Senin, 13 Januari 2020

MERDEKA BELAJAR-2

Sungguh beruntung saya diundang dalam pertemuan tanggal 10-11 Januari 2020, karena dapat bertemu dengan Pak Iwan (Iwan Shahril, PhD, staf khusus Mendikbud).  Mengapa?  Karena Pak Iwan menjelaskan apa yang dimaksud dengan merdeka belajar, sehingga pertanyaan yang sebelumnya menggelayut di benak saya dapat terjawab.  Mudah-mudahan saya tidak salah dalam memahami penjelasan beliau.  Berikut ini saya ingin berbagi hasil renungan, setelah mendapat pencerahan tersebut.

Menurut beliau, merdeka belajar adalah sebuah filosofi yang ditandai dengan lima prinsip: Pertama, berdaya memberdayakan.  Artinya pendidikan harus membuat siswa berdaya dan mampu memberdayakan orang lain.  Juga harus membuat guru berdaya dan mampu memberdayakan orang lain, khususnya siswa.  Juga harus membuat kepala sekolah berdaya dan mampu memberdayakan orang lain, misalnya guru dan tenaga kependidikan, siswa dan bahkan orangtua siswa.


Pemikiran ini sejalan dengan prinsip dasar pendidikan yang intinya ingin membantu anak menjadi merdeka, mampu mandiri dan tidak tergantung orang lain.  Tentu tetap harus diingat bahwa mandiri dan merdeka itu tetap dalam koridor bahwa manusia itu bagian dari komunitas dimana dia berada.  Juga sebagai makhluk Sang Pencipta (Al Khaliq), sehingga harus mengikuti koridor keyakinannya yang bersumber dari Sang Pencipta.  Keharmonisan penerapan antara manusia merdeka, bagian dari komunitas dan makhluk Sang Pencipa itulah yang ingin ditumbuhkan dalam pendidikan.

Kedua, fokus pada output dan bahkan outcome dan bukan sekedar proses.  Pak Iwan menggunakan istilah yang sering digunakan oleh Pak Jokowi, tidak sekedar sent tetapi delivered.  Dalam konteks ini, jujur saya belum memahami secara baik, karena memang saya tidak sempat menanyakan lebih lanjut. Kalau menggunakan metaphor WA, sent itu ditandai oleh satu cawang (v) artinya terkirim, sedangkan delivered ditandai oleh dua cawang berwarna hitam (vv) artinya diterima.  Namun jika pesan itu dibaca ditandai dua cawang berwarna biru (vv).  Saya menduga yang dimaksud sebenarnya dibaca dan bukan sekedar dikirim atau diterima.

Jika dikaitkan dengan process approach dalam teori pembelajaran yang secara konsep mirip dengan scientific approach yang digunakan dalam Kurikulum 2013, saya menduga yang dimaksud merdeka belajar bukan proses berpikir dalam process approach maupun K-13, tetapi proses pembelajaran.  Artinya pembelajaran tidak boleh berhenti pada apa yang dilakukan guru tetapi harus sampai apa yang diperoleh siswa.  Jadi yang dimaksud bergeser dari proses ke hasil, sama dengan prinsip shifting paradigm from teaching to learning. Mengapa demikian?  Karena dalam teori pembelajaran “modern”, justru proses berpikir itulah yang lebih penting. Dan itulah yang ingin dikembangkan dalam pendidikan.  5 M yang dalam K-13, mengamati, mempertanyaan apa yang diamati, menalar mengapa itu terjadi, mencoba mereplikasi dan memodifikasi, dan mengkomikasikan apa yang dilakukan, sejalan dengan pemikiran tersebut.

Ketiga, begeser dari konten ke kompetensi dan karakter. Menurut P Iwan yang lebih penting bagi anak-anak kita adalah menguasai kompetensi critical thinking, creativity, communication, collaboration, compassion, computational logic dan sebagainya, yang sangat diperlukan di era disrupsi.  Sedangkan konten itu nomor dua, karena dapat dipelajari sendiri. Untuk karakter, P Iwan tidak sempat menjelaskan secara detail atau saya yang tidak dapat menangkap penjelasan beliau.

Jika dikaitkan dengan process approach, menurut saya antara konten dan kompetensi tidak dapat dipisahkan secara total. Bukan mutually exclusive tetapi memiliki interseksi. Mengapa?  Ada dua argumentasi. (1) ketika belajar critical thinking, creativity dan sebagainya, kita memerlukan wahana dan wahana yang paling tepat adalah kompetensi.  Misalnya anak SD belajar berpikir kritis saat mencermati ayam dalam matapelajaran IPA.  Dengan begitu, anak sekaligus belajar menguasasi kompetensi sekaligus juga konten.  Jadi yang diperlukan bagaimana merancang pembelajaran topik (konten) tertentu, tetapi yang ingin dituju tidak hanya penguasaan kontennya tetapi juga kompetensi tertentu.  Jadi mirip dengan keinginan agar anak-anak belajar untuk mencapai HOT (high order thinking) yang menurut Bloom, mulai dari melakukan analisis-sintesis, evaluasi dan kreativitas.  Dugaan saya keinginan menggeser dari konten ke kompetensi itu didorong dari fakta lapangan bahwa anak-anak kita cenderung belajar di level LOT (low order thinking). Dan memang itu menjadi kerisauan yang harus segera dicarikan solusinya.

 (2) Ada konten yang sifatnya sekuen, sehingga tidak dapat melompat.  Matematika merupakan salah satu contoh. Anak tidak akan dapat belajar perkalian sebelum menguasai konten penjumlahan.  Anak tidak akan dapat belajar pembagian sebelum mengusasi pengurangan. Bahwa ketika belajar penjumlahan anak harus berpikir kritis sangat betul, tidak hanya hafal tetapi paham mengapa begini dan begitu. 

Dalam menggandengkan konten dan kompetensi mungkin Kurikulum Hong Kong dalam dijadikan bahan banding.  Matapelajaran (konten) disebut sebagai learning areas, sedangkan konten dan karakter disebut sebagai learning goals.  Misalnya, ketika anak SMP belajar IPA salah satu tujuannya adalah siswa dapat menguasai dan memanfaatkan pengetahuan tentang magnet untuk memencahkan probelma kehidupan sehari-hari secara kreatif.

