Jumat, 05 Februari 2021

APAKAH PENDIDIKAN SEKARANG KOMPATIBEL DENGAN ERA DIRUPSI?

 

Tahun lalu, sebelum covid mengganas, saya diundang ikut dalam forum FGD di Jakarta untuk memberikan masukan terhadap gagasan menyempurnaan UU Sisdiknas.  Saat itu wabah covid sudah mulai muncul dan sepanjang FGD maupun di penerbangan saya menggunakan masker dan takut untuk makan atau minum.  Saya senang diundang karena memang UU Sisdiknas sudah ketinggalan zaman, sehingga meskipun harus bermasker tetapi hadir.

 Namun saya bingung mendengarkan pengantar yang dijelaskan oleh panitia.  Mengapa?  Panitia menyebut penyempurnaan UU Sisdiknas diarahkan untuk menganalisis apakah sistem persekolahan kita masih cocok dan bagaimana mengakomodasi gagasan wajib belajar 12 tahun.  Sama sekali tidak menyinggung apakah substansi pendidikan sekarang ini masih relevan.  Pada hal menurut saya justru substansi itulah yang mendesak untuk didiskusikan.  How to do memang penting, tetapi itu baru dapat dipikirkan setelah kita tahu what to do-nya.  Ibarat kita mau bepergian, kita harus tau mana yang dituju, baru setelah itu memikirkan naik apa atau bagaimana sampai kesana.  Meminjam istilah Charles Handy (1997) sepertinya  kita terjebak dalam berpikir ala kue donat. Yang dibahas justru pinggir-pinggirnya dan melupakan inti masalah pendidikan yang saat ini kita hadapi.

Bahwa sistem persekolahan, termasuk wajib belajar perlu dianalisis memang betul, tetapi apakah itu masalah pokok pendidikan kita?  Bukankah banyak pakar dan pemerhati sekarang sedang mempertanyakan eksistensi pendidikan yang sekarang ini ada?  Jim Clifton (2016) mempertanyaan eksisten universitas, karena perusahaan sekelas Google dan E&Y dalam merekrut karyawan tidak mensyaratkan lulusan universitas.  Yang ditanyakan bukan “kamu lulusan apa atau lulusan mana, tetapi kami bisa apa”.   Sebelum itu, Jorgen Moller (2012) mengatakan di mana datang, dalam pendidikan itu tidak penting level apa dan berapa lama masa studinya, yang penting kalau lulus siswa/mahasiswa bisa apa. Jadi yang penting ada yang dipelajari selama proses pendidikan.  Dalam bahasa lain, kemampuan apa yang dikembangkan selama proses pendidikan itu.

Di era disrupsi dengan perubahan iptek sangat cepat dan seringkali sangat fundamental. Saya membayangkan, sebentar lagi mobil bensin dan disel akan hilang digantikan mobil listrik yang driverless. Koran akan “mati” digantikan media online.  Pabrik kertas akan segera gulung tikar karena kita menju paperless. Kantor-kantor akan banyak yang kosong karena sebagian orang bekerja dari rumah. Anak-anak tidak harus setiap hari ke sekolah karena sebagian proses belajar dengan online. Dokter umum akan segera digantikan oleh online medical software. Kita tidak perlu uang tunai, karena semua transaksi digantikan dengan online, sehingga kantor bank akan berkurang drastis.  Robot Sophia akan mejadi teman dan pembantu kita dalam kehidupan sehari-hari.  Itulah beberapa gejala yang saat ini muncul yang sangat mungkin segera digantikan teknologi baru yang lebih canggih, nyaman dan lebih efisien,  karena grafik Kondratic cycle menunjukkan periodisasi temuan semakin pendek.

Nah, dalam situasi seperti itu sangat tidak mudah menjawab pertanyaan Jim Clifton maupun Jorgen Moller. Apalagi dengan melihat sistem persekolahan saat ini, anak-anak menghabiskan waktu 12 tahun atau bahkan 16 tahun bersekolah/kuliah sebelum memasuki kehidupan nyata, bekerja dan bermasyarakat, sehingga sangat mungkin apa yang dipelajari selama sekolah/kuliah sudah usang saat yang bersangkutan mulai terjun dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pada hal Bernie Trilling dan Thomas Fadel (2009) menyarankan untuk dapat merancang pendidikan, kita diminta menjawab minimal 3 pertanyaan dasar, yaitu: 1) membayangkan kehidupan 20 tahun yang akan datang, ketika anak-anak kita sudah lulus dan mulai bekerja dan bermasyarakat, (2) jika pertanyaan itu terjawab, kemudian dipikirkan apa skills yang diperlukan agar anak-anak kita sukses dan bahagia dalam menempuh kehidupan itu, dan(3) jika skills yang diperlukan tersebut ditemukan, dipikirkan bagaimana caranya mengembangkan skills tersebut secara efektif dan efisien.

 

Banyak studi yang berusaha mencari jawaban tersebut, dan sekarang sering disebut 4-C (critical thinking, creativity, communication, collaboration) dan juga ada yang menambahkan problem solving , self-awareness, self-management dan sebagainya.  Kalau skills tersebut kita telaah semuanya termasuk dalam kategori generic skills, yaitu kecakapan (untuk menghindari istilah keterampilan yang sering dimaknai keterampilan manual) yang diperlukan oleh seseorang apapun profesinya dan dimanakan dia berada. Dalam kajian Life Skills, semua itu masuk dalam kategori personal skills, yaitu skill yang diperlukan seseorang walaupun dia bekerja dan hidup sendirian dan sosial skills, yaitu skills yang diperlukan ketika seseorang bekerja dan atau berada dalam kelompok.

Pertanyaan yang muncul apakah dengan demikian tidak diperlukan skills yang terkait dengan bidang keahlian tertentu?  Bukankah setiap pekerjaan memerlukan skills khusus tertentu, yang biasa disebut dengan specific skills?  Dari situlah muncul gagasan shifting paradigm form competence to capability (Anne Gardner & Stewart Hase, 2008; Dilep Kumar, Sashidar Chengapa & Srota Pandya, 2013) atau meminjam istilah Chistofe Nagele & Barbara Stadler (2017) competence and the need of transferable skills. Jika competence dimaknai sebagai kemampuan untuk mengerjakan sesuatu dengan baik, capability dimaknai tidak hanya mampu mengerjakan sesuatu dengan baik tetapi juga mampu menggunakan kemampuan tersebut untuk menghadapi perkembangan iptek (transferable skills).

