Senin, 05 Desember 2016

SISTEM PENDIDIKAN KITA TERLAMBAT?



Pendidikan formal kita dimulai dari TK.  Jadi anak baru masuk wilayah pendidikan formal ketika berusia sekitar 4 tahun.  Kelompok Bermain atau yang sering disebut dengan Play Group yang mendidik anak-anak usia di bawah 4 tahun, dimasukkan dalam kelompok pendidikan non formal yang tentu saja tidak mendapat perhatian seintens pendidikan formal. Bahkan Wajib Belajar baru dimulai dari SD, sehingga anak-anak tidak wajib masuk TK dan dapat langsung masuk SD, dengan usia 6-7 tahun.

Muncul pertanyaan, apakah pendidikan anak sebelum SD tidak sepenting SD ke atas, sehingga tidak menjadi bagian dari Wajib Belajar?  Apakah anak sebelum masuk TK belum memerlukan pendidikan yang serius, sehingga tidak dimasukkan dalam struktur pendidikan formal?  Kapan pendidikan anak harus dimulai secara serius?  Siapa yang seharusnya memilikirkan hal itu?

 
Pertanyaan itu muncul, karena ada penelitian yang menunjukkan bahwa puncak potensi perkembangan kognitif itu terjadi pada usia 2-3 tahun.  Dengan demikian, seyogyanya pada usia itulah rangsang diberikan secara optimal. Jika kita baru mulai serius menanganinya pada usia 5 tahun atau bahkan usia 7 tahun, sebenarnya kita terlambat, karena potensi perkembangan kognitifnya justru sudah menurun.  Jika kita analogkan memberi pupuk untuk memperbanyak buah tanaman, pupuk itu kita berikan ketika masa berbuah tanaman tersebut sudah mulai berakhir.  Jadi sangat mungkin manfaat pupuk buah itu tidak maksimal.  Lain kalau pupuk itu diberikan ketika saat tanaman itu menyiapkan buah, sehingga pupuk itu sangat mendukung munculnya buah.

Tidak hanya perkembangan kognitif yang puncak potensi perkembangannya pada usia sebelum TK.  Puncak potensi perkembangan bahasa justru lebih awal, yaitu sekitar usia satu tahun.  Dengan demikian, pada usia itulah idealnya kita memberikan perhatian untuk pendidikan bahasa, berbicara dan sebagainya.  Jika kita baru memberikan perhatian itu ketika anak-anak masuk TK dengan usia sekitar 4 tahun, berarti terlambat.

Hasil penelitian yang diungkapkan oleh McGregor tersebut perlu mendapat perhatian. Saya takut selama ini kita sudah menyia-nyiakan usia potensial anak-anak kita.  Perkembangan kognitif, penguasaan bahasa dan kreativitas anak-anak kita tidak tumbuh optimal, karena kita memupuknya ketika puncak potensinya sudah lewat.

Hasil studi yang disampaikan McGregor itu relatif baru, paling tidak bagi saya.  Saya baru tahu kalau puncak potensi perkembangan belajar bahasa itu pada usia sekitar satu tahun.  Saya juga baru tahu kalau puncak potensi perkembangan kognitif itu pada usia 2-3 tahun.  Penelitian McGregor memang menggunakan neoro-psychology/neuro-pedagogy yang merupakan bidang baru dalam psikologi dan pendidikan. Sangat mungkin pola pendidikan dan struktur persekolahan atau kelembagaan pendidikan saat ini, disusun sebelum kita tahu perkembangan kogntif dan bahasa seperti yang diungkapkan oleh McGregor.

Sudah waktunya, kita pikirkan agar “loss generation” tidak terus berlangsung.  Kita harus mencari bagaimana mana caranya agar kita dapat memberikan rangsang pendidikan yang tepat dan optimal, ketika potensi kognitif anak-anak kita berada di puncak.  Kita harus mencari cara agar dapat memberikan rangsang yang tepat dan optimal, ketika puncak potensi bahasa anak-anak kita tiba.  Kita harus menemukan cara bagaimana memberikan rangsang yang tepat dan optimal ketika puncak potensi kreativitas anak-anak kita tiba.

Tentu sangat ideal, kalau struktur persekolahan yang saat ini berlaku ditinjau kembali, agar secara formal kita dapat memberikan perhatian khusus pada usia-usia itu.  Namun harus kita sadari untuk mengubah struktur persekolahan bukanlah hal yang mudah.  Oleh karena itu, ada baiknya kita pikirkan bagaimana agar kita dapat melaksanakan ide itu dengan struktur kelembagaan yang ada.

Saat ini anak-anak usia 1-3 tahun masih “di rumah” bersama orangtuanya.  Oleh karena itu, gagasan untuk memberikan rangsang pendidikan yang tepat dan optimal pada usia itu harus melalui jalur orangtua.  Program parenting, mungkin merupakan salah satu alternatif.  Namun, melalui jalur organisasi apa kita menggarap parenting?  Mungkinkah melalui PKK yang kendalinya di Kemdagri sampai RT?  Mungkinkah melalui Posyandu yang kendalinya di Kemkes?  Atau ada jalur lain?  Mari kita pikirkan bersama.