Ke-empat, sekolah sebagai unit inovasi, bukan seperti birokrasi. Pak Iwan sempat memberi ilustrasi, jangan sampai statement Mendikbud tentang RPP 1 lembar lantas mucul templet RPP 1 lembar dan wajib ditiru oleh semua guru.  Guru harus menggunakan kemerdekaan dalam mengajar untuk melakukan inovasi pembelajaran, agar hasil belajar siswa maksimal.  Prinsip ini sejalan dengan temuan Abu Dohuo bahwa hasil belajar siswa itu fungsi dari inovasi praktis yang dilakukan guru dalam pembelajaran.

Ketika guru didorong melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ataupun lesson study tujuannya mirip dengan itu, yaitu terus menerus melakukan continuous improvement dalam pembelajarannya.  PTK tidak perlu menjadi dokumen penelitian yang justru membebani guru.  Yang lebih penting guru melakukan refleksi, “hari ini pembelajaran yang saya lakukan seperti ini, apa yang kurang baik untuk diperbaiki besuk dan seterusnya”.  Bahwa ketika melakukan refleksi harus didasari berpikir analisis-sintesis dan ketika merancang perbaikan didalam kreativitas itu suatu kewajaran.  Bukankah guru juga harus melakukan HOT sebagaimana yang diajarkan kepada siswa.

Hasil-hasil inovasi pembelajaran seperti itu akan sangat baik dijadikan bahan berbagi pengalaman dalam forum KKG dan MGMP.  Yang disebut hasil, tidak harus berupa kesuksesan tetapi juga kegagalan dan hambatan ketika melakukan suatu inovasi.  Dengan demikian KKG dan MGMP menjadi tempat saling belajar bagi para guru.  Kalau menggunakan konsep problem driven iterative adaptation (PDIA), maka KKG/MGMP akan menjadi tempat berbagi berbagai pengalaman memecahkan masalah berdasarkan kondisi real di lapangan.

Kelima, Dinas Pendidikan dan Kemdikbud sebagai unit enabler.  Bagaimana Dinas Pendidikan dan Kemdikbud tidak bertindak sebagai pihak yang memerintah dan mengontrol, tetapi justu membantu dan memfasilitasi sekolah agar dapat melaksanakan proses pendidikan dengan baik.  Mungkin mirip dengan konsep total quality management (TQM) in education yang diajukan oleh Sallis.  Konsep ini juga yang digunakan dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).   Pada konsep ini, tugas guru adalah membantu dan menfalitiasi siswa agar dapat belajar dengan optimal.  Tugas kepala sekolah adalah membantu dan memfalitasi guru agar dapat bekerja dengan baik.  Tugas Dinas Pendidikan dan Kemdikbud adalah membantu sekolah agar dapat melaksanakan proses pendidikan dengan baik.  Jadi bergeser dari to govern menjadi to empower and to enable.

Jika pemahaman saya benar, merdeka  belajar merupakan wahana mengarusutamakan konsep yang selama ini diinginkan tetapi belum berjalan dengan baik di lapangan. Bukankah berdaya dan memberdayakan itu memang hakekat dasar pendidikan.  Bukankah kita sedang mengupayakan bergeser dari teaching ke learning yang mengutamakan hasil belajar dan bukan hanya proses pembelajaran.  Bukankah kita sedang mendorong hasil belajar siswa harus sampai HOT.  Bukankah melalui PTK kita ingin mendorong para guru terus menerus melakukan inovasi, sehingga sekolah merupakan unit inovasi dan bukan lembaga birokrasi.  Bukankah dalam konsep MBS, pendidikan merupakan sebuah layanan. Tugas kepala sekolah adalah membantu guru dapat bekerja dengan baik dan tugas Dinas Pendidikan serta Kemdikbud adalah membantu sekolah agar mampu melaksanakan

Jumat, 10 Januari 2020

MENGAPA PENDIDIKAN KARAKTER SELALU GAGAL?


Kemarin sore sekitar pukul 16.30 saya naik taksi dari bandara Halim Perdana Kusuma menuju daerah Darmawangsa Jakarta Selatan.  Macet?  Pasti. Waktunya pulang kantor. Apalagi proyek jalan layang atau LRT disitu juga belum selesai-selesai.  Nah, dalam situasi seperti itu beberapa kali terdengar klakson mobil patwal meminta mobil lain minggir, karena ada mobil “orang penting” mau lewat.  Biasanya plat mobilnya berindeks RFS atau semacam itu.  Tetapi sepanjang jalan dari Halim ke Darmawangsa kemarin, juga ada mobil berplat TNI dan Polri yang juga membunyikan klakson untuk minta mendahului.

Menikmati situasi seperti itu, saya jadi teringat ketika sedang naik taksi dari bandara Soetta ke kota.  Maksudnya ke lokasi di daerah tengah Jakarta dan melalui tol.  Sering juga ada mobil “orang penting” meminta jalan seperti itu dan yang lucu biasanya menggunakan bahu jalan.  Secara kebetulan, saya juga sedang membuka HP untuk mencari berita di detik.com dan menemukan heading “Ditilang karena lampu motor tak menyala, mahasiswa: kemapa Jokowi tak ditilang?”.  Saya baca, ternyata ada mahasiswa FH UKI ditilang karena lampu motornya tidak menyala. Yang bersangkutan tidak terima dan menggugat UU Lalu Lintas.  Nah dalam gugatan itu, dia berdalih Presidem Jokowi juga pernah melakukan hal yang sama (tidak menyalakan lampu saat naik motor) tetapi tidak ditilang. Saya tersenyum membacanya.


Seingat saya almarhun Cak Nur (Nucholis Majid) pernah mengatakan, perilaku kita di jalan raya itu menggambarkan karakter bangsa ini.  Ungkapan yang sejalan dengan itu juga pernah disampaikan oleh Pak Rum (Prof Rum Rowi, guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya), katanya kita sering naik motor ngebut, nyalib kiri-kanan, bahkan menyerempet orang karena takut terlambat Jum’atan.  Yang punya moge (motor gede) konvoi dan meminta kendaraan lain minggir. Yang menyopir becak melaju terus walaupun lampu merah atau bahkan melawan arus.

