Senin, 14 Mei 2018

BERHUTANG BUDI KEPADA REKAN DOKTER DAN PERAWAT


Selama 2 hari 2 malam, saya dirawat di kamar nomer 2 ruang Ahira RSI Jemursari.  Masuk selepas magrib hari Minggu 6 Mei 2018 dan pulang hari Selasa tanggal 8 Mei 2018 sekitar pukul 17.00. Jika diasumsikan saya benar-benar ruangan pukul 20.00, setelah melalui proses di UGD, foto torak dan CT scan di bagian Laboratorium, berarti saya dirawat di Ahira selama 45 jam.  Ditunggui isteri yang setia dan mendapat ruangan sangat bagus.  Juga ada bed/kasur untuk penunggu.

Sejak dari bagian UGD saya sudah diberitahu kalau yang akan menangani dr. Dyah-wakil direktur bidang medik di RSI Jemursari.  Saya tidak mengerti mengapa beliau yang harus menangani, karena setahu saya beliau spesialis penyakit syaraf.  Apakah sakit saya dicurigai terkait dengan syarat ya?  Apalagi saya di-CT scan segala.  Saya berpikir positif saja.  Seperti info dari Pak Bagus, saya saya akan diobservasi biar tuntas. 

Minggu malam saya merasa tenang, karena sudah di rumah sakit dan dibawah pengawasan dokter.  Perawatnya juga sangat baik-baik.  Malam itu belum dapat jatah malam, sehingga isteri pulang dulu untuk makan.  Saya sudah akan sebelum berangkat.  Saat balik di kamar di Ahira, isteri membawa kabin, camilan yang saya sangat suka.  Jadi praktis Minggu malam saya makan dengan baik dan dapat tidur nyenyak karena merasa aman.

Pagi-pagi, sekitar pukul 06, perawat sudah datang untuk menensi dan mengukur suhu badan saya.  Berapa?  Ternyata masih cukup tinggi, kalau tidak salah 140/87. Sebentar lagi petugas mengantar makanan dan yang sangat menyenangkan, penunggu-isteri saya juga dapat jatah makan. Sungguh pelayanan yang sangat baik.  Sekitar jam 8an , dr Dyah datang untuk memeriksa.  Beliau mengatakan, hasil CT scan baik hanya ada “dot” yang akan dikonsulkan ke dokter radiologi.  Hasil foto torak juga baik.  Hasil lab (pemeriksaan darah) juga baik.  Oleh karena itu, dr Dyah mengirim saya untuk USG bagian perut.  Menurut beliau perut saya kembung dengan asam lambung tinggi.  Ya, saya ikut saja karena dokter yang paling tahu.

Karena harus puasa lebih dahulu, USG lambung dijadwalkan pukul 16.00 dan saya diharuskan puasa (tidak boleh makan tetapi boleh minum air putih) sejak makan siang pukul 12an.  Saya juga harus menahan tidak kencing sejak pukul 15.00.  Pukul 15.45an saya didorong dengan kursi roda ke Lab dan ternyata dr. Adi Habibie sudah menunggu.  Beliau masih sangat muda, dugaan saya usianya maksimal kepala 3.  Sambil melakukan USG kami ngobrol.  Beliau menjelaskan kalau kondisi perut saya baik. Tidak ada hal-hal yang mencurigakan.

Beliau bertanya berapa usia saya dan saya jawab 66 setengah.  Dr Adi Habibie, dokter panyakit dalam meng-USG mengatakan, kondisi saya sangat prima untuk orang usia 66 tahun.  Saya lantas bercerita kalai hasil CT scan saya ada dot dan oleh dr. Dyah akan dikonsultasikan ke dokter radiologi.  Dr. Adi menjawab, kalau dot sih biasa karena itu biasanya kalsifikasi atau pengapuran.  “Saya yang kepala tiga saja juga ada dot seperti itu”. Tentu saya gembira, karena dot pada hasil CT scan bukan sesuatu yang membahayakan.

Karena USG bagian perut tidak ada hal yang aneh, saya jadi bertanya-tanya “jadi mengapa tekanan darah saya tinggi atau lebih tinggi dari biasanya?”.  Biasanya hanya sekitar 110/70 kok menjadi 150/90.  Istilah Pak Cholik itu 1,5 dari biasanya.  Apa seperti kata Prof Romdhoni. Dokter ahli jantung dan direktur utama RSI Jemursari, bahwa saya kecapekan?  Atau seperti komentar adik kandung saya, yang kebetulan dokter bedah onkologi, perlu diperiksa dokter jantung?   Akhirnya, saya berpikir ya diserahkan kepada dokter yang merawat saja.  Artinya menunggu apa komentar dr. Dyah besuk paginya.

