Senin, 18 Maret 2019

HEUTAGOGI


Ketika disrupsi telah menjadi keniscayaan, perubahan terjadi secara cepat dan tidak diduga-duga, bahkan terjadi discontinuity, maka pendidikan yang linier dengan mendasarkan pada prinsip-prinsip pedagogi mulai dipertanyakan.  Tumpukan pengetahuan terus terjadi dan semakin lama sekali banyak akibat perkembangan ilmu dan teknologi, menyebabkan kurikulum semakin membengkak, sehingga memberatkan siswa.

Pedagogy berasumsi siswa belum tahu apa yang harus dipelajari, sehingga kurikulum dirancang para ahli dan siswa tinggal mengikutinya.  Kemampuan awal siswa dianggap sama, sehingga semua siswa harus mengikuti seluruh kurikulum yang ada.  Memang pada level tertentu ada penjurusan atau spesialiasi tetapi spesialisasi itu dibuat para ahli tanpa mempertimbangkan keinginan siswa dan begitu siswa masuk jurusan atau spesialisasi itu, mereka harus mengikuti seluruh kurikulum secara utuh.

Ketika menyadari bahwa siswa atau peserta didik difahami mereka telah memiliki bekal awal sebelum mengikuti suatu pendidikan atau pelatihan, sehingga harus difahami sebagai orang dewasa berkembanglah teori andragogi.  Pada prinsipnya andragogi menganggap siswa adalah orang dewasa yang sudah memiliki kemampuan dan pengalaman sebelum mengikuti pendidikan.  Oleh karena itu mereka belajar tidak dari nol.  Namun demikian tetap saja siswa dianggap belum tahu apa yang harus dipelajari untuk mencapai kompetensi yang diinginkan.  Akhirnya kurikulum disusun oleh para ahli dengan mempertimbangkan kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik.  Dan peserta didik mengikuti semua racikan materi ajar yang telah ditentukan.

Nah, ketika variasi pekerjaan sangat banyak dan berubah dengan cepat, maka kemampuan untuk menangani juga sangat banyak. Pola pikir pedagogi maupun andragogi tidka lagi memadai untuk merancang kurikulum.  Oleh karena itu, teori heutagogi muncul muncul menggantikannya.  Pada heutagogi siswa atau peserta didik difahami sudah mengetahui apa yang perlu dipelajari untuk mendapatkan kemampuan yang diinginkan.  Oleh karena itu merekalah yang merancang kurikulum untuk dirinya sendiri.  Sekolah, universitas, lembaga pelatihan menyediakan sederetan matakuliah atau mata latih dan siswa/mahasiswa/peserta kursus dapat memilih matapelajaran/ matakuliah/matalatih yang sesuai dengan keinginannya.  Kalau dipadankan dengan restoran, mungkin mirip rumah makan Padang, dimana pemberli bisa memilih sendiri lauk apa yang diinginkan dari sederet lauk pauk yang tersaji di etalase.

Mungkin saja diperlukan penasehat atau advisor untuk konsultasi.  Misalnya perseta didik bertanya “setelah lulus saya ingin membuka warung masalah tradisional Jawa Timur, matakuliah apa saja yang perlu saya ikuti?”. Dalam pikiran saya, yang bersangkutan perlu faham cara memasak walaupun tidak secanggih calon juru masak.  Perlu faham dasar-dasar gisi, karena tren ke depan pembeli ingin mendapatkan makanan yang gisinya bagus.  Perlu faham manajemen, khusunya manajemen restoran, walaupj tidak perlu secanggih ahli manajemen tingkat tinggi. Dan sebagainya.  Nah, kalau asumsi saya itu betul, berarti yang bersangkutan harus menjelajah ke beberapa program studi untuk mengambil matakuliahnya.  Pola yang sama, misalnya ada lulusan SMA yang ingin menjadi salesman mobil, yang tentu perlu faham tentang permobilan, marketing bahkan perbankan karena ke depan diperkirakan orang akan memberi secara angsuran.