Ada baiknya kita merenungkan mengapa fenomena seperti itu terjadi.  Tampaknya kita merasa diri kita atau urusan kita lebih penting dibanding orang lain.  Kita ingin tidak terlambat sholat jum’at, sehingga minta orang lain mengalah.  Kita tidak ingin terlambat rapat, sehingga meminta orang lain faham dan memberi jalan mobil kita. Kita ingin cepat sampai rumah, karena anak isteri sudah menunggu, sehingga minta orang lain memberi jalan mobil kita.  Kita ingin touring moge kita lancar, sehingga meminta pengguna jalan lainnya minggir.  Dan seterusnya.  Apa itu bawaan dari kecil atau menunjukkan kita masih berjiwa anak-anak ya?


 Almarhum Mbah Ti (ibu saya) mengatakan anak usia 2-4 tahun itu “kemratu-ratu” atau merasa dirinya seperti raja, sehingga menganggap dirinya paling penting dan semua keinginannya harus dipenuhi.  Oleh karena itu, anak-anak seusia itu akan merengek, seakan memaksa orang lain memenuhi keinginannya.  Jika tidak dipenuhi akan merengek sampai orangtuanya bingung.

Lantas, apa hubungannya dengan pendidikan karakter?  Dugaan saya, semua atau paling tidak sebagian besar yang saya sebutkan meminta orang lain minggir tersebut pernah sekolah.  Atau bahkan sarjana, tetapi kalau “ilmunya Mbak Ti” itu valid, berarti mereka itu masik “kemratu-ratu”.  Sikapnya masih seperti anak usia 3-4 tahun.  Jadi pendidikan karakter yang diharapkan dapat mengubah sikap anak-anak agar menghargai hak orang lain, “saya punya hak, tetapi orang lain juga punya hak yang tdak boleh saya langgar”, tidak berhasil. Pada hal penanaman pengetahuan dan sikap seperti itu sudah dilakukan sejak SD sampai perguruan tinggi.  Bahkan di jaman Penataran P4 era Pak Harto, hal seperti itu juga ditumbuhkan.

Mengapa pendidikan karakter tidak berhasil atau kasarnya gagal?  Pada hal sikap “kemratu-ratu” itu bisa merembet ke sikap koruptif, yang menganggap dirinya punya hak untuk mengambil hak komunitas atau hak rakyat atau hak negara.  Itulah yang perlu kita temukan, agar pendidikan karakter yang oleh Mendikbud saat ini (Nadiem Makarim) ditekankan lain.  Seingat saya, di era Mendikbud Prof Malik Fajar, upaya mengarusutamakan pendidikan karakter sudah dimunculkan melalui konsep Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills), di era Mendikbud Prof M. Nuh, juga dimunculkan lagi bahkan sampai disusun Buku Pedoman Pendidikan Karakter.  Jika penyebab kurang berhasilnya pendidikan karakter di masa lalu tidak ditemukan, saya khawatir kita akan “terantuk batu yang sama”, mengulangi kegagalan yang sudah dialami sebelumnya.

Dahlan Iskan pernah bercerita karakter itu tidak dapat diajarkan tetapi harus ditularkan.  Penelitian yang dilakukan oleh Tim Kemdikbud tahun 2010 menemukan pendidikan karakter yang paling efektif dilakukan melalui “modeling”, sehingga pimpinan sekolah, guru dan tenaga kependidikan harus menjadi contoh bagaimana berperilaku dalam kehidupan keseharian.  Penelitian tersebut juga menemukan budaya sekolah sangat menentukan, karena anak-anak akan menyesuaikan diri dengan budaya sekolah, dimana-mana orangnya berperilaku yang baik.  Pertanyaannya, apakah kegagalan pendidikan karakter karena kepala sekolah, guru dan karyawan sekolah belum mampu menjadi contoh bagaimana berperilaku yang baik.  Apakah budaya di sekolah tidak menggambarkan perilaku yang berkarakter?  Jujur, saya tidak tahu.

Namun kita memahami pada proses belajar, termasuk bersikap dan berperilaku, tidak hanya terjadi di sekolah.  Seperti kata Peter Senge dalam buku School That Learn, siswa  berinterkasi juga dengan siswa atau teman lain di luar sekolah, dengan orangtua di rumah, dan juga media sosial yang mereka tonton dan baca.  Dengan demikian perilaku siswa tidak hanya dipengaruhi oleh budaya sekolah dan orang-orang disekolahnya, tetapi juga oleh lingkungan keluarga dan orang-orang disitu, serta teman-teman lainnnya maupun media sosial yang di luar rumahnya. Apalagi, rentang waktu anak-anak di sekolah juga pendek dibanding di luar sekolah.  Jadi, karakter siswa tidak hanya dipengaruhi oleh keteladanan orang-orang di sekolah, tetapi juga oleh keteladanan orang-orang di luar sekolah, termasuk di televisi dan media sosila lainnya.  Pertanyaannya nambah lagi, apakah perilaku orang dewasa, apalagi orang-orang penting dan juga film-film ditelevisi tidak dapat menjadi contoh berperilaku yang baik ya?

Dari cerita di atas, berarti pendidikan karakter tidak dapat diserahkan kepada sekolah saja.  Pendidikan karakter harus menjadi tugas semua pihak.  Yang harus menjadi contoh berperilaku yang baik, tidak hanya guru, tetapi juga orangtua, dan tokoh-tokoh yang menjadi panutan masyarakat.  Masyarakat kita sangat patronistik, sehingga meniru patronnya.  Film, sinetron, youtube juga harus dikendalikan agar sesuai dengan karakter yang ingin dikembag]ngkan.  Jadi rumit ya?  Mungkin itulah mengapa pendidikan karakter belum berhasil, walaupun sudah dijalankan sekian lama.

Rabu, 08 Januari 2020

MEMAKNAI LIFE LONG LEARNING


Life long learning atau belajar sepanjang hayat telah menjadi mantra yang sering diucapkan oleh orang yang bergerak dalam pendidikan.  Tulisan ini juga dipicu oleh tulisan Lant Pritchett berjudul Schooling but not Learning. Namun tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan atau sebaliknya menyalahkan tulisan Lant Pritchett atau tulisan lain yang selama ini sudah mengemuka. Tulisan pendek ini semata-mata ingin mendudukkan konsep life long learning terkait dengan pendidikan dan persekolahan.