Selasa pagi, seperti biasanya sekitar jam 05.30 ada perawat yang menensi.  Hasilnya 140/80.  Sudah turun dibanding hari Senin.  Namun ketika ditensi lagi pada pukul 10an, tekanan darah saya baik menjadi 152/87.  Saya sedikit kaget.  Apalagi sampai waktu itu dr. Dyah belum visite karena ada sidak dari Persatuan Rumah Sakit atau lembaga apa yang saya kurang jelas.  Didorong rasa penasaran, saya kirim WA melaporkan kalau tekanan darah saya 152/87.  Dijawab, istirahat saja dan segera akan divisite.

Sampai jam 13an dr. Dyah belum juga muncul, mungkin acara sidak belum selesai.  Tekanan dasah saya juga masih 150/85.  Akhirnya, sekitar pukul 13an datang rombongan Prof Romdhoni, dokter ahli jantung dan direktur utama RSI, dr. Dyah, wadir bid. medik dan dokter ahli syaraf, dr. Adit, wadir bid pendidikan dan dokter ahli edah, serta Pak Rohadi, wadir bid adminsitrasi.  Pastilah yang paling banyak komentar Prof Romdhoni.  Beliau minta saya tidak mikir macam-macam, istirahat saja nanti tekanan darah akan turun sendiri.  Bahkan dinasehati jangan sering-sering nensi.  Akhirnya beliau mengatakan, pulang saja dan istirahat di rumah biar lebih rileks.

Dr. Dyah yang menangani saya, meminta perawat memberi obat yang diperlukan dan mempersiapkan kepulangan saya.   Namun masih menunggu apakah sore hari tekanan darah saya stabil.  Akhirnya sekitar pukul 17, perawat memberitahu saya boleh pulang dan memberikan obat serta surat untuk kontrol pada hari Jum’at.  Tentu saya sangat senang.  Segera isteri mencari taksi untuk pulang.  Saya merasa berhutang budi kepada rekan-rekan dokter dan perawat yang sudah demikian baik merawat saya selama 2 hari 2 malam di RSI Jemursari. Semoga Allah swt membalas semua kebaikan itu dengan pahala yang berlipat.

Jumat, 11 Mei 2018

TERIMA KASIH SUKRON

Minggu sore tanggal 6 Mei 2018 untuk kedua kalinya saya mendatangi UGD Rumah Sakit Islam Jemursari.  Sehari sebelumnya, sabtu saya sudah ke UGD tersebut karena tiba-tiba tekanan darah saya cukup tinggi, 155/90.  Pada hal biasanya di bawah 120.   Saat di UGD dicek oleh perawat tekanan darah saya 140/90, kemudian di EKG dan hasilnya normal.  Oleh dokter diberi obat neurodek dan obat mag dan boleh pulang.

Hari minggu, seharian saya istirahat seperti yang dipesankan dokter.  Katanya saya kurang istirahat dan memang betul karena sejak rabu sebelumnya kebetulan saya sangat sibuk.  Mondar-mandir Surabaya-Balikpapan-Samarinda-Jakarta-Jogya-Surabaya.  Apalagi Kamis sorenya terkena macet 3,5 jam di Jakarta gara-gara banjir di daerah Kemang.  Sabtu pagi-pagi pulang dari Jogya mampir rumah untuk sarapan dan terus mengajar sampai pukul 16an.

Walaupun sudah istirahat seharian, rasa sedikit pusing belum juga hilang.  Sehabis magrib isteri menensi saya dan tekanan darah justru naik menjadi 162/97.  Dibayangi rasa takut, saya memutuskan untuk kembali ke RSI.  Ketika ditensi saya menceritakan bahwa kemarin sudah kesini dan diberi obat tetapi tekanan darah tidak turun.   Mas perawatnya sangat baik dan terasa akrab sambil ngobrol.  Raut wajahnya cerah dengan senyum tersungging di bibirnya. Saya baca di bajunya beliau bernama Sukron.  Mungkin perawat seperti itu yang ideal, yang membuat pasien merasa nyaman.

Selesai menensi dan melaporkan hasilnya kepada dokter, Mas Sukron datang lagi sambil menerima telepon.  Hp diberikan saya dan saya baca telepon ersebut dari Abah Bagus.  Saya tanya tanya siapa mas, dijawab dari Abah Bagus.  Jujur awalnya saya tidak faham, siapa yang dimaksud Abah Bagus.  Maklum di kalangan RSI orang yang sudah berusia sering dipanggil abah, termasuk saya juga dipanggil abah.   Sambil mendengar suara di hp, saya jadi tahu bahwa yang menelpn Pak Bagus “orang RSI Jemursari” yang biasa mengurusi hal-hal umum di RSI, antara lain perparkiran.  Intinya Pak Bagus menyarakan saya opname saja untuk diobservasi.

Akhirnya saya diopname dan Mas Sukron yang mengurus segala sesuatunya, termasuk memasang infus dan mencarikan kamar.  Sambil memasang infus beliau cerita ini dan itu, termasuk cerita tentang Cak Anam (Choirul Anam-pengawas Yarsis-teman lama saya).  Mas Sukron sangat terampil dan ramah.  Memasang infus maupun mengambil darah tidak sakit.  Kalau saja semua perawat seperti itu, ramah dan terampil tentu pasien sangat senang dan tidak merasa “ngeri” di rumah sakit.  Bukankah yang paling banyak ketemu pasien adalah perawat, karena dokter hanya sebentar-sebentar ketemunya.  Saya merasa wajib mengucapkan terima kasih kepada Mas Sukron.