Mungkin ada yang bertanya bagaimana ijasahnya.  Orang seperti contoh tersebut diatas lulus dari prodi apa? Pertanyaan seperti itu sulit dijawab karena kita menggunakan kerangka pikir era pedagogi.  Di era heutagogi orang tidak disebut lulus dari prodi apa tetapi lulus memiliki kompetensi apa.  Seperti cerita pelamar ke Google tidak ditanya Anda lulusan apa, tetapi ditanya apa yang Anda mampu dan apa yang Anda pernah kerjakan.

Teori heutagogi akan semakin relevan jika dikaitkan dengan era keterbukaan informasi, dimana siswa/mahasiswa/peserta pelatihan dapat mengakses informasi dari berbagai sumber, termasuk materi ajar.  MOOC (massive open online courses) sekarang sudah menjadi sajian di berbagai perguruan tinggi, dimana siapa saja dapat mengaksesnya.  Mahasiwa di Surabaya dapat ikut mempelajari isi matakuliah yang disajikan oleh perguruan tinggi top di Amerika Serikat.  Tentu tidak dapat konsultasi ke dosen apalagi ikut ujian, jika tidak terdaftar sebagai mahasiswa. Online courses sekarang sudah menjadi tawaran di berbagai universitas.  Dengan begitu dapat saja mahasiswa di universitas di Surabaya atas persetujuan dosennya mengambil matakuliah secara online di universitas di Jerman dan hasilnya diakui di almamaternya di Suarabya.

Pada level apa pola pendidikan berbasis teori heutagogi itu dilaksanakan?  Menurut saya sejak level menengah atas bahkan dapat dirintis sejak menengah pertama.  Dengan catatan, sejak dini akan dideteksi apa bakat, minat dan potensinya, kemudian diarahkan mempelajari dan mendalami potensi tersebut.  Tentu tanpa melupakan dasar-dasar sikap, pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat.  Dengan pola itu kurikulum tidak menjadi “beban” tetapi menjadi “sajian konsumsi” yang diperlukan dan bahkan diinginkan oleh peserta didik.  Semoga.

Sabtu, 16 Maret 2019

KEBAKARAN DI HOTEL TEMPAT MENGINAP


Tanggal 4 Maret 2019 kemarin saya menginap di Hotel 101 daerah Darmawangsa Jakarta Selatan.  Sebagai anggota BAN SM memang sering menginap di hotel tersebut jika ada kegiatan di Jakarta. Biasanya banyak teman anggota BAN SM yang menginap di hotel itu, tetapi saya tidak tahu mengapa dari daftar yang saya lihat hanya saya dan Pak Toni Toharudin (Ketua BAN SM) yang menginap disitu, sedangkan yang lain memilih d ihotel Bellevue dekat Pondok Indah.  Alasan saya memilih Hotel 101 sederhana saja, saat makan pagi pilihannya banyak.

Ketika sampai di hotel saya hanya sendirian, karena Pak Toni membawa mobil sendiri dan ternyata tidak jadi menginap di Hotel 101 karena ada acara di Bogor.  Jadi beliau langsung ke Bogor.  Jadilah saya sendirian menginap di Hotel 101.  Maksudnya diantara anggota BAN SM hanya saya yang menginap di Hotel 101. Tentu saja banyak tamu lainnya.  Ketika check in, hotel terasa sepi.  Hanya saya yang check in dan ketika saya melihat sekeliling lobi juga hanya ada 2 orang yang sedang duduk-duduk. Saya dapat kamar nomer 6008.  Artinya di lantai 6.

Begitu masuk kamar, saya langsung mandi dan sholat magrib yang dijamak dengan isya.  Karena merasa capek, selesai sholat saya langsung rebahan sambil nonton TV.  Sekitar jam 9.30an tiba-tiba lampu mati.  Untungnya korden jendela saya buka, sehingga ada cahaya lampu luar yang masuk kamar sehingga tidak terlalu gelap.  Saya tidak punya pikiran apa-apa, karena fenomena seperti itu sering terjadi dan biasanya akan segera menyala kembali.  Listrik dari PLN mati dan segera diganti dengan genset yang memang disiapkan di setiap hotel.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk dan di luar ada suara ramai.  Ketika saya membuka pintu, ada petugas hotel yang membawa senter besar mengatakan gardu PLN terbakar dan tamu diminta turun lewat tangga darurat namu tidak usah membawa apa-apa.  Petugas meyakinkan bahwa keadaan aman dan tidak usah panik.  Ketika saya bilang, saya pakai sarung sehingga perlu berganti celana panjang, si petugas menjawab tidak apa-apa, tidak usah panik.  Akhirnya saya turun melalui tangga darurat dipandu oleh petugas hotel yang membawa senter besar.