Kita mulai dengan membahas apa makna learning atau belajar.  Dalam bahasa Inggris, learning sering diartikan sebagai  the process or experience of gaining knowledge or skill, sedangkan dalam bahwa Indonesia belajar sering dimaknai sebagai terjadinya perubahan perilaku yang merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungan, serta perilaku tersebut bersifat permanen.  Dengan demikian belajar berbeda dengan bersekolah.  Belajar dapat diterjadi dimana saja dan kapan saja, sepanjang seseorang memperoleh pengetahuan atau sikap atau keterampilan baru.

Pengetahuan atau sikap atau keterampilan itu dapat diperoleh ketika diajarkan oleh guru di sekolah, atau didalam permainan bersama kawan atau bahkan dari kejadian yang ditemui ketika seseorang sedang sendirian. Ketika kita tanpa sengaja berjalan dengan telanjang kaki di jalan aspal di siang hari dan merasakan panas, sebenarnya saat itu telah terjadi proses belajar.  Yaitu, mendapatkan pengetahuan bahwa jalan aspal di siang hari panas. Ketika melihat TV yang menayangkan berita bahwa Tsunami yang terjadi saat Anak Krakatau meletus dikarenakan adanya dinding gunung yang runtuh, maka saat itu juga terjadi proses belajar.  Ketika seorang ini mencoba-coba memasukkan benang ke jarum dan menemukan cara yang tepat, pada saat itu juga terjadi belajar.  Ketika melihat pengendara sepeda motor menerobos lampu merah dan kita mengatakan itu perbuatan berbahaya dan jangan ditiru, maka saat itu juga terjadi proses belajar.  Yang ingin ditekankan disini bahwa proses belajar dapat terjadi tanpa adanya guru dan tanpa ada seseorang yang mengajari.  Bukankah ada kata-kata bijak “apapun yg kita jumpai itu merupakan pelajaran dari Allah swt. Jika itu baik harus kita tiru, sebaliknya jika jelek harus kita hindari”.


Berarti belajar sepanjang hayat dapat dilakukan oleh setiap orang?  Menurut saya “ya”.  Hanya saja, ada yang by design (dengan sengaja) dan ada yang by chance (secara kebetulan, tidak disengaja).  Disinilah masalahnya.  Ketika seseorang yang dengan sengaja mengamati suatu fenomena dan ingin mengetahui dengan lebih dalam, maka yang bersangkutan dengan sengaja ingin belajar.  Misalnya, kita baru membeli HP dan membaca buku manual dan mencoba menerapkannya, maka kita dengan sengaja belajar.  Lantas seperti apa contoh belajar tanpa sengaja?  Tadi, ketika tanpa sengaja kita berjalan di jalan aspal di siang hari.  Kita tidak sengaja ingin mengetahui jalan aspal itu panas di siang hari.  Pengetahuan itu kita dapatkan tanpa sengaja.

Jika proses belajar dapat terjadi secara alamiah pada siapapun, kapanpun dan dimanapun, lantas apa gunanya sekolah?  Lantas apa bedanya dengan pendidikan?  Untuk membahas itu kita perlu fahami dahulu apa pengertian pendidikan (education).  Dalam bahasa Inggris kata education sering dimaknai sebagai the process of facilitating learning, sedang dalam bahasa Indonesia pendidikan dimaknai dengan upaya membantu peserta didik dalam belajar.  Pada UU Sisdiknas pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran Jadi pendidikan terjadi jika ada seseorang (guru/orangtua/tutor dsb) membantu orang lain (murid atau siapapun) untuk mempelajari sesuatu. Dengan kata lain, pendidikan dilakukan agar terjadi proses belajar by design, bukan by chance.

Lantas apa kaitannya dengan sekolah atau school?  Dalam bahasa Inggris, school diartikan sebagai an educational institution designed to provide learning spaces and learning environments for the teaching of students, sedang dalam bahasa Indonesia sekolah diartikan sebagai  lembaga pendidikan yang dirancang secara khusus untuk mendidik siswa dalam pengawasan para guru.  Jadi sekolah adalah lembaganya.  Pendidikan adalah proses fasiltasi atau pemberian bantuan oleh guru/pengajar kepada siswa agar dapat belajar dengan baik. Sedangkan belajar adalah proses memperoleh pengetahuan dan atau keterampilan baru. 

Mengaitkan ketiganya (belajar, pendidikan dan sekolah) kita dapat menemukan makna belajar sepanjang hayat atau life long learning.   Di sekolah diharapkan terjadi proses pendidikan untuk membiasakan anak-anak belajar (by design) dan kebiasaan terus dibawa setelah mereka lulus dan menjalani kehidupan di masyarakat dan bekerja.  Dengan demikian yang bersangkutan secara sengaja terus belajar, baik dari fenomena yang dialami ataupun pelatihan.  Maka sekolah diharapkan menjadi tempat penyemaian life long learning. Itulah sebabnya saya mendukung Kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan saintifik 5 M (mengamati, mempertanyakan, menalar, mencoba dan mengkomunikasikan).  Anak dibiasakan mengamati fenomena di sekitarnya dan mempertanyakan mengapa itu terjadi, mengapa begini dan begitu.  Setelah itu mencoba menalar (membuat dugaan-dugaan atau bahasa ilmiahnya mengajukan hipotesis sesuai dengan tingkatan pendidikannya), apakah itu karena ini atau itu.  Setelah itu mencoba untuk menguji apakah dugaannya itu benar atau salah.  Terakhir mengkomunikasikan atau menyampaikan apa yang dialami dan dipikirkan kepada orang lain.

Apakah life long learning merupakan konsep baru?  Jawabnya “tidak”.  Dalam Islam dikenal hadis: “tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat”.  Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat”. Jika ucapan Ali bin Abi Thalib itu dikaitkan dengan kepandaian, maka bermakna setiap orang diminta untuk belajar terus sepanjang hayat.