Setelah semua selesai, saya diantar ke kamar untuk opname.  Kebetulan Pak Cholik-Wakil Dekan tempat saya bekerja-hadir sehingga beliau yang mendorong kursi roda saya.  Isteri saja dan seorang perawat muda mengiringi di belakangnya.  Mas Sukron sebagai perawat senior di UGD tentu harus menangani pasien lainnya.  Sebelum sampai ke ruang opname, ternyata saya harus menjalani foto torak dan CT Scan otak.   Dalam hati saya bertanya-tanya, apakah sakit saya serius, kok sampai CT scan?  Atau seperti saran Pak Bagus, menisan diobervasi biar tuntas?  Ya sudah diikuti saja.

Selesai foto torak dan CT scan, saya diantar oleh isteri dan perawat muda itu ke shal Ahira dan kebetulan dapat kamar di nomor 2.   Saat datang, beberapa perawat pada datang dan saya bercerita kalau tadi yang memasang infus Mas Sukron, yang pandai sekali sehingga tidak sakit.  Salah seorang perawat mengatakan Mas Yusro itu suaminya dokter Nanda.  Saya agak kaget.  Betulkan yang dimaksud dr. Nanda putra Pak Salamun?  Ternyata  betul.  Pada hal, saat di Nanda menikah, saya menjadi saksinya.  Jadi saya menjadi saksi pernikahan Mas Sukron dengan dr. Nanda.  Makanya, Mas Sukron tampak sudah mengenal saya dan bahkan menelpun Pak Bagus kalau saya sedang di UGD.  Sekali lagi terima kasih Mas Sukron, semoga apa yang panjenengan lakukan menjadi amal ibadah dan mendapat pah

Kamis, 03 Mei 2018

TERPAKSA JADI BISA?


Dua hari ini saya berada di Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya di Balikpapan dan Samarinda.  Bersama dengan Bu Ari, Pak Budi, Mas Afan dari Tanoto Foundation, saya ke Unmul dan IAIN Samarinda.  Sebenarnya saya sudah berkali-kali ke Kaltim.  Bahkan pada awal tahun 2003-2005 saya sering ke Kaltim karena saat itu saya menjadi konsultan lepas World Bank pada Junior Secondary Education Project (JSE-2) yang salah satu wilayahnya propinsi Kaltim.  Pada tahun 2007an saya juga beberapa kali ke Kaltim, khususnya Kutai Timur karena Unesa punya kerjasama dengan Pemkab setempat dan saat itu saya menjadi Pembantu Rektor Bidang Kerjasama.  Setelah itu sangat jarang saya ke Kaltim.  Tahun lalu saya ke Tarakan yang sekarang sudah “berpisah” menjadi propinsi Kalimantan Utara (Kaltara) dan hanya transit penerbangan di bandara Sepinggan Balikpapan.

Seperti biasanya, begitu mengunjungi suatu daerah dan waktunya makan, saya selalu bertanya “apa makanan khas di daerah ini dan kemana bisa mencarinya”.   Nah, ternyata itu tidak mudah di Kaltim.  Mas Andre, driver yang menemani kami mengatakan di Kaltim tidak ada makanan khas.  Hampir semua warung makan, restoran yang punya atau paling tidak juru masaknya orang Jawa.  Apalagi warung kecil dan kaki lima praktis “dikuasai” orang Jawa.  Dan bentul, Man Andre yang asli Balikpapan menunjukkan betapa banyaknya warung dengan inisial Jawa, misalnya Soto Lamongan, Pecel Blitar, Warung Ponorogo, Ikan Bakar Cak Gundul, Mie Pak Karso Jogya, Ayam Bakar Wong Solo dan sebagainya.

Apa tidak ada warung yang menjual makanan asli Kaltim?  Mas Budi punya penjelasan yang masuk akal.  Ada, tetapi sangat sedikit dan biasanya di lokasi pedesaan.  Mengapa?  Karena yang membeli orang “lokal” dan itupun tidak banyak.  Orang lokal juga lebih senang membeli makanan buatan orang Jawa yang konon lebih murah dan lebih enak.  Kalau toh ada “orang luar” yang ingin merasakan makanan lokal yang orang yang jarang-jarang ke Kaltim, seperti Pak Muchlas.  Jadi wajar kalau tidak ada warung makanan khas Kaltim di Samarinda dan Balikpapan.  Yang ada di Tenggarong, yaitu Warung Gamis yang menjual sate payau atau sate kijang.