Sampai halaman saya melihat asap tebal keluar dari ventilasi gardu yang berada di basement. Tidak lama datang mobil pemadam dengan total lima buah.  Juga datang mobil yang membawa blower besar. Tampaknya ruangan gardu penuh asap, sehingga perlu blower besar untuk mengeluarkan.  Para tamu, termasuk saya duduk-duduk di halaman mencermati apa yang terjadi.  Petugas pemadam kebakaran, dengan pakaian khasnya berwarna oranye tampak sibuk bekerja.  Dengan sedikit pengalaman pernah memasang perlengkapan ruang genset yang menyatu dengan gardu PLN di TVRI Surabaya sekitar 30 tahun lalu, saya menyimpulkan situasi tidak berbahaya.  Dari bau kabel terbakar saya menduga sebenarnya hanya ada barang konsltet dan kabelnya terbakar.

Tidak lama ada petugas hotel yang membagi-bagikan masker dan air minum kemasan. Bahkan ada yang membawa handuk untuk dibagi kepada mereka yang memerlukan.  Petugas dari Polri juga sibuk mengamankan situasi dan bahkan ada yang membawa gulungan police line.  Saya lihat komandannya berpangkat kapten (saya tidak tahu istilah di polri untuk pangkat itu). Juga da satu orang TNI berseragam loreng yang ikut mengamankan situasi. Saya juga melihat seorang “bule” yang ikut mengamati dan saya menduga dia owner atau paling tidak general manajer.  Buktinya beberapa petugas hotel melapor ke beliau.

Sekitar pukul 11.30 asap dari ventilasi ruang genset mulai menipis.  Saya sempat omong-omong dengan petugas hotel yang tampaknya pimpinan bagian teknik.  Beliau mengatakan bahwa yang terjadi konslet dan fusenya terbakar.  Jadi dugaan saya betul. Saya bertanya seberapa parah kabel-kabel yang terbakar?  Beiau mengatakan masih dilihat.  Saya berkomentar, mudah-mudahan tidak sampai pada kabel distribusi ke atas, karena jika itu terjadi sulit untuk terlihat karena biasanya masuk ke duckting.  Beliau bertanya apakah saya orang teknik?  Saya jawab, saya tahu sedikit tentang itu.

Dari pembicaraan singkat itu saya berpikir, kalau toh diperbaiki saya menduga perlu waktu minimal 3 jam karena harus menelusuri kabel di duckting untuk memastikan apa yang terbakar atau tidak.  Jika terbakar tentu harus diganti dan tentu memerlukan waktu lama. Oleh karena itu, saya segera mengajukan untuk pindah hotel jika pihak Hotel 101 memfasilitasi.  Ternyata memang pemindahan itu sedang diatur dan pihak hotel mencari hotel sekelas yang terdekat. Saya segera mendaftarkan diri.

Bagaimana dengan barang-barang di kamar?  Kami diatar oleh petugas hotel untuk mengambil barang dan bahkan koper saya dibawakan saat menuruni tangga darurat. Saya mendapatkan jatah di hotel Monopoli di daerah Kemang.  Dengan taksi Bluebird saya dengan beberapa tamu lain meluncur di Kemang dan ternyata di front office hotel Monopoli sudah ada petugas Hotel 101 yang mengatur, sehingga begitu saya menyebutkan nama, petugas langsung memberi kunci kamar.  Pelayanan yang bagus dari Hotel 101 merupakan contoh bagaimana menangani tamu ketika ada kebakaran.  Membuat tamu tidak panik dan mengatur pemindahan hotel dengan baik.  

