Senin, 06 Juli 2020

’LIFE SKILLS’ VS MATA PELAJARAN-dari Buku Pendidikan Bermakna-2007


Meluruskan Makna Life Skills
Ketika pertama kali saya menggunakan istilah life skill, di dalam naskah pidato pengukuhan guru besar pada 14 Desember 1998, banyak kawan mempertanyakan apa maknanya.  Apakah itu sama dengan basic skill dalam konsep pendidikan vokasional atau skill dalam taksonomi Bloom?  Jawaban saya saat itu life skill adalah kecakapan hidup, yaitu kecakapan yang diperlukan seseorang untuk dapat sukses dalam kehidupannya, persis seperti yang kita temukan dalam bab Mencermati Orang-orang Sukses.
Sengaja digunakan istilah ”kecakapan” sebagai kata Indonesia (terjemahan) dari  ”skill” dan bukan ”keterampilan”.  Hal itu  semata-mata untuk menghindari penyempitan arti skill sebagai keterampilan manual.  Mengapa demikian?  Karena selama ini, istilah keterampilan diasosiasikan dengan keterampilan psikomotorik dari taksonomi Bloom, sehingga maknanya menyempit menjadi keterampilan yang bersifat manual saja.  Akibatnya, ketika konsep life skill diperkenalkan kepada sekolah, banyak SD dan SMP yang mengadakan program keterampilan bagi siswa, misalnya siswa SD diajari memelihara itik, membuat keset (untuk membersihkan kaki, sebelum masuk rumah) dan sebagainya.  Bukan berarti, siswa SD tidak boleh berlajar keterampilan manual, tetapi life skill jauh lebih luas dari sekadar ketrampilan manual. 
Penggunaan kata life skill dalam makna lain, juga terjadi pada Undang-undang nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada pasal 26, ayat (3) disebutkan bahwa pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.  Rumusan tersebut mengesankan bahwa pendidikan kecakapan hidup merupakan bentuk ”program pendidikan”, seperti program pendidikan kepemudaan dan sebagainya.  Jadi bukan suatu substansi pendidikan.
Seperti yang akan diuraian lebih lanjut, pada buku ini pendidikan kecakapan hidup (life skill education) dimaknai sebagai substansi pendidikan, yaitu pendidikan yang mengajarkan kecakapan untuk menggapai kesuksesan hidup, sebagaimana digambarkan pada bab Mencermati Orang-orang Sukses.   Substansi life skill dapat masuk ke berbagai program pendidikan, karena pada dasarnya pendidikan memang menyiapkan anak didik agar sukses di kehidupannya kelak.
Saya merasa heran ketika pada tahun 2001 istilah life skill tiba-tiba muncul dan cepat populer di Indonesia dan bahkan dari penelusuran di media internet, ternyata juga banyak negara yang sudah menggunakan istilah itu dengan arti yang berbeda-beda.  Dalam dunia maya (internet) kini ada beberapa situs yang namanya terkait dengan life skill.  Bahkan ada banyak situs yang secara khusus memuat berbagai hal yang terkait dengan life skill, misalnya program life skill untuk remaja dan bahkan ada program life skill khusus untuk isteri pelaut.   Unesco juga pernah menyeponsori pertemuan yang membahas program-program life skill education, salah satunya di Seoul Korea Selatan, pada Desember 2003.
Salah satu negara yang relatif sangat serius dalam mengembangkan pendidikan kecakapan hidup (life skill education) adalah Hongkong.  Melalui Basic Education Curriculum Guide: Building in Strength 2002, Hongkong tampak berusaha menyempurnakan pendidikannya dengan memasukkan life skill ke dalamnya.  Dalam naskah tersebut dimuat, apa yang mereka sebut sebagai National Learning Goals, yang ternyata isinya juga mirip dengan life skill yang kita hasilkan lewat proses induksi, seperti  diuraikan di bab terdahulu.
Negara lain yang juga getol mengembangkan konsep pendidikan yang mirip life skill adalah New Zealand. Dari berbagai dokumen, diketahui bahwa mereka telah merumuskannya pada tahun 1993, dalam The New Zealand Curriculum Framework.   Mereka menyebutnya dengan istilah ”the essential skills”, yang ingin dikembangkan melalui pendidikan di negara tersebut.  Dalam dokumen tersebut tertulis, the essential skills merupakan kecakapan yang diperlukan generasi muda, untuk dapat berpatisipasi secara efektif dalam kehidupan di masyarakat.
Walaupun makna life skill yang dipakai oleh para pengguna dari berbagai negara berbeda-beda, tetapi jika dicermati mengandung satu makna universal, yaitu kecakapan yang diperlukan untuk menghadapi problema kehidupan dan kemudian secara aktif dan kreatif memecahkannya.  Bukankah pengertian itu identik dengan pengertian yang kita gunakan pada bab Mencermati Orang-orang Sukses?   Bukankah untuk sukses, memang diperlukan kecakapan untuk menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan secara kreatif?  Bahkan beberapa ahli menyatakan, diperlukan kecakapan untuk mengantisipasi akan adanya masalah dan kemudian mengubah masalah tersebut menjadi manfaat.   Oleh karena itu, dalam buku ini, life skill tetap diartikan sebagai kecakapan yang diperlukan untuk menggapai kesuksesan hidup.
Kata ”sukses” mengandung makna yang luas dan tidak tepat sama rinciannya bagi setiap orang.  Seperti disinggung pada bab sebelumnya, tentu orang tua tidak ingin anaknya hanya sukses dalam aspek karier dan materi, tetapi gagal dalam membina rumah tangga.  Orang tua juga tidak ingin anaknya sukses dalam membina rumah tangga dan materi, tetapi tidak disenangi oleh masyarakat sekitarnya.  Mereka tidak ingin anaknya sukses dalam karier dan kaya, tetapi tidak taat beragama.  Sebaliknya orangtua tidak puas jika anaknya anaknya taat menjalankan ibadah ritual, seperti shalat, puasa dan membayar zakat serta telah melaksanakan ibadah haji, tetapi gagal dalam karier dan berumah tangga.   
Jika peran manusia dalam kehidupan dapat diidentifikasi, kita dapat melakukan analisis untuk menemukan kecakapan hidup yang diperlukan untuk melaksanakan peran tersebut.  Jika kecakapan hidup dapat ditemukan, maka kita dapat menyiapkan pola pendidikan yang mampu mengembangkan kecakapan tersebut, baik itu untuk dilaksanakan di keluarga maupun di sekolah.  Dengan cara itu, pendidikan yang kita lakukan akan benar-benar mengembangkan kecakapan yang diperlukan untuk memerankan diri dalam kehidupan di masa datang.

Empat Peran dalam Kehidupan

Dari berbagai referensi dan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari, saya mencoba mengkonstruksi peran manusia dalam kehidupan, seperti tampak pada Gambar 2.   Setiap orang memiliki empat peran dalam kehidupan, yang dilaksanakan secara bersama-sama dan simultan, yaitu sebagai pribadi yang mandiri, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat, sebagai bagian dari lingkungan alam, dan terakhir tetapi sangat penting adalah sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa.
Sebagai pribadi yang mandiri, seseorang dituntut untuk mampu menghadapi dan memecahkan problema yang dihadapi.  Di dalam pekerjaan, tentu selalu ada problema yang harus dipecahkan dan bahkan orang yang tidak bekerja, dalam arti mencari uang seperti ibu rumah tangga, juga selalu menghadapi problema.   Anak kecil yang rewel dan minyak goreng habis, di saat akan masak adalah contoh problema bagi ibu rumah tangga.  Anak sekolah juga selalu menghadapi problema, misalnya harus mengerjakan PR (pekerjaan rumah) di saat ingin ikut ibunya ke toko atau  besuk akan ulangan tetapi sore ini ada siaran final AFI (Akademi Fantasi) di Indosiar.  Pramuka yang sedang sendirian di hutan, juga menghadapi problema seperti itu, misalnya ketika berjalan ada sungai di depannya, sehingga harus memilih menyeberang dengan risiko basah dan bahkan tenggelam atau berjalan melingkar tetapi jauh atau ada cara lain yang harus ditemukan.





Gambar 2  Peran manusia dalam kehidupan[1]

