Senin, 22 Mei 2023

PENGUKUHAN PROF GANEFRI SEBAGAI DATUAK DJUNJUNGAN NAN BAGADIANG

Sabtu 20 Mei 2023 saya diundang untuk menghadiri Alek Batagak Pangulu Prof Ganefri, PhD Datuak Djunjungan Nan Bagadiang di Rumah Gadang Suku Banuhampu Kabupaten Limapuluh Kota.  Ketika saya cari di google map, ternyata lokasinya di kota Payakumbuh, sebuah kabupaten paling timur utara propinsi Sumatra Barat, berbatasan dengan propinsi Riau.  Sekitar 1.5 jam perjalanan dengan mobil dari Bukit Tinggi.

Jujur saya sangat ingin hadir karena itu merupakan upacara adat yang tidak selalu ada setiap saat. Saya bersama isteri berangkat dari Jakarta dengan Garuda pukul 16.10 dan landing di bandara MInangkabau sekitar pukul 18.00. Dijemput oleh Mas Randi, staf Pascasarjana FMIPA UNP, kami langsung bermobil menuju Bukit Tinggi, agar besuk pagi dapat langsung ke lokasi acara. Bu Prof Sofia, Direktur Sumberdaya Lamdik, sudah lebih dahulu sampai Bukit Tinggi dan memberi informasi bahwa semua hotel yang bagus di Bukit Tinggi penuh dan terpaksa kami harus menginap di hotel kecil, yaitu Hotel Nikita.  Saya sampaikan ke beliau “tidak apa-apa, toh hanya untuk tidur semalam”, karena besuknya pukul 06.30 harus sudah berangkat ke Payakumbuh.

Ternyata makan pagi di hotel Nikita baru mulai pukul 07.00 pada hal kami ingin berangkat pukul 06.30, sehingga kami minta secara khusus agar sarapan kami dikirim ke kamar.  Alhamdulillah, Sabtu pagi sekitar pukul 06.00 sarapan dikirim ke kamar, sehingga kami sarapan nasi goreng yang sangat enak, walaupun untuk lidah saya agak pedas. Selesai sarapan, kami segera siap-siap berangkat. Mas Randi juga sudah siap, sehingga kami langsung berangkat.

Lalu lintas Bukit Tinggi-Payakumbuh ternyata cukup padat, karena merupakan rute antara Bukit Tinggi dan Pekanbaru, antara propinsi Sumatra Barat dan Riau.  Jalannya cukup bagus tetapi sempit. Beberapa kali mobil kami harus berjalan pelan di belakang truk, sebelum dapat kesempatan mendahului. Mendekati lokasi acara Mas Randi dapat informasi kalau di tempat acara sudah macet karena banyak mobil tamu.  Saya memberi komentar, ya kalau perlu nanti kita jalan kaki. Dan betul, begitu kami sampai lokasi antrean mobil cukup panjang dan kami harus berhenti sekitar 50 meter dari tempat upacara dan kami harus jalan kaki.

Sambil berjalan saya amati karangan bunga ucapan selamat sangat banyak dan dipasang berjajar sepanjang jalan masuk.  Tidak hanya dari kalangan UNP, tetapi juga dari rektor dari berbagai universitas karena Prof Ganefri menjadi ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri. Juga dari beberapa pejabat Sumatra Barat serta beberapa dari Jakarta.  Dari karangan bunga tersebut menunjukkan bahwa Prof Ganefri adalah seorang tokoh masyarakat.

Begitu sampai lokasi, kami ketemu Dr. Yulkifli, Dekan FMIPA UNP dan tampaknya memang beliau diminta menemami kami.  Di halaman Rumah Gadang ada tenda khusus yang disitu diisi oleh bapak-bapak yang mengenakan pakaian mirip toga guru besar.  Ternyata beliau-beliau itu pada datuak yang mengikuti upacara.  Saya baru faham ternyata jumlah datuak itu cukup banyak, karena dosen UNP yang “bergelar” datuak ada 25 orang.  Pak Yulkufli menjelaskan bahwa datuak itu semacam “ketua suku”, sehingga berapa jumlah datuak menggambarkan jumlah suku di Minangkabau. Prof Ganefri berasal dari suku Banuhampu.  Datuak dipilih dalam musyawarah suku yang berangkutan dan bukan dari keturuan.

Ketika acara dimulai, Prof Ganefri sebagai “calon” datuak datang disambut tarian adat, saya berdiri di dekat pintu masuk Rumah Gadang agar dapat mengambil foto. Ternyata Prof Ganefri mengirim WA agar saya ikut masuk Rumah Gadang.  Tentu saya mau, karena akan dapat melihat langsung bagaimana jalannya upacara.