Minggu, 16 Desember 2018

WHAT WORK AT WHAT COSTS


Penelitian John Hettie ini sangat menarik dan mungkin mengejutkan bagi beberapa fihak.  Sebagaimana diketahui banyak orang yang meyakini rasio guru-murid sangat menentukan mutu pembelajaran.  Asumsinya jika jumlah murid daam satu kelas sedikit, guru akan dapat memberi perhatian kepada siswa, sehingga siswa dapat belajar dengan baik dan akhirnya prestasinya maksimal.  Banyak orang juga meyakini belajar kelompok merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar, karena siswa akan dapat saling membantu dan bahkan dengan belajar kelompok motivasi belajar siswa akan meningkat.  Berikut ini hasil penelitian John Hettie tersebut.

Feed back to pupils










$
Meta cognitive strategy










$
Peer tutoring










$
Collaborative group learning










$
Reducing class size to <20 o:p="">






$
$
$
$
$
Individualized instruction










$
Mentoring pupils








$
$
$
Teaching assistants







$
$
$
$
Improving school buildings
0








$
$
Streaming by ability
-1









$

Dari gambar tersebut umpan balik bagi kepada siswa, misalnya mengembalikan tugas atau PR dengan diberi catatan atau komentar perbaikan merupakan cara yang termurah (digambarkan dengan 1 $, tetapi memiliki dampak 9 poin.  Sementara itu mengatur rasio guru siswa sampai di bawah 20 orang per rombel, memerlukan biaya yang sangat besar, misalnya menambah jumlah guru, ruang kelas dan sebagainya, tetapi dampaknya pada peningkatan hasil belajar siswa tidak seberapa besar, yaitu hanya 3 poin.

Cara kedua yang hasilnya baik dan dapat dilakukan dengan biaya murah adalah apa yang disebut dengan meta cognitive strategy, yaitu membimbing siswa menggunakan cara belajar yang cocok bagi dirinya.  Belajar kelompok menjadi peringkat ketiga, karena meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 6 poin dengan biaya murah (1 $).  Teaching assistants, yaitu menyediakan guru bantu bagi siswa merupakan cara yang kurang efisien, karena dengan biaya 4 $ hanya menghasilkan peningkatan hasil belajar 1 poin.

Hasil penelitian John Hettie itu belum tentu juga berlaku di Indonesia atau di sekolah anak kita atau di sekolah tempat Bapak/Ibu mengajar  Namun tetap harus mendapat perhatian.  Mari kita logikakan bersama.  Siapa tahu memang sesuai dengan nalar dan berlaku di tempat kita.

Sepanjang yang saya ketahui dan obrolkan dengan teman-teman guru, memeriksa tugas murid, memberi kometar dan mengembalikan tepat waktu, merupakan tugas yang biasanya tidak disenangi oleh guru.  Terlalu banyak memakan tenaga dan beresiko tinggi?  Mengapa? Karena itu harus dilakukan terhadap pekerjaan sejumlah murid yang kita ajar dan harus memberikan komentar yang tepat, karena jika komentar kita keliru akan kontra produktif atau bahkan disanggah oleh murid. 

Namun murid memang senang jika pekerjaannya diperiksa, diberi catatan dan dikembalikan, karena dapat mengetahui apa yang kurang atau bahkan salah untuk dibetulkan.  Dengan cara itu guru secara tidak langsung membimbing siswa secara individual, apalagi jika siwa diberi kesempatan untuk membetulkan.  Siswa akan termotivasi untuk memperbaiki dan itu artinya belajar dengan serius.

Tutor teman sebaya dan belajar kelompok yang sudah kita kenal baik, ternyata juga terbukti baik pada penelitian John Hettie.  Biayanya murah dan hasilnya lumayan baik dalam meningkatkan hasil belajar siswa.  Semoga.

Selasa, 11 Desember 2018

TANGGUH


Bulan November lalu saya mendapat kesempatan mengikuti diskusi dengan teman-teman di Singapore, khususnya di The Head Foundation (THF) dan juga sempat berkunjung ke Nanyang Institute of Education (NIE).   Saya sempat membeli buku berjudul “Can Singapore Fall?”.   Inti buku itu mempertanyakan mungkin Singapore pada saatnya akan “runtuh”.  Buku itu dimulai dengan uraian periode “kejayaan dan keruntuhan” suatu negara atau kerajaan.  Romawi pernah jaya dan kemudian runtuh. Otoman di Turki pernah jaya dan kemudian runtuh.  Inggris pernah menguasai dunia dan sekarang digeser oleh Amerika.  Amerika sekarang jaya dan sangat mungkin akan digeser oleh negara lain.  Nah, bagaimana dengan Singapore yang sekarang dianggap sebagai negara kecil tetapi jaya akan mengalami keruntuhan atau paling tidak kemunduran?  Itulah pertanyaan yang diajukan di awal buku dan kemudian disusul dengan analisis disertasi usulan agar Singapore tidak runtuh.

