Minggu, 19 Maret 2017

PAUD VERSUS TK












Betulkah terjadi silang pendapat tentang istilah TK dan PAD?  Jujur saya tidak tahu pasti.  Yang pasti pendidikan bagi anak sebelum masuk SD itu sangat penting.  Gambar disamping menunjukkan kepekaan perkembangan kognitif anak mencapai puncaknya 1-3 tahun dan justru mudah mulai menurun pada usia 6-7 tahun, usia masuk SD di Indonesia. 

Perkembangan kepekaan yang terkait dengan bahasa justru lebih awal. Pada usia satu tahun bahkan sebelum itu kepekaan mencapai puncaknya dan mulai stagnan pada usia masuk SD.

Walaupun hasil penelitian tersebut masih dapat diperdebatkan, tetapi sudad seharusnya menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dalam bidang kesehatan dan pendidikan.  Bagaimana mengupayakan agar anak-anak pada suai 0-5 tahun yang sering disebut sebagai usia emas (golden age) itu mendapat asupa yang terbaik sehingga sehat , pengasuhan dan pendidikan yang terbaik, sehingga potensi bahasa dan kognitif dapat berkembang secara optimal.  Mungkin itulah yang menjadi salah satu dasar kita menggalakkan program “Balita” atau “Paudisasi”. 

Di negara maju adala istilah pre school  yang kemudian diterjemahkan menjadi pra sekolah di Indonesia.  Sejauh yang saya tahu, pra sekolah itu tidak dibatasi hanya di TK atau Kelompok Belajar, tetapi semua proses pendidikan yang berlangsung sebelum anak-anak masuk SD, sepanjang program itu secara sengaja dirancang dan bukan terjadi secara ketidaksengajaan.

Kembali ke informasi silang pendapat tentang istilah TK dan PAUD, saya mencoba mengingat kejadian pada tahun 2007-2008an.  Saat itu, Dr. Gutama menjadi direktur yang mengurusi PAUD di Kemdikbud dan saya mendapat amanah menjadi direktur yang menangani pendidikan guru pra jabatan.  Waktu itu, di lapangan ada TK atau Kelompok Bermain (KB) yang kadang-kadang disebut Play Group (PG).  Pendidikan guru yang ada adalah PGTK (Pendidikan Guru TK).

Pak Gutama, saya dan beberapa orang mencoba memahami dan menganalisis fenomena di lapangan.  Tentu tidak bijak, kalau kita mendirikan PGKB (Pendidikan Guru Kelompok Bermain), karena antara KB dan TK sangat erat dan bahkan tidak jelas batasannya.  Di sebagian TK juga memiliki KB.  Bahkan seringkali guru KB dan guru TK dipertukarkan, khususnya agar semua mendapatkan kesempatan sertifikasi dan tunjangan profesi.  Sebaiknya secara kelembagaan antara TK dan KB terpisah.  TK termasuk pendidikan formal, sementara KB termasuk pendidikan non formal. 

Setelah melalui diskusi panjang disepakati digunakan nama PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), sebagai bentuk pendidikan pra sekolah.  Artinya PAUD mencakup KB dan TK.  Oleh karena itu diputuskan untuk mengubah nama PGTK menjadi PG PAUD, yang isinya menyiapkan guru untuk KB dan TK.  Semenjak itu, ijin pendirian prodik baru disebut PG PAUD dan bahkan PGTK diubah namanya menjadi PG PAUD.

Jujur saya tidak tahu perkembangan di lapangan, khsusnya implementasi konsep ini di tingkat “persekolahan”.  Tiba-tiba, beberapa hari lalu saya dapat informasi kalau ada silang pendapat. Informasinya PAUD itu bagian dari pendidikan non formal, maka penyiapkan gurunya juga bagian dari PLS (Pendidikan Luar Sekolah), sementara PG PAUD yang saat ini ada itu menyiapkan calon guru TK.

Saya mencoba memahami dan berbagi pengalaman dengan teman lain, dengan menggunakan analogi kursus otomotif dan kursus kecantikan dan kursus bahasa Inggris.  Ketikanya tentu termasuk pendidikan non formal.  Namun siapa yang menyiapkan guru atau instrukturnya?  Tentu instruktur kursus otomotif disiapkan oleh jurusan Mesin atau Otomotif.  Instruktur Kecantikan disiapkan oleh jurusan Kecantikan. Instruktur kursus bahasa Inggris disiapkan oleh jurusan bahasa Inggris.  Itulah sebabnya, di maju istilah yang lazim digunakan adalah VET (vocational education and training).  Artinya, pemisahan antara pendidikan dan pelatihan tidak menjadi “tembok” pemisah yang bergitu ketat.  Semoga.