Kecakapan seperti itu seringkali disebut kecakapan personal (personal skill), yaitu kecakapan yang diperlukan untuk mampu menjadi pribadi yang mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Kecakapan personal diperlukan, walaupun yang bersangkutan hidup seorang diri di tengah hutan.  Untuk itu diperlukan kecakapan untuk memahami problema yang dihadapi, menggali informasi yang relevan guna menyempurnakan pemahaman tersebut, menganalisis dan menemukan alternatif-alternatif untuk mengatasi problema tadi, serta mengambil keputusan alternatif mana yang akan diambil.
Setiap orang akan selalu menghadapi problema dalam kehidupannya, yang jenis dan tingkatannya berbeda sesuai dengan usia dan profesinya.  Problema yang dihadapi siswa SD tentu berbeda dengan yang dihadapi mahasiswa, berbeda dengan ibu rumah tangga, berbeda dengan pedagang, berbeda dengan pegawai di kantor pemerintahan.  Tetapi yang pasti, setiap orang akan selalu menghadapi problema yang menuntut untuk dipecahkan secara kreatif dan arif.
Untuk mampu memahami suatu masalah secara utuh, diperlukan berbagai informasi yang relevan.  Berbagai informasi tersebut selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan pemahaman yang lebih utuh dan akurat.  Tanpa adanya informasi yang lengkap dan analisis yang baik, pemahaman tidak akan dapat sempurna.  Oleh karena itu, kecakapan menggali dan menganalisis informasi merupakan bagian dari pemahaman suatu problema.
Pemecahan yang kreatif adalah yang mampu menghasilkan solusi yang efektif dengan waktu cepat, tenaga sedikit dan biaya yang minimal, sedangkan pemecahan yang arif artinya pemecahan yang memperhitungkan dampak negatif yang terjadi, baik bagi diri sendiri, orang-orang lain yang terkait maupun lingkungan alam sekitarnya.
            Orang yang mampu memecahkan problema yang dihadapinya secara kreatif dan arif, seringkali menyebabkan yang bersangkutan sukses dalam profesinya.  Orang seperti itu seakan justru memperoleh manfaat dari problema yang dihadapi, karena lebih dahulu menemukan solusi dibanding orang lain yang menghadapi problema serupa.  Seorang guru yang menghadapi siswa yang nakal, kemudian menemukan metoda mengajar yang mampu mengarahkan kenakalan siswa tadi, menjadi semangat berkompetisi, akan menjadikan yang bersangkutan sebagai rujukan atau guru tempat bertanya bagi guru yang lain.  Seorang pedagang yang menghadapi problema harga barang naik-turun, kemudian menemukan metoda untuk mengantisipasinya, akan menjadi pedagang yang terus memperoleh keuntungan.
            Untuk mampu memahami masalah yang dihadapi, menggali informasi yang terkait, melakukan analisis secara cermat, menemukan alternatif-alternatif yang ada dan mampu memilih alternatif yang paling baik, tentu diperlukan keahlian yang terkait dengan bidang tersebut.  Pada contoh kasus Pak Didik, si tukang bengkel mobil pada Bab sebelumnya, disebut sebagai ciri menguasai bidang pekerjaannya.
            Kemampuan yang diperlukan untuk menjadi tukang bengkel tentu berbeda dengan kemapuan menjadi guru dan berbeda dengan politisi.  Oleh karena itu kecakapan hidup seperti itu disebut kecakapan hidup spesifik (specific skill).  Apakah kecakapan hidup spesifik cukup sebagai bekal sukses dalam menekuni keahliannya?  Ternyata tidak cukup.   Diperlukan kemampuan menggali informasi lain yang terkait, melakukan analisis yang holistik dan cermat, menemukan beberapa alternatif pemecahan dan mampu memilih alternatif yang terbaik.
            Mungkin ada yang bertanya, apakah ada orang ahli dalam bidangnya, tetapi tidak mampu melakukan analisis terhadap problem yang dihadapi dan mencari alternatif pemecahannya.  Di sini perlu diklarifikasi.  Ada orang yang penguasaan bidangnya hanya sempit dan itu-itu saja, tetapi ada juga orang yang penguasaan bidang keahliannya terus  berkembang, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Sebagai contoh, tukang bengkel yang keahliannya menyetel mobil terbatas pada karborator dan platina, akan kebingunan saat menghadapi mobil generasi baru, yang menggunakan CDI dan sistem injeksi pada aliran bahan bakar.  Guru yang keahliannya hanya menjelaskan isi buku tertentu kepada siswa, akan kelabakan ketika tahu siswanya sudah lebih dahulu membaca kasus mutakhir di majalah atau internet dan kemudian menanyakannya di kelas.
            Nah di situ tampak, perbedaan antara ahli dalam pengertian pertama, yaitu dari itu – ke itu saja dan ahli dalam pengertian terus mengikuti perkembangan.  Bukankah, untuk dapat mengikuti perkembangan, seorang yang sudah ahli harus terus belajar, yaitu menggali informasi, kemudian menganalisis bagaimana keterkaitan dengan keahlian yang selama ini telah dikuasai dan selanjutnya mengintegrasikan menjadi ”keahlian baru” yang lebih mutakhir? 
            Pada kondisi lain, ada orang yang keahliannya hanya terbatas dan tidak memahami jika hal itu terkait dengan bidang lain.  Sebagai contoh, pada umumnya petani kita hanya paham bagaimana cara yang baik dalam menanam padi, jagung, atau kedele.  Mereka tidak paham, berapa kebutuhan padi, jagung dan kedele di daerahnya dan kapan ketiga hasil panen itu diperlukan masyarakat, serta berapa harga per kilo dari padi, jagung dan kedele yang wajar.  Akibatnya, mereka seringkali dihadapkan pada kenyataan hasil panennya bagus, tetapi harganya jatuh.  Dalam kondisi seperti itu, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, kecuali menjual hasil panennya dengan merugi.
            Pada kasus seperti itu, gagasan Pak Badrun, si pedagang sukses yang diceritakan pada bab terdahulu dapat menjadi pelajaran.  Pak Badrun, mampu mengaitkan bidang pertanian dengan kebutuhan masyarakat, sehingga memunculkan gagasan menanam padi secara tradional, tanpa pupuk kimia dan bahan pestisida.  Walaupun hasil panennya lebih sedikit, tetapi harga jualnya justru lebih besar.
               Pola pikir petani yang dicontohkan di atas, disebut pola pikir yang parsial dengan skemata lepas.  Artinya menganggap pekerjaan bertani adalah menanam padi, jagung, kedele, sayuran serta buah-buahan dengan sebaik-baiknya dan itu tidak ada hubungannya dengan perdagangan.  Padahal, kenyataannya hasil pertanian akan masuk dalam dunia perdagangan, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan.   Oleh karena itu, pola pikir Pak Badrun dengan cara holistik-integratif, lebih cocok untuk digunakan dan dalam praktiknya memang lebih memberikan keuntungan.
            Sayangnya, dalam pendidikan kita, pola pikir parsial itulah yang banyak digunakan.  Siswa diminta belajar Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Indonesia, PPKn, Ekonomi dan sebagainya, dan hanya sedikit sekali (kalau tidak dapat dikatakan tidak pernah) diajak  belajar mengintegrasikannya dalam dalam pola pikir yang utuh guna memahami suatu masalah kehidupan.  Ungkapan Pak Wahyu, arsitek profesional yang sukses pada bab sebelumnya, yang mengatakan bahwa dia lebih banyak belajar dari arsitek seniornya di tempat kerja, dibanding di bangku kuliah, ada benarnya.   Dari seniornya itulah, Pak Wahyu banyak belajar kearifan hidup dan bagaimana menjadi arsitek profesional, bukan sekadar belajar mata kuliah-mata kuliah, secara parsial (terpisah-pisah).
            Secara psikologis, kecakapan-kecakapan yang disebutkan di atas, terkait erat dengan kecakapan berpikir, baik berpikir rasional/secara keilmuan, maupun berpikir lateral/secara kreatif.  Berpikir rasional sangat diperlukan pada saat melakukan analisis, sedangkan berpikir lateral sangat diperlukan pada saat mencari alternatif pemecahan masalah.Oleh sebab itu, kecakapan-kecakapan tersebut dapat digolongkan sebagai kecakapan berpikir (thinking skill).
Di samping harus memiliki thinking skill yang baik, untuk dapat menjadi pribadi mandiri yang sukses, seseorang juga harus disiplin, jujur, kerja keras, ulet, sabar, pantang menyerah dan berani mengambil risiko.  Meskipun hidup seorang diri, jika ingin sukses orang tetap harus disiplin, misalnya disiplin dalam mengatur waktu dan dalam mengerjakan tugasnya, jujur dalam menerapkan prosedur kerja, kerja keras serta ulet dan pantang menyerah di saat mengahadapi kesulitan.  Pada saat tertentu, seseorang juga harus berani mengambil risiko. 
            Kecakapan-kecakapan yang disebutkan terakhir lebih dekat dengan sikap (attitude), dibanding dengan kecakapan berpikir. Oleh karena itu, kecakapan-kecakapan tersebut dapat digolongkan sebagai sikap hidup (life attitude).  Walau demikian, dari pengalaman, aspek ini tidak kalah penting dibanding kecakapan berpikir.  Bahkan para ahli mengatakan bahwa EQ (emotional quotient) lebih menentukan keberhasilan seseorang dibanding dengan IQ (intelectual quotient), dan kecakapan-kecapan yang berwujud sikap itulah isi dari EQ.  Dan kini, IQ dan EQ tidak cukup, karena keduanya harus dipandu oleh SQ (spiritual quotient).
            Sayangnya sikap hidup tesebut kurang mendapat perhatian dalam praktik pendidikan di sekolah selama ini.  Guru/dosen sepertinya terlalu sibuk ”memompakan” materi ajar dan lupa akan pentingnya sikap hidup, yang ternyata beperan besar dalam kesuksesan hidup seseorang.  Atau mungkin, mereka berpikir bahwa pengembangkan sikap hidup itu hanya tugas guru Agama dan guru PPKn.  Sedihnya, guru Agama dan guru PPKn juga disibukkan untuk ”memompakan” materi ajar pada tataran kognitif dan tidak sampai pada penghayatan serta pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.  Apalagi hasilnya juga diukur melaalui hasil ulangan/ujian tertulis, yang tentu belum menyentuh aspek pengamalan.
            Oleh karena itu, dapat dimengerti jika menyontek kini telah menjadi fenomena keseharian di sekolah, mulai dari siswa SD sampai mahasiswa pasca sarjana.  Sedihnya, guru dan orangtua (termasuk kita semua) tidak risau dengan gejala tersebut.  Padahal, menyontek adalah awal dari perbuatan korupsi, karena ingin mendapatkan nilai baik tanpa mau belajar keras. Hal itu analog dengan ingin berpenghasilan besar tanpa mau bekerja keras.  Bukankah itu pola pikir orang korupsi?
            Saya punya pengalaman menyedihkan.  Ketika memberi ujian kepada mahasiswa S2 dengan model take home (dikerjakan di rumah), ada dua mahasiswa yang menyerahkan pekerjaan dengan isi sangat mirip.  Padahal, soal ujian tersebut berbentuk kasus dan peserta ujian diminta untuk mengajukan pemecahan masalah. Logikanya, setiap orang memiliki gagasan masing-masing, tentang bagaimana cara memecahkan kasus tersebut.  Akhirnya kedua mahasiswa yang pekerjaannya mirip tersebut saya tunda pengumuman hasil ujiannya, sampai ada yang mengaku, siapa yang menyontek.  Akhirnya, salah seorang di antaranya menemui saya dan mengakui dialah yang menyotek, kemudian meminta maaf dengan berbagai alasan.
            Ketika pengalaman tersebut saya ceritakan kepada dosen lain, bahkan kepada rekan dosen di perguruan tinggi lain, mereka mengatakan bahwa hal itu juga terjadi di kelasnya.  Ada seorang rekan dosen yang sedang kuliah di S3 bercerita, kalau ujian semester seringkali direpotkan oleh temannya yang terus bertanya-tanya, padahal dia sendiri belum selesai mengerjakan.  Dan kejadian seperti itu tidak hanya pada seseorang, tetapi banyak mahasiswa S3.  Sungguh menyedihkan.

Social Skill dalam Keluarga dan Masyarakat
           
            Peran kedua manusia dalam kehidupan adalah sebagai bagian dari keluarga, misalnya sebagai anak ketika masih kecil, sebagai suami atau istri ketika sudah berkeluarga, dan sebagai adik-kakak-keponakan-kakek-nenek, ketika kita menerapkan kehidupan keluarga besar dalam budaya Indonesia.  Agar dapat menjadi anggota keluarga yang baik, seseorang memerlukan kecakapan hidup yang berbeda dengan personal skill.   Dalam kehidupan di keluarga, seseorang memerlukan kecakapan antara lain, toleransi atas perbedaan, menghargai orang lain, berkomunikasi dengan sopan, bekerja sama dengan penuh tanggung jawab, berempati pada penderitaan orang lain,  membantu orang yang sedang kesulitan  dan sebagainya. Seringkali kecakapan tersebut disebut sebagai kecakapan sosial (social skill), yaitu kecakapan yang diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Walaupun dalam satu keluarga, tentu ada perbedaan pendapat.  Oleh karena itu diperlukan toleransi dan saling menghargai terhadap perbedaan pendapat tersebut. Keributan dalam rumah tangga dan bahkan perceraian, seringkali diawali oleh adanya kurang toleransi dan kurangnya saling menghargai terhadap perbedaan pendapat antara suami dan isteri.  Hubungan antara orangtua dan anak yang tidak harmonis, seringkali juga diawali oleh adanya kurang toleransi dan kurang menghargai perbedaan pendapat.
Kemampuan berkomunikasi juga sangat penting dalam keluarga.  Seringkali penyampaian pendapat memperoleh tanggapan negatif, bukan karena materi/gagasan yang disampaikan, tetapi karena cara menyampaikan kurang tepat.  Sebaliknya kritik seringkali dapat diterima oleh yang dikritik, karena cara menyampaikannya sopan dan tidak menyinggung perasaan. 
Walapun dalam satu keluarga, tentu setiap anggota keluarga memiliki cara perikir masing-masing, apalagi usia berpengaruh terhadap cara berpikir seseorang.  Oleh karena itu, biasanya antara anak dan orangtua memiliki cara pandang yang berbeda terhadap sesuatu kejadian.  Jika perbedaan pendapat seperti itu, disampaikan dengan cara yang keliru, misalnya kurang sopan dan menyinggung perasaan lawan bicara, akan dapat menimbulkan salah pengertian.  Apalagi, jika lawan bicaranya kurang memiliki rasa toleransi atas perbedaan pendapat.
Dalam setiap keluarga tentu selalu ada aktivitas yang memerlukan bentuk kerja sama.  Mendidik anak merupakan tugas bersama antara suami dan isteri. Mengatur dan membersihkan rumah merupakan kerja sama antara seluruh penghuni rumah, baik suami, isteri, anak, pembantu rumah tangga dan keluarga lain yang tinggal serumah.  Nah, untuk itu diperlukan pembagian tugas yang jelas, rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diembannya dan  menghargai hasil kerja orang lain.
Di dalam kehidupan keluarga, juga diperlukan kecakapan berempati terhadap penderitaan orang lain.  Jika ada anggota keluarga yang sakit, diharapkan anggota keluarga yang lain  menunjukkan empati kepada yang sedang sakit dan tidak membuat kegaduhan.  Jika anak sedang belajar, seharusnya orang tua menunjukkan empati dengan tidak menyetel televisi dengan seenaknya.  Jika bapak atau ibu sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang penting, anak seharusnya menunjukkan empati dengan tidak bergurau atau tampak bermalas-malasan.  Akan lebih baik, jika membantu atau paling tidak menawarkan diri untuk membantu.
Dari uraian di atas, tampak adanya saling terkait antara personal skill dan social skill.  Misalnya, untuk mampu memahami adanya perbedaan dalam kehidupan keluarga, seseorang memerlukan pengetahuan tertentu dan sikap hidup tertentu, yang keduanya termasuk di dalam personal skill.  Sebaliknya, pengalaman dalam kehidupan rumah tangga yang menerapkan social skill, akan mengasah kecakapan berpikir dan sikap hidup yang lebih arif.
Apakah kecakapan-kecakapan tersebut mudah dikuasai?  Ternyata tidak.  Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kekurangharmonisan rumah tangga juga terjadi pada keluarga yang terdidik.  Kenakalan anak-anak juga terjadi pada orangtua yang terdidik.  Artinya, orang yang memiliki kecakapan berpikir baik, belum tentu berhasil dalam membina keharmonisan rumah tangga dan memerankan diri sebagai orangtua yang berhasil mendidik anaknya.  Demikian pula, anak yang  berprestasi  di sekolah, juga ada yang kurang baik hubungannya dengan orangtua dan anggota keluarga yang lain di rumah.
Demikian pula, orang yang memiliki sikap hidup yang baik, misalnya jujur, disiplin dan bertanggung jawab, belum tentu mampu melakukan komunikasi dengan baik.  Misalnya orang yang jujur belum tentu dapat menyampaikan gagasan secara lisan atau tertulis secara baik.  Demikian pula, dia belum tentu pandai menyimak pembicaraan orang atau membaca gagasan orang lain.
Jika diyakini bahwa keluarga merupakan tempat awal terjadinya proses pendidikan, maka peran seseorang dalam keluarga tidak boleh diabaikan.  Sikap hidup dan social skill, yang diuraikan di atas seharusnya menjadi budaya dalam keluarga, sehingga setahap demi setahap akan mewarnai sikap hidup dan kecakapan sosial anak-anak.  Sayangnya banyak orangtua yang kurang berhasil dalam memerankan diri sebagai anggota keluarga yang paling sentral.
Jika dilacak ke sekolah, di mana orangtua dulu mengikuti pendidikan, ternyata social skill yang sangat diperlukan seseorang dalam memerankan diri dalam komunitas keluarga, juga kurang mendapat perhatian.  Kecakapan menghargai orang lain, toleransi atas perbedaan, bekerja sama dengan penuh tanggung jawab, berkomunikasi dengan sopan, berempati pada penderitaan orang lain dan membantu orang yang kesulitan, belum menjadi perhatian guru.
Pengembangan kecakapan berkomunikasi sepertinya masih dianggap merupakan  tugas guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris saja, karena di dalam kurikulumnya memang terdapat kompetensi menyimak (listening), membaca (reading), menulis (writing),  dan berbicara (speaking).  Pengembangan kecakapan bertoleransi, kecakapan dalam bekerja sama, berempati pada penderitaan orang lain dan suka menolong orang yang kesulitan, sepertinya dipahami hanya merupakan tugas guru PPKn dan Agama, karena di dalam kurikulumnya ada kompetensi tersebut.
Guru mata pelajaran lainnya, sepertinya tidak merasa bahwa kemampuan tersebut juga menjadi tanggung jawabnya dan bahkan tanggung jawab semua guru.  Kalau toh ada  dalam proses pembelajarannya menggunakan aktivitas-aktivitas tersebut, sang guru tidak secara sengaja merancang dan memperhatikan proses dan hasilnya, sebagai hasil belajar yang harus diukur.