Mendengar penjelasan Pak Budi dan Mas Andre, saya mencoba mengamati dan mencari informasi dari teman-teman di Samarinda.  Dan jawabannya menguatkan tesis Pak Budi.  Pokoknya kalau warung makanan sudah dikuasai orang Jawa.  Bukan hanya itu, toko-toko kecil yang menguasai orang Jawa dan orang Bugis.  Orang sini malas pak.  Maunya makan enak tetapi malas bekerja.  Ya, akhirnya perdangangan atau bahkan aktivitas ekonomi dikuasai oleh orang Jawa dan Bugis.

Mendengar penjelasan teman Samarinda itu, saya bertanya-tanya apakah itu memang benar?  Bahwa banyak orang Jawa yang membuka warung makan di luar Jawa, saya sudah faham.  Bahkan saat saya ke Meraoke beberapa tahun lalu, saya menjumpai banyaknya warung kaki lima yang bercirikan khas Jawa.  Umumnya orang Gresik dan Lamongan, yang membuka warung ikan bakar kaki lima.  Namun kalau sampai orang Jawa dan atau Bugis menguasai penyediaan warung saya baru mendengar hari itu.

Merenungkan fenomena itu saya berpikir, mengapa orang Jawa dan orang Bugis sukses “menguasai” aktivitas ekonomi, khususnya di sektor makanan di Kalimantan Timur?  Apakah fenomena seperti itu juga terjadi di daerah lain?  Apakah itu terkait dengan fenomena yang seringkali kita dengan pendatang seringkali sukses dan “menggeser” orang lokal. Misalnya transmigran di berbagai daerah ternyata sukses dan menggeser penduduk lokal.

Saya jadi teringat pendapat seorang kawan, orang-orang di sekolah swasta biasanya lebih gigih dan lebih kreatif. Orang-orang di perusahaan swasta lebih gigih dan kreatif dibanding dengan mereka yang bekerja di BUMN apalagi di birokrasi pemerintahan.  Mengapa?  Teman saya mengatakan, orang-orang di sekolah swasta atau di perusahaan swasta “dipaksa” untuk kerja keras dan kreatif agar sekolahnya atau perusahaannya tidak tutup.   Sementara teman-teman di sekolah negeri dan BUMN dan birokrasi pemerintah, tenan-tenang karena toh anggaran sudah ada dari negara.  Gaji juga sudah pasti diberi oleh negara.

Apakah semua itu berarti, kondisi yang memaksa dapat membuat orang bekerja keras dan bahkan memunculkan kreativitas untuk mengatasi kendala yang dihadapi?  Jika logika itu benar, maka pertanyaannya “bagaimana pendidikan dapat menciptakan situasi keterpaksaan, sehingga siswa terdorong untuk kerja keras dan bahkan kreatif untuk mengatasi hambatan yang terjadi”. 

Rabu, 02 Mei 2018

TIDUR DIGOYANG MOBIL


Sudah lama saya tidak ke Samarinda.  Mungkin sudah 10 tahunan.  Meskipun ibukota propinsi Kalimantan Timur, tetapi Samarida tidak memiliki bandara yang representatif.  Bandara yang besar berada di Balikpapan yang berfungsi sebagai hub kota-kota di Kalimantar Timur dan juga kota-kota di Kalimantan Utara.  Memang ada bandara di Samarinda tetapi kecil dan saya sendiri belum pernah terbang langsung ke Samarinda.  Jadi setiap kali ke Samarinda, saya landing di Balikpapan, disambung perjalanan darat Balikpapan Samarinda.

Tanggal 2 Mei 2018 saya punya acara di Universitas Mulawarman dan UIN Samarinda, sehingga terbang ke Kaltim sehari sebelumnya.   Saya memilih terbang agak sore, toh acaranya tanggal 2 Mei.  Yang penting bisa sampai di Samarinda tanggal 1 Mei sore atau malam, dan pagi-pagi sudah siap acara.  Setelah melihat jadwal penerbangan, saya memilih Citilink yang terbang dari Surabaya pukul 14.45, dengan harapan sampai Balikpapan sekitar pukul 17.30an, sehingga tidak terlalu malam sampai Samarinda.

Citilink saya pilih karena menurut beberapa teman temasuk penerbangan yang relatif on-time.  Saya merasakan itu ketika beberapa hari lalu terbang dari Pekanbaru ke Jakarta.  Apalagi pramugari menginformasikan kalau Citilink merupakan satu-satunya penerbagangan berbiaya rendah (low cost carier) yang mendapatkan penghargaan Bintang Empat.   Logikanya pelayanan baik dengan jadwal yang tepat pula.

Karena tidak sempat check in on-line, saya sengaja ke bandara agak awal. Sekitar pukul 13.30an sudah sampai Terminal 1 Bandara Juanda dan melakukan check in dengan mudah.  Saya mendapatkan tempat duduk nomer 24-B.   Biasanya saya menghindari kuri bernomor “B” atau “J” karena itu berarti di tengah.  Saya selalu memilih kursi bernomor “C” atau “H” yang artinya di lorong, karena mudah kalau ingin ke toilet.   Kali ini mendapat kursi “B” karena kalau memilih harus membayar tambahan, minimal 55 ribu rupiah.  Tampaknya Citilink benar-benar menerapkan “bussiness airline”, sehingga setiap tambahan kenyamanan harus membayar.