Dengan demikian filosofinya bukan ini atau itu, tetapi ini dan itu.  Jadi dalam konsep capability bukan generic skills atau specific skills, tetapi generic skills dan specific skills.  Bukan competence atau transferable skills tetapi competence dan transferable skills. Pertanyaan yang muncul bagaimana proporsinya?  Itu sangat tergantung profesi level apa yang dituju.  Untuk profesi di level bawah, katakanlah teknisi maka specific skills yang lebih banyak, sedangkan untuk level supervisor ke atas maka generic skills yang lebih banyak.  Dengan catatan, keduanya terintegrasi, bukan dipisahkan.

Selasa, 01 Desember 2020

MISKONSEPSI PTK

 

PTK atau penelitian tindakan kelas yang diadopsi dari CAR) (classroom action research) tentu sudah dikenal oleh guru bahkan oleh mahasiswa calon guru di LPTK. Setahu saya mahasiswa calon guru baik di jenjang S1 maupun PPG sudah belajar tentang PTK.  Pada laporan penelitian, baik di jurnal maupun dokumen lainnya, PTK juga banyak dijumpai.  Sayangnya, menurut saya PTK sudah bergeser dari tujuan semula saat awal PTK (CAR) itu digagas dan dikembangkan.

Bagaimana awalnya PTK berkembang dapat dibaca di beberapa referensi, antara lain tulisan Fang Qi (2007) yang menjelaskan perbedaan Research (dengan R besar) dan research (dengan r kecil). Agar mudah difahami kita anggap Research (dengan R besar) itu sebagai bentuk penelitian khusus, yang salah satunya PTK, sedangkan research (dengan r kecil) itu bentuk penelitian umum yang lazimnya dilakukan oleh para ahli.  Nah PTK atau CAR termasuk penelitian dengan R besar, yang tidak tepat sama dengan penelitian pada umumnya, katakanlah tidak menggunakan metoda yang canggih, teori yang canggih, seperti penelitian “ilmiah” para ilmuwan.

PTK itu sebagai upaya para guru untuk terus menerus meningkatkan kualitas pembelajaran yang diampu.  Jadi menggunakan filosofi continuous improvement atau kaizen dalam istilah di Jepang.  Jadi tujuan utamanya bukan menemukan “sesuatu teori baru atau sesuatu yang baru” seperti pada penelitian ilmiah. Kalau toh kemudian hasilnya diolah menjadi karya ilmiah, anggap saja sebagai “bonus” dan bukan tujuan utama.  

Apakah dengan begitu PTK tidak didukung oleh teori dan metode penelitian yang canggih?  Merujuk pendapat beberapa ahli, Fang Qi (2007) menyatakan teori pada tataran tertentu itu identik dengan logika. Mungkin ingat konsep “logiko-hipotektika-verificative” yang dikenalkan oleh Jujun Suriasumantri (2009) dalam buku Filsafat Ilmu.  Dan PTK  lebih mendasarkan logika dibanding harus mencari rujukan kemana-mana.  Oleh karena itu dalam melaksanakan PTK, guru lebih mengandalkan logikanya.  Toh, yang diteliti adalah pekerjaan yang sehari-hari dilakukan.


Bagaimana dengan metoda pelitiannya?  Yang diandalkan PTK adalah kelogisan, keruntutan dan kejujuran dalam melakukan.  Artinya tahapan yang dilakukan harus logis, dilakukan secara runtut dan dengan jujur.  Pada awalnya PTK mengadopsi prinsip PDC (plan-do-check) yang biasa dilakulan dalam manajemen. Kemudian disempurnakan menjadi DIOR (design-implementation-observation-reflection) atau perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Dengan melaksanakan empat tahapan secara runtut dan terus menerus diyakini akan terjadi peningkatan mutu pembelajaran.

Observasi selama proses pembelajaran, tanya jawab dengan siswa dan mengecek hasil belajar siswa itu yang lazim disebut dengan assessment for learning atau di kita disebut tes formatif.  Mengetahui proses dan hasil belajar siswa untuk memperbaikinya.  Atas dasar data tersebut dilakukan refleksi yaitu analisis untuk mempertanyakan “apa yang menyebabkan hasil belajar siswa belum maksimal dsb”.  Disebut refleksi karena arahnya lebih mempertanyakan apa yang perlu dilakukan guru agar siswa dapat belajar lebih baik.  Nah jika refleksi dapat menemukan jawaban “seharusnya begini dan begitu”, kemudian disusun skenario pembelajaran berikutnya.   Itulah tahap perencanaan pada siklus berikutnya.

Ketika pemikiran itu saya obrolkan dengan teman dokter, yang bersangkutan mengatakan “lho pola pikir itu yang dilakukan dokter dalam bekerja”.  Pasien datang dengan keluhan tertentu, didiagnona dan diberi obat dan perlakuan tertentu.  Setelah itu diobservasi perkembangannnya, jika belum sempurna dilakukan perubahan obat dan atau perlakuannya, namun jika perkembangannya bagus, obat dan perlakuan dilanjutkan.  Teman tadi berseloroh “kalau begitu saya juga melakukan PTK namun kepanjangannya “penelitian tindakan klinik”.


Apa hanya dokter yang menggunakan pola pikir itu dalam bekerja?  Menurut saya tidak. Juru masak dan bahkan ibu-ibu ketika memasak juga menggunakannya. Ngicipi masakan itu mirip dengan assessment for cooking, karena tujuannya untuk mengetahui apakah ada yang perlu ditambahkan agar masakannya enak.  Setiap kali masak ibu-ibu akan selalu ngicipi dulu sebelum “difinalkan”, walupun masakannya sama dengan kemarin.  Bahkan bisa jadi beberapa kali ngicipi, jika rasanya belum pas. 