Jika kaitannya seperti itu, apa yang dimaksud oleh Lant Pritchett schooling but not learning?  Tentu itu bukan makna harafiah, sekolah tetapi tidak belajar.  Bukankah setiap saat orang belajar, apalagi di sekolah yang tentu ada guru yang tugasnya membantu siswa agar dapat belajar dengan baik.  Dalam buku tersebut, Pritchett menunjukkan data bahwa pada sekolah-sekolah di beberapa negara, kompetensi siswa jauh dari standar yang ditetapkan oleh negara tersebut.  Anak-anak sekolah tetapi hasil belajar mereka jauh di bawah standar yang seharusnya dicapai, sehingga Pritchett menyebutkan di sekolah-sekolah tersebut tidak terjadi proses belajar (seperti yang seharusnya).

Walaupun diungkapkan dengan kalimat sarkastis, tetapi fenomena itu perlu mendapat perhatian kita.  Walaupun penelitian Pritchett tidak di Indonesia, kita perlu merenungkan apakah kejadian seperti itu juga terjadi di sekolah kita.  Jangan-jangan ada atau bahkan banyak anak-anak kita yang naik kelas atau lulus sekolah tetapi tidak mencapai standar kompetensi yang seharusnya.  Kita tentu pernah mendengar ada anak lulus SD tetapi belum lancar membaca.  Anak lulus SMA tetapi belum pandai menyelesaikan soal-soal pecahan sederhana.  Jika hal itu terjadi, tentu kita harus bahu membahu mengatasinya. Semoga.

Sabtu, 21 Desember 2019

MERDEKA BELAJAR


Ungkapan “merdeka belajar” telah menjadi tranding topic sejak sambutan Mendikbud dalam Hari Guru tersebar luas.  Apa yang dimaksud dengan merdeka belajar sedikit terelaborasi dengan kebijakan Mendikbud yang disampaikan pada rapat koordinasi dengan Dinas Pendidikan se Indonesia pada tanggal 11 Desember 2019.  Merdeka belajar ditandai dengan: (1) penyederhanaan RPP yang dibuat guru untuk mengajar, (2) meniadakan UN dan menggantinya dengan USBN dan uji kompetensi di kelas 4, 8 dan 11, serta survei karakter (3) melonggarkan aturan zonasi dalam PPDB.

 Tulisan ini tidak dalam posisi setuju atau tidak setuju dengan kebijakan tersebut, tetapi ingin mendudukkan dalam konsep pendidikan secara utuh. Jika merdeka belajar dimaksudkan agar siswa dapat mengembangkan potensinya dan belajar sesuai dengan karateristiknya, memang itulah hakekat pendidikan.  Bukankah itu memang hakekat pendidikan, yaitu membantu anak didik untuk mengembangkan potensinya guna menghadapi masa depan.  Bukankah pada hakekatnya pendidikan itu membantu anak didik menjadi orang yang merdeka, sehingga tidak menjadi beban orang lain.

Dalam konteks ini, harus tetap disadari bahwa kemerdekaan diri tidak boleh terlepas dari posisinya sebagai bagian dari komunitas.  Kebebasan yang dimiliki seseorang harus tetap tunduk dalam norma-norma komunitas dimana yang bersangkutan berada.  Keseimbangan hak-hak individu dengan keterikatan terhadap norma-norma komunitas itulah yang menjadi pilar harmoni kehidupan.  Bukankah manusia merupakan makhluk sosial yang selalu hidup dalam komunitas, betatapun kecilnya.

Jika merdeka belajar dikaitkan dengan keberagaman potensi siswa dan keberagaman gaya belajar, Gardner (2010) menyebutkan ada 8 jenis potensi yang mungkin dimiliki oleh anak-anak, sehingga sangat mungkin masing-masing anak dalam kelas kita memiliki potensi yang berbeda-beda.  Ada 3 jenis gaya belajar anak dan masing-masing menyenangi pola pembelajaran yang berbeda. Tentu agar anak berkembang dengan baik, aspek yang dikembangkan harus sesuai dengan potensi yang dimiliki dan gaya belajar yang disenangi.

Pertanyaan, bagaimana wujud nyata merdeka belajar itu.  Conny Semiawan (1983) memperkenalkan istilah Kurikulum Berdifensiasi untuk mengakomodasi perbedaan karateristik siswa.  Sayang sekali, sejauh yang saya tahu belum ada sekolah yang secara jelas menyebutkan menerapkan konsep kurikulum berdiferensiasi itu. Mungkin memang tidak mudah, karena jumlah siswa di Indonesia umumnya besar.  Guru juga terbiasa menjalankan pembelajaran one fit for all. Oleh karena itu saya menduga penerapakan merdeka belajar merupakan tantangan bagi guru di lapangan.

Apakah akan menjadi individualized instruction? Apakah akan menerapkan konsep mastery learning?  Apakah akan menerapkan konsep sks? Apakah akan menerapkan contextual teaching learning (CTL)? Atau gabungan dari berbagai konsep tersebut?  Jujur saya tidak tahu.  Tampaknya merdeka belajar yang disampaikan Mendikbud masih sebagai pemikiran yang mungkin dilandasi pengalaman atau pengamatan terhadap sekolah “sekolah bagus”.  Oleh karena itu, wujudnya nyata merdeka belajar masih dalam bayangan dan belum merupakan suatu kenyataan yang terjadi di sekolah.

Kompetensi guru untuk mampu merdeka juga harus mendapat perhatian. Apapun konsep dan kebijakan pendidikan yang dikeluarkan, pada akhirnya guru yang melaksanakan di kelas atau ruang belajar lainnya. Jika guru tidak mampu memahami kebijakan dan menerapkan di kelas, maka kebijakan akan menjadi “botol baru tetapi anggurnya lama”.  Gagasan menyiapkan guru penggerak untuk mulai menggelindingkan gagasan merdeka belajar mungkin menjanjikan, dengan catatan tidak mengulangi kebiasaan “hangat-hangat tai ayam”.   Jadi gagasan merdeka belajar masih harus menempuh jalan berliku dan the devil is in detail.

Sebenarnya konsep merdeka belajar dapat dikaitkan dengan Manajemen Berbasis Sekolah.  Abu Duhuo (1999) menyatakan bahwa hasil belajar siswa merupakan fungsi dari inovasi guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran, sementara untuk dapat melakukan inovasi guru harus memiliki kompetensi dan kebebasan untuk memilih model pembelajaran yang diyakini cocok dengan konteks siswa dan sekolahnya.  Dan tugas manajemen sekolah untuk memfasilitasi guru agar memiliki kompetensi dan memberi keleluasaan guru untuk berinovasi.