Dalam kehidupan keseharian, setiap orang juga harus berinteraksi dengan anggota masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya, maupun lingkungan kerja.  Oleh karena itu, peran kedua manusia dalam kehidupan, di samping di keluarga adalah sebagai bagian dari masyarakat.  Bukankah manusia merupakan makhluk sosial, yang secara fitrah memang merupakan bagian dari masyarakat.  Beberapa ahli menyebutkan bahwa peran sebagai anggota masyarakat merupakan perluasan dari peran sebagai anggota keluarga, karena memerlukan kecakapan yang sama, yaitu berkomunikasi, bekerja sama dan berempati. 
Namun juga banyak ahli lain, yang menyebutkan peran keduanya berbeda, karena sifat interaksinya yang berbeda, sehingga keduanya harus dipisahkan.  Mengapa?  Karena sifat interaksinya berbeda.  Dalam keluarga hubungan emosional lebih tinggi, sehingga mudah menumbuhkan rasa empati dan dorongan untuk saling membantu.  Sebaliknya, karena merasa satu keluarga, maka rasa toleransi atas adanya perbedaan tidak setinggi jika menghadapi orang di luar keluarga.  Jadi dibanding hubungan dalam keluarga, hubungan seseorang di dalam masyarakat menjadi lebih longgar, yaitu adanya rasa toleransi yang lebih tinggi, sebaliknya rasa empati dan dorongan untuk membantu lebih rendah.
Untuk dapat memerankan diri sebagai anggota masyarakat yang sukses, seperti cerita ”tetangga ideal” pada sebelumnya, social skill yang disebutkan di atas sangat diperlukan.  Tentu dengan intensitas yang lebih tinggi.  Misalnya, untuk dapat berkomunikasi dengan anggota masyarakat, diperlukan kecakapan berkomunikasi yang lebih tinggi, karena perbedaan pola pikir di masyarakat tentu lebih lebar dibanding dalam keluarga.
Untuk dapat berempati terhadap penderitaan tetangga dan mau menolongnya, diperlukan kecakapan sosial yang lebih tinggi dibanding dalam keluarga.  Mengapa?  Karena, tidak adanya hubungan emosional antara seseorang dengan tetangganya, menyebabkan diperlukannya kepekaan sosial yang lebih besar untuk dapat berempati dan membantu orang lain yang sedang menderita.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, kesediaan berempati kepada orang lain dan membantu mereka yang menderita, ternyata juga tidak berhubungan linier terhadap kecakapan berpikir dan kekayaan yang dimiliki.  Ada stasiun televisi punya program berjudul ”Tolooooong!” yang memancing kedua aspek life skill tersebut, dengan cara menghadapkan seseorang dengan penderitaan orang lain.  Pada suatu episode, ditayangkan ada seorang ibu tua dan tampak sederhana, membawa kompor minyak tanah dan berjalan meminta minyak tanah gratis kepada beberapa penjual minyak yang dijumpai. Banyak penjual minyak tanah yang menolak untuk memberi, walaupun si ibu itu mengatakan meminta gratis, karena tidak punya uang.   Salah seorang yang mau memberi justru di luar dugaan, bukan orang yang kaya tetapi seorang penjaja minyak tanah keliling yang cacat tubuhnya (lumpuh). Ia berjualan berkeliling dengan sepeda khusus yang dapat dikayuh dengan tangan.  Tetapi dengan kondisi seperti itu, justru dia yang memiliki empati dan bersedia menolong orang lain, yang sedang kesusahan. Pada episode yang lain, ditayangkan ada seorang pemuda menuntun sepeda motor dan meminta bensin gratis, dengan alasan kehabisan bensin dan tidak punya uang.  Banyak penjual bensin tidak mau memberi dan salah satu orang yang mau memberi adalah seorang ibu tua sangat sederhana dan berjualan bensin eceran dengan dagangan hanya beberapa botol.  Sekali lagi, kita ditunjuki fakta bahwa empati tidak selalu terkait dengan tingkat pendidikan dan kepemilikan harta.
Tayangan tersebut merupakan contoh nyata, bahwa berempati terhadap penderitaan orang lain, ternyata tidak mudah.  Kelebihan harta bukan jaminan untuk dapat berempati.  Orang yang relatif  ”kekurangan” , baik secara fisik (penjaja minyak yang cacat tubuh) dan kekurangan harta (penjual bensin dengan kios sangat sederhana) ternyata justru mampu berempati untuk menolong orang lain, dibanding orang-orang yang lebih baik keadaannya.
Social skill seperti itu secara kognitif tentu sudah dipelajari pada mata pelajaran Agama dan PPKn di sekolah. Sayangnya, pembelajaran yang terjadi lebih banyak berhenti di pengetahuan dan tidak sampai pada penghayatan dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.  Padahal, kita semua paham kalau hal-hal yang lebih dengan dengan sikap, hanya akan berhasil dikembangkan jika diwujudkan dalam kebiasaan perilaku keseharian yang disertai dengan teladan dari mereka yang lebih senior.  Jika guru, tata usaha dan warga sekolah senior lainnya, mewujudkan sikap hidup dan kecakapan sosial tersebut dalam kehidupan keseharian di sekolah, maka setahap demi setahap akan menjadi bentuk budaya sekolah dan secara otomatis akan ditiru oleh siswa.

Peduli Lingkungan

Peran ketiga manusia dalam kehidupan adalah sebagai bagian dari lingkungan. Bukankah manusia itu sebagai khalifah di muka bumi dan diamanahi oleh Sang Pencipta untuk memelihara dan memanfaatkan alam lingkungan, demi kemaslahatan umat manusia.  Untuk dapat memainkan peran tersebut dengan baik, diperlukan kecakapan yang terkait dengan pemeliharaan lingkungan dan sikap hidup yang merasa bertanggung jawab untuk ikut memeliharanya.
Pada suatu ketika, saya menemani seorang kawan untuk mengunjungi beberapa sekolah. Ketika selesai berkunjung ke sebuah SD, kawan tersebut bertanya apakah di SD diajarkan IPA dan saya jawab ”ya, mulai di kelas 4”.  Dia bertanya lagi, ”tetapi mengapa anak-anak membiarkan bunga dalam pot di depan kelasnya, layu dan hampir mati?”   Saya jadi salah tingkah, karena ternyata tamu asing tersebut mempertanyakan, mengapa anak-anak sudah belajar IPA, tetapi tidak mengerti atau tidak terdorong untuk menyiram bunga yang layu di depan kelasnya.   Rasanya kita yakin, kalau anak-anak SD sudah mengerti kalau bunga di dalam pot itu layu karena terlambat disiram, hanya mereka tidak terdorong untuk melakukannya.
Sesudah dari SD tadi, kunjungan dilanjutkan ke sebuah SMP di Kalimantan Selatan, yang lokasinya di atas tanah rawa-rawa dengan air payau.  Sebagaimana umumnya sekolah di sana, bangunan sekolah dibangun dengan model ”panggung”, ditopang dengan tiang-tiang penyagga dari kayu tertentu, dan lantainya terbuat dari kayu, dengan ketinggian sekitar satu meter di atas permukaan air rawa.  Sungguh mengagetkan, di sepanjang teras di depan kelas terdapat tanaman sayuran dan buah-buahan, seperti tomat dan terong serta beberapa jenis bunga, yang ditanam dalam ember bekas.  Bagaimana tanaman tersebut dapat tumbuh subur, pada hal air payau di daerah itu tidak dapat untuk menyiram tanaman.
Ketika kawan asing tersebut bertanya, kepala sekolah menunjuk seorang ibu guru IPA untuk menjelaskan.  Ternyata guru IPA yang masih sangat muda tersebut, merasa terusik dengan kondisi lingkungan sekolah yang gersang.  Oleh karena itu, dengan berbagai upaya, dia berusaha menemukan cara untuk mengolah air payau di lokasi sekolah agar dapat untuk menyiram tanaman.  Akhirnya dia menemukan, dengan cara memberi gamping.  Nah, semenjak itu, dia mulai menggerakkan siswa-siswa untuk menanam bunga dan buah-buahan di depan kelasnya masing-masing, dengan memanfaatkan air tawar hasil netralisasi dengan gamping tersebut.
Dari contoh kasus tersebut, mungkin kita berkata bahwa ibu guru tersebut sangat pandai.  Mungkin saja.  Tetapi yang lebih menonjol adalah adanya rasa tanggung jawab untuk menjadikan lingkungan sekolah tidak gersang dan keuletan untuk mewujudkannya.  Rasanya banyak guru IPA yang mengetahui bahwa air payau, dengan tingkat keasaman tinggi, dapat dinetralisasi dengan memberi gamping.  Tetapi tidak banyak yang terdorong untuk melakukan guna menghijaukan lingkungan sekolah.
Kasus serupa dengan skala yang berbeda, juga terjadi pada kerusakan lingkungan alam di Indonesia ini.  Memang ada peladang berpindah yang merusak hutan dan petani di pegunungan yang menanami lereng gunung bagian atas, karena mereka tidak mengerti bahwa cara berladang berpindah dan bertani seperti itu dapat merusak lingkungan.  Tetapi, mereka yang membuat rumah dan bahkan membangun kompleks perumahan di daerah Puncak, Jawa Barat dan mereka yang membabat hutan dengan seenaknya,  sebenarnya mengerti kalau perbuatannya merusak lingkungan.  Namun tetap saja dilakukan, karena tingginya keinginan untuk memperoleh keuntungan yang besar.
Gambaran di atas menunjukkan bahwa untuk dapat memelihara dan memanfaatkan lingkungan alam dengan arif dan kreatif, diperlukan kecakapan berpikir yang terkait dengan bidang itu, contohnya mengolah air payau menjadi air tawar dan juga kesadaran bahwa memelihara lingkungan adalah tanggung jawab semua manusia.  Seringkali, justru kesadaran itulah yang lebih dominan, dalam menentukan apa yang akan dilakukan oleh seseorang.
Apakah kesadaran untuk memelihara lingkungan sekitar dan kemampuan untuk melaksanakannya sudah dikembangkan dalam pendidikan di sekolah?  Rasanya masih perlu dipertanyakan.  Kalau kita hitung, jumlah sekolah yang lingkungannya hijau, segar dan terawat dengan baik, masih jauh lebih sedikit dibanding sekolah yang lingkungan dibiarkan gersang dan kurang terawat.   Apakah guru tidak mengetahui bagaimana cara merawatnya, saya yakin mereka mengetahui.  Apakah sekolah begitu miskin, sehingga tidak punya dana untuk merawat, saya yakin juga tidak.  Merawat lingkungan sekolah, tidak memerlukan biaya besar, asalkan sederhana tetapi rapi, bersih, hijau dan segar.
Saya khawatir, pentingnya memelihara lingkungan, pentingnya menjaga kebersihan dan bahkan ajaran bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, sudah dibahas dalam  berbagai mata pelajaran. Tetapi semuanya berhenti pada tataran pengetahuan dan belum dihayati dan diamalkan dalam kehidupan keseharian.  Banyaknya sekolah dengan lingkungan kurang bersih dan gersang merupakan bukti nyata.  Dalam kasus sekolah seperti itu, yang belum melakukan tidak hanya siswa, tetapi juga guru dan semua warga sekolah.

Menjadi Hamba Tuhan

Peran ke-empat manusia dalam kehidupan, peran terakhir tetapi paling penting, adalah sebagai hamba Tuhan Sang Maha Pencipta.  Manusia diciptakan oleh Tuhan ke alam dunia adalah untuk beribadah kepada-Nya.  Ibadah dalam pengertian yang luas, yaitu ibadah ritual yang terkait hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan ibadah mu’amalah yang terkait dengan hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan alam.
Sepanjang yang saya ketahui, ke empat peran manusia yang sudah diuraikan di atas adalah termasuk dalam ibadah mu’amalah.  Artinya, sebagai hamba-Nya, manusia diwajibkan untuk menjadi pribadi mandiri yang kreatif, sebagai anggota keluarga yang bijak, sebagai anggota masyarakat yang baik dan sebagai bagian dari lingkungan yang arif.  Dengan demikian, peran manusia sebagai hamba Tuhan lebih menegaskan bahwa dalam memainkan ke empat peran tersebut di atas, manusia harus selalu berpegang pada ajaran agama.  Saya yakin, semua agama akan meminta umatnya untuk menjalankan kecakapan hidup (life skill) yang sudah diuraikan di atas, misalnya berlaku jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, toleran, belajar sepanjang hayat, berkomunikasi dengan sopan, membantu orang yang sedang kesulitan, memelihara lingkungan dan sebagainya.
Terkait dengan itu, fungsi peran ke lima, yaitu manusia sebagai hamba Sang Chalik adalah memulai setiap aktivitas kehidupan dengan niat ibadah, sehingga mampu mengendalikan perbuatan itu tetap pada aturan agama.  Jadi SQ yang seharusnya memandu bagaimana IQ dan EQ dikembangkan dan dimplementasikan dalam kehidupan.
Mungkin itu yang dimaksud Ian Percy, dalam bukunya Going Deep, sebagai spiritual commitment, yaitu bahwa komitmen kerja seseorang seharusnya didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya.  Prinsip itu tampak pada Gambar  2 , yaitu adanya anak panah dari peran ke lima (sebagai hamba Tuhan) ke arah peran manusia lainnya.  Artinya, peran manusia sebagai hamba Tuhan itu seharusnya mewarnai implementasi peran manusia sebagai pribadi mandiri, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat dan sebagai bagian dari lingkungan.
Peran manusia sebagai hamba Tuhan, lebih banyak berupa kesadaran diri.  Oleh karena itu, bersama dengan sikap hidup yang dijelaskan pada personal skill, diwadahi dalam satu bentuk kecakapan hidup, yaitu kesadaran diri (self awareness).  Tentu penyebutan ini bukan dimaksudkan sebagai bentuk hanya sadar (pasif) tanpa adanya pelaksanaan.  Yang dimaksudkan adalah bagaimana kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, sebagai makhluk sosial dan sebagai bagian dari lingkungan, dapat mendorong seseorang untuk berbuat sebaik-baiknya.
Jika semua kecakapan hidup yang disebutkan di atas disistematisasikan, terdapat kecakapan hidup yang bersifat generik (generic skill), yaitu yang diperlukan oleh siapa saja, apapun profesinya dan berapapun usianya, dan kecakapan hidup yang spesifik (specific skill), yaitu kecakapan hidup yang hanya diperlukan oleh orang yang menekuni profesi tertentu.  Dengan demikian kategorisasi kecakapan hidup dapat ditunjukkan pada gambar 3.