Rumah Gadang terdiri dari 3 bagian. Paling depan sepertinya untuk tamu perempuan, bagian tengah untuk tamu laki-laki dan bagian dalam untuk datuak yang dikukuhkan. Saya disilahkan duduk di ruang dengan bersama para datuak dan beberapa pejabat tertentu.  Kami semua duduk bersila dan terdiri dari dua lingkaran. Satu lingkaran untuk para datuak.  Lingkaran dimana saya duduk, sepertinya untuk tamu non datuak. Ada Menteri Desa (Gus Halim), ada Wakil Gubernur Sumbar, Ketua DPRD Sumbar, Bupati Limapuluh Kota, Kapolres Payakumbuh dan Ketua Datuak se Sumbar (saya lupa nama resmi jabatan tersebut). Saya duduk diantara Wakil Bupati Sumbar dan Ketua DPRD Sumbar.

Upacara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an disambung dengan do’a oleh salah seorang datuak senior. Setelah itu ada patatah-patitih dari para datuak yang dilaksanakan seperti saut-sautan.  Disampaikan dalam bahasa Minang, sehingga saya tidak faham.  Mungkin dapat menangkap sedikit-sedikit karena bahasa Minang ada kemiripan dengan bahasa Indonesia. Penangkapan saya patatah-patitih itu semacam nasehat atau kata-kata bijak. Namun menurut Pak Ketua DPRD Sumbar yang duduk di sebelah kiri saya, juga ada bagian yang menanyakan apakah calon datuak yang akan dikukuhkan mampu melaksanakan ungkapan bijak yang disampaikan para datual senior tersebut. Patatah-patitih cukup panjang, mungkin lebih dari 1,5 jam. Bahkan menurut Pak Ketua DPRD dapat berlangsung berjam-jam sampai para datuak yakin sang calon datuak dapat melaksanakan ungkapan bijak tersebut.

Setelah patataah-patitih selesai ditandai dengan ungkapan hamdallah oleh seorang datuak senior, upacara dilanjutkan dengan pengukuhan Prof Ganefri sebagai datuak Djunjungan Nan Bagadiang dengan simbul pemasangan “mahkota” berupa ikat kepala yang telah disiapkan. Setelah itu dilanjutkan semacam nasehat dari datuak senior yang memasangkan “mahkota” tersebut.  Ternyata, disamping pengukuhan datuak baru, juga ada penganugerahakan gelar kepada Menteri Desa, dengan sebutan Sutan Khafilah.

Selanjutnya ada serangkaian sambutan, mulai dari Ketua Datuak Sumbar, Bupati Lima Puluh Kota, Ketua DPRD Sumbar, Wakil Gubernur, Menteri Desa dan diakhiri sambutan dari Prof Ganefri sebagai datuak baru.  Jadi semacam parade sambutan.  Upacara diakhiri dengan makan siang sekitar pukul 12an.  Jadi upacara berjalan sekitar 2,5 jam dan semua yang ada di dalam Rumah Gadang harus duduk besila.  Mungkin berat bagi yang tidak terbiasa.  Selamat Prof Ganefri PhD Datuak Djunjungan Nan Bagadiang.

Senin, 01 Mei 2023

UMROH NUNUT

 Tahun ini merupakan keburutungan bagi saya, karena mendapat tugas mengakreditasi SIM (Sekolah Indonesia di Makkah), sehingga bisa umrah “gratis”.  Apalagi tugas itu dilaksanakan bertepatan dengan bulan Ramadhan.  Dapat dibayangkan betapa saya berutung, karena jika ikut rombongan umrah seperti lazimkan, tentu biayanya sangat mahal.  Memang jatah tugas dinas hanya 4 hari termasuk perjalanan, 1 hari perjalanan berangkat, 2 hari melakukan akreditasi, dan 1 hari perjalanan pulang. Jadi kali ini saya melakukan “umrah nunut” tugas akreditasi.

Karena ingin melakukam umrah, saya dengan Pak Malik (teman sesama bertugas) harus memperpanjang waktu tinggal di Makkah atas biaya sendiri.  Saya menambah 2 hari sedangkan Pak Malik menambah 4 hari karena ingin juga ke Madinah.  Tentu kami harus mencari akal, agar biaya yang diberikan BAN SM cukup untuk menambah hari tersebut.  Untungnya Pak Mubarak (Wakil Kepala SIM yang kelahiran Makkah) dapat mencarikan hotel yang tidak terlalu mahal tetapi lokasinya dekat dengan Masjidil Haram. 