Begitu masuk ke ruang tunggu 10-A sesuai dengan yang tertera di boarding pass, saya melihat pengumuman kalau pesawat delay dan akan diberangkatkan pada pukul 15.10.  Saya segera kirim WA ke Pak Budi Kuncoro, rekan yang akan sama-sama ke Samarinda tetapi terbang dari Jakarta, agar beliau tidak menunggu-nunggu.  Namun ketika jarum jam menunjukkan pukul 15.10 ternyata pengumuman di layar berubah pesawat akan diberangkatkan pukul 16.30. Wow, berarti pesawat akan delay 1 jam 45 menit dan akan sampai di Balikpapan pukul 19.30an WITA.  Itupun kalau betul pesawat take off pukul 16.30.

Informasi itu segera sampai WA-kan ke Pak Budi Kuncoro dan beliau menjawab, nanti dilihat akan menginap di Samarinda seperti rencana semula atau menginap di Balikpapan saja.  Baru pagi-pagi berangkat ke Samarinda.  Saya kira itu rencana yang baik.  Toh acara di UIN .......mulai pukul 10, sehingga masih cukup waktu ditempuh dari Balikpapan pagi-pagi. Anggaplah Balikpapan-Samarinda memerukan waktu 3,5 jam berarti kami dapat start pukul 6 pagi.

Begitu sampai di bandara Sepinggan Balikpapan dan ketemu Pak Budi dan Bu Ari Widhowati, ternyata rombongan akan langsung ke Samarinda dengan harapan dapat istirahat baik, karena tidak tergesa-gesa bangun dan berangkat.  Agar dapat segera meluncur diputuskan makan malam di rumah makan padang yang bisa cepat.  Kebetulan begitu keluar area bandara ditemukan Rumah Makan UPIK dengan sajian masakan padang.

Dengan perut kenyang, kami berlima-Bu Ari, Pak Budi, Mas Afan Surya, Mas Andre-driver dan saya meluncur ke Samarinda.  Kami start pukul 21 lebih sedikit, sehingga Mas Andre-driver bilang kami akan sampai di Samarinda sekitar pukul 24.30an.   Mendengar itu, pikiran saya kami akan masuk hotel lewat tengah malam, sehingga harus berusaha tidur selama di perjalanan agar besuk pagi tetap fresh.

Walaupun teman-teman tetap ngobrol dan bahkan berkelakar, saya mencoba tidur sebisa-bisanya.  Karena jalan sepanjang Balikpapan-Samarinda berkelok-kelok dan tidak rata akibat tanah yang bergerak, maka mobil terus meliuk-liuk dengan goyangan kecil selama perjalanan.  Itulah yang saya nikmati sekitar 3 jam perjalanan, khususnya setelah keluar kota Balikpapan dan masuk kota Samarinda.  “Turu-turu ayam” mungkin itu istilah yang tepat untuk menggambarkan tidur saya selama perjalanan.  Tetap mendengar obrolan teman, tetap dapat merasakan goyangan mobil, tetapi sebenarnya sedang tidur.  Lumayan, daripada tidak tidur sama sekali.

Pukul 23.50an kami sampai hotel Midtown tempat kami menginap.  Jadi perjalanan lebih cepat dari yang diperkirakan Mas driver.  Segera kami check in untuk segera istirahat.  Ketika petugas front office mengatur kamar-kamar kami, saya berkelakar “kalau check in tengah malam gini, bayarny separoh ya”.   Petugas hotel hanya tersenyum dan Mas Budi menimpali “bayar separoh tetapi nanti yang numpak di bed juga hanya badan dan kepala, kakinya tidak boleh”.

Begitu menerima kunci, kami segera masuk ke kamar masing-masing untuk segera istirahat.  Saya juga demikian.  Masuk kamar, melepas celana panjang dan ganti sarung, ambil wudhu, sholat dan segera merebahkan badan.  Ketika menghidupkan tivi, ternyata sedang acara ILC dan membahas masalah tenaga kerja asing yang menyerbu Indonesia.  Menarik, tetapi saya sadar harus segera istirahat.  Oleh karena itu segera saja, tivi saya matikan dan berusaha tidur.

Senin, 30 April 2018

INDUSTRI 4.0 DAN ADI SASONO


Industri 4.0 kini menjadi topik pembicaraan dimana-mana, khususnya saat membahas masalah sosial ekonomi ke depan.  Menurut berbagai sumber, industri 4.0 bercirikan integrasi siber-fisik, internet untuk pada segala hal, komputasi cloud, dan komputasi kognitif.  Sebagai orang yang awam dalam bidang siber, saya menduga kemunculan era industri 4.0 disumbang oleh teknologi digital, yang mampu menjadi fasilitator berbagai aktvitas. Berkat teknologi itu pula perusahaan Alibaba telah menjadi raksasa retail tanpa memiliki toko.  Disusul oleh Tokopedia dan Bukalapak.  Gojek dan Grab telah menjadi perusahaan taksi tanpa memiliki mobil.  Gojek sekarang telah merambah ke Go food, seakan menjadi penyedia berbagai makanan tanpa memiliki warung apalagi restoran.