                                  Gambar 3    Aspek-aspek dalam Kecakapan Hidup (Life Skill)

Pada gambar tersebut ditunjukkan bahwa life skill terbagi menjadi dua, yaitu generic skill dan specific skill.  Generic skill diperlukan oleh siapa saja, apapun profesi atau pekerjaannya dan dimanapun dia berada.  Specific skill adalah kecakapan khusus yang terkait dengan bidang pekerjaan tertentu, sehingga hanya diperlukan oleh orang yang menekuni profesi atau pekerjaan tersebut.
Generic skill terbagi menjadi dua bagian, yaitu personal skill dan social skill.  Personal skill diperlukan oleh setiap orang, walaupun yang bersangkutan hidup seorang diri ditengah hutan, sedangkan social skill baru diperlukan ketika seseorang hidup dalam kelompok.  
Personal skill mencakup self awareness dan thinking skill. Self awareness mencakup kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan dan sikap hidup positif (life attitude), seperti disiplin, kerja keras dan tanggung jawab.  Thinking skill meliputi kecakapan dalam memahami suatu problema yang dihadapi, menganalisis dan menemukan alternatif pemecahan dan mengambil keputusan secara arif dan kreatif.
Social skill mencakup communication skill, yaitu kecakapan berkomunikasi secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan dan collaboration skill, yaitu kecakapan bekerjasama dengan orang lain, baik dengan rekan setingkat, dengan atasan maupun dengan anak buah.

Life Skill vs Mata Pelajaran

Setelah mendiskusikan lima peran manusia, beserta kecakapan yang diperlukan untuk melaksanakannya, kini mari kita coba bandingkan dengan ke-16 kecakapan hidup (life skill) yang disampaikan oleh peserta penataran dan ke-17 kecakapan yang ditemukan dari pengamatan terhadap ”orang-orang sukses”, yang diuraikan pada bab sebelum ini.  Bukankah sangat mirip bahkan identik?  Hal itu dapat dipahami, karena ciri orang sukses yang diidentifikasi pada bab terdahulu juga mengacu pada lima peran manusia tersebut.  Seseorang yang sukses dalam pekerjaannya (bengkel mobil, penjahit, hingga dokter), di kampung disenangi tetangga, dipercaya pimpinan, dihormati anak buah, diincar banyak orang untuk calon menantu, tentu sudah menjalankan perannya sebagai pribadi yang mandiri, sebagai anggota keluarga yang baik, sebagai anggota masyarakat yang bijak, memelihara lingkungan secara arif dan sebagai hamba Sang Pencipta menjalankan ibadah dengan baik.   Demikian pula Pak Badrun - si pedagang sukses, Pak Wahyu – sang arsitek profesional, Pak Tris – birokrat yang berhasil – dan Bu Candra – ibu guru yang hebat.  Mereka tentu juga telah menjalankan kelima peran kehidupannya dengan baik, sehingga menjadi orang yang berhasil.
Seperti yang banyak disinggung pada uraian di atas, ternyata life skill yang terbukti merupakan bekal kesuksesan orang, belum mendapat perhatian dalam praktik pendidikan di sekolah.  Saya tidak mengatakan life skill tidak diperhatikan, tetapi belum mendapat perhatian yang baik.  Mengapa demikian?  Karena guru lebih menekankan pada penguasaan materi ajar yang tercantum di dalam kurikulum.
Apakah materi ajar tersebut tidak penting?  Penting, tetapi itu saja tidak cukup sebagai bekal kesuksesan hidup.  Materi ajar yang proses pembelajarannya ditekankan pada tataran kognitif, baru mencakup satu bagian, yaitu specific skill.  Praktik pendidikan di sekolah menunjukkan, pada umumnya guru mengajarkan isi mata pelajaran sebagai wujud kecakapan spesifik.  Guru Matematika mengajarkan matematika seakan semua siswa akan menjadi ahli matematika, guru Bahasa Indonseia mengajarkan Bahasa Indonesia seakan semua siswa dipersiapkan menjadi ahli Bahasa Indonesia, dan seterusnya.  Guru lupa, bahwa dari satu kelas yang diajar tersebut sangat sedikit atau bahkan tidak ada siswa yang akan menjadi matematikawan dan ahli bahasa Indonesia, sehingga yang diperlukan adalah belajar menggunakan matematika sebagai alat untuk bernalar, alat untuk menganalisis fenomena, menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat untuk berkomunikasi, baik sebagai pengirim atau penerima pesan komunikasi.
Jadi bagi siswa yang tidak akan menjadi ahli matematika, seharusnya pelajaran Matematika diarahkan untuk mengembangkan generic skill.  Demikian pula mata pelajaran lainnya seperti Fisika, Biologi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Ekonomi dan sebagainya.   Baru, jika siswa memang berbakat atau akan menekuni bidang tersebut sebagai profesi, maka pembelajaran diarahkan sebagai specific skill.
Akibat dari praktik pendidikan yang seperti itu, generic skill tidak mendapat pengembangan yang memadai di sekolah.  Akibatnya, siswa justru mendapat pengembangan generic skill melalui kegiatan organisasi, baik di dalam maupun luar sekolah dan dari pengalaman bekerja-sambil-sekolah.  Karena generic skill berperan penting dalam kesuksesan hidup, maka dapat dipahami kalau orang yang sukses, justru merupakan siswa yang aktif di organisasi dan siswa yang sudah sambil bekerja saat masih bersekolah.
Fenomena seperti itu yang tampaknya menjadi alasan Charles Handy, seorang bussiness philosopher, yang menganjurkan untuk merombak total pendidikan kita.  Dalam artikel berjudul Finding Sense in Uncertainty, dia menjelaskan pendidikan selama ini berangkat dari asumsi yang keliru, yaitu bahwa semua problema di dunia ini telah diketahui dan guru mengetahui cara pemecahannya.  Jadi tugas guru adalah menyampaikan problema serta cara pemecahannya, dan setelah itu pendidikan dianggap selesai. Padahal senyatanya, problema itu terus berubah dan tentu guru belum mengetahui, apalagi cara  pemecahannya.   Charles Handy menegaskan belajar tentang ilmu pengetahuan tetap penting, tetapi hal itu kini lebih mudah dilakukan, karena banyak sumber informasi yang dapat dipelajari.  Oleh karena itu, pendidikan seharusnya diarahkan untuk membantu siswa belajar bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan itu dan yang tidak kalah penting adalah apa yang harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan itu.  Saya ingin membulatkan pendapat Charles Handy tersebut, bahwa pendidikan seharusnya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memperoleh pengetahuan dan bagaimana menggunakannya guna memecahkan problema kehidupan dengan arif dan kreatif.
Jadi bagaimana hubungan antara life skill dengan mata pelajaran?   Keduanya tetap diperlukan dan harus saling melengkapi.  Dalam pengembangan generic skill, seharusnya mata pelajaran dipahami sebagai alat, yaitu untuk wahana pengembangan.  Misalnya Guru Fisika harus sadar bahwa pembahasan materi Fisika diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami fenomena alam dari sudut pandang teori Fisika, menggali berbagai sumber informasi dan menganalisisnya untuk menyempurnakan pemahaman tersebut, mengkomunikasikan pemahaman tersebut kepada orang lain dan memahami bahwa fenomena seperti itu tidak lepas dari ”peran” Sang Pencipta.   Pengembangan generic skill seperti itu, dapat dilakukan melalui metoda pembelajaran yang dipilih guru.  Misalnya, untuk mengembangkan kecakapan berkomunikasi, guru dapat memilih metoda diskusi atau siswa diminta presentasi.  Untuk mengembangkan kecakapan bekerja sama, kerja kelompok dalam praktikum dapat diterapkan.  Yang penting adalah bahwa aspek-aspek tersebut sengaja dirancang dan diukur hasilnya sebagai bentuk hasil belajar generic skill.
Mungkin orang bertanya, apakah hal itu belum dilakukan selama ini.  Bukankah, selama ini juga sudah ada metoda belajar diskusi dan kerja kelompok?  Memang.  Hanya saja, metoda tersebut tidak dilakukan secara sengaja untuk mengembangkan generic skill, sehingga tidak secara sistematik kecakapan tersebut dirancang dan diukur hasilnya sebagai hasil belajar.
Saya pernah berdiskusi dengan seorang pengawas Matematika yang sedang ditugasi oleh Depdiknas untuk menyiapkan soal-soal evaluasi belajar.  Ketika, diajukan gagasan apakah dalam Matematika, guru tidak perlu mengukur kejujuran, kedisplinan, tanggung jawab dan kemampuan komunikasi? Dia menjawab  tidak perlu, karena itu tidak ada dalam kurikulum, sehingga bukan menjadi tugas guru Matematika. Sangat menyedihkan.  Pengawas senior, bekas guru dan instruktur Matematika ternyata juga tidak merasa perlu memasukkan generic skill dalam pendidikan Matematika.  Life skill sepertinya dianggap sebatas nurturant effect (efek penyerta) yang otomatis akan muncul, jika materi ajar dikuasai.
Mungkin pengawas tersebut hanyalah satu di antara sekian banyak pendidik yang masih berpegang teguh bahwa tugas pendidikan adalah mengantar siswa untuk memahami konsep/teori, sedangkan bagaimana menggunakan dalam perilaku kehidupan bukan tugasnya.  Jadi pantas konsep Pendidikan Keterampilan Proses (PKP) yang pernah dikenalkan dan bahkan masuk dalam kurikulum 1984, khususnya untuk bidang IPA, tetap tidak jalan, padahal hal-hal itu terkait dengan proses pendidikan yang dekat-dekat dengan thinking skill.
Terus apakah pemahaman materi ajar, misalnya konsep/teori dan sebagainya itu tidak penting? Tetap penting.   Karena materi seperti itu akan sangat diperlukan untuk bahan menganalisis dan memecahkan masalah.  Apalagi jika siswa sudah menjurus untuk menekuni pekerjaan yang terkait erat dengan mata pelajaran tersebut, sehingga materi ajar merupakan bagian dari specific skill.  Misalnya, materi Biologi sangat penting bagi siswa yang akan menekuni bidang kedokteran, pertanian dan sejenisnya.  Fisika sangat penting bagi siswa yang meminati bidang teknologi dan sebagainya.  Dalam hal seperti itu, materi ajar sebagai tujuan, sedangkan generic skill berperan sebagai penyerta.[]



[1] Terima kasih kepada KH Tidjani Djauhari, MA.  dari Ponpes Al Amien dan Dr. Arief Rahman-Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, yang telah memberikan saran penyempurnaan gambar ini.

Selasa, 30 Juni 2020

MENCERMATI ORANG-ORANG SUKSES (Dari Buku Pendidikan Bermaknsa-2007)