Lantas, dimana terjadinya miskonsepsi? Pertama, tujuan PTK bukan untuk menghasilkan karya ilmiah tetapi untuk memperbaiki proses pembelajaran.  Anehnya banyak guru dan juga dosen melakukan PTK dengan tujuan menghasilkan karya ilmiah. Apakah mengolah hasil PTK menjadi karya ilmiah itu salah?  Sama sekali tidak.  Itu bagus. Namun itu bonus, bukan tujuan utama.  Yang keliru adalah kalau itu dijadikan tujuan dan kemudian setelah beberapa siklus dan hasilnya cukup untuk bahan karya ilmiah, PTK “dihentikan”.  Pada hal, masalah pembelajaran akan terus muncul, karena topiknya berganti, situasinya berganti, tuntutan juga berganti, sehingga idealnya PTK dilakukan terus menerus sebagaimana konsep Kaizen atau continuous improvement program.

Jika PTK dilakukan secara terus menerus, berarti guru harus melakukan observasi secara terus menerus, mengumpulkan berbagai data secara terus menerus?  Itulah yang semestinya dimuat di catatan guru (teacher note) atau jurnal mengajar. Tentu tidak perlu panjang lebar seperti dalam penelitian kualitatif yang nantinya dimuat sebagai data saat artikelnya dimuat di jurnal atau untuk tesis S2.  Cukup beberapa baris sebagai pengingat. Toh yang menulis di jurnal mengajar ya guru sendiri, yang nanti membaca dan menggunakannya untuk melakukan refleksi juga guru sendiri. Jadi cukup satu dua kalimat sebagai pengingat. Kalau data tersebut didiskusikan dengan guru lain untuk mendapatkan masukan (second opinion dalam istilah kedokteran) tentu lebih bagus.  Dan itulah sebenarnya tujuan dibentuknya KKG/MGMP, baik secara mini di sekolah maupun yang lebih besar skalanya di gugus.

Kedua, karena tujuannya untuk membuat karya ilmiah maka harus ada rujukan teori yang canggih dan jika tidak ada tidak boleh diteruskan. Alias PTK harus dihentikan.  Apa mencari rujukan teori yang bagus itu salah?  Sama sekali tidak, tetapi yang keliru adalah PTK dihentikan karena belum memperoleh rujukan teori.  Seperti disebut oleh Fang Qi dan juga secara tersirat diungkap oleh Jujun Suriasumantri, dalam tataran sederhana teori itu akal sehat (comment sense) atau logika. Jadi jika belum ada rujukan teori, guru dapat menggunakan logika untuk melakukan refleksi maupun membuat perencanaan.

Ketiga, untuk melaksanakan PTK harus ada proposal, ada perangkat pembelajaran, ada instrument untuk mengukur hasil belajar.  Jika tidak PTK tidak boleh dilaksanakan.  Tentu sangat bagus jika semua yang disebut di atas ada, tetapi yang tidak tepat adalah  PTK tidak boleh dilakukan jika itu tidak ada.  Bukankah proposal, perangkat, instrument itu dibuat oleh guru yang melakukan PTK.  Tentu yang dituangkan menjadi proposal, perangkat, instrument itu sesuatu yang ada di pikiran yang bersangkutan. Jadi seandainya guru tidak punya waktu cukup, mungkin catatan-catatan pendek dapat mewakili proposal, perangkat, instrument tersebut.  Yang pokok PTK harus berlangsung secara terus menerus seiring dengan proses pembelajaran.

Jadi simpulannya, PTK itu sebenarnya melekat (embedded) dengan proses pembelajaran, sehingga begitu proses pembelajaran berjalan, maka PTK juga berjalan. Semoga.

Senin, 16 November 2020

FENOMENA HRS

Saya termasuk orang yang tidak menduga  begitu banyak orang yang menyambut kepulangan Habib Rizieq Syihab (HRS).  Dari layar TV maupun rekaman youtube kita dapat melihat ribuan orang menyemput kedatangan beliau, sehingga wajar kalau kemudian membuat jalan menuju bandara sempat macet beberapa jam. Fenomena yang sama terjadi saat HRS memberikan pengajian di Megamendung daerah Puncak.  Orang rela berdiri ditepi jalan mulai dari Ciawi sampai lokasi untuk menyambutnya.  Ketika beliau menikahkan putrinya sekaligus acara Maulid Nabi, ribuan orang juga hadir di Petamburan, tempat kediaman beliau.  Sungguh luar biasa. Sampai Pemda DKI mendenda panitian sebesar 50 juta rupiah karena dinilai melanggar protokol kesehatan.

Bahwa HRS adalah iman besar FPI saya yakin semua orang tahu.  Bahwa beliau yang menjadi tokoh sentral acara 212 pernah dimuat TV dan media sosial. Bahwa beliau pernah tersangkut masalah dengan pihak kepolisian dan kemudian umroh dan berdiam di Saudi Arabia selama 3,5 tahun juga banyak disebut media sosial.  Namun begitu gegap gempita masyarakat menyambut beliau pulang “kampung” betul-betul diluar dugaan saya.  Antusiasme masyarakat menyambutnya seakan melebihi penyambutan pejabat tinggi negara.

 

Fenomena apa itu ya?  Jujur, saya tidak punya kapasitas menjawab.  Mungkin teman-teman yang mendalami psikologi sosial yang dapat memberikan penjelasan secara akademik.  Namun sebagai guru, saya khawatir suatu saat akan ditanya oleh murid.  Itulah yang menjadi beban pikiran.  Apalagi media TV dan media sosial sangat gencar memberitakan dan para analis juga banyak mengulasnya di media sosial.  Repotnya, guru kan tidak bebas seperti para analis dalam memberikan penjelasan, karena terikat dengan kaidah paedagogik maupun kaidah pendidikan secara umum.

Ada analis yang mengatakan ketika masyarakat dihimpit oleh berbagai masalah kehidupan, akan merindukan “sosok” yang diharapkan dapat memberikan harapan.  Nah apakah itu yang terjadi pada fenomena HRS, karena saat ini masyarakat sedang dilanda pandemik covid yang berdampak kepada segala aspek kehidupan.  Belum lagi berbagai informasi di media sosial yang sangat gencar memberitakan demonstrasi yang memprotes UU Omnibuslaw dan sebagainya.  Betulkah karena kondisi itu kemudian HRS dianggap sebagai “dewa penolong” yang mampu mengeluarkan mereka dari himpitan hidup?