Salah satu analisis yang menarik, khususnya dari sisi pendidikan adalah siklus karateristik manusia.  Buku itu mengajukan tesis “hard time makes strong men, strong men make good time, good time make weak men, dan weak men make hard time”.   Jadi kehidupan yang sulit akan menumbuhkan generasi yang tangguh, generasi yang tangguh akan menghasilkan kehiudpan yang baik, kehidupan yang baik akan membuat generasi muda lembek dan mudah menyerah, dan akhirnya generasi yang lemah itu akan menghasilkan kehidupan yangsulit.  Menurut buku itu, kehidupan di Singapore saat ini merupakan kehidupan yang baik dan ditengarai mulai menunjukkan dampak pada generasi mudah yang lemah.  Nah, pertanyaan yang muncul bagaimana caranya membuat generasi mudah tidak lemah (bahkan tetap tangguh) walaupun mereka hidup di situasi yang serba baik.

Membaca buku itu,saya jadi teringat buku “Mision Ini Posible” yang ditulis oleh Misbahul Huda beberapa tahun lalu.  Buku ini menceritakan pengalaman pribadinya bagaimana memulai kehidupan yanh keras penuh tantangan sampai menggapai kesuksesan.   Misbahul Huda mengajuka tesis, “kesuksesan itu ditopang oleh ketangguhan usaha yang dilandasi keinginan 24 karat”.  Jadi kunci suskes uitu terletak pada ketangguhan untuk mencapai keinginan yang sangat kuat.

Ketangguhan sebagai kunci suskes juga ditemukan oleh penelitian Angela Duckworth yang videonya banyak beredar.  Duckworth menggunakan istilah “grit” yang artinya tidak ketekunan melakukan usaha dalam jangka panjang dengan pantang menyerah.  Diibaratkan grit itu seperti lari marathon yang memerlukan daya tahan dalam waktu yang lama.  Bukan lari sprint yang dapat selesai dalam waktu pendek.

Saat menyusun Buku Induk Pendidikan Karakter tahun 2010an, diajukan empat karakter penting untuk ditumbuhkan pada anak-anak kita, yaitu jujur, cerdas, tangguh dan peduli.   Dengan bekal empat karekter itu diyakini anak-anak kita dapat menggapai kesuksesan.  Tidak kesuksesan sebagai pribadi tetapi sebagai warga masyarakat dan warga bangsa. Jika cerdas (banyak akal) dan tangguh merupakan bekal sukses secara pribadi, maka jujur dan peduli merupakan bekal untuk sukses sebagai warga masyarakat dan warga bangsa.  Jadi tangguh juga sudah menjadi salah satu karakter yang secara eksplisit disebutkan dalam pendidikan karakter kita.  Pertanyaannya adalah bagaimana karakter tangguh itu dapat ditumbuhkembangkan.  Itulah tugas semua orang yang menyebut dirinya pendidik, ahli pendidikan dan orang yang peduli kepada pendidikan. Semoga.

Jumat, 26 Oktober 2018

PENYIAPAN DAN PEMBINAAN GURU DI SINGAPORE (1)


