadap berbagai literatur menghasilkan pemahaman bahwa karakter dapat dirujuk dari teori pendidikan, psikologi, sosiologi dan sosial budaya serta dari prinsip-prinsip kehidupan menurut ajaran agama. Yang sangat menarik, kajian dari berbagai teori itu ternyata bermuara pada hasil yang hampir sama dan dapat digambarkan dalam bentuk empat lingkaran yang memiliki bagian interseksi. Dari satu sisi, karakter dapat bersumber dari hal-hal yang berasal dari hati dan bersumber dari pikiran/nalar. Di sisi lain, karakter terkait dengan hal-hal yang bersifat intra persersonal dan yang terkait dengan inter personal.
Mengingat sudah banyak sekolah dan lembaga pendidikan/pelatihan yang melaksanakan pendidikan karakter dengan berbagai variasi nama maupun pendekatannya, maka kami bersepakat mengambil beberapa sekolah dijadikan contoh pengalaman bagi yang lain. Akhirnya dibuatlah buku kecil berjudul “Pendidikan Karakter: Pengalaman Insipiratif dari Sekolah”, yang bersisi 10 pengalaman, 2 TK, 2 SD, 2 SMP, 2 SMA dan 2 SMK. Masing-masing sekolah disertai film pendek (sekitar 8 menit) yang berisi rekaman apa saja dilakukan masing-masing sekolah dalam mengembangkan pendidikan karakter.
Ketika buku kecil dan film pendek tersebut selesai dibuat dan ditunjukkan dan atau diputar dalam beberapa kesempatan rapat, ternyata banyak pihak yang ingin memiliki. Akhirnya diputuskan, sementara Kemdiknas belum dapat menggandakan, soft copy buku dan film tersebut diunggah dalam web Kemdiknas dan atau Dikti dan juga diberikan kepada beberapa lembaga/pihak yang memerlukan. Sangat menggembirakan, ternyata ada pihak yang baik hati dengan menggandakan soft copy tersebut dalam bentuk CD dan membagi-bagikan secara gratis ke sekolah-sekolah.
Sungguh menarik. Ternyata melaksanakan pendidikan karekter tidak memerlukan fasilitas khusus apalagi istimewa. Yang diperlukan adalah: (1) teladan dari guru, karyawan dan pimpinan sekolah, (2) dilakukan secara konsisten dan secara terus menerus, disertai dengan (3) penanaman nilai-nilai kehidupan sebagai acuan mengapa kita melakukan itu. Semua sekolah yang sudah melaksanakan menyatakan bahwa: “semua guru adalah guru pendidikan dan oleh karena itu harus memasukkan/menyelipkan dalam kegiatan pembelajarannya (intervensi), dan karakter ditumbuhkan lewat kebiasaan kehidupan keseharian di sekolah (habituasi)”. Budaya sekolah (school culture) merupakan kunci cari keberhasilan pendidikan karakter. Dengan demikian makin yakin bahwa semua sekolah dan lembaga pendidikan akan melaksanakannya.
Yang sangat mengejutkan, ternyata pendidikan karakter merupakan kepedulian banyak kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian serta lembaga swasta. Suatu saat Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mengundang rapat tentang pendidikan karakter yang dihadiri oleh kementerian di bawah koordinasinya. Ternyata semua yang hadir menyatakan punya program yang terkait dengan pendidikan karakter dan Kementerian Budaya dan Pariwisata (Budpar) punya direktorat khusus untuk menanganinya. Bahkan menurut informasi, kementerian lain seperti Dalam Negeri, Luar Negeri juga punya program serupa. Akhirnya diadakan rapat dengan mengundang berbagai kementerian dan bahkan juga mengundang Kwarnas Pramuka dan Yayasan Jatidiri Bangsa yang ternyata sudah lama mengembangkan pendidikan karakter.
Setelah beberapa kali rapat koordinasi antar kementerian dan lembaga, disusun program Pembangunan Karakter Bangsa yang merupakan program nasional lintas kementerian dan lembaga. Mungkin karena yang sudah memiliki draft adalah Kemdiknas, maka akhirnya draft desain induk Pendidikan Karakter Kemdiknas yang dijadikan bahan awal menyusun desain induk Pembangunan Karakter Banga. Tim inti Kemdiknas juga yang menjadi Tim Inti antar kementerian dan lembaga yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koodinator Kesejahteraan Rakyat.
Walaupun sampai saya mengakhiri tugas sebagai Direktur Ketenagaan program Pengarusutamaan Pendidikan Karakter masih dalam taraf awal, tetapi saya yakin akan berjalan dengan baik, karena didukung oleh semua pihak. Bahkan dalam rapat dengan Komisi X DPR RI, sebagian besar mereka mendukung program tersebut dan mengusulkan agar mendapat dukungan alokasi dana yang memadai.
Yang tampaknya perlu segera dikerjakan(disamping kegiatan lain) adalah bagaimana agar pendidikan karakter masuk dalam pengembangan sekolah secara utuh. Dua hal yang rasanya penting: Pertama, secara periodik guru dan sekolah perlu membuat laporan evaluasi diri (self evaluation) tentang karakter siswa yang diajar/dibimbingnya dalam kehidupan keseharian di sekolah. Laporan dibuat setiap semester dan secara sederhana. Misalnya seberapa kejujuran, tanggung jawab, kedisipilan, kebersian, kepedulian dan kreativitas siswa. Laporan dibuat dengan jujur dan yang menjadi perhatian adalah perkembangan dari waktu ke waktu. Bukankah itu yang menjadi tanggung jawab kita sebagai pendidik.
Kedua, bagaimana agar budaya sekolah yang menunjukkan karakter semua warga sekolah dapat menjadi komponen penting dalam akreditasi sekolah. Jika kita yakin bahwa pendidikan karakter itu penting dan strategi pokok dalam pendidikan karakter adalah budaya sekolah, logikanya budaya sekolah menjadi salah satu komponen penting dan pembinaan sekolah dan itu tentunya perlu masuk dalam akreditasi sekolah.Di samping masalah konten tersebut, koordinasi akan menjadi masalah penting sekaligus krusial dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Mengapa? Semua atau paling tidak sebagian besat unit kerja di Kemdiknas, khususnya “unit kerja operasional” akan memiliki program yang terkait dengan pendidikan karakter. Oleh karena itu penyelarasan antar unit kerja akan sangat penting. (diambil dari buku "Tiga Setengah Tahun Bersama Ditnaga")