Dalam merdeka belajar diharapkan siswa dapat belajar sesuatu yang diinginkan dan atau diperlukan dan belajar sesuai dengan gaya yang disenangi.  Untuk menjalankan itu, guru juga harus memiliki kemerdekaan memilih metoda yang tepat bagi siswanya, memilih materi ajar yang sesuai dengan keperluan muridnya.  Untuk mendukungnya, kepala sekolah  juga harus memiliki kemerdekaan dalam mengelola dan memajukan sekolahnya.  Jadi sekolah juga harus merdeka, sebagaimana konsep manajemen berbasis sekolah.

Namun demikian perlu dicatat bahwa kemerdekaan atau katakanlah  penerapan kebebasan memerlukan tiga syarat dasar, yaitu: (1) kedewasaan (maturity), sehingga yang menerima kebebasan itu melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.  Dalam konteks merdeka belajar, guru dan sekolah harus menyadari bahwa tujuan akhir merdeka belajar adalah hasil belajar murid yang optimal. (2) kompetensi guru dan kepala sekolah yang baik (well educated), sehingga tahu bagaimana cara melaksanakan konsep merdeka belajar dengan benar dan tidak asal merdeka. (3) guru dan kepala sekolah memiliki informasi yang lengkap (well informed), sehingga tahu koridor yang tidak boleh dilanggar saat melaksanakan konsep merdeka belajar. Semoga.

Kamis, 12 September 2019

MENJADI PELAYAN HAJI PERLU IKHLAS


Tanggal 10 September 2019 saya terbang dari Jakarta ke Kupang untuk memenuhi undangan Pemprop NTT yang akan membuat grand design pendidikan.  Walaupun transit di Surabaya, saya tidak bisa mampir rumah karena waktunya hanya 45 menit.  Bahkan saya tidak turun dari pesawat. Sesuai instruksi crew, saya tetap duduk di kursi yang sesuai dengan boarding pass dengan membuka hand phone, siapa tahu ada email atau wa yang masuk.  Tentu juga mengabarkan ke isteri kalau sedang transit di Juanda tetapi tidak mampir rumah.

Dari omongan pramugari dengan petugas darat yang naik ke dalam pesawat, saya mendengar kalau penumpangnya penuh karena ada rombongan jamaah haji. Dan betul setelah itu ada petugas yang mendorong kursi roda untuk bapak-bapak jamaah haji yang tampak sudah sepuh sekali.  Ternyata beliau mendapat kursi nomer 43A, sedangkan kursi saya nomer 43C. Ketika sampai di dekat saya, pramugari bertanya “apakah bapak dapat berjalan?”.   Jamaah tersebut menjawab tetapi dalam bahasa daerah, sehingga pramugari tidak faham.  Untung ada penumpang di kursi belakang yang faham bahasa tersebut dan mengatakan, bapak tersebut tidak berdiri.  Akhirnya petugas pendorong kursi mengangkat beliau.  Agar tidak repot saya menawarkan agar jamaah tersebut duduk di kursi 43C dan saya pindah ke 43A.  Pramugari setuju.


Tidak lama datang berselang datang jamaah lagi yang juga didorong di kursi roda.  Kali ini ibu-ibu, dengan usia yang dugaan saya hampir sama.  Ternyata jamaah wanita itu dapat kursi 43K, berarti di jendela.  Dan ternyata beliau juga tidak dapat berdiri, sehingga petugas yang mendorong mengangkatnya ke kursi, seperti jamaah laki-laki di sebelah saya.  Senang sekali, karena penumpang yang dudul di kursi 43H mau bertukar tempat.

Saya memperhatikan kedua jamaah tersebut, dengan rasa haru, bangga dan kasihan yang campur baur.  Haru karena keduanya tampak lemah tetapi tidak mengeluh sama sekali, baik ketika didorong, diangkat maupun saat kesulitan ketika mendapat pembagian makan malam.  Bangga, karena ada orang yang berusia lanjut tetapi masih bersemangat untuk menjalankan ibadah haji yang semua muslimin/muslimah faham memerlukan tenaga besar.  Kasihan, karena sebagai jamaah usia lanjut sepertinya kurang mendapatkan layanan dari petugas haji.

Ketika semua jamaah sudah duduk, saya melihat ada penumpang yang memakai jaket dan topi bertuliskan "petugas jamaah haji". Saya kurang faham apa saja kuwajiban petugas haji sekarang, walaupun sekian tahun lalu pernah menjadi petugas haji.  Setahu saya ketika penumpang mulai naik pesawat seperti itu, penumpang yang memerlukan bantuan, penumpang lanjut usia, hamil dan membawa anak-anak, dipersilahkan naik lebih dahulu.  Biasanya keluarga diminta untuk mendampingi.  Saya tidak tahu, mengapa petugas haji tidak mendampingi kedua jamaah lansia yang tidak dapat berdiri tersebut. 

Ketika pesawat mulai take off dan pramugari telah memberikan selimut kepada kedua jamaah tersebut, dalam hati saya memuji mbak pramugari.   Biasanya untuk mendapatkan selimut, penumpang harus meminta. Tetapi kali ini, selimut diberikan dan bahkan dipasangkan walaupun kedua jamaah tersebut tidak meminta.  Mungkin juga tidak akan meminta karena tidak dapat berbahasa Indonesia.  Ketika makan malam dibagi, saya sangat terharu karena kedua beliau kesulitan untuk makan.  Jamaah bapak-bapak tidak makan dan hanya minum, sedangkan jamaah ibu-ibu hanya makan pudingnya saja.

Ketika pesawat landing dan jamaah turun, ada seorang ibu yang menggoda jamaah bapak-bapak dengan mengatakan kalau beliau ingin pulang untuk menanam jagung.  Ternyata beliau dokter yang mendampingi jamaah haji. Penumpang biasa pada turun, dan kedua jamaah tersebut menunggu sampai nanti dijemput dengan kursi roda.  Saya kaget dan bingung melihat penumpang berjaket dan bertopi petugas haji itu turun melewati kedua jamaah lansia itu tanpa menyapa dan terus turun.  Mungkin beliau capek, karena sudah mendampingi mulai dari Saudi Arabia. Tetapi bukankah itu sudah menjadi tugasnya dan sudah diketahui ketika bersedia menjadi petugas haji.