Membaca berbagai penjelasan tentang Industri 4.0, saya lantas teringat sosok almarhum Adi Sasono.  Aktivis LSM, salah satu tokoh ICMI dan kemudian menjadi Menteri Koperasi di era Presiden Habibie itu, sudah menyuarakan gagasan itu pada tahun 1990an.  Pada saat itu, Mas Adi-begitu beliau disapa oleh koleganya, mendorong anak-anak muda untuk memfasilitasi petani agar mampu menjual produknya secara on-line.  Melalui LSM, seingat saya bernama PUPUK, Mas Adi sangat gigih untuk merintis pola penjualan on-line, khususnya untuk produk pertanian.  Beliau menjelaskan harga sayur, buah dan sebagainya sangat murah di tangan petani tetapi menjadi mahal di tangan pembeli, karena panjangnya rantai distribusi.  Jika penjualan produk pertanian dapat dilakukan on-line maka petani dan pembeli dapat kontak langsung, sehingga menguntungkan kedua belah pihak.

Saat ini, teman-teman yunior banyak yang tidak faham bagaimana pola pikir Mas Adi.  Termasuk saya, yang katanya sudah agak senior saat itu, doktor lagi.  Kami sering bertanya, apakah gagasan itu tidak terlalu muluk-muluk.   Maklum saat itu, internet masih merupakan barang langka.  HP juga belum dikenal dan kalau ada yang punya masih kalangan elite saja. Oleh karena itu, kami mempertanyakan bagaimana mungkin petani apel di Batu diajari dan didorong menawarkan panenannya melaui on-line.  Bagaimana mengajari nelayan di Pantura yang tidak mengenal teknologi untuk menjual ikan secara on-line.  Saya itu muncul kelakar, jangan-jangan petani desa dan nelayan kecil mengira “internet” itu jenis “eternit” model baru.

Memang saat itu, Mas Adi belum menyinggung akan adanya fenomena seperti Alibaba yang dikomandani Jack Ma dan Gojek yang dirintis Nabiel Makarim, tetapi paling tidak sudah menggabungkan barang-barang fisik (hasil pertanian dan perikanan) dengan dunia siber.  Penjualan on-line yang saat ini sudah menjadi kehidupan sehari-hari.  Saat itu Mas Adi baru fokus ke bidang pertanian (dan perikanan/nelayan), karena sebagai aktivis LSM, beliau sangat prihatin terhadap dua bidang itu.  Selalu disebut-sebut, petani dan nelayan itu penghasil kebutuhan dasar kita, tetapi kehidupannya sangat memprihatinkan. Jasa petani dan nelayan itu sangat besar karena merekalah yang mengisi perut kita.

Merenungkan itu, saya bertanya-tanya bagaimana Mas Adi memiliki pikiran seperti itu, ketika orang lain belum membayangkannya.  Orang seperti itulah yang menurut saya akan “mengubah” situasi.  Mirip, siapa yang membayangkan Ancol yang dulu merupakan pantai kumuh dapat disulap menjadi tempat rekreasi yang bagus.  Konon berkat gagasan Ciputra, Ancol menjadi seperti yang kita lihat sekarang.  Siapa yang membayangkan air mineral kemasan kini lebih mahal dibanding teh?

Dari aspek pendidikan, perlu dipikirkan bagaimana model pendidikan yang mendorong tumbuhkan ide, gagasan dan terobosan seperti itu.  Memang untuk mewujudkan gagasan tentang air mineral menjadi minuman kemasan, mengubah pantai Ancol menjadi tempat rekreasi, merintis Alibaba dan sebagainya diperlukan modal.  Namun, menurut saya, yang lebih penting adalah adanya gagasan dan keberanian untuk mewujudkan gagasan itu.

Pertanyaannya, bagaimana pendidikan mampu menumbuhkembangkan anak-anak agar memiliki ide, gagasan, kreativitas dan kemudian memiliki keberanian memujudkannya menjadi suatu produk barang atau jasa.  Jangan sampai, anak-anak kita pandai tetapi akhirnya menjadi “disuruh” dan “dipekerjakan” oleh mereka yang memiliki ide dan gagasan tersebut.  Semoga. 

Jumat, 27 April 2018

MOTOR LAMA 50 CC MOTOR BARU 200 CC

Tanggal 24 April 2018 sekitar pukul 10 pagi, saya ikut menghadiri pertemuan antara TF (Tanoto Foundation) dan pimpinan UNRI (Universitas Riau).  Dari UNRI hadir  Wakil Rektor III yang hari itu bertindak sebagai Plh Rektor karena Pak Rektor tugas ke Jakarta, Wakil Rektor IV (Prof Mashadi), Wakil Dekan III FKIP (Dr. Mahdum) dan Wakil Dekan III FMIPA.  Dari TF hadir Pak Stuart Weston (Director of Basic Education), Bu Ari (deputi-nya Pak Stuart), Pak Budi Kuncoro (Koordinator TTI/LPTK) dan Provincial Coordinator untuk Riau.  Pertemyan bertujuan menawarkan kerjasama untuk Basic Education yang kemudian dikaitkan dengan LPTK yang menyiapkan calon guru.