Kamis, 13 Januari 2011

PERLU PARADIGMA BARU DALAM MERANCANG PENDIDIKAN

Tahun 2008 Tony Wagner menulis buku berjudul The Global Achievement Gap. Dalam buku itu Wagner mengungkapkan kerisauannya tentang isi pendidikan yang tertinggal jauh dari tuntutan kehidupan. Dari serangkaian riset yang dia lakukan, Wagner mengajukan the survival skills, yaitu critical thinking and problem solving, collaboration across network and leading by influence, agility and adaptability, initiative and entrepreneurialism, effective oral and written communication, accessing and analyzing information dan curiosity and imagination. Tahun 2009 muncul lagi buku berjudul 21st Century Skills oleh Bernie Trilling & Charles Fadel, yang nadanya sangat mirip yaitu menggungat bahwa pendidikan saat ini sudah using dan harus diubah. Trilling & Fadel mengajukan tiga skills yang harus ditumbuhkan di sekolah, yaitu learning and innovation skill yang terdiri dari creativity and inoovation, critical thinking and problem solving, communication and collaboration, digital literacy skills yang mencakup information literacy, media literacy, ICT literacy, dan career and life skills yang mencakup flexibility and adaptability, initiative and self direction, social and cross cultural skills, productivity and accountability, leadership and responsibility.

Mengapa pendidikan saat ini dianggap usang dan digugat tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan kehidupan di masyarakat? Bukankah pendidikan bertujuan untuk memgembangkan potensi anak didik, sehingga siap menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata? Apakah kita salah dalam merancang pendidikan, sebagaimana diuangkap oleh Charles Handy dalam artikelnya Finding Sense in Uncertainty?

Sebenarnya hal di atas sudah diduskusikan secara intens pada tahun 2002an dan bahkan di era Mendikas Pak Malik Fajar pernah diterbitkan naskah berjudul Kecakapan Hidup (Life Skills). Naskah itu intinya menjelaskan bahwa kita harus melakukan perubahan paradigma dalam merancang pendidikan. Pendidikan bukan diarahkan untuk mengumpulkan pengetahuan/informasi semata, tetapi harus diarahkan untuk mengembangkan life skills. Dengan life skills diharapkan anak didik mampu menghadapi dan mengarungi kehidupan dengan baik.

Di era informasi sekarang ini, informasi dalam diperoleh dengan mudah lewat berbagai sumber. Kini berkembang kelakar, kalau ingin dapat informasi tanya saja kepada Mbah Google. Artinya internet dapat member segala informasi yang diperlukan. Oleh karena itu, apsek life skills yang perlu dikembangkan adalah kecakapan menganalisis informasi tersebut secara kritis untuk memecahkan masalah secara kreatif dan bijak. Iptek berkembang secara cepat, sehingga sangat mungkin apa yang dipelajari sekarang akan segera usang, oleh karena itu belajar secara mandiri (self learning, self direction dan initiative) harus dikembangkan dalam pendidikan.

Dalam praktek kehidupan, tidak ada fenomena yang dapat dijelaskan melalui satu bidang ilmu secara tuntas. Selalu diperlukan beberapa bidang ilmu untuk menjelaskan atau menganalisis suatu fenomena. Oleh karena itu, siswa perlu berlatih membedah suatu fenomena yang terjadi di sekitar sekolah dengan menggunakan referensi berbagai matapelajaran secara komprehensif. Pola ini merupakan hal baru tetapi perlu dimulai. Selama ini siswa belajar matapelajaran secara terpisah, seakan tidak ada hubungan satu dengan yang lain.

Dalam kehidupan, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan keseharian, seseorang selalu berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain. Bahkan ke depan bekerja dalam tim merupakan pola kerja yang semakin kental. Oleh karena itu pendidikan harus mengembangkan aspek social skills, yang intinya kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama. Semoga.