Ada juga analis yang mengatakan bahwa fenomena HRS terkait dengan “psikologi kasihan”.  Ketika HRS dilaporkan oleh beberapa pihak terkait dengan beberapa masalah, sampai yang bersangkutan harus mengungsi muncul rasa kasihan dari masyarakat.  Rasa kasihan itu kemudian bercampur dengan berbagai masalah lain dan akhirnya mengkristal menjadikan HRS sebagai orang yang “teraniaya” dan harus dibela.  Bahkan ada analis yang termasuk kelompok kedua ini berpendapat kemunculan Bu Mega dan Pak SBY sedikit banyak juga ditopang oleh fenomena “kasihan”.  Bu Mega dianggap teraniaya pada akhir-akhir Orde Baru.  Pak SBY dianggap teraniaya ketika awal mendirikan Parta Demokrat dan kemudian mencalonkan diri sebagai presiden.

Analis lain mengatakan ketokohan HRS sudah diawali ketika pilkada DKI, dimana HRS merupakan salah satu tokoh yang gencar melawan Ahok.  HRS-lah dibalik tuntutan hukum ke Ahok yang berbuah penjara itu.  Apalagi kemudian dikaitkan dengan peristiwa 212 yang mampu menghimpun ribuan masyarakat tumpah ruah di monas dan dihadiri banyak tokoh.  Ketika kemudian HRS terbelit kasus hukum yang oleh beberapa pihak disebut kriminalisasi ulama, ketokohan HRS justru melonjak.  Terakhir ketika HRS tinggal di Saudi Arabia dan oleh media sosial dikabarkan dihambat untuk pulang, ketokohan lebih melejit dan akhirnya dirindukan banyak orang.  Apakah seperti itu?

Masih banyak analisis lainnya.  Namun sekali lagi, secara jujur saya tidak memahami masalah itu.  Sebagai guru, saya berharap ada ahli yang melakukan riset tentang fenomena HRS ini sehingga menjadi pelajaran sejarah yang sangat berharga di masa depan.  Jika Bung Karno memunculkan sloga Jasmerah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah), saya yakin yang dimaksudkan adalah sejarah sebagai pelajaran untuk menyiapkan diri di masa depan.  Sejarah bukan sekedar hafalan peristiwa apa, kapan terjadi, siapa yang terlihat dan bagaimana kronologinya.  Belajar sejarah bukan seperti menonton ketoprak atau mendengarkan sandiwara radio terus selesai, tetapi menganalisis “mengapa peristiwa itu terjadi” dan apa korelasinya dengan fenomena sekarang ada prediksi kita untuk masa depan.

Di media sosial berseliweran informasi tentang HRS dan seringkali saling bersilang.  Ada yang mengatakan begini ada yang mengatakan begitu.  Ada yang memuji tetapi juga ada yang mencemooh, dengan argumentasi masing-masing. Itu yang membuat guru menjadi serba salah.  Semoga saja ada penelitian akademik terhadap fenomena HRS, sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru jika ada murid yang bertanya.

Selasa, 03 November 2020

RESEARCH UNIVERSITY vs TEACHING UNIVERSITY

 

Saya tidak tau kapan kedua istilah itu mulai digunakan dan kapan populer di Indonesia.  Seingat saya istilah itu kemudian banyak dibicarakan ketika ada kebijakan untuk mendorong universitas di Indoensia menjadi word class university (WCU).  Seakan-akan untuk menjadi WCU haruslah menjadi research university (RU).  Pemaknaan itu dapat difahami karena WCU selalu dikaitkan dengan perankingan yang dilakukan oleh Times Higher Education dan kadang-kadang oleh Shanghai Jia Tong.  Nah universitas yang menduduki peringkat atas ke kedua perankingan itu konon tergolong RU.

 Apa sih definisi RU?  Biasanya orang mengatakan RU adalah universitas yang misi utamanya melakukan riset (a research university is a university that is committed to research as a central part of its mission).  Mungkin akan lebih jelas kalau dikontraskan dengan teaching university (TU) yang biasanya dimaknai sebagai universitas yang fokus utamanya mendidik mahasiswa agar menjadi orang sukses setelah lulus (a teaching university is focused on students and strives to make their success a top priority).  Jadi RU dan TU memiliki misi yang berbeda, sehingga fokus programnya juga berbeda. 

 Karena RU dan TU tidak dapat dibandingkan, maka seharusnya dibuat perankingan terpisah.  Katakankah ada urutan RU dari yang sangat baik ke yang kurang baik, dengan cara yang sama  dapat dibuat urutan TU dari yang sangat baik sampai yang kurang baik. Tentu indikator yang digunakan untuk metranking RU berbeda dengan yang digunakan untuk meranking TU.  Sejauh yang saya ketahui belum ada perangkingan universitas yang khusus untuk TU. Jika ada perankingan TU dugaan saya akan mengerem universitas untuk berbondong-bondong menamakan dirinya RU, walaupun sebenarnya lebih cocok menjadi TU.

 Mana yang lebih hebat antara RU dan TU? Menurut saya tidak dapat dibandingkan, karena memiliki misi yang berbeda dan program yang berbeda, tentu kegiatan utamanya berbeda.  Jika kegiatan utamanya berbeda tentunya sumber daya dan sarana-prasarana yang diperlukan juga berbeda. Mungkin mirip antara toko sayur dan toko buah. Karena dagangannya berbeda, tentu memerlukan SDM dan sarana-prasarana yang tidak sama. Memang toko sayur juga menyediakan beberapa jenis buah tetapi tentu hanya sedikit porsinya.  Demikian pula toko buah, mungkin juga menyediakan sayur tetapi juga sedikit porsinya.  Mungkin juga ada toko besar yang memang sebagai toko buah sekaligus toko sayur, sehingga menyediakan keduanya secara “lengkap”, namun yang seperti ini tentu memerlukan SDM dan sarana-prasarana yang besar.  Memang juga ada toko kecil tetapi menyedikan sayur dan buah sekaligus.  Namun yang seperti itu biasanya bukan toko buah yang lengkap dan juga bukan toko sayur yang lengkap.