Lima hari mengikuti workshop di THF (The Head Foundation), diselingi berkunjung ke NIE (Nanyang Institute of Education) dan Fajar Secondary School, saya merasa belajar banyak.  Selama workshop, saya sempat mengikuti presentasi dan bahkan diskusi di luar forum dengan beberapa orang yang faham bentul bagaimana Singapore menyiapkan calon guru dan membinanya setelah mereka bekerja.   Di samping Prof Gopinatan yang punya pengalaman panjang di NIE, juga Prof Berinderjeet Kaur-profesor Pendidikan Matematika di NIE-yang ternyata penggagas “teaching track” dalam pembinaan guru, Prog Teo Tang Wee-profesor Pendidikan Sains-, Dr. Jessie Png-orang yang lama menjadi Assistant Dean yang mengurusi practicum (mirip dengan PPL di LPTK), Mrs Belinda Charles-pensiunan kepala sekolah dan lama menjadi Dean of School Principal Academy (semacam MKKS di Indonesia)-, Mrs Margaret Tan-orang yang lama menjadi kepala sekolah dan baru saja pensiun.  Tentu saja, diskusi dengan beberapa dosen di NIE dan guru-guru di Fajar Secondary School.

NIE adalah satu-satunya lembaga yang bertugas menyiapkan calon guru dan sekaligus melakukan pembinaan guru, termasuk kepala sekolah, di luar pembinaan rutin oleh jajaran MoE (Kementerian Pendidikan Singapore).  Jadi Singapore tidak memiliki LPMP dan P4TK seperti di Indonesia.  Mungkin negara kecil dengan penduduk sekitar 3,5 juta dengan jumlah guru sekitar 33 ribu orang.  Secara georgrafis juga hanya merupakan sebuah pulau kecil, sehingga semua sekolah dapat dijangkau dari NIE.

Secara umum, pendidikan calon guru di Singapore dapat dibagi menjadi 3 track.  Pertama dan yang jumlahnya paling besar disebut PGDE (Post Graduate Diploma of Education) yang dilakukan di NIE selama 16 bulan.  Pesertanya mereka yang sudah memiliki ijasah universitas dalam bidang ilmu murni, misalnya Matematika, Teknik Sipil dan sebagainya.  Bukan dari bidang Pendidikan, misalnya Pendidikan Matematika.  Jadi mereka belum memiliki bekal sama sekali tentang bagaimana mengajar.

Sebelum mendaftar ke PGDE, calon mahasiswa harus menjalani apa yang disebut contract teacher, yaitu menjadi guru kontrak selama 1 semester di sekolah.  Periode ini dirancang untuk semacam penjajagan apakah yang bersangkutan memang senang menjadi guru dan juga cocok untuk menjadi guru.  Senang artinya merasa menikmati mengajar, sehingga tidak mudah keluar ketika kelak menjadi guru.  Cocok, artinya yang bersangkutan punya “bakat” menjadi guru.  Oleh karena itu rekomendasi dari kepala sekolah diperlukan ketika yang bersangkutan melamar ke PGDE.  Kepala sekolah juga tidak sembarangan memberi rekomendasi, karena dari pengalaman biasanya setelah lulus, yang bersangkutan dikembalikan menjadi guru di sekolah yang dahulu yang berangkutan menjadi contract teacher.

Berbekal surat rekomendasi dari kepala sekolah yang bersangkutan mengikuti serangkaian tes di MoE.  Begitu diterima dan mulai mengikuti kuliah, yang bersangkutan mendapat beasiswa (konon cukup besar dan cukup untuk hidup di Singapore) dan jika lulus langsung diangkat menjadi guru.  Yang melakukan tes MoE dan bukan NIE.  NIE tinggal menerima calon mahasiswa yang dikirim oleh MoE.  Pola ini dirancang, karena yang bersangkutan akan menjadi guru-nya MoE, sehingga MoE yang punya kewenangan memastikan siapa yang memenuhi standarnya.  Info yang saya dapat, pejabat di MoE, khususnya di bagian pendidikan (disebut wing teaching) dan bukan bagian pendukung (misalnya keuangan), semuanya mantan guru sehingga mengerti bagaimana guru yang baik.

Pola pendidikan PGDE menggunakan pola in-on-in-on.  Sebagian di sekolah dan sebagian di kampus. Diawali dengan perkuliahan awal di kampus selama 2 minggu (in), disambung dengan pengenalan sekolah (3 minggu), disambung lagi dengan perkuliahan di kampus (in) dan diakhiri dengan praktek mengajar selama 10 minggu di sekolah (on).   Karena mahasiswa PGDE adalah lulusan S1 murni, maka selama perkuliahan mereka mendapatkan matakuliah yang terkait dengan kependidikan dan kemudian dilanjutkan dengan PPL sebagai wahana mempratekkannya d sekolah.