Kami harus mengatur waktu dengan efisien. Oleh karena itu begitu datang di Jeddah hari Minggu pada tanggal 2 April 2023, kami langsung melaksanakan umrah. Kami mengambil miqat di Jeddah dan sekitar jam 10an berangkat ke Makkah dengan diantar oleh Pak Mubarak.  Kami didamping oleh seorang guru Tafidz SIM (Pak Sinsin Rosyidin).  Karena beliau tinggal di Makkah dan tidak ikut ke Jeddah (dijemput di rumahnya di Makkah), maka beliau mengambil miqat di Tan’im. Jadi walaupun sudah mengambil miqat dsi Jeddah kami ikut ke Tan’im.

Alhamdulillah umrah kami berjalan lancar. Sebenarnya lutut kiri saya sakit dan saya menggunakan decker. Bahkan hari Kamis sebelum berangkat, saya ke dokter ortopedi dan diberi obat oles Voltaren dan obat anti sakit untuk diminum kalau terasa nyeri.  Walaupun tahu kalau jama’ah umrah sangat banyak, kami memutuskan untuk tawaf di plataran ka’bah.  Memang penuh jama’ah tetapi jarak putaran tentu lebih pendek dibanding jika tawaf di lantai 2 atau lantai 3.Ketika tawaf saya berusaha berjalan dengan hati-hati agar kaki kiri tidak keseleo.  Ternyata sampai tawaf selesai lutut tidak terasa sakit.  

Selesai melakukan tawaf dan sholat sunah 2 rakaat serta berdo’a, kami dipandu Pak Sinsin menunju lokasi sa’I, yang ternyata sangat banyak jama’ah yang sedang melaksanakan sa’i. Segera kami membaur dengan jama’ah lainnya.  Di tengah-tengah sa’i terdengar adzan dhuhur sehingga kami berhenti ikut sholat dhuhur di lokasi sa’i.  Untunglah kami memiliki wudhu sehingga langsung saja mencari shaft untuk sholat.  Selesai sholat kami mencari tempat air Zamzam untuk membasahi muka dan kepala, sekedar agar lebih segar. Alhamdulillah, sa’I berjalan lancer dan lutut saya tidak sakit.

Selesai sa’i dan sholat sunah 2 rakaat plus berdo’a, kami ingin tahalul. Karena tidak membawa gunting kami meminjam gunting ke jama’ah lain. Pak Malik ternyata ingin potong rambut. Memang sejak pandemi covid 19 beliau memelihara rambut sehingga sampai sebahu.  Pak Sinsin mengajak kami keluar masjid dan mencari tempat potong rambut.  Saya komentari, ternyata untuk potong rambut Pak Malik menunggu umroh lebih dahulu.

Selesai umrah kami dijemput Pak Mubarak dan diantar ke hotel.  Ternyata kamar belum siap, sehingga harus menunggu sekitar 1 jam.  Setelah mendapat kamar dan istirahat sebentar, kami kembali ke masjidil haram untuk sholat ashar, magrib, isya dan tarawaih.  Bagaimana dengan buka puasa?  Tersedia melimpah.  Begitu menjelang magrib, ada orang menggelar plastik di depan shaf dan kemudian banyak jamaah yang meletakkan kurma, roti dan sebagainya di depan setiap jamaah. Ada juga yang menawari teh hangat.  Pokoknya makanan untuk buka puasa melimpah.

Bagaimana dengan pelaksanaan sholat tarawih?  Ini pertama kali saya ikut sholat tarawih di masjdil haram. Informasi yang selama ini saya dapat, sholat tarawih di masjdil haram 23 rakaat, mungkin mirip di kampung saya. Oleh karena itu, saya dan Pak Malik sudah siap untuk tarawih 23 rakaat, walaupun sangat mungkin surah yang dibaca imam panjang-panjang, sehingga waktu sholat menjadi lama.  Ternyata saya keliru.  Bahwa surat yang dibaca imam panjang-panjang memang benar, tetapi saya agak bingung karena setelah selesai 10 rakaat diselingi sholat janazah dan setelah itu sholat 2 rakaat berikutnya dengan surat pendek-pendek.  Di akhir rukuk kedua ada do’a yang cukup panjang.  Setelah itu sholat lagi tetapi hanya 1 rakaat dan salam.  Jadi tarawih di masjidil haram yang saya ikuti minggu sore itu bukan 23 rakaat dan juga bukan 11 rakaat tetapi 13 rakaat. Sepuluh sholat tarawih plus 3 rakaat dengan dua salam untuk witir.