Mirip dengan analagi itu, RU juga memiliki mahasiswa dan melaksanakan proses pendidikan, tetapi juga bukan fokus utamanya. Atau bahkan hanya untuk mendukung riset yang menjadi fokus utamanya. Pada universitas seperti itu biasanya mengutamakan program pendidikan S2 dan S3 karena dapat dikaitkan langsung dengan riset yang dilakukan oleh para dosennya. Lulusannya diharapkan juga akan menjadi peneliti yang handal, sehingga proses pembelajaran lebih banyak berupa “nyantrik” kepada peneliti handal yang menjadi dosen di RU tersebut. Sebaliknya, TU tentu juga memiliki kegiatan riset, namun itu bukan fokus utamanya dan riset-riset yang dilakukan lebih banyak diarahkan untuk mendukung proses pendidikannya. Dari mana pengembangan kelimuan untuk updating para dosen di TU?  Diperoleh dari RU yang memiliki bidang keilmuan sejenis.  Jadi tugas utama dosen di TU bukan menemukan dan atau mengembangkan ilmu pengetahuan tetapi menggunakannya untuk menyiapka SDM yang siap memasuki lapangan kerja. Mungkin ada universitas yang mampu sebagai RU dan TU, tetapi tentu memerlukan SDM yang banyak dan bagus untuk keduanya dan juga memiliki sarana-prasarana yang mumpuni untuk keduanya.  Mungkin juga ada universitas “kecil” yang ingin menangani keduanya, namun sangat mungkin tidak dapat menjadi RU yang baik dan juga tidak dapat menjadi TU yang baik.

 Mungkin muncul pertanyaan, seperti apa contoh TU?  Sebenarnya banyak.  Akademi di kalangan TNI dan Polri lebih cocok disebut TU.  Karena fokusnya menghasilkan perwita TNI dan Polri yang baik.  Semua perguruan tinggi kedinasan atau “kementerian di luar Kemdikbud menurut saya termasuk TU, karena fokusnya menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan kementerian tersebut. Lantas dimana letak risetnya?  Di lembaga litbang yang dimiliki kementerian tersebut.

Apakah semua universitas/perguruan tinggi dibawah Kemdikbud termasuk RU?  Menurut saya tidak dan sebaiknya setiap universitas/perguruan tinggi tersebut memastikan diri sebagai RU atau sebagai TU.  Boleh juga menjadi RU dan TU tetapi dengan kesadasaran bahwa untuk itu diperlukan SDM dan sarana-prasarana yang besar.  Yang perlu dihindari adalah ketidakjelasan misi, sehingga membuat programnya juga tidak jelas. RU bukan,TU juga bukan.  Atau ingin menjadi RU sekaligus TU tetapi tidak memiliki SDM dan sarana-prasarana yang memadai sehingga mustahil tercapai.

Pada konteks Indonesia rasanya diperlukan lebih banyak TU dibanding RU.  Indonesia memerlukan sangat banyak SDM bidang operasional berbagai jenis industri, baik manifaktur, pertanian, perikanan, perdagangan, pariwisata, jasa dan sebagainya.  Bukan berarti kita tidak memerlukan hasil-hasil penelitian untuk mempercepat perkembangan industri tetapi tentu tidak sebanyak SDM bidang operasional.

Karena baik RU dan TU sama-sama diperlukan dan tidak dapat diperbandingkan, maka keduanya memerlukan penghargaan yang setara.  Artinya universitas yang memutuskan menjadi TU dan berhasil baik harus diberi penghargaan yang setara dengan universitas yang memutuskan menjadi RU dan berhasil baik.  Dengan demikian tidak harus semua universitas menjadi RU dan sebaliknya juga tidak semuanya menjadi TU. Bagaimana komposisi antara RU dan TU memerlukan kajian yang mendalam. Konon Malaysia pada awalnya hanya menunjuk empat universitas yang kemudian menjadi enam buah menjadi RU.  Menurut saya Indonesia juga perlu merumuskan berapa buah universitas yang ditugasi menjadi RU dan dalam bidang ilmu apa saja, yang sesuai dengan kebutuhan negara.  Sedangkan lainnya lebih baik menjadi TU untuk menghasilkan SDM yang diperlukan pembanguna negara ini.

Bagaimana dengan LPTK?  Menurut saya LPTK itu perguruan tinggi “semi kedinasan”, karena dibawah pembinaan Kemdikbud dan lulusannya berupa guru juga bekerja di sekolah yang berasa di bawah pembinaan Kemdibud.  Kemdikbud tentu tahu kualifikasi dan kompetensi guru yang diperlukan, berapa jumlahnya dan apa saja jenisnya.  Dengan begitu dapat dilakukan perancangan berapa LPTK yang diperlukan dan apa saja program studinya, bahkan di mana lokasi yang tepat terkait dengan geografis Indonesia.  Tentu diperlukan beberapa LPTK yang didorong menjadi RU untuk melakukan penelitian berbagai hal yang terkait dengan kependidikan.   Semoga.   

Kamis, 29 Oktober 2020

Faktor Kunci Peningkatan Mutu Pendidikan

 

Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Berbagai program, proyek dan terobosan telah dicoba, baik itu yang merupakan inisiatif daerah, inisiatif nasional, bantuan para ahli negara lain, juga para pengelola lembaga pendidikan. namun hasilnya belum menggembirakan.  Data UN (yang akan segera digantikan oleh AKM), hasil PISA dan beberapa data lain menunjukkan kualitas pendidikan kita masih belum menggembirakan.

 Muncul pertanyaan, apa yang salah dalam berbagai upaya tersebut?  Apakah upaya tersebut belum menyentuh problem utama dari pendidikan kita? Kalau menggunakan teori Pareto, apakah berbagai usaha tersebut tidak menyentuh critical factor pendidikan di Indonesia? Dalam Bahasa Surabaya, apakah berbagai upaya tersebut belum sampai pada “punjerannya”? Atau pendekatannya yang keliru?  Atau kita kurang serius dalam melakukan?  Atau, atau, atau lainnya.  Tulisan pendek ini tidak dimaksudkan untuk membahas kemengapaan tersebut di atas, tetapi ingin berbagi tentang hasil analisis terhadap situasi sekolah kita, dengan harapan dapat memberikan satu pandangan berdasar data penelitian.

Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah baru saja melakukan uji coba instrumen baru akreditasinya.  Instrumen tersebut memang baru, tetapi jika dilihat hasil analisisnya menunjukkan validitas dan reliabilitas sangat baik. Pada Gambar 1 tampak bahwa interkorelasi butir-butir (X1-X11) terhadap variabel induknya (ML=mutu lulusan), butir-butir (X12-X18) terhadap variabel induknya (PB=proses pembelajaran), butir-butir (X19-X22) terhadap induknya (MG=kinerja guru), dan butir-butir (X23-X35) terhadap variabel induknya (MSM=manajemen sekolah) cukup baik. Dengan demikian hasilnya cukup kuat untuk digunakan sebagai simpulan. 

Gambar 1 juga menunjukkan hasil analisis SEM yang diolah dari lebih seratus sekolah.  Dari gambar tersebut tempak kalau 64% mutu lulusan dapat dijelaskan oleh proses pembelajaran yang terjadi. Sementara 66% pembelajaran dapat dijelaskan oleh kinerja guru.  Dan 92% kinerja guru dapat dijelaskan oleh manajemen sekolah.  Kalau angka-angka tersebut dicermati, semua di atas 60%, yang secara sederhana dapat dimaknai faktor lain tentu lebih kecil.

Jika mutu lulusan dimaknai sebagai indicator utama mutu pendidikan, maka hasil SEM tersebut dapat dirangkai sebagai berikut.  Mutu pendidikan dipengaruhi sangat kuat oleh kualitas pembelajaran yang terjadi di sekolah, sedangkan mutu proses pembelajaran dipengaruhi oleh kinerja guru, dan kinerja guru dipengaruhi oleh manajemen sekolah.  Jika menggunakan teori Pareto, maka bagaimana memperbaiki manajemen sekolah dan kinerja guru menjadi kunci utama dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Temuan tersebut sejalan dengan temuan Abu Dohuo (199) bahwa hasil belajar siswa merupakan inovasi pembelajaran yang dilakukan guru. Untuk dapat melakukan inovasi diperlukan tiga syarat, yaitu guru memiliki kompetensi dan juga memiliki komitmen untuk melakukan inovasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa.  Nah, komitmen kerja guru ternyata sangat diperngaruhi oleh iklim kerja dan iklim kerja itu merupakan hasil manajemen sekolah.

Apakah temuan tersebut juga berlaku di perguruan tinggi?  Sampai saat ini saya belum pernah membaca penelitian seperti itu dalam konteks perguruan tinggi.  Namun jika kita baca artikel tentang outcome based education, misalnya artikel Eldeeb dan Shatakumari. (2013) dengan judul Outcome Based Education: Trend Review, juga tentang outcome based accreditation, misalnya Harmanani (2017) dengan judul An Outcome Based Assessment Process for Accrediting Computer Programmes, tampaknya juga berlaku di perguruan tinggi. Tentu sangat baik jika ada penelitian yang mereplikasi penelitian di atas dalam konteks perguruan tinggi di Indonesia.


Senin, 12 Oktober 2020

HOTS: ISTILAH YANG BANYAK DISALAHARTIKAN (Diambil dari Kuliah Umum bagi Mahasiswa PPG Dalam Jabatan, Tanggal 11 September 2020)

 Saya tidak ingat kapan istilah HOTS (high order thinking skills) mulai popular di kalangan guru dan para pendidik di Indonesia.  Yang jelas sekarang menjadi salah satu kosa kata penting di dunia pendidikan.  Guru dituntut untuk mengembangkan HOTS pada murid-muridanya.  Konon soal di AKM (asesmen kompetensi minimum) yang nanti akan mengantikan UN (ujian nasional) disusun berbasis HOTS.  Sayangnya masih banyak guru yang belum memahami konsep HOTS dengan baik.  Ketika mengikuti capacity sharing untuk calon dosen pembimbing dan guru pamong yang kelak mendampingi mahasiswa PPG-PGSD (Pendidikan Profesi Guru SD), yang diselenggarakan oleh Kemdikbud bersama Tanoto Foundation, secara jujur beberapa guru menyatakan masih belum memahami konsep HOTS, sehingga bingung ketika harus menerapkan pada muridnya.

 HOTS bukankah definisi tunggal, namun secara umum dimaknai sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mencakup berpikir kritis, kreatif, reflektif dan memecahkan masalah. Sepertinya itulah yang disebut dua C di bagian awal dari 4-C yaitu critical thinking dan creativity. Ada yang membuat definsi lebih singkat, yaitu memecahkan masalah dengan kreatif (solving problem creatively).

Berbagai definisi tersebut sebenarnya saling terkait. Untuk dapat memecahkan masalah secara kreatif tentu diperlukan kemampuan berpikir kritis dan reflektif untuk memahami masalah yang ingin dipecahkan. Sedangkan untuk menemukan pemecahan yang kreatif tentu diperlukan kreativitas tinggi. Jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom (walaupun tidak benar-benar pas), berpikir kritis dan reflektif itu sejajar dengan level analisis-sintesis dan evaluasi.  Beberapa ahli menyebutnya sebagai bagian dari metakognisi.  Sedangkan berpikir kreatif sejajar dengan mengkreasi dalam taksonomi Bloom.  Itulah sebabnya beberapa orang menyebutkan tiga level di awal taksonomi Bloom (mengingat, memahami, menerapkan) merupakan LOTS (low order thinking skills), sementara tiga level di atasnya (analisis-sintesis, evaluasi, mengkreasi) termasuk HOTS.

Kebingungan muncul lagi, ketika peserta capacity sharing diminta untuk merancang pembelajaran untuk siswa SD Kelas 1 untuk menumbuhkan HOTS.  Seorang guru SD yang telah lama mengajar Kelas 1 SD mengatakan, tidak mungkin itu.  Yang bersangkutan mengajukan argumen karena anak-anak Kelas 1 SD masih dalam taraf berpikir konkret.  Tampaknya guru tersebut mengaitkan dengan teori perkembangan kognitif dari Piaget.  Dengan demikian anak belum dapat berpikir abstrak. 