Ketika diskusi, Prof Mashadi yang kebetulan guru besar Matematika menjelaskan bahwa kompetensui guru.  Dengan memberikan contoh UKG (Uji Kompetensi Guru), beliau menjelaskan aspek yang terlemah dari guru kita adalah penguasaan materi ajar atau dalam UU Guru dan Dosen disebut kompetensi profesional.  Oleh karena itu, Prof Mashadi mengusulkan penguatan kompetensi profesional bagi calon guru ketika mengikuti PPG (Pendidikan Profesi Guru) atau program pelatihan guru.  Itulah sebabnya dalam pertemuan tersebut diudang Wakil Dekan III FIMPA yang diharapkan dapat berkolaborasi dengan FKIP.

Bahwa kompetensi guru pada kompetensi profesional kurang menggembirakan memang betul.  Tetapi data UKG maupun ketika mereka ikut UTN (Ujian Tulis Nasional) PLPG dan UKM PPG (Uji Kompetensi Mahasiswa PPG) menunjukkan kompetensi pedagogik mereka juga rendah.  Jadi yang rendah tidak hanya penguasaan materi ajar tetapi juga penguasaan pedagogik atau cara mengajar.

Mendengar uraian Prof Mashadi, saya menyampaikan permohonan agar tidak selalu menyalahkan guru, apalagi mengolok-olok.  Semestinya justru kita berterima kasih dan mengharagai mereka.  Mengapa?  Karena mereka sudah mau menjadi guru, pada saat sebagian besar orang tidak mau menjadi guru.  Saya mengingatkan, di masa lalu IKIP itu perguruan tinggi “kelas dua”.  Lulusan SMA/SMK/MA baru masuk IKIP kalau tidak diterima di perguruan tinggi lain.  Anak muda yang sudah kuliah di IKIP-pun banyak yang tidak mau menjadi guru dan memilih pekerjaan lain.  Saya teringat, teman-teman saya kuliah di IKIP Surabaya juga banyak yang berkerja di bidang lain dan tidak mau menjadi guru.

Begitu rendahnya persepsi masyarakat terhadap profesi guru, saya menyampaikan kelakar kalau di Surabaya ada orang tua yang mengancam anak gadisnya yang nakal, dengan kalimat “awas kalau kamu tetap nakal nanti tak nikahkan dengan guru”.  Semua yang hadir jadi tertawa mendengar contoh tersebut.

Karena yang mau masuk IKIP tidak banyak, maka seringkali tidak ada saringan atau dengan kata lain, siapapun yang mendaftar pasti diterima.  Bakan joke-nya, yang mendaftar 10 orang yang diterima 12 orang.  Nah, jika seperti itu kondisinya dapat dibayangkan seperti apa mutu mahasiswa IKIP  di masa lalu, dan itulah yang saat ini menjadi guru di sekolah-sekolah kita.  Tentu juga banyak yang baik, tetapi seperti itulah gambaran umumnya.

Oleh karena itu saya menganalogkan secara umum guru kita, khususnya guru generasi lama itu ibarat motor 50 cc, sehingga diberi bahan bakar pertamax dan diberi olie fastronpun tidak akan mampu lari cepat.  Yang berubah tetapi tidak banyak, karena memang cc-nya kecil dan mungkin bodinya juga tidak kokoh.  Jelasnya, jangan terlalu banyak berharap peningkatan mutu guru setelah sertifikasi dan mendapatkan tunjangan profesi, karena memang kemampuan dasarnya memang terbatas.

Lantas apakah sertifikasi dan pemberian tunjangan profesi itu tidak ada manfaatnya?  Apakah tulisan Bank Dunia dengan judul “Double for Nothing” itu memang benar? Menurut saya tidak sepenuhnya benar.  Memang tidak terjadi perubahan signifikan terhadap guru yang saat ini sudah di sekolah, khususnya generasi “senior”, tetapi dengan adanya sertifikasi dan tunjangan profesi guru, minat lulusan SMA/SMK/MA masuk IKIP (sekarang disebut LPTK) meningkat tajam.  Persaingan masuk LPTK menjadi sangat ketat, bahkan untuk prodi tertentu mencapai 1:80, yang artinya 1 kursi diperebutkan 80 orang.  Akibatnya mutu mahasiswa LPTK saat ini menjadi sangat baik.  Perubahan itu terjadi mulai tahun 2010 dan kira-kira lulus tahun 2015. 