Ketika kursi roda datang, ternyata ada petugas haji lain yang memakai kaos.  Beliau cerita kalau sebagai petugas haji.  Oh, mungkin yang berjaket petugas haji dan turun dahulu tanpa menyapa jamaah berkursi roda itu bosnya, sehingga merasa sudah ada anak buah yang mengurus jamaah lansia itu. Petugas muda yang memakai kaos itulah yang mengangkat kedua jamaah lansia itu, dan kemudian petugas garuda yang mengangkat kursi turun tangga. Saya sungguh senang dan bangga, ternyata bu dokter tadi masih di pesawat sampai kedua jamaah lansia itu turun dari pesawat.  Semoga ini menjadi pelajaran untuk kita, yang baik kita tiru sedangkan yang kurang baik kita tinggalkan.

Minggu, 25 Agustus 2019

MISKIN INFORMASI DI ERA INFORMASI


Bahwa informasi merupakan sesuatu yang sangat penting dan telah menjadi komoditi yang bernilai uang, tidak ada yang meragukan.  Mungkin Anda pernah ditelepon seseorang yang menawarkan ini dan itu.  Dari mana di penelepon tahu nomor hp Anda?  Jangan kaget, bisa saja si penelepon memperoleh nomer itu dari isian Anda saat menginap di hotel atau isian saat Anda melakukan mengikuti di acara tertentu.  Bukankah kita tidak pernah mengatakan bahwa nomer hp kita rahasia, sehingga bisa saja nomer tersebut dicatat orang.  Kata teman ahli IT, salah satu keuntungan yang diperoleh Google adalah memiliki informasi penggunanya.  Tahun 2014 saya diundang USAID Washington untuk menyampaikan pemikiran tentang peningkatan kompetensi guru di Indonesia. Sebelum saya berbicara, moderator menyampaikan siapa saya dengan detail.  Pada hal, saya tidak pernah mengisi data apapun sebelum itu.  Dari mana dia tahu?  Sangat mungkin melalui isian saya di Google atau di acara-acara lain.

Berangkat dari kerangka pikir bahwa informasi itu sangat penting, menurut saya mencari informasi, mengolah informasi menjadi suatu simpulan sangat penting dikuasai.  Oleh karena itu, kemampuan tersebut harus diajarkan dan ditumbuhkembangkan pada anak-anal kita, khususnya melalui jalur pendidikan.  Bukankah salah satu kompetensi pokok di era digital adalah solving problem creatively (memecahkan masalah secara kreatif).  Tentu untuk memecahkan masalah diperlukan informasi yang cukup untuk dianalisis dan kemudian dicari solusinya yang paling tepat.

Di era digital internet telah menjadi sarana komunikasi yang semakin digemari orang.  Internet juga telah menjadi tempat mengirim data serta menjadi sumber informasi.  Namun harus dicatat, ibarat sungai yang ke dalam alirannya segala jenis air masuk, maka data di internet berbaur antara informasi yang benar dan akurat, informasi yang benar tetapi tidak akurat, dan bahkan data bohong atau yang sekarang dikenal dengan hoax.  Oleh karena itu, kita harus hati-hati menggunakannya.  Internet tetap menjadi sarana mencari informasi yang cepat dan murah, tetapi harus divalidasi kebenaran dan keakuratannya.

Sayangnya, kemampuan mencari dan mengolah informasi belum tumbuh baik di sekolah dan universitas.  Sebagai guru, saya mencoba menumbuhkan kesadaran dan mendorong siswa, mahasiswa dan rekan guru untuk melakukannya.  Ketika mengajar, mengisi pelatihan dan seminar saya mencoba mendorong mahasiwa/peserta, namun tampaknya kurang berhasil. Mereka tahu kalau di internet terdapat banyak data/informasi tetapi belum terbiasa memanfaatkan. Itu terjadi tidak hanya di kampus Unesa tempat saya mengajar, juga di beberapa kampus lain.  Tidak hanya terjadi pada seminar di Surabaya tetapi juga di kota lain.

Tanggal 23 Agustus 2019 saya memberi kuliah umum di FKIP Universitas Mulawarman Samarinda, yang diikuti oleh mahasiswa perwakilan dari berbagai program studi.  Saat itu saya menanyakan: “Jika  rektor Unmul memutuskan untuk memberi beras untuk makan sebulan dan gula untuk membuat kopi atau the dua kali sehari juga selama sebulan, berapa uang yang diperlukan?” Jawaban yang muncul ternyata lucu.  Ada mahasiswa yang menjawab: “Diberi saja uang 50 ribu per hari, dan disuruh mahasiswa mengaturnya”.  Ada juga yang menjawab: “Beras satu kilo 15 ribu dan gula satu kilo sekian ribu”.  Ketika saya tanya berapa jumlah mahasiswa Unmul, ada peserta menjawab 35 ribu.  Saya tanya dari mana didapat, dijawab “kata Pak Dekan”.   Akhirnya saya pandu, ambil hp dan bukan google dan browsing berapa jumlah mahasiswa Unmul.  Saya minta browsing berapa konsumsi beras seorang per hari, berapa gula untuk buat satu cangkir kopi, dan sebagainya.  Setelah itu, saya tanya apakah bisa menghitung berapa uang yang diperlukan Pak Rektor?  Hampir semua menjawab “bisa”.

Tanggal 24, besuknya saya mengisi seminar yg dikuti oleh para guru, mahasiswa dan juga beberapa dosen. Pada sesi tanya jawab, ada seorang guru SMP Negeri 1 Samarinda yang bertanya bagaimana mengubah diri dari guru era lama menjadi guru millennial. Terpicu pertanyaan itu, saya bertanya peserta kepada semua peserta: “Jika walikota Samarinda memutuskan memberi subsidi beras kepada seluruh warganya selama 1 minggu, berapa uang yang diperlukan?”.  Ternyata, mirip dengan sehari sebelumnya.  Tidak ada peserta yang dapat dengan cepat menemukan jawaban.  Ketika saya pandu, dengan mencari data di internet baru mereka mengatakan: “Ooooooo”.