Senin pagi2 sekali kami sudah ke masjidil haram untuk shalat tahajud disambung sholat subuh dan shalat dhuha.  Setelah itu pulang ke hotel dan siap-siap untuk ke SIM melakukan tugas akreditasi. Bagaimana kondisi SIM sudah saya ceritakan pada tulisan yang lalu.  Sore harinya berbuka bersama di rumah salah satu walimurid yang kebetulan namanya sama dengan nama belakang saya (Samani) dan beliau kebetulan berasal dari Tulungagung sama denga nasal ayah saya.  Aktivitas kami untuk hari Selasa pada dasarnya sama dengan hari Senin, tetapi buka bersama dilaksanakan di sekolah bersama guru dan siswa.

Pada hari Rabu kami ingin umrah kedua, tetapi mendadak Pak Duta Besar Indonesia untuk Saudi Arabia mengunjungi SIM dan ingin bertemu kami berdua. Jadi umrah kedua kami tunda hari Kamis. Mungkin Pak Dubes dapat informasi kalau Pak Malik dan saya kenal baik dengan Sekjen Kemdikbud yang akan datang ke SILN Riyadh, Jeddah dan Makkah.  Saat ketemu dan ngobrol, beliau minta kami hadir di rapat dengan Sekjen Kemdikbud dan membantu meyakinkan agar Pemerintah memprioritaskan pengembangan SILN di Saudi Arabia.  Seperti saya ceritakan di tulisan sebelumnya, memang saat rapat secara khusus kami diminta untuk menyampaikan pemikiran tentang SILN tersebut.

Hari Kamis kami umrah yang kedua dan mengambil miqat di Tan’im dengan diantar oleh Pak Mubarak.  Kami umrah berdua saja (saya dengan Pak Malik) dan alhamdulillah berjalan lancar.  Hanya saat mencari jalan dari pelataran ka’bah ke lokasi sa’i sempat tersesat, sehingga harus keluar masjid dahulu lalu masuk lagi. Itupun tidak menemukan jalan ke lokasi sa’i di lantai 1, sehingga kami melaksanakan sa’i di dilantai 2.  Kebetulan juga, karena dapat melihat orang-orang yang melaksanakan sa’I lantai atasnya lagi dengan scooter listrik.  Saya sengaja tidak mengenakan decker pada umrah kedua dan alhamdulillah lutut saya tidak sakit.

Hari jum’at kami menghadiri rapat yang dihadiri Dubes RI untuk Saudi Arabia, Sekjen Kemdikbud, Sekjen Kemlu, Sek utama Kemsekneg dan seluruh pimpinan dan guru SIM, seperti telah saya ceritakan pada tulisan yang lalu.  Selesai rapat, kami (Pak Sutikno, Pak Mubarak, Pak Malik dan saya) ingin sholat jum’at di Masjidil Haram.  Dengan disopiri Pak Mubarak, kami berusaha mencari jalan masuk ke lokasi Masjidil Haram. Sayang semua jalan masuk ke arah itu ditutup, sehingga akhirnya kami sholat jum’at di masjid lain.

Setelah sholat jum’at kami ke hotel dan check out.  Pak Malik diantar ke stasiun kereta api, karena akan ke Madinah dan Pak Sutikno diantar ke SIM, sedangkan Pak Mubarak dan saya menghadiri buka bersama IKAMA (Ikatan Keluarga Madura) di Makkah.  Menarik sekali.  Ternyata jumlah orang Madura di Makkah sangat banyak dan ada yang sudah generasi ketiga.  Makanan yang disajikan juga ada yang khas Madura, yaitu sate kambing dan bubur Madura.

Selesai buka bersama dan sholat magrib berjama’ah (saya menjamak  dengan sholat isya) kami langsung ke bandara untuk kembali ke tanah air. Sampai bandara saya kaget karena yang antre check in panjang sekali dan sebagian besar jama’ah umrah.  Untungnya saya punya GFF (Garuda Frequent Flyer Platinum) dan ada Pak Mubarak yang dapat berkomunikasi dengan petugas check in dengan berbahasa Arab.  Alhamdulillah check in lancar, bahkan saya diberi jatah air Zamzam. Penerbangan jam 00.30 berjalan lancar, transit di Jakarta juga lancar, sehingga selepas magrib saya mendapat di bandara Juanda