Sebenarnya apa yang kita inginkan ketika menyekolahkan anak? Walau tidak terungkapkan secara eksplisit, setiap orangtua punya harapan tertentu, pada saat menyekolahkan anaknya.  Buktinya, mereka selalu berusaha memilihkan sekolah yang terbaik bagi anaknya.  Orangtua juga rela bersusah payah dan bahkan membayar mahal, agar anaknya diterima di sekolah yang diyakini baik.
Ketika pertanyaan tersebut diajukan kepada beberapa kawan dan guru, pada umumnya dijawab: ”Biar pandai, taat beribadah, berbakti kepada orangtua, dan dapat hidup sukses kelak di masa datang”.   Istilah yang digunakan sangat bermacam-macam, tetapi empat hal itulah yang umumnya diinginkan.
Rasanya sangat rasional, jika orangtua mengharapkan anak-anaknya menjadi orang yang sukses.  Sukses tentunya tidak hanya dalam aspek materi, yaitu kaya, tetapi juga sukses dalam kehidupan beragama, keluarga, dan kehidupan sosial. 
Coba perhatian ketika seorang ayah atau ibu tengah menimang bayinya. Orang Jawa punya ungkapan besuk gedhe bisa disawang, artinya jika nanti sudah besar dapat dipandang, yaitu dapat menjadi kebanggaan keluarga.  Memang sukses anak adalah kebanggaan orangtua.  Kita juga sering memuji teman, saudara atau tetangga, yang memiliki anak sukses dan bahkan bertanya bagaimana mendidiknya.   Kepada anak-anak, kita juga sering menjadikan orang sukses sebagai contoh untuk ditiru.  Sekali lagi, sukses menurut ukuran masing-masing orangtua dan masyarakat  sekitarnya.
Pertanyaan yang muncul, bekal apa yang diperlukan agar orang dapat menggapai kehidupan yang sukses tersebut?   Jika bekal atau kunci itu dapat ditemukan, kita sebagai orangtua dapat mengupayakan agar bekal tersebut dimiliki anak kita.  Jika bekal tersebut dapat dipelajari di sekolah, tentunya guru dapat mengajarkannya kepada siswa, sehingga siswa menguasai kemampuan itu.  Bukankah anak dikirim oleh orangtuanya ke sekolah, dengan harapan mendapatkan pendidikan yang dapat digunakan sebagai bekal untuk meraih kesuksesan hidup di masa depan?
Cara berpikir yang paling mudah untuk menemukan kunci orang sukses adalah dengan pola pikir induktif, yaitu mengidentifikasi orang-orang sukses, kemudian mencermati apa kunci rahasia sukses mereka.  Jika kita mendapatkan cukup banyak kasus tentang ciri orang sukses dan dari kasus tersebut dilakukan generalisasi, maka secara prosedur berpikir, kita akan mendapatkan ciri-ciri orang sukses yang berlaku secara universal.
Dalam kesempatan memberi penataran kepada guru, kepala sekolah, pengawas, dosen, dan staf dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, juga saat memberi kuliah mahasiswa pasca sarjana, saya meminta mereka melakukan hal tersebut. Saya meminta mereka untuk mengidentifikasi ”bekal pokok/kunci” seseorang sehingga dapat sukses.  Namun, sebagian besar mereka mengalami kesulitan untuk melakukannya.  Oleh karena itu, disiasati dengan membagi pertanyaan tersebut menjadi beberapa tahapan.
Tahap pertama, saya memancing dengan pertanyaan: Bapak-bapak, biasanya punya langganan bengkel sepeda motor atau bengkel mobil.  Sebut saja bengkel Pak Didik.   Bapak selalu membawa mobil/motor yang rusak ke bengkel Pak Didik. Ibu-ibu, biasanya punya langganan penjahit yang dianggap baik, sebut saja penjahit Bu Norma.  Ibu-ibu selalu ke Bu Norma, kalau menjahitkan baju baru. Nah, sekarang sebutkan alasan, mengapa Bapak berlangganan ke bengkel Pak Didik dan Ibu berlangganan ke penjahit Bu Norma?
Terhadap pertanyaan seperti itu muncul jawaban yang sangat beragam, tetapi pada umumnya berkisar pada: karena pekerjaannya baik, orangnya jujur-tidak membohongi suku cadang yang digunakan, model bajunya mutakhir, ongkosnya tidak mahal, tempatnya dekat rumah, orangnya ramah dan tepat janji.  
Tentu setiap orang membayangkan bengkel mobil/sepeda motor dan penjahit langganannya masing-masing.  Tetapi sungguh mengagetkan, karena ciri-ciri bengkel mobil/motor yang difavoritkan, relatif sama dengan ciri-ciri penjahit yang laris.  Yang membedakan hanyalah keahliannya, yaitu ahli memperbaiki mobil/motor dan ahli menjahit baju, sedangkan ciri-ciri lainnya sama.   Dengan demikian ciri-ciri yang diajukan untuk bengkel favorit atau penjahit yang laris tersebut, diduga merupakan ciri-ciri yang  bersifat universal, yaitu ciri-ciri penjahit dan tukang bengkel yang baik, sehingga memiliki banyak langganan.
Pada tahap kedua, diajukan pertanyaan yang serupa tetapi untuk profesi lain, yaitu dokter.   Jawaban yang banyak muncul terhadap pertanyaan tersebut adalah: karena memeriksanya teliti, obat yang diberikan cocok, tempat praktik dekat dengan rumah, orangnya ramah, ongkosnya tidak terlalu mahal dan pelayananannya terhadap pasien baik.   Tentu ungkapan yang digunakan oleh peserta penataran sangat beragam, tetapi dapat disederhanakan seperti tersebut di atas.
Mari kita bandingkan ciri-ciri dokter favorit dengan bengkel/penjahit favorit yang disebutkan oleh peserta penataran tersebut. Bukankah ciri-ciri dokter tersebut sangat mirip dengan tukang bengkel mobil/motor dan tukang jahit, yang diajukan sebelumnya?  Memeriksanya teliti dan memberi obat yang cocok adalah ciri keahlian seorang dokter, yang identik dengan ungkapan pekerjaannya baik, untuk bengkel dan penjahit.  Ciri yang lain sangat mirip, misalnya ramah, pelayanannya baik dan ongkosnya murah.
Pekerjaan seorang dokter sangat berbeda dengan penjahit dan berbeda pula dengan montir, tetapi dari jawaban tersebut ternyata hampir semua ciri-ciri dokter favorit sama dengan bengkel favorit dan penjahit laris.  Yang membedakan hanyalah keahlian khususnya, yaitu mengobati bagi dokter, memperbaiki mobil bagi bengkel dan membuat baju bagi penjahit.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki ciri universal tertentu, agar memiliki banyak pelanggan. 
Pada tahap ketiga, saya mengajukan pertanyaan Apakah memiliki tetangga yang favorit, yaitu tetangga yang menyenangkan?   Hampir semua menjawab punya.  Ketika ditanyakan, apa ciri-ciri perilaku tetangga favorit tersebut, jawaban mereka juga hampir seragam, yaitu ”jujur, toleran, tidak usil, ramah, dan suka menolong”.   Walaupun jawabannya bervariasi dan bahkan seringkali disertai dengan kelakar, misalnya tetangga favorit itu yang cantik atau keren, suka meminjami uang dan seterusnya, tetapi sikap jujur, ramah, tidak usil, toleran dan suka menolong merupakan ciri-ciri umum tetangga yang baik.
Nah, kita semua tentu ingin anak kita sukses, jika menjadi dokter yang praktiknya laris, jika membuka usaha bengkel akan laris, jika membuka tailor juga laris dan di kampung menjadi tetangga yang favorit bagi masyarakat sekelilingnya.  Ciri-ciri yang diungkapkan untuk tukang bengkel, penjahit, dokter dan tentangga favorit tersebut di atas dapat menjadi pedoman kita dalam mendidik anak.
Ciri-ciri tersebut, dapat diperluas kepada orang sukses secara umum.  Oleh karena itu pada tahap ke empat, kepada peserta penataran dan mahasiswa pasca sarjana, saya  menanyakan apakah memiliki saudara, teman, atau tetangga yang dianggap orang yang paling sukses.  Biasanya mereka menjawab punya.   Untuk memudahkan, saya meminta mereka menuliskan nama orang sukses tadi dalam bentuk inisial agar orang lain tidak mengerti.  Setelah itu, mahasiswa dan peserta penataran diminta menuliskan perilaku yang menyebabkan dia sukses.  Tulisan peserta penataran tersebut kemudian dikumpulkan dan beberapa dibaca untuk berbagai pendapat.
Sungguh mencengangkan, meskipun mereka pasti menunjuk orang yang berbeda-beda, ternyata ciri-ciri yang disebutkan sangat mirip.  Perilaku orang yang dianggap sukses oleh peserta pelatihan dari berbagai profesi dan juga oleh banyak mahasiswa pascasarjana dan peserta pelatihan tersebut mencakup: ahli dalam bidang kerjanya, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerja keras, ulet, pantang menyerah, kreatif, pandai bergaul, pandai memanfaatkan kesempatan, pandai memecahkan masalah dan berani mengambil risiko.
Biasanya saya meminta menyebutkan apa saja dan diselingi dengan kelakar, agar  mereka menjawab dengan santai dan bebas menyatakan pendapat.  Oleh karena itu, seringkali para mahasiswa dan peserta pelatihan menyelipkan ungkapan yang juga bernada kelakar, misalnya faktor nasib, orangtuanya kaya, mertuanya kaya, pandai berkolusi, dibantu dukun dan sebagainya.  Tentu faktor-faktor demikian tidak perlu dirisaukan.
Jika dibandingkan dengan ciri-ciri dokter, penjahit dan tukang bengkel mobil/motor yang ditemukan lebih dahulu, ciri-ciri orang sukses ini lebih luas.  Semua ciri-ciri dokter, penjahit dan tukang bengkel sudah tercakup di dalamnya dan ditambah dengan ciri lain, misalnya disiplin, bertanggung jawab, kerja keras, ulet, pantang menyerah, kreatif, pandai bergaul, pandai memanfaatkan kesempatan, pandai memecahkan masalah dan berani mengambil risiko.  Hal itu dapat dimengerti, karena saat mengidentifikasi dokter, penjahit dan bengkel, mereka baru mengungkapkan ”kebaikan” dokter, penjahit dan bengkel, tetapi belum menyebut mengapa menjadi baik.
Orang yang sukses sangat mungkin berposisi sebagai anak buah dan juga bapak buah (pimpinan).  Oleh karena itu, pandangan pimpinan terhadap anak buah yang baik dan pandangan anak buah terhadap pimpinan yang baik, juga perlu digali.  Untuk itu, ketika memberi pelatihan kepada kepala sekolah dan pejabat dari Dinas Pendidikan, saya mencoba menggali lebih dalam tentang anak buah yang baik.  Saya mengajukan pertanyaan tahap ke lima, yaitu Jika pada saat mengikuti pelatihan ini, di kantor ada tugas penting tentu menunjuk anak buah untuk menyelesaikan. Jika ada beberapa anak buah, bagaimana memilihnya?  
Pada umumnya mereka menjawab, akan memilih anak buah yang: menguasai tugas yang akan dikerjakan, pekerja keras, bertanggung jawab, berdedikasi, pandai bekerja sama dengan teman dan pandai mengatasi masalah.  Walaupun istilah yang digunakan bebeda-beda, inti jawaban tidak terlalu banyak variasinya.  Enam kemampuan tersebut hampir selalu disebutkan oleh setiap peserta.  Tentu saja, setiap peserta pelatihan menunjuk orang yang berbeda-beda untuk dideskripsikan.  Jika ternyata deskripsi ciri-ciri orang tersebut mirip, kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri itu memang universal dan menjadi ciri anak buah yang terpercaya.
Untuk posisi bapak buah (atasan/pimpinan), digali dari penataran guru.  Kepada peserta penataran saya ajukan pertanyaan apa ciri-ciri kepala sekolah yang ideal?.  Terhadap pertanyaan itu muncul jawaban, yang kalau dirangkum mencakup: pandai dan berwawasan luas, tegas, disiplin, memperhatikan kepentingan anak buah, memiliki relasi luas, pandai mengambil keputusan, berani mengambil risiko.
Kalau rangkuman ciri-ciri anak buah yang dipercaya dan bapak buah yang ideal tersebut dibandingkan dengan ciri-ciri orang sukses, muncul cir-ciri baru.  Dua ciri ”baru” yang muncul pada anak buah terpercaya, yaitu  berdedikasi dan  pandai bekerja sama dengan teman.   Untuk posisi pimpinan ideal, muncul ciri-ciri ”baru”, yaitu berwawasan luas, tegas, memperhatikan anak buah.
Jika dicermati dedikasi sebenarnya merupakan perwujudan tanggung jawab terhadap tugas yang diemban, sehingga ciri berdedikasi dapat diintegrasikan kepada ciri tanggung jawab.  Ciri memperhatikan anak buah dapat diintegrasikan kepada suka menolong.  Dengan demikian, penggunaan ”pimpinan” dan ”anak buah” yang baik, hanya memunculkan tiga ciri baru, yaitu pandai bekerja sama, tegas dan berwawasan luas.  Secara logika kita juga dapat memahami bahwa ketiga ciri tersebut memang penting untuk keberhasilan seseorang.
Biasanya, seseorang sangat cermat jika diminta untuk menjawab hal-hal yang terkait dengan anak kandungnya.  Oleh karena itu, saya meminta mahasiswa pasca sarjana dan peserta pelatihan dari berbagai daerah, khususnya mereka yang telah memiliki anak remaja atau yang sudah menikahkan anaknya, untuk mengidentifikasi menantu yang ideal.  Biasanya saya mengajukan pertanyaan tahap ke enam, sebagai berikut: Jika Bapak/Ibu memiliki anak gadis, dan dilamar oleh dua orang tentu harus memiliki salah satu.  Nah, untuk memilih,  kriteria apa yang digunakan?
Terhadap pertanyaan tersebut, ternyata muncul jawaban yang unik yang terkait dengan budaya.  Jawaban yang banyak muncul, antara lain: seiman dan baik ibadahnya, setia dan berbakti pada orangtua, bertanggung jawab, keturunan orang baik-baik, berpendidikan baik, sudah bekerja dan memiliki masa depan cerah, sehat jasmani-rokhani, ganteng dan mencintai anaknya.   Walaupun variasinya cukup banyak, tetapi ciri-ciri tersebut hampir disebut oleh setiap peserta.
Jika ciri menantu idaman tersebut dibandingkan dengan ciri orang sukses, tampak agak berbeda.  Semua ciri orang sukses diwadahi dalam tiga istilah, yaitu berpendidikan, sudah bekerja, dan memiliki masa depan cerah.  Ciri-ciri lainnya, lebih terkait dengan aspek keimanan dan budaya.  Hal itu dapat dipahami, karena masalah menantu terkait dengan prinsip kekeluargaan.
Ketika ditanyakan lebih lanjut Apakah ciri-ciri orang sukses yang sebelumnya mereka ajukan penting untuk calon menantu?, ternyata semua menjawab ”ya, sangat penting, agar memiliki masa depan cerah”.    Dengan demikian ciri-ciri orang sukses berlaku juga untuk calon menantu.
Jika kita menggunakan pola pikir induktif, yaitu menarik simpulan dari fakta-fakta empirik di lapangan, maka hasil wawacara dengan banyak peserta pelatihan dari berbagai daerah dan mahasiswa pascasarjana beberapa jurusan dan beberapa angkatan tersebut, kita dapat mengambil simpulan tentang ciri-ciri orang sukses.  Apa ciri-ciri yang harus dimiliki seseorang agar dapat sukses, yaitu agar ketika membuka usaha bengkel, jahitan atau berpraktik sebagai dokter akan laris, agar menjadi anak buah yang dipercaya atasan, agar menjadi atasan yang dicintai anak buah, agar menjadi tetangga yang favorit dan akan diincar oleh banyak orang untuk dipilih menjadi calon menantu.
Jika ciri-ciri tersebut disebut kunci sukses, maka isinya mencakup: beriman dan taat beribadah, jujur, menguasai bidang pekerjaan yang ditekuni, kerja keras, ulet dan pantang menyerah, kreatif, pandai memecahkan masalah, bertanggung jawab, berpengetahuan luas, pandai bekerjasama dengan orang lain, memiliki hubungan yang luas, berani mengambil risiko dan pandai mengambil keputusan, tegas dalam memimpin, suka menolong, toleran  dan tidak usil terhadap urusan orang lain.
Betulkah jawaban-jawaban mereka sesuai dengan kenyataan di lapangan?  Tentu masih perlu diuji. Seusai meresume ciri-ciri orang sukses, saya merasa perlu untuk mengamati sendiri teman dan saudara yang kebetulan sukses dalam kehidupannya.   Untuk itu, saya mengamati tiga orang teman, seorang adalah pedagang sukses yang disebutkan pada bab terdahulu dan kebetulan teman akrab saat di SMP.  Kedua, juga seorang teman yang berprofesi sebagai arsitek yang handal dan karyanya banyak dikagumi oleh masyarakat.  Ketiga, juga teman dan masih ada hubungan saudara jauh yang bekerja sebagai birokrat. Mari kita cermati gambaran sosok mereka pada uraian berikut
                                                        