Bagaimana jika bekal bidang studinya kurang?  Misalnya ada S1 Teknik Lingkungan yang ingin menjadi guru IPA?  Bagi mahasiwa seperti itu ada program khusus untuk “menambal” bekal bidang ilmu yang diangga kurang.  Program ini diluar kuliah reguler, sehingga mahasiswa harus bekerja ekstra.  Umumnya ditempuh sebelum masuk di program resmi PGDE.

Pola kedua disebut BSc (Ed) or BA (Ed) track.  Pesertanya lulusan JC (Junior College), mirip SMA tetapi yang dipersiapkan masuk ke universitas, berarti anak yang pandai-pandai.  Program ini ditempuh mahasiswa selama 4 tahun, jadi lebih lama dibanding program S1 (di Singapore disebut bachelor program) yaitu selama 3 tahun. Disebut program BSc (Ed) atau BA (Ed) bukan Bed, karena mahasiswa mendapatkan materi bidang studi “setara” dengan S1 murni.  Dengan demikian seakan-akan, program ini penggabungan antara S1 biasa (BSc ata BA) dengan PGDE. 

Pogram ini merupakan impian MoE Singapore untuk mendapatkan guru yang cerdas dan sekaligus benar-benar ingin menjadi guru sejak lulusan JC.  Yang bisa melamar ke program ini adalah kelompok terbaik dari lulusan JC dan begitu diterima akan mendapat beasiswa yang menggiurkan serta langsung diangkat menjadi guru setelah lulus.  Selama kuliah juga mendapat kesempatan mengikuti seminar di negera lain dengan biaya ditanggung negara. Lebih dari itu, juga mendapat peluang untuk mengikuti program sandwich di negara maju.  Pokoknya program BSc (Ed) atau BA (Ed) ini merupakan program unggulan, dengan fasilitas mewah.

Namun demikian “kemewahan” itu juga belum mampu menari minta anak muda di Singapore.  Informasi yang saya dapatkan tahun ini program ini hanya memiliki 52 orang mahasiswa baru, lebih sedikit dari kursi yang disediakan.  Mengapa?  Menurut informasi, walaupun gaji guru di Singapore cukup tinggi dan ketika kuliah mendapatkan fasilitas yang wah, lulusan JC masih lebih memilih ke profesi lain, yang memang secara finansial lebih menjanjikan.

Progam ketiga yaitu Dip Ed (Diploma Kependidikan), khusus untuk guru bidang seni dan olahraga.  Mereka cukup menempuh studi dalam 2 tahun dan ini merupakan program khusus, karena diambil dari mereka yang benar-benar punya bakat dalam bidang yang sesuai.  Guru seni adalah harus memiliki bakat seni yang menonjol, guru olahraga harus memiliki bakat olahraga yang menonjok, sehingga dapat menadi contoh bagi siswanya.

Sebagaimana disebutkan terdahulu, program pendidikan calon guru, baik PGDE, BSc(Ed)/BA(Ed) maupun Dip Ed, dilaksanakan di NIE dan sekolah partner. Kerjasama antara NIE dengan sekolah tampaknya berjalan dengan baik.  Semua dosen NIE, khususnya yang membidangi pendidikan pernah menjadi guru.  Semua guru dan kepala sekolah adalah mantan mahasiswa NIE. Setiap tahun guru di Singapore wajib mengikuti pengembangan diri selama 100 jam dan pada umumnya ditangani oleh NIE, sehingga mereka mengenal satu dengan yang lain, bahkan merasa satu keluarga.

Apakah semua mahasiwa PGDE, BSc(Ed), BA(Ed) dan Dip ED  lulus dan diangkat menjadi guru? Ternyata hampir semua lulus.  Kalau ada yang tidak lulus, itu yang “keterlaluan” dan biasanya terkait dengan “perilaku” dan bukan karena kemampuan mengajar.  Seleksi yang ketat, pola contract teacher, pembinaan selama kuliah yang sangat efektif, tampaknya dirancang agar tidak banyak mahasiswa yang drop dan merugikan keuangan negara.