Seorang peserta lain menunjukkan rancangan pembelajarannya dengan cara menunjukkan sikap gigi yang dikelompokkan  Satu kelompok terdiri dari 3 buah dan satu kelompok lainnya terdiri dari 2 buah.  Nah, anak SD Kelas 1 diminta mengisi semacam persamaan di LK-nya. Melihat itu, seorang peserta lain mengatakan, anak SD kan belum pandai membaca dan menulis, mana mungkin disuruh mengerjakan LK seperti itu.  Mendengar ungkapan itu banyak peserta yang umumnya para guru membenarkan.

Saya coba menengahi dengan mengatakan, bagaimana kalau pertanyaan tersebut diberikan secara lisan?  Jadi anak SD Kelas 1 ditunjukkan gambar atau kalau perlu guru membawa sikat gigi sungguhan dan diperagaan seperti gambar itu.  Kemudian guru bertanya secara lisan, jumlah sikat gigi siapa yang lebih banyak  Apakah siswa dapat menjawab?  Hampir semua peserta mengatakan bisa.  Artinya siswa Kelas 1 SD sudah dapat membandingkan. Ketika saya bertanya, membandingkan seperti itu menutut taksonomi Bloom termasuk apa.  Peserta menjawab, termasuk evaluasi.  Jadi siswa SD Kelas 1 juga sudah bisa melakukan evaluasi, berarti sudah bisa HOTS.  Baru peserta “ngeh”.   Jadi peserta mengatakan anak belum bisa mengatakan anak SD Kelas 1 belum bisa menjawab, lebih dipengaruhi gambaran bahwa anak SD Kelas 1 belum dapat membaca.

Ketika peserta sibuk berdiskusi, saya coba menunjukkan gambar halaman suatu sekolah dan anak dua anak yang lari dari pojok ke pojok lapangan. Katakanlah Budi lari menyusuri pinggir lapangan, sedangkan Tomi berlari memotong tengah lapangan.  Apakah anak SD Kelas 2 dapat menebak siapa yang lebih sampai lebih dahulu.  Serentak peserta mengatakan bisa.  Saya tanya lagi, apakah yakin anak SD Kelas 2 bisa.  Dijawab bisa. Saya tanya lagi, kira-kira bagaimana anak SD Kelas 2 bisa sampai simpulan Tomi lebih cepat sampai?  Seorang peserta yang kebetulan guru kelas 2 mengatakan, anak SD Kelas 2 akan melihat jalur yang ditempuh Tomi lebih pendek, sehingga akan lebih cepat sampai.  Anak SD Kelas 2 dapat membandingkan, karena bisa di lihat dengan jelas. Bukankah itu membandingkan?  Bukankah itu pada dasarnya evaluasi? Berarti anak SD Kelas 2 sudah dapat sampai pada evaluasi menurut Bloom. Jadi kembali bahwa anak SD Kelas 1 dan Kelas 2 sudah dapat HOTS, karena dapat melakukan evaluasi.Ketika waktu istirahat, beberapa peserta diskusi apakah soal HOTS dikaitkan dengan soal-soal ulangan yang sulit.  Kepada mereka saya ajukan pertanyaan, jika anak SD Kelas 3 diminta mengerjakan soal:

                                           1/7 + 0, 42 X 2/6 = ………………………………

Apakah mereka dengan mudah dapat mengerjakan?  Serentak, mereka menjawab “sulit pak”. Saya bertanya lagi, jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom, pengerjaan soal tersebut termasuk kategori apa ya.  Dijawab penerapan, karena hanya menerapkan prinsip penjumlahan dan perkalian.  Saya bertanya lagi, jadi termasuk HOTS atau LOTS. Dijawab LOTS.  Jadi ada soal ulangan yang sulit, pada hal termasuk LOTS.  Sementara tadi ada soal yang mudah, buktinya dapat dikerjakan anak SD Kelas 1 tetapi termasuk HOTS.  Kesimpulannya tidak semua soal HOTS itu sulit dan tidak semua soal LOTS itu mudah.  Dengan kata lain, tingkatan berpikir tidak selalu sejalan dengan tingkat kesukaran soal. 


Jadi bagaimana cara mudah memahami HOTS?   HOTS biasanya mengaitkan dua konsep atau fenomena yang kemudian dikaitkan.  Dalam contoh di atas anak membandingkan dua fenomena, yaitu jumlah sikat gigi dan membandingkan jarak lintasan lari.  Untuk membandingkan dua konsep, misalnya mengapa di bawah pohon yang rindang rumput tidak tumbuh?  Rumput utuk tumbuh dengan baik memerlukan sinar matahari, sementara di bawah pohon yang rindang sinar matahari tidak tembus. Contoh lain, mengapa waktu hujan deras air sungai besar berwarna coklat?  Air sungai besar biasanya berasal dari gunung atau perbukitan. Waktu hujan air akan membawa tanah yang menyebabkan air berwarna coklat

Minggu, 20 September 2020

BLENDED LEARNING AKAN MENJADI TREND DI ERA PASCA COVID

 Ketika memberikan paparan tentang pembelajaran di era pandemic covid-19, saya selalu mengatakan jangan-jangan covid-19 itu bagian dari Allah swt memberi pelajaran kepada kaum pendidik. Bukankah dalam bidang lain penggunaan teknologi digital (IT) telah kira rasakan.  Kita sudah hampir tidak pernah mengambil uang ke bank, karena lebih enak ke ATM. Bahkan akhir-akhir ini mengirim ke suadara atau membayar sesuatu kita menggunakan mobile banking. Ketika bepergian naik kereta kita membeli tiket online dan chek in di stasiun juga menggunakan mesin chek in.  Majalah, jurnal dan buku elektronik (e-magazine, e-journal, e-book) telah kita unduh dan kita baca.  Pertanyaannya, mengapa kita belum mencoba pembelajaran online (e-instruction)?

Setelah selama 6 bulan kita terpaksa melaksanakan pembelajaran onlie, tampaknya guru, dosen, siswa, mahasiswa juga mulai terbiasa.  Kita juga terpaksa melakukan rapat-rapat secara online. Bahwa banyak kendala dan banyak kekurangan kita harus mengakui. Namun kita juga harus mengakui ada beberapa manfaat yang kita petik dalam melaksanaan pembeajaran online dan rapat online selama enam bulan ini.