Pak Badrun, Pedagang Panutan

Namanya, sebut saja Pak Badrun. Profesinya  pedagang. Sewaktu sekolah di SMP, dia tergolong siswa yang biasa-biasa saja.  Salah satu hal yang menonjol adalah dia nyambi berjualan berbagai barang ketika sekolah, seperti jualan kue, mainan bahkan petasan di saat bulan puasa.  Saat itu dia tampak senang berjualan, pada hal dia berasal dari keluarga yang cukup berada.
Pengalaman berjualan itulah yang ternyata mendorong Badrun tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tetapi langsung berdagang setamat SMA.  Dia bercerita memulai karier dengan berdagang kembang api dan petasan dan bawang putih saat menjelang lebaran. Kemudian berkembang ke bahan kebutuhan sehari-hari, seperi beras, gula hingga minyak. Semula Badrun berjualan di teras rumahnya yang disekat menjadi semacam kios darurat.  Kembang api dan petasan dipilih karena mendatangkan keuntungan besar.  Demikian pula bawang putih dipilih, karena saat itu harga bawang putih berbeda jauh antara di daerahnya dan di Surabaya. 
Sekarang Pak Badrun sudah menjadi pedagang besar, dengan tiga buah toko dan juga sebagai pedagang barang antar kota.  Dia memiliki enam anak, empat sudah sarjana dan dua masih kuliah, tiga di antaranya sudah bekerja dan berkeluarga. Pak Badrun  memiliki rumah besar dan menjadi orang terpandang di lingkungannya.  Apalagi dia juga berperan sebagai pengurus masjid, sekaligus pengurus yayasan yang memiliki sekolah, mulai dari TK sampai SMA.  Dengan demikian cukup alasan untuk menggolongkan Pak Badrun sebagai orang sukses.
Dengan mengamati perilaku keseharian Pak Badrun dan wawancara dengannya beberapa kali, ditemukan beberapa ciri khas.  Ciri pertama, Pak Badrun ternyata selalu mencari informasi terbaru yang terkait dengan dagangan dan kegiatan lainnya.  Koran menjadi bacaan wajib, khususnya tentang perkembangan harga barang.  Pak Badrun juga memiliki ”orang-orang kepercayaan” yang akan memberikan info tentang perdagangan di kota lain.  Yang lebih mengherankan, Pak Badrun sangat cermat menganalisis terhadap informasi tersebut.  Misalnya, ketika saya berkunjung ke rumahnya, Pak Badrun menerima informasi dari ”orangnya” di kota lain, bahwa ada wabah ayam di kota tempat tinggalnya.  Saat itu juga Pak Badrun mengajak diskusi bagaimana harga telor ayam beberapa minggu yang akan datang.  Pak Badrun memprediksi sekitar 2-3 minggu lagi harga telor ayam akan naik.
Ketika membaca berita di koran bahwa harga cabe merosot, Pak Badrun justru menganjurkan kawan-kawannya menanam cabe.  Mengapa demikian? menurut Pak Badrun, pada umumnya orang tidak mau menanam pada saat harga jatuh, akibatnya akan terjadi kekurangan produksi dan selanjutnya harga akan naik.  Saya dibuat kaget dengan prediksi tersebut.
Pak Badrun juga menyarankan beberapa teman, bahkan kini bersama seorang temannya  merintis usaha untuk menanam padi dan sayuran tanpa pupuk dan obat-obatan kimiawi.  Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dan pupuk hijau.  Dengan penuh keyakinan Pak Badrun menjelaskan bahwa ke depan, akan banyak orang yang memilih beras, sayur mayur dan buah-buahan yang bebas pestisida, walaupun harganya mahal.  Pada saat ekonomi masyarakat membaik, jumlah orang semacam itu akan semakin banyak dan akan menjadi pangsa pasar khusus.
Sungguh mengagumkan.  Pak Badrun yang ”cuma” tamatan SMA dan tinggal di kota kecil ternyata mampu memprediksi berbagai hal, yang mungkin seorang sarjanapun belum tentu mampu melakukan.  Ketika petani pada umumnya berpikir mencari jenis benih dan pupuk yang mampu menghasilkan panen maksimal, Pak Badrun justru melihat peluang untuk hal sebaliknya, yaitu bertani secara tradisional yang walaupun hasil panennya sedikit tetapi harganya akan mahal.  Jargon back to nature yang banyak dilontarkan oleh para ahli, ternyata sudah disadari oleh Pak Badrun dan itu menjadi inspirasi untuk berinovasi dalam pertanian.
Ketika hal itu kami tanyakan, Pak Badrun dengan kelakar menjawab ”pedagang harus mampu melihat peluang, kalau tidak ya tidak akan dapat bersaing”.  Pak Badrun menjelaskan, untuk melihat peluang itu orang harus banyak membaca dan bertanya untuk mencari informasi, kemudian menganalisisnya.  Jargon bahwa ”siapa yang memiliki informasi lebih dahulu akan menang satu langkah dalam persaingan” ternyata sudah disadari bahkan dilakukan Pak Badrun.
Ciri kedua, kemampuan Pak Badrun dalam berkomunikasi sangat bagus.  Pernah, suatu ketika saya datang ke tokonya, dan saat itu Pak Badrun sedang menghadapi pelanggan yang marah-marah.  Tampaknya pelanggan tersebut komplain soal mutu barang.  Yang mengagumkan, Pak Badrun dengan sabar dan tersenyum mendengarkan ”omelan” pelanggan tersebut.  Baru setelah si pelanggan berhenti, Pak Badrun menjelaskan duduk persoalannya dan secara gentleman mengatakan akan mengganti, kalau memang kerusakan barang tersebut diakibatkan kesalahan karyawannya.   Di akhir pertemuan itu, si pelanggan pulang dengan wajah puas.
Dari mengamati cara Pak Badrun berdialog dengan pelanggan yang sedang marah, ada dua hal yang menonjol, yaitu kemampuan Pak Badrun dalam memilih kata-kata dan cara mengungkapkan serta kemampuan mengendalikan emosi dan menunjukkan empati pada lawan bicaranya.
Tampaknya kemampuan mengelola emosi yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman melalui tulisannya tentang Emotional Intelegence, sudah disadari dan diterapkan oleh Pak Badrun.  Kemampuannya mengelola emosi itulah yang menyebabkan Pak Badrun dapat tetap tersenyum dan penuh kesabaran menghadapi pelanggan yang marah.  Dan itu ternyata membuahkan hasil kepuasan pelanggan.
Ketika ditanya apakah dia membaca buku Emotional Intelegence, Pak Badrun menjawab ”ya”.  Tetapi dia menambahkan bahwa sudah menerapkan prinsip itu jauh sebelum membaca bukunya Daniel Goleman. Pak Badrun mengatakan bahwa modal utama pedagang adalah kepercayaan dan untuk memperoleh kepercayaan diperlukan dua syarat, yaitu jujur dan punya banyak kawan.  Oleh karena itu, menurut Pak Badrun, menipu pelanggan tidak boleh dilakukan.  Sekali ditipu, pelanggan akan kapok dan akan menceritakan hal itu  kepada kawan-kawannya.  Pedagang yang menipu pelanggan, ibarat menutup pintu sukses untuk diri sendiri.
Dengan mengutip beberapa ayat Al Qur’an dan Hadits, Pak Badrun menjelaskan betapa pentingnya kejujuran, yang merupakan salah satu komponen penting dari akhlaq.  ”Nabi Muhammad adalah contoh pedagang yang jujur, sehingga semua orang ingin membeli dagangannya dan semua orang ingin bekerja dengannya”.  Tampaknya Pak Badrun tidak hanya menerapkan prinsip emotional intelegence, tetapi juga spiritual intelegence dalam berdagang.  Ketika saya tanyakan bagaimana bisa sesabar itu menghadapi omelan orang, ”orang sabar itu dicintai Allah,” katanya sembari tertawa.
Kawan juga merupakan faktor penting bagi pedagang.  Kawan itulah yang akan menjadi pelanggan utama dan sekaligus mengiklankan dagangannya kepada teman-teman lainnya.  Menurut Pak Badrun, pelanggan yang setia akan menjadi pengiklan yang lebih baik, dibanding selebaran atau spanduk.  Oleh karena itu Pak Badrun berusaha mengakrabi pelanggannya, sehingga menjadi teman. Begitu telah menjadi kawan, pertahankan dan jangan sampai lepas. Teman adalah modal penting dalam berdagang, sedangkan musuh adalah ibarat kanker dalam berdagang.  Tampaknya pepatah Cina kawan seribu terlalu sedikit, sedangkan musuh satu terlalu banyak dianut oleh Pak Badrun.
Suatu saat saya diajak Pak Badrun dalam suatu kegiatan sosial di masjid tempatnya menjadi pengurus (takmir), yang lokasinya menyatu dengan sekolah di mana dia menjadi salah satu pengurus yayasannya.  Omong-omong dengan orang-orang yang terlibat kegiatan tersebut dan mengamati Pak Badrun berinteraksi dengan temannya, saya menemukan ciri Pak Badrun yang ketiga, yaitu pergaulannya luas dan memiliki kepedulian tinggi pada penderitaan orang lain.  Pak Badrun ternyata kenal baik dengan ”orang-orang besar” di daerahnya, baik dari jajaran pemerintah daerah, kepolisian, maupun tokoh-tokoh masyarakat.
Pak Badrun ternyata sangat pandai bergaul, dengan enaknya mengobrol dengan ibu-ibu yang sedang mencuci piring, tetapi juga dengan enak sekali menyapa dan ngobrol dengan seorang pejabat pemda yang kebetulan datang.  Sepertinya Pak Badrun dapat bergaul dengan ”orang kecil” maupun ”orang besar”.   Beberapa orang yang saya ajak ngobrol mengatakan bahwa Pak Badrun pandai bergaul dan bekerja dengan siapa saja.
Ketika pulang dari acara tersebut saya menanyakan, apa yang mendorongnya aktif di kegiatan masjid maupun menyempatkan diri untuk mengurus sekolahan, padahal sehari-hari sudah disibukkan oleh perkerjaannya sebagai pedagang.  Sungguh mengejutkan, Pak Badrun menjawab bahwa menurut Islam sebaik-baik orang itu jika bermanfaat bagi lingkungannya.  Dengan aktif mengikuti kegiatan sosial dia ingin bermanfaat bagi lingkungannya.   Ungkapan tersebut menunjukkan ciri ke empat Pak Badrun, yaitu kepedulian pada masyarakat.
Ciri ke lima Pak Badrun yang saya tangkap dari mengamatinya selama berminggu-minggu adalah kemauannya untuk belajar, baik melalui membaca buku, bertanya kepada orang yang dianggap lebih tahu dan mencermati fenomena kehidupan, kemudian menganalisisnya.  Di rumahnya terdapat cukup banyak buku, khususnya buku-buku populer, seperti buku ESQ karya Ary Ginanjar, Perang Bisnis dengan Strategi Perang ala Sun Tzu oleh Donald Kranse, buku berjudul Muhammad sebagai Pedagang (berupa fotocopy), buku-buku karya Quraish Shihab dan Aa Gym serta majalah SWA beberapa terbitan. Walaupun berprofesi sebagai pedagang, Pak Badrun ternyata terus belajar dari berbagai bahan bacaan.  Kepada saya, Pak Badrun mengatakan belajar adalah kewajiban bagi orang Islam, mulai dari buaian ibu sampai menjelang masuk liang lahat.
Ketika merasa sudah memperoleh lima ciri yang menjadi modal kesuksesan Pak Badrun, saya menanyakan apa pesan Pak Badrun kepada pemuda yang ingin bekerja sebagai pedagang.  Dia tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi bercerita bahwa banyak anak muda yang kini ingin jadi pengusaha, tetapi langsung patah semangat ketika mengalami kesulitan atau kegagalan.  Banyak orang yang memulai usaha, tetapi hanya sedikit yang pantang menyerah dan mampu bangkit kembali ketika jatuh.  Padahal, setiap pedagang dan pengusaha pasti pernah mengalami kesulitan dan kegagalan.  Dengan ungkapan itu, secara tidak langsung Pak Badrun ingin berperan bahwa untuk menjadi pedagang atau pengusaha yang sukses, orang harus pantang menyerah.  Jadi itulah tampaknya ciri ke enam yang menyebabkan Pak Badrun sukses sebagai pedagang.