Apa yang dapat disimpulkan data fenomena seperti itu?  Apalagi fenomena seperti itu juga terjadi di beberapa tempat.  Tampaknya di era informasi ini, yang kata beberapa ahli ini zaman “information overloaded” ternyata kita belum pandai memanfaatkannya.  Kita miskin informasi di era informasi.  Walaupun masyarakat Indonesia dikenal paling banyak punya hp, tetapi belum memanfaatkan sebagai alat mencari informasi.  Semoga kita dapat belajar lebih cepat dan lebih baik ke depan. 

Jumat, 23 Agustus 2019

INSPIRASI KEJADIAN DI ASRAMA MAHASISWA PAPUA DISURABAYA


Walaupun tinggal di Surabaya dan ketika muda sering sekali bermain di daerah Pacarkeling, lokasi jalan kalasan di mana asrama mahasiwa Papua itu berada, saya belum pernah melihat asrama tersebut.  Lokasi dimana jl Kalasan berada masih dapat saya ingat, karena dahulu sering bermain di daerah itu. Namun sudah sekian tahun tidak lewat, sehingga tidak tahu kalau ada asrama mahasiwa Papua disitu.  Jadi ketika terjadi peristiwa yang memicu demonstrasi di berbagai daerah, saya hanya bisa membayangkan saja.

Saya bukan sosiolog, juga bukan psikolog, sehingga saya hanya dapat memahami peristiwa itu berdasar pengalaman sebagai orangtua dan guru.  Namun saya berprinsip semua kejadian itu ada hikmahnya.  Semua kejadian itu merupakan pelajaran yang diberikan oleh Tuhan agar kita belajar, mengapa itu terjadi dan bagaimana agar peristiwa yang kurang baik tidak terjadi lagi, sedangkan kejadian yang baik dapat direplikasi.  Itu mungkin yang oleh guru ngaji saya dikatakan mengapa manusia diberi akal untuk berpikir.

Nah, mencermati berita tetang kejadian di jl Kalasan itu dan juga demosntrasi di beberapa daerah serta bagaimana Gubernur Jawa Timur dan Walikota Surabaya, yang kebetulan keduanya wanita, meminta maaf kepada saudara kita di Papua, saya jadi teringat beberapa prinsip pendidikan karakter dan juga kompetensi pokok di era digital.  Mungkinkah kejadian itu memang dijadikan oleh Tuhan untuk membuat kita teringat, menginternalisasi dan kemudian melaksanakan kedua prinsip itu?  Jujur saya tidak tahu dan merasa tidak memiliki otoritas menjawabnya.  Namun, ijinkan di tulisan pendek ini saya berbagi pendapat.

Salah satu kompetensi pokok yang diperlukan di era global adalah living together in a harmony (hidup bekerja dan bermasyarakat secara harmonis). Untuk itu diperlukan tidak syarat dasar, yaitu (1) memiliki kemampuan berkomunikasi, baik sebagai pendengar/pembaca maupun pembicara/ penulis, dan (2) memiliki kemampuan bekerjasama dengan saling menghargai.  Nah untuk kedua kedua kemampuan itu diperlukan kesadaran bahwa perbedaan itu merupakan fitrah, sehingga kita harus dapat menerimanya.  Kita harus memahami dan menghargai saudara atau teman yang berbeda secara fisik, kemampuan maupun budaya.

Dalam konsep pendidikan karakter, kita diajarkan empat prinsip dasar peran manusia dalam kehidupan, yaitu (1) manusia sebagai makhluk Tuhan, (2) manusia pribadi yang mandiri, (3) manusia sebagai bagian dari keluarga/masyarakat/warga negara, dan (4) manusia sebagai bagian dari lingkungan.   Keempat peran tersebut saling terkait, dan peran pertama menjadi roh dari ketiga peran lainnya. 

Sebagai makhluk Tuhan, manusia wajib mengikuti prinsip-prinsip ajaran agama yang dianutnya, dengan keyakinan bahwa itulah yang terbaik bagi dirinya.  Sebagai pribadi mandiri, manusia harus menyadari kelebihan dan kekurangannya, dan memanfaatkan kelebihan yang diberikan oleh Tuhan untuk kebaikan dan berusaha mengurangi kekurangannya.  Sebagai bagian dari masyarakat, manusia harus menjadikan dirinya bermanfaat bagi masyarakat di lingkungannya.  Sebagai bagian dari lingkungan, manusia diamanahi Tuhan untuk menjaga kelestariannya.

Jika kita memahami peran manusia yang kedua dan prinsip living together in a harmony, rasanya peristiwa di asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya itu tidak perlu terjadi.   Karena sudah terjadi, maka itu harus kita jadikan pelajaran buat kita semua, bagaimana agar kejadian seperti itu tidak terulang kembali.  JIka benar bahwa kejadian itu dipicu oleh oknum mahasiswa yang memperlakukan bendera merah putih tidak selayaknya, maka kita semua harus memahami bahwa bendera adalah lambing negara yang harus kita hormati.  Seingat saya ada lagu kebangsaan yang berjudul “Berkibarlah Benderaku”.   Dalam lagu tersebut ada bait yang berbunyi “siapa berani menurunkan kau, serentak rakyatmu membela”.


Jika benar kemudian ada oknum yang mengata-ngatai mahasiswa dengan ungkapan tidak pantas, maka kita harus memahami bahwa semua warga negara sama kedudukannya.  Tidak boleh ada seseorang yang merasa lebih tinggi dibanding yang lain.  Tidak boleh mengatakan orang lain lebih rendah kedudukannya dibanding dirinya.  Apalagi jika ungkapan itu mengaitkan dengan ras, suku dan agama, yang sangat mungkin menimbulkan ketersinggungan masif.  Yang tersinggung bukan seorang, tetapi banyak orang yang teridentikkan dengan suku/ras/agama yang diolokkan.  Mungkin itulah yang menyebabkan terjadinya demonstrasi di beberapa daerah Papua.

Berlajar dari kejadian itu, siapapun yang merasa menjadi orangtua, sebagai guru, sebagai pemimpin, sebagai tokoh masyarakat, mengingatkan kepada anak-anak kita, saudara-saudara kita agar tidak mengulangi kejadian tersebut.  Dan itu harus kita mulai dari sendiri dan sekarang juga.  Semoga.