Tidak semua topik/kompetensi dapat dilaksanakan dengan pembelajaran online.  Ada yang bisa dengan mudah, ada yang bisa tetapi tidak mudah, dan ada yang rasanya tidak mungkin dilakukan secara online.  Teman-teman guru dan dosen tentu dapat merasakan itu.  Hal-hal yang terkait dengan aspek kognitif dan levelnya informatif, guru dapat memandu siswa mencariya di berbagai sumber online. Mbah google adalah salah satu “penunjuk jalannya”.  Namun ketika mulai melakukan analisis terhadap informasi tersebut, tampaknya pendampingan secara intensif sangat diperlukan.  Penerapan suatu rumus tampaknya juga memerlukan pendampingan.  Yang rasanya sulit untuk dilaksanakan secara onlie adalah yang terkait dengan skills. Yang sederhana dan tidak berbahaya masih bisa walaupun tidak mudah.  Namun jika gerakan atau keterampilan itu kompleks dan atau berbahaya akan sangat sulit, sehingga memerlukan pendampingan secara tatap muka.

Beberapa aspek karakter dan yang terkait dengan “rasa” memerlukan keteladanan sehingga interaksi secara fisikal diperlukan.  Memang bisa dicontohkan melalui video tetapi dalam tahap tertentu, keteladanan secara nyata sangat diperlukan.  Apalagi kita telah faham bahwa penumbuhkan karakter itu memerlukan waktu lama dan konsistensi dalam kehidupan keseharian.

Di sisi lain, pembelajaran online ternyata juga memberikan dampak positif. Siswa yang biasanya jarang bertanya ketika pembelajaran dilakukan secara tatap muka, tiba-tiba menjadi aktif bertanya dan menyampaikan pendapat.  Siswa menjadi terlatih mencari informasi.  Jika ketika tatap muka, guru cenderung memberikan informasi secara ceramah, saat pembelajaran online siswa terbiasa mencarinya dari sumber-sumber di dunia maya melalui internet.  Rapat secara online ternyata juga efetif, karena peserta dapat mengikuti dari mana saja.  Peserta rapat juga menjadi lebih aktif.  Bahkan akhir-akhir ini seminar online seakan mewabah dan banyak yang gratis.

Pertanyaannya, apakah ketika pandemic covid-19 dan sekolah telah “dibuka” kembali, apakah pembelajaran online akan hilang dan pola pembelajaran kembali seperti dulu?  Sebelum  mencoba melakukan analisis,  ijinkan saya bercerita dahulu.  Beberapa minggu lalu saya ketemu dan ngobrol dengan teman yang menekuni dunia marketing.  Beliau mengatakan nanti mall itu akan berubah fungsi.  Bukan tempat orang jual-beli, tetapi tempat orang jalan-jalan untuk mencuci mata dan sekaligus sebagai show room. Lantas, dimana jual-belinya?  Online.  Jadi orang ke mall untuk melihat barang, melihat harga dan jika perlu mencobanya. Tetapi tidak membeli. Setelah mengetahui barang yang dirasa cocok dan jalan-jalan juga sudah puas, akan pulang untuk membelinya secara online dari rumah.  Mengapa?  Karena harganya lebih murah.  Prediksi seperti itu juga sudah disadari oleh para pengusaha, sehingga disamping membuka gerai di mall mereka juga menyediakan layanan penjualan online.

Apa semua barang aman diberi secara online?  Ternyata tidak.  Kalau barang yang dibeli suatu produk yang standar, misalnya sepatu merk tertentu. Baju merk tertentu, katanya aman dibeli secara online.  Tetapi untuk barang-barang yang khas, misalnya baju batik, perhiasan sejenis emas yang tidak memiliki standar tertentu, pembelian sebaiknya dilakukan secara langsung.

Bagaimana dengan gofood?  Apakah rumah makan akan sepi setelah pandemic berakhi?  Menurut teman saya tadi, tidak.  Namun berubah.  Orang yang ke rumah makan atau warung adalah mereka yang ingin makan sambil santai bersama dengan teman-teman.  Di samping itu, makanan seringkali “berubah rasa” ketika dibawa pulang.  Oleh karena itu, rumah makan tidak akan banyak tergerus seperti gerai di mall yang menjual barang non makanan matang. Apa gofood atau sejenisnya akan berhenti?  Juga tidak.  Orang yang ingin makan karena lapar bukan ingin santai, apalagi malas keluar rumah atau keluar kantor, akan tetapi menggunakan gofood. Jadi keduanya akan tetap jalan.

Nah sekolah, bagaimana dengan proses pembelajaran?  Saya meyakini, walaupun nanti pandemic sudah berakhir, pembelajaran online akan tetap berjalan.  Tidak sendirian, tetapi berpadu dengan “pembelajaran tradisional”.  Itulah yan disebut blended learning, atau sederhananya campuran antara pembelajaran online dengan tatap muka.  Bukan berarti siswa tidak datang ke sekolah.  Bisa saja siswa berada di dalam kelas, tetapi mereka sedang mempelajari materi secara online.  Bukan berarti tidak ada guru.  Guru ada, tetapi fungsinya membantu jika siswa mengalami kesulitan. Bisa saja setelah beberapa saat siswa belajar online dilanjutkan latihan memecahkan masalah yang dilakukan secara interaktif langsung bersama guru.  Alias seperti yang dahulu dilakukan.

Nah yang sekarang perlu dipikirkan dan disiapkan adalah mana bagian yang dapat atau lebih efektif dilakukan secara online dan mana yang harus secara interaksi tatap muka dengan guru. Terkait dengan online atau tatap muka, mungkin aspek kognitif, afektif dan psikomotor memerlukan cara yang tidak tepat sama.  Mungkin juga level SD, SMP, SMA/SMK, dan perguruan tinggi juga memerlukan pendekatan yang berbeda.   Semua ini masih baru dan belum ada yang punya pengalaman.  Sebaiknya semua guru, dosen apalagi mereka yang ahli pembelajaran melakukan inovasi untuk menyongsong era baru, era blended learning. Semoga.