Ir. Wahyu, Arsitek yang Tekun

Dia seorang arsitek profesional, usianya sekitar 50 tahun.  Banyak rancangannya menjadi bangunan monumental yang menjadi ikon daerah.  Orangnya sederhana dan tidak kelewat banyak bicara, tetapi hampir semua rekan sejawat mengakui dia sebagai arsitek handal.  Sebut saja namanya Ir. Wahyu (nama samaran).  Untuk mendapatkan gambaran tentang Pak Wahyu secara utuh, saya beberapa kali mengunjunginya di studio yang merangkap menjadi kantornya, omong-omong dengan dia, staf di kantor tersebut dan rekan kerjanya.  Saya juga melakukan wawancara dengan beberapa pengguna jasa arsitek Pak Wahyu.
Dari sejumlah kunjungan dan omong-omong tersebut ditemukan ciri-ciri yang diduga menjadi penyebab Pak Wahyu sukses.  Ciri pertama, Pak Wahyu sangat tekun dan teliti dalam bekerja.  Beberapa stafnya menyebut Pak Wahyu adalah seorang pekerja keras dan perfectionist, karena ingin setiap apa yang dikerjakan hasilnya sempurna. Pak Wahyu akan mengoreksi sebuah rancangan, kalau dirasa masih ada yang belum sempurna, walaupun orang yang memberi order sudah puas.
Saya pernah mendampingi Pak Wahyu, ketika ada seorang pelanggannya meminta membuatkan rancangan rumah.  Pak Wahyu cukup lama melakukan wawancara dengan Bapak dan Ibu pelanggan tersebut, tetang hobi dan kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan. Pak Wahyu juga menunjukkan berbagai gambar rumah di majalah serta foto-foto dan meminta tamunya untuk mengomentari gambar dan foto rumah tersebut. Ternyata informasi tersebut digunakan sebagai dasar membuat rancangan rumah yang sesuai kepribadian penghuni, kegiatan sehari-hari dan juga untuk menyalurkan hobi keluarga tersebut.  Saya tertegun, ketika Pak Wahyu menjelaskan bahwa kenyamanan rumah akan membantu kesehatan penghuni, keharmonisan rumah tangga dan ujungnya akan membuat orang fresh dalam memulai pekerjaan yang tentunya akan meningkatkan produktivitas kerja yang bersangkutan.
  ”Arsitek yang asal-asalan dalam merancang bangunan dapat menyebabkan penghuninya tidak sehat, keluarganya tidak harmonis dan produktivitas kerjanya menurun”, begitu pesan Pak Wahyu.  Di ruang kerja para staf artisteknya terpasang tulisan besar-besar yang dipasang di tembok, berbunyi ”HASIL RANCANGAN ANDA IKUT MENENTUKAN KESEHATAN PENGHUNI, KEHARMONISAN KELUARGA DAN PRODUKTIVITAS KERJANYA”.  Dari pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pak Wahyu benar-benar mengusai bidang pekerjaannya.  Ciri kedua, yaitu menguasai bidang pekerjaannya inilah yang membuat klien dan rekannya mengakui sebagai arsitek handal.
Pak Wahyu tampaknya membina anak buahnya dengan teladan dan bukan omongan.  Perilaku keseharian Pak Wahyu, seperti bekerja keras, tekun dan teliti telah menjadi teladan bagi anak buahnya dan itu diakui oleh stafnya.  Mereka menyebut Pak Wahyu bukan hanya sebagai atasan atau bos, tetapi juga sebagai teladan bagaimana bekerja secara profesional. Jadi ciri ketiga Pak Wahyu adalah menjadi teladan bagi anak buahnya.  Dia sering ke ruang kerja anak buahnya, untuk memeriksa dan membetulkan pekerjaan mereka yang keliru atau kurang sempurna.  Walaupun pendiam, ternyata Pak Wahyu dapat enak omong-omong dengan anak buahnya.  Anak buahnya ternyata juga tidak takut untuk bertanya dan bahkan mengoreksi pendapat Pak Wahyu.  Kebiasaan Pak Wahyu mendatangi ruang kerja stafnya, memeriksa pekerjaan dan kemudian memberi koreksi, menanyakan kesulitan dan membantu memecahkan, menjadikan anak buahnya sangat menghormatinya.  Seorang staf senior menyatakan, dia sudah bekerja di kantor tersebut selama 18 tahun dan tidak ingin pindah, walaupun beberapa kali ditawari kantor lain sejenis.
Bagaimana Pak Wahyu memulai kariernya sehingga menjadi aristek yang handal?  Ternyata dia sudah bekerja sebagai drafter (juru gambar) di kantor Biro Arsitek, sejak kuliah tahun kedua.  Pak Wahyu menceritakan panjang lebar tentang kehebatan arsitek yang dia bantu, sehingga Pak Wahyu merasa lebih banyak belajar dari atasan tersebut dibanding dari bangku kuliah.  Di Biro Arsitek itulah, Pak Wahyu belajar banyak hal, misalnya tentang filosofi kehidupan, bekerja dengan ulet dan jujur, melayani klien dengan baik dan bahkan mengelola bisnis secara baik.  Setelah bekerja selama 9 tahun, setelah lulus sebagai insinyur dan telah merasa cukup bekal, barulah  Pak Wahyu ingin mendirikan usaha sendiri.  Anehnya, atasan yang dikagumi itu justru mendorongnya dan bahkan memfasilitasi agar usaha Pak Wahyu dapat berjalan dengan baik.  Dia tidak takut tersaingi, walaupun tahu betul bahwa usaha yang dirintis Pak Wahyu adalah kantor Konsultan Perencanaan yang bidang utamanya juga dalam merancang bangunan.  Oleh karena itu hubungan Pak Wahyu dengan mantan bos-nya itu tetap berjalan baik, bahkan sering bekerja sama dalam suatu proyek tertentu.
Suatu saat Pak Wahyu mengundang saya untuk ngobrol malam hari di kantornya. Tentu ini ajakan yang menyenangkan.  Sambil ngobrol saya mengamati buku yang begitu banyak di studio Pak Wahyu dan mencakup berbagai jenis dan bidang.  Di samping buku-buku tentang rancang bangun dan manajemen, ternyata banyak juga buku tentang psikologi populer dan buku-buku futuristik.  Beberapa di antaranya Rethinking the Future karya Rowan Gibson (ed), Lateral Thinking  Eduard de Bono, ESQ dari Ary Ginanjar, Megatrends oleh Naisbitt, Dunia Tanpa Batas oleh Kenichi Ohmae dan Me Too is not My Style oleh Stan Shih.
Ketika ditanya alasan keberadaan begitu banyak buku dari berbagai jenis tersebut, Pak Wahyu dengan tenang menjelaskan bahwa untuk mampu membuat rancang bangun yang baik, dia perlu membaca banyak buku untuk memperoleh berbagai informasi baru.  Tugas arsitek, menurutnya, adalah memindahkan keinginan dan kebutuhan pemberi order menjadi rancangan bangunan.  Oleh karena itu, arsitek harus pandai menangkap apa yang diinginkan sekaligus apa yang dibutuhkan oleh klien.  Untuk dapat menggali keinginan dan kebutuhan itu, arsitek harus pandai ”memancingnya” dalam suatu dialog.  Yang sering terjadi, keinginan dan kebutuhan itu baru terungkap, ketika diberikan contoh dan bahan banding.  Nah, di situlah pentingnya arsitek selalu meng-up date, pengetahuannya.
Apa untungnya membaca buku-buku yang sepertinya tidak terkait dengan bidang arsitektur? ”Wow, banyak manfaatnya,” tukasnya bersemangat.  Ambil contoh buku Megatrend. Karya John Naisbitt itu memberinya inspirasi bahwa arsitek harus mampu membuat rancangan yang tidak terbatasi oleh batas negara, tetapi tetap bersumber dari nilai-nilai kehidupan lokal.  Jadi ciri ke empat Pak Wahyu adalah kebiasaan belajar terus dan memanfaatkan hasilnya untuk profesinya sebagai arsitek.
Setelah ngobrol sana-sisi, Pak Wahyu dengan serius menyatakan bahwa dia risau dengan kondisi pendidikan saat ini.  Menurutnya, pendidikan seperti misleading, karena hanya menekankan pada mempelajari buku-buku dan melupakan mengajarkan perilaku jujur, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab.  Pak Wahyu memberikan contoh teman teman cucunya yang tidak merasa bersalah, ketika menyontek ketika ulangan.  Dia merasa kewalahan menanamkan sikap dan kebiasaan baik kepada cucunya, karena di sekolah justru tidak mendapat perhatian.  Dari pengalamannya bekerja sebagai profesional, justru jujur, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab, itulah yang menjadi modal utama.  Dia memberi contoh, ketika ada karyawan baru di kantornya, lebih mudah membimbing mereka yang ”kurang bekal pengetahuan” tetapi jujur, disiplin, tanggung jawab dan mau bekerja keras, dibanding karyawan baru yang ”pandai” tetapi tidak disiplin, tanggung jawab dan malas.
Ungkapan Pak Wahyu itu mengingatkan saya, yang beberapa tahun lalu diminta oleh sebuah perusahaan ”X” membantu melakukan seleksi calon karyawan.  Kepada Direktur Umum perusahaan itu, yang kebetulan kawan, saya bertanya apa kriteria pokok yang diperlukan di perusahaan tersebut.  Sambil bercanda, dia menjawab:  pertama: jujur, kedua: disiplin, ketiga: tanggung jawab, ke empat: nalarnya berjalan baik.  Menurut dia, karyawan pandai tetapi tidak jujur akan mencuri.  Karyawan pandai tetapi tidak disiplin akan merusak situasi kerja di perusahaan.  Karyawan pandai tetapi tidak tanggung jawab akan bekerja secara sembarangan.  Jadi syarat seleksi karyawan di perusahaan ”X” tersebut sangat mirip dengan apa yang disampaikan Pak Wahyu.

Pak Trisman Birokrat Lurus

Sampel orang sukses berikutnya seorang birokrat. Orangnya ramah dan sudah bekerja sejak lulus SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas).  Sebut saja namanya Pak Trisman. Pak Trisman melanjutkan kuliah sambil bekerja dan saat ini telah menyelesaikan jenjang S2 dari Fakultas Ekonomi di perguruan tinggi ternama.  Kariernya Pak Tris sangat bagus, sehingga pada umur sekitar 45 tahun, sudah menduduki jabatan                                                                                                                                      cukup tinggi di kantornya.
Untuk dapat mengetahui ciri perilaku Pak Tris, saya beberapa kali berkunjung ke rumahnya dan ke kantornya.  Dari pengamatan dan wawancara bebas dengan anak buahnya, didapatkan cerita tentang ciri pertama Pak Tris, yaitu disiplin, pekerja keras, perhatian dan suka menolong anak buah, tetapi juga keras dalam menerapkan aturan kerja.  Seorang stafnya mengatakan Pak Tris selalu datang sebelum jam kantor dan selalu melongok ke ruang kerja anak buahnya ketika jam kerja mulai.  Pak Tris selalu membantu jika anak buahnya mengalami kesulitan, tetapi sebaliknya akan marah jika ada anak buahnya tidak sungguh-sungguh dalam bekerja dan bahkan mengambil tindakan tegas jika ada anak buahnya tidak jujur.
Ketika hal itu dikonfirmasi kepada Pak Tris, dia menjelaskan bahwa kejujuran dan kesungguhan merupakan modal dasar dalam bekerja.  ”Saya sangat sedih jika ada staf yang tidak sungguh-sungguh dalam bekerja, karena itu menunjukkan niatnya tidak tulus. Padahal, hasil kerja itu akan sangat tergantung dari niatnya. Kalau niatnya tidak tulus, dia tidak akan sungguh-sungguh dalam bekerja dan tidak akan peduli apakah hasilnya bagus atau jelek.”   Dari ungkapan tersebut tampak sekali Pak Tris ingin setiap orang bekerja dengan niat tulus, sehingga sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas yang diterima.
Tentang kejujuran, Pak Tris mengatakan bahwa kejujuran merupakan syarat pokok, apalagi jika itu menyangkut uang. Staf yang tidak jujur menurut Pak Tris sangat membahayakan, karena mungkin memberikan data yang tidak benar dan itu sangat membahayakan perhitungan-perhitungan di kantornya, yang kebetulan banyak terkait dengan keuangan. ”Ketidakjujuran dapat mendorong seseorang untuk memanfaatkan peluang yang ada untuk berbuat jahat demi kepentingan diri sendiri”.  
Diamati dari kehidupan sehari-harinya,  Pak Tris tergolong sederhana, dibandingkan dengan masa kerja dan jabatan yang dimiliki dan juga dibanding dengan rekan-rekan selevelnya.   Beberapa stafnya menyebut Pak Tris sebagai orang yang ”lurus”.  Jadi apa yang diharapkan dari stafnya dan Pak Tris juga melakukan yaitu kejujuran dan itu merupakan ciri dia yang kedua.   Ketika hal itu saya komunikasikan dengan isterinya, Bu Tris menjawab suaminya selalu mengingatkan bahwa harta sedikit tetapi diperoleh secara halal akan membuat kehidupan lebih tenteram dibanding harta banyak tetapi diperoleh dengan cara tidak halal.
Dua mantan atasan Pak Tris memberi komentar tentang mengapa karier Pak Tris meroket naik. Pak Tris itu orangnya sangat baik karena jujur, pekerja keras, dapat bekerja sama dengan orang lain, dan banyak ide untuk memecahkan masalah.   Apakah memang benar  Pak Tris memiliki kemampuan seperti itu, rekan selevel Pak Tris pada umumnya mengiyakan. Jadi itu merupakan ciri ketiga Pak Tris, sehingga sukses dalam bekerja sebagai birokrat.
Ketika ada kesempatan agak longgar, saya menanyakan mengapa Pak Tris bersusah payah sekolah sampai jenjang pascasarjana, padahal sudah begitu sibuk dengan pekerjaannya di kantor.  Dan mengapa dia memilih kuliah S2 di perguruan tinggi yang konon cukup sulit kelulusannya.  Jawaban Pak Tris sungguh mengagetkan.  Justru di universitas, baik saat kuliah dengan dosen, membaca referensi,  menyusun makalah, maupun saat diskusi dengan rekan mahasiswa itulah, dia merasa mendapatkan banyak gagasan untuk memperbaiki pekerjaan dan memecahkan masalah yang dihadapi di kantor.  Oleh karena itu Pak Tris memilih perguruan tinggi yang justru dikenal ”sulit” lulus untuk mengambil jenjang S2 dan bukan memilih perguruan tinggi yang dikenal ”mudah” kelulusannya. Seakan ingin menegaskan, Pak Tris mengatakan dia kuliah untuk memperoleh tambahan pengetahuan dan bukan sekadar memperoleh ijazah.  Jadi belajar dengan sungguh-sungguh merupakan ciri ke empat kesuksesan Pak Tris.