Jika fenomena itu terus berlanjut, pelan tetapi pasti kita akan memiliki guru-guru baru dengan mutu yang baik.  Ibarat motor cc mereka bukan lagi 50 cc, tetapi 200 cc, sehingga dapat dipacu dengan baik.  Itulah dampak dari sertifikasi dan tunjangan profesi guru.  Bukan terhadap guru yang saat ini sudah di sekolah, tetapi terhadap guru di masa depan. Semoga.

Senin, 23 April 2018

TERNYATA DI KELAS BISNIS GARUDA JUGA ADA PRAMUGARINYA


Hari minggu kemarin saya terbang dari Jakarta ke Medan dengan pesawat Garus kelas bisnis.  Hebat bukan?  Bukan karena sedang punya uang, tetapi karena dibelikan oleh sebuah lembaga yang mengundang saya untuk ke Unimed dan UIN Sumatra Utara.  Menurut Pak Budi Kuncoro yang mengatur perjalan saya, itupun karena tiket kelas ekonomi habis sehingga “terpaksa” menggunakan kelas bisnis.

Begitu dapat informasi kalau naik kelas bisnis, saya langsung ingat Pak Baedowi.  Mantan Sekjen Kemdikbud dan mantan Dirjen PMPTK itu bercerita kalau di kelas bisnis Garuda tidak ada pramugarinya.  Semula saya kaget dengan ungkapan itu, masak iya, lha di kelas ekonomi saja ada.  Jika tidak ada siapa yang melayani penumpang?   Ternyata itu hanya joke, karena pramugari di kelas bisnis biasanya senior sehingga oleh Pak Baedowi disebut “ibunya pramugari”.  

Nah kali ini saya ingin melihat apakah betul ungkapan Pak Baedowi tersebut. Ternyata tidak betul.  Ketika baru baik dan pintu pesawat ditutup, seperti biasanya seorang pramugari menawari minuman.  Saya lihat name tag-nya tertulis  Tika. Orangnya hitam manis dan saya duga usianya sekitar 25 tahun.  Pasti belum 30 tahun, sehingga belum pantas disebut “ibunya pramugari”.   Cara menawari koran/majalah,  minuman, memberikan handuk kecil panas, menawarkan makan dan juga menawari minuman panas sangat baik, mungkin karena itu terpilih melayani di kelas bisnis.

Pramugari di kelas bisnis mungkin tidak sesibuk rekannya yang bertugas di kelas ekonomi.  Kursi di kelas bisnis hanya 12 buah, sehingga kalau toh penuh yang bersangkutan hanya melayani 12 orang.  Apalagi saat saya terbang dari Jakarta ke Medan, 12 kursi itu hanya terisi 3 orang, sehingga Mbak Tika mungkin lebih santai.  Ketika sedang tidak melayani tamu, saya lihat Mbak Tika duduk santai sambil ngobrol dengan temannya, pramugara senior yang saya duga pimpinan crew.

Keramahan dan kualitas layanan tampaknya menjadi salah satu kriteria penting.  Walaupun penumpang mungkin tidak merasa terganggu dengan cahaya luar, begitu pesawat sudah stabil Mbak  Tika menutup tirai jendela, agar penumpang lebih nyaman istirahat.  Setiap saat, Mbak Tika selalu bertanya apakah penumpang memerlukan sesuatu.   Ketika ada penumpang yang akan ke toilet, dengan ramah Mbak Tika memandung arah ke toilet.

Senyum mungkin salah satu “menu” yang harus disuguhkan oleh pramugari.  Setiap menawarkan sesuatu dan juga mengambil “sisa” makanan dan minuman, pramugasi selalu pasang senyuman.   Sambil sedikit membungkuk, mungkin untuk menunjukkan penghormatan kepada penumpang, Mbak Tika selalu tersenyum saat menawarkan sesuatu atau mengambil sesuatu.  Saya sebagai penumpang, mungkin juga penumpang lain jadi  merasa dihormati.

Mungkin layanan pramugari menjadi salah satu andalam Garuda untuk mengimbangi harga tiket yang relatif lebih mahal dibanding pesawat lainnya.  Misalnya dengan Batik Air yag sama-sama merupakan penerbangan bukan LCC (low cost carier).   Selisih harga tiket antara Garuda dan Batik bisa mencapai 500 ribu rupiah untuk Jakarta-Surabaya.  Pada hal harga makanan yang disuguhkan selama penerbangan saya yakin tidak mencapai 200 ribu rupiah.  Jadi selisih 500 ribu rupiah itu tampaknya untuk membayar keramahan yang senyum manis dari pramugari.

Saya menduga ada SOP bagi pramugari/pramugara ketika melayani penumpang.  Selalu tersenyum, selalu membungkuk atau bahkan jongkok saat berbicara dengan penumpang yang duduk, menawari apakah penumpang perlu tambahan minuman dan sebagainya.  Sepertinya ada “do” dan “don’t” yang harus dipenuhi ketika melayani penumpang.   Dan itulah yang dibayar penumpang penumpang pesawat sekelas Garuda yang harga tiketnya jauh lebih mahal dibanding