Bu Candra Guru Idola

Setelah memperoleh gambaran yang cukup lengkap dari ketiga orang sukses tersebut di atas, terasa masih ada yang kurang, yaitu belum ada contoh perempuan yang sukses dan belum ada yang mewakili profesi yang tidak menjanjikan dari aspek penghasilan. Oleh karena itu, saya mencari ibu guru yang sukses untuk diamati.  Dari beberapa informasi akhirnya didapat sosok Ibu Chandra (nama samaran).  Menurut informasi, Bu Chandra berumur sekitar 35 tahun dan merupakan guru yang merangkap wakil kepala sekolah.  Dia sangat pandai, kreatif, pekerja keras, disenangi oleh siswa maupun rekan kerjanya, sehingga di usia yang relatif mudah sudah ditugasi sebagai Wakil Kepala Sekolah dan banyak diminta oleh rekan sejawat sebagai  narasumber dalam berbagai diskusi.
Ketika bertemu, kesan pertama dari Bu Chandra adalah orangnya ramah, enerjik, orang yang sibuk dan banyak teman.  Bu Candra ternyata pernah mengikuti suatu seminar, di mana saya menjadi salah satu penyaji, sehingga dia sudah merasa kenal dengan saya. Oleh karena itu, Bu Candra bersedia untuk diajak diskusi beberapa kali, asal tidak mengajar dan tidak ada tugas yang mendesak.
Dari diskusi beberapa kali, dapat ditangkap bahwa ciri pertama Bu Candra adalah ramah dan banyak ide/gagasan, khususnya untuk memperbaiki proses pembelajaran.   Kemampuan Bu Candra dalam berkomunikasi sangat bagus.  Dia dapat memilih kata-kata yang tepat, disampaikan dengan santun, dengan intonasi yang jelas, sehingga pendengar yakin akan gagasan yang disampaikan.  Oleh karena itu, dapat dipahami jika banyak gagasan Bu Candra yang diterima oleh sekolahnya atau rekan sejawatnya.
Gagasan-gagasan tersebut kemudian diwujudkan, walau kadang harus merogoh kantong sendiri, sebelum sekolah menggantinya.  Dengan melihat beberapa karya yang dihasilkan, saya setuju dengan masukan rekan kerjanya, bahwa Candra pekerja keras dan berani mengambil risiko.  Itulah ciri kedua Bu Candra, sehingga membuat dia berhasil sebagai guru.  Kepala sekolahnya mengatakan bahwa Bu Candra adalah tipe guru yang banyak ide dan konsekuen, artinya tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga melaksanakannya.
Ketika berdiskusi, tiba-tiba Bu Candra menyodorkan naskah tulisan seseorang berupa print out komputer.  Ternyata naskah itu diambil Bu Candra dari home page tertentu.  Saya sempat tertegun ada guru yang ternyata mencari referensi melalui home page.  Pada hal, mahasiswa program S3 banyak yang enggan melakukan dengan berbagai alasan.  Setelah mendiskusikan naskah tersebut, saya baru paham bahwa Bu Chandra banyak membaca, sehingga walaupun secara formal berpendidikan S1, tetapi pengetahuannya mungkin setara dengan lulusan S2. Jadi ciri ketiga Bu Candra adalah kemampuannya  untuk belajar terus dengan berbagai cara.
Ciri ke empat Bu Candra adalah kemampuan kerja sama dengan orang lain.  Beberapa teman yang mengusulkan Bu Candra sebagai contoh guru yang sukses, sebenarnya sudah menyebutkan bahwa dia mudah bekerja sama dengan orang lain.  Setelah beberapa kali bertemu dan berdiskusi, saya mempercayai hal itu. 
Setelah mendapatkan ciri-ciri empat orang yang sukses dalam profesinya, marilah kita bandingkan dengan ciri-ciri yang diutarakan oleh para peserta penataran dan mahasiswa pascasarjana yang disebutkan terdahulu.


Tabel 1.
Perbandingan Ciri-ciri Orang Sukses
Ciri Orang Sukses Menurut Pendapat Peserta Penataran dan Mahasiswa Pascasarjana
Ciri Orang Sukses Menurut Hasil Observasi dan Wawancara Saya thd 4 Orang Sukses
  1. beriman dan taat beribadah.
  2. jujur.
  3. menguasai bidang pekerjaan yang ditekuni.
  4. kerja keras.
  5. ulet dan pantang menyerah.
  6. kreatif dan pandai memecahkan masalah.
  7. bertanggung jawab.
  8. berpengetahuan luas.
  9. pandai bekerjasama dengan orang lain.
  10. memiliki hubungan yang luas.
  11. berani mengambil risiko.
  12. pandai mengambil keputusan.
  13. tegas dalam memimpin.
  14. suka menolong.
  15. toleran.
  16. tidak usil terhadap urusan orang lain.

  1. jujur
  2. disiplin
  3. bertanggung jawab.
  4. kerja keras dan sungguh-sungguh dalam bekerja.
  5. menguasai bidang pekerjaannya.
  6. tekun dan teliti dalam bekerja
  7. banyak ide, kreatif dan pandai memecahkan masalah.
  8. sabar
  9. pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan.
  10. selalu belajar terus untuk meningkatkan pengetahuan yg terkait dengan profesinya.
  11. tegas dalam memimpin.
  12. mampu menjadi teladan bagi anak buah.
  13. suka menolong dan memperhatikan kepentingan orang lain.
  14. mampu berkomunikasi dengan bagus.
  15. mudah bekerjasama dengan orang lain.
  16. mampu mengelola emosi dengan baik.
  17. berani mengambil risiko.

Sungguh mengejutkan, karena ciri-ciri orang sukses versi peserta penataran dan mahasiswa pasca sarjana sangat mirip dengan hasil observasi dan wawancara dengan ”4 orang sukses”.  Tentu istilah yang digunakan berbeda, tetapi intinya sangat mirip.  Misalnya berpengetahuan luas yang diajukan peserta penataran identik dengan selalu belajar terus untuk meningkatkan pengetahuan yg terkait dengan profesinya.  Memiliki hubungan luas identik dengan mampu berkomunikasi dengan baik yang disertai dengan mampu bekerja sama dengan banyak orang.
Ciri yang diajukan oleh peserta penataran, tetapi tidak muncul dari hasil observasi dan wawancara adalah beriman dan taat beribadah.  Namun hal itu, hanyalah masalah penekanan.  Pak Badrun saya yakini orang yang taat beribadah.  Demikian pula Pak Wahyu dan Pak Tris. Memang saya tidak mengamati Bu Chandra, tetapi dari kejujuran dan perilakunya, dapat diduga kuat dia juga taat dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
Dari uraian di atas, secara induktif kita telah menemukan sikap dan perilaku yang menjadi kunci seseorang, sehingga yang bersangkutan sukses dalam kehidupan.  Sukses tidak hanya dalam aspek materi dan karier, tetapi juga dalam sosial kemasyarakatan.  Bahkan dari aspek ibadah, yang menjadi sumber nilai-nilai kehidupan. Kita sebut saja sikap dan perilaku tersebut dengan kecakapan hidup atau life skill, karena kecakapan atau skill itulah yang ternyata menyebabkan seseorang sukses dalam kehidupannya.
Pertanyaannya kini, apakah sekolah telah mengajarkan dan menumbuhkembangkan ciri-ciri orang sukses tersebut kepada siswa?  Rasa-rasanya belum atau bahkan masih jauh dari itu.   Saya juga terkejut, karena dalam mengajar dan memberi kuliah selama lebih dari 25 tahun, tidak membayangkan bahwa kemampuan itulah yang sebenarnya diperlukan siswa atau mahasiswa untuk menggapai sukses dalam kehidupan.
Untuk menemukan gambaran apakah kecakapan hidup yang menjadi kunci orang sukses tersebut sudah dikembangkan di sekolah, saya  mengajukan pertanyaan kepada para peserta penataran, tentang teman sekolah di SD, SMP, SMA/SMK atau kuliah yang kini dianggap paling sukses di antara teman lainnya.  Mereka diminta untuk memilih teman sekolahnya, yang kini dianggap paling sukses.  Setelah menemukan, saya minta mereka mengingat bagaimana perilaku teman tersebut, saat masih sekolah.  Apakah dia merupakan siswa/mahasiswa yang sering mendapat juara kelas?  Apakah dia sering dipuji oleh bapak/ibu guru/dosen sebagai murid yang pandai?
Jawaban yang muncul, ternyata teman yang kini paling sukses tidak selalu mereka yang juara kelas.  Bahkan sebagian besar mereka yang kini sukses adalah mereka yang nilainya biasa-biasa saja, tetapi aktif di kegiatan sekolah atau masyarakat, suka kotak-katik dan banyak akalnya, suka membantah, suka membandel dan berani mengambil risiko, sering menjadi pimpinan dalam kegiatan dan seringkali sudah sambil bekerja pada saat sekolah/ kuliah. 
Setelah itu, saya minta mereka mengingat teman sekolahnya yang dahulu selalu mendapat ranking di kelas dan dipuji oleh bapak/ibu guru.  Setelah ingat, saya meminta mereka menyebutkan apakah mereka sekarang sukses dalam kehidupannya.  Jawaban yang muncul, tidak semua mereka yang dulu juara kelas kini sukses dalam kehidupannya.  Memang ada juga yang sukses, tetapi tidak banyak.  Kebanyakan hanya sedang-sedang saja dan bahkan diungguli oleh temannya yang dulu bukan juara kelas.
Jawaban tersebut seakan-akan membawa kita pada pendapat bahwa prestasi siswa di sekolah, yang ditunjukkan dengan nilai yang diperoleh siswa, bukan merupakan prediktor kesuksesan yang bersangkutan ketika memasuki kehidupan di masyarakat.  Jika prestasi tersebut merupakan bentuk penguasaan apa yang dipelajari di sekolah, berarti apa yang dipelajari siswa di sekolah tidak cocok dengan kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk mencapai sukses dalam kehidupan.
Oleh karena itu, dengan setengah berkelakar, saya sering mengatakan kepada peserta pelatihan yang pada umumnya guru, kepala sekolah dan birokrat di bidang pendidikan, bahwa fakta tersebut menunjukkan kontribusi pendidikan terhadap kesuksesan siswa  tidak terlalu besar, sehingga wajar jika para pendidik tidak mendapatkan penghasilan yang besar.  Mengapa?  Karena kontribusinya terhadap kesuksesan siswa kecil, maka wajar jika gaji pendidikan juga kecil.
Tentu ungkapan itu hanyalah kelakar, tetapi punya maksud untuk mendorong kita semua, para pendidik, untuk merenungkan fenomena bahwa apa yang selama ini kita lakukan di sekolah, ternyata tidak banyak memberikan bekal untuk kesuksesan hidup siswa.  Siswa yang kemudian sukses setelah dewasa, justru mendapatkan bekal dari aktivitas keorganisasian, dalam pekerjaan yang digeluti sambil sekolah/kuliah, dalam aktivitas individu yang memaksa dia kerja keras, kotak-katik untuk menemukan inovasi dan bahkan kebandelannya.      
            Lebih menyedihkan, perbuatan seperti itu seringkali kurang disenangi oleh guru.  Jika ada anak yang senang kotak-katik, membantah pendapat guru, aktif dalam aktivitas organisasi sosial kemasyarakatan dan sambil bekerja saat sekolah, guru sering mengingatkan agar lebih mementingkan pelajaran, sehingga tidak jatuh prestasinya.   Seakan-akan aktivitas tersebut difahami berada ”di luar” kawasan pendidikan atau kurang penting dibanding mengikuti pelajaran di kelas.  Padahal, uraian di atas menunjukkan, justru melalui kegiatan semacam itu siswa memperoleh kesempatan untuk memperoleh kunci orang sukses.
Di samping itu, pendidikan di sekolah seringkali diwarnai dengan arogansi mata pelajaran oleh guru. Setiap guru merasa mata pelajaran yang dibina begitu penting, sehingga kalau bisa minta ”jatah” jam pelajaran yang banyak.  Karena diyakini penting, setiap guru meminta siswanya mempelajari banyak konsep dan teori dalam mata pelajaran tersebut.  Seakan-akan setiap siswa harus sekaligus menjadi ahli Matematika, ahli Fisika, ahli Ekonomi, ahli Sejarah, ahli Bahasa Inggris dan sebagainya.  Akibatnya siswa harus mempelajari begitu banyak konsep dan teori, walaupun sebenarnya tidak terlalu terkait dengan kehidupan yang dihadapi sehari-hari dan juga tidak terkait erat dengan kunci untuk menggapai sukses.
Praktik pendidikan di sekolah kini telah tereduksi menjadi wahana untuk menguasai materi ajar yang ada dalam buku, tanpa dipertanyakan apakah apa yang dipelajari tersebut bermanfaat bagi siswa, dalam menghadapi kehidupannya di masa datang.  Oleh karena itu sangat wajar, kalau pendidikan tidak dapat memenuhi harapan orangtua, yaitu memberikan anak bekal untuk menggapai sukses. Bukankah orangtua menyekolahkan anaknya dengan harapan dapat memperoleh bekal untuk menggapai sukses, di kemudian hari? Oleh karena itu, dapat dipahami jika kemudian praktik pendidikan diprotes oleh Rendra, oleh Kiyosaki, oleh tetangga di kampung halaman, oleh petani di Lamongan dan oleh nelayan di Pasuruan.  
Mengapa hal itu terjadi?  Mengapa praktik pendidikan di sekolah jauh dari harapan?  Bukankah menurut para ahli, pendidikan adalah upaya membantu peserta didik untuk mengembangkan diri guna menghadapi masa depannya?  Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara.  Namun filosofi pendidikan yang dirumuskan para ahli dan definisi pendidikan yang tercantum dalam UUSPN 20/2003 tersebut tidak terimplementasikan dalam praktik pendidikan di sekolah.  Praktik pendidikan di sekolah telah tereduksi menjadi sebuah proses mekanistik yang bertujuan untuk memasukkan mata pelajaran ke benak siswa, tanpa dipikirkan apakah itu akan menjadi bekal penting bagi kehidupan siswa di masa datang atau tidak.
Jika hal itu yang terjadi, apakah yang dapat kita lakukan?  Apa yang seharusnya dilakukan oleh mereka yang merasa ahli dan juga menganggap dirinya peduli pada pendidikan?  Tampak gagasan Michel Porter, bahwa dalam berinovasi kita tidak boleh hanya berpikir how to do tetapi harus berpikir what to do berlaku untuk pendidikan.  Untuk memperbaiki praktik pendidikan, kita tidak cukup berpikir bagaimana metoda pembelajaran yang baik, tetapi juga mempertanyakan apakah materi yang dipelajari siswa di sekolah, telah sesuai dengan kebutuhan mereka untuk menggapai sukses. []