Selasa, 26 April 2022

SIRIKIT SYAH, SANG IDEALIS

Dr. Hernani Sirikit, MA.  atau yang lebih dikenal dengan Sirikit Syah tentu  tidak asing bagi kawan-kawan pers, aktivis dan juga kawan-kawan seniman di Surabaya. Pagi ini tanggal 26 April 2022, di akhir pertiga bulan Ramadhan 1443 H, beliau dipanggil menghadap Sang Khaliq.  Terakhir saya ketemu beliau di acara Mukerwil ICMI Jawa Timur beberapa bulan lalu. Allahummaghfirlaha warhamha wa 'afiha wa'fu anha. Semoga almarhumah mendapat termpat terbaik di sisiNya.

Saya mengenal mbak Sirikit, begitu saya biasa memanggil,  sejak beliau menjadi mahasiswa S1 IKIP Surabaya.  Kebetulan beliau adik kelas isteri saya di Jurusan Bahasa Inggris dan sama-sama aktif dalam organisasi kemahasiswaan.  Bakat menulisnya telah tampak sejak mahasiswa, sehingga tidak heran setelah lulus sebagai sarjana pendidikan bahasa Inggris tidak menjadi guru tetapi menjadi wartawan.  Jika aktivis yang ingin menyuarakan pemikiran tampaknya ikut mendorong pemilihan karir tersebut. 

Karena menekuni “dunia yang berbeda” saya lama tidak berinteraksi intens dengan mbak Sirikit, walaupun tetap berkomunikasi.  Pertemuan yang menjadi jembatan biasanya Ikatan Alumni Unesa.  Saya baru kembali berinteraksi dan bekerjasama dalam beberapa kegiatan pada pertengahan tahun 1990an.  Saat itu saya menjadi Pembantu Rektor IV Unesa dan mbak Sirikit menjadi salah satu pimpinan di STIKOSA (Sekolah Tinggi Komunikasi Surabaya) yang dahulunya bernama AWS (Akademi Wartawan Surabaya).  Sebagai alumni Unesa (IKIP Surabaya) mbak Sirikit banyak terlibat di kegiatan Unesa, khususnya Ketika Unesa bekerjasama dengan pihak lain.  Termasuk dalam beberapa penelitian.  Biasanya beliau terlibat dalam analisis dan penyusunan laporan.

Ketika saya menjadi rektor Unesa, saya merasa banyak dibantu beliau.  Saat menulis buku Rekonstruksi Pendidikan, sebagai kumpulan pemikiran teman-teman dosen, mbak Sirikit sebagai editor dan bahkan kemudian menterjemahkannya dalam bahasa Inggris.  Bahkan atas kemauan sendiri mbak Sirikit menterjemahkan buku saya yang berjudul Pendidikan Bermakna.  Waktu saya tanya untuk apa, dijawab dengan mimik serius (memang orang serius walaupun berjiwa seni), buku itu perlu dibaca orang luar negeri, karena menurutnya memuat ide-ide sangat bagus.

Ketika saya dorong kuliah S3, pada awalnya kurang sreg.  Mungkin karena sibuk. Namun saya meyakinkan, walaupun dengan gelas MA (S2) sudah mengajar di program pascasarjana Unair dan juga di Australia, kalau menempuh dan lulus S3 tentu lebih baik.  Toh nanti ketemu dengan dosen yang dahulu pernah mengajar dan konon dekat dengan beliau, yaitu alm Prof. Budi Darma.  Akhirnya setuju, walaupun perjalanan kuliahnya tidak mulus, karena sakit kanker payudara yang tidak kunjung sembuh.  Ketika dalam kesempatan sandwich ke Australia, mbak Sirikit tidak dapat berangkat karena sakit dan dokter yang merawat tidak merekomendasi.  Bahkan ketika sudah lulus dan mendapat kesempatan ke Amerika Serikat dan sudah siap mengajak Mas Anam (suaminya) untuk menemami juga tidak berangkat karena kondisi kesehatan tidak memungkinkan.

Jika ditanya apa yang paling terkesan dari seorang Sirikit, menurut saya “orang idealis”.  Bahwa beliau penulis handal, yang menghasilkan banyak esasi, puisi, cerpen dan buku, semua orang sudah tahu. Tetapi bahwa Sirikit seorang idealis yang membuat saya sangat terkesan.  Sekolah S3 tidak mau sekedar lulus, tetapi harus menghasilkan penelitian yang bagus.  Tidak mau sekedar menulis artikel, tetapi harus yang bermakna.  Seringkali mbak Sirikit mengatakan “saya memerlukan uang untuk keluarga saya, tetapi saya tidak mau didikte oleh uang”.  Ketika harus mengerjakan suatu tugas dan dia mendukung kegiatan itu, dengan senang hati mbak Sirikit akan mengerjakan walaupun tidak ada uangnya.

Saya teringat suatu saat kami (beberapa teman dan saya) sepakat mendirikan suatu organisasi dan mbak Sirikit bersedia didapuk menjadi sekretaris.  Nah, ketika dalam perjalanannya organisasi itu mulai “komersial”, dengan tegas dia menentang dan akhirnya keluar.  Kalimat yang keluar, “dahulu kita sepakat mendirikan organisasi itu untuk membantu peningkatan profesionalitas teman-teman yang berprofesi “X” dan bukan untuk mendapatkan uang”.  Kalimat itu diucapkan dengan mimik serius dan sejak itu mbak Sirikit benar-benar angkat kaki.

Sekitar tahun 2020an mbak Sirikit tilpun pengin bertemu dan beberapa hari kemudian benar-benar datang bersama Mas Anam.  Saya menemuinya bersama isteri, karena memang mereka berteman sejak mahasiswa.  Saat itu mbak Sirikit bercerita tentang problem yang terjadi di tempat kerjanya dan meminta saran.  Dalam diskusi itu kembali tampak si Sirikit yang idealis. Saya sangat salut.  Dalam kondisi kesehatan yang tidak prima dan terancam kehilangan pekerjaan, idealismenya tidak luntur.

Selamat jalan mbak Sirikit. Semoga Allah swt memberimu tempat terbaik di sisiNya.  Semoga kami, teman-teman yang panjenengan tinggal tetap mengenangmu sebagai Sirikit sang idealis.

Jumat, 15 April 2022

OUTCOME BASED EDUCATION

Pada rapat di Hotel Veranda Jakarta Rabu 29 Maret  lalu, saya menjelaskan bahwa LAMDIK (Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan) menggunakan konsep outcome based education (OBE) dalam mengakreditasi suatu program studi.  Saya merasa perlu menjelaskan konsep yang digunakan oleh LAMDIK karena berpengaruh terhadap instrument yang digunakan.  Agar lebih mudah difahami saya menggunakan metaphor nasi goreng. Kalau kita akan membeli nasi goreng yang pertama kita pertimbangkan adalah rasa bagi lidah kita.  Sekali lagi dengan acuan “lidah kita”, bukan lidah yang memasak.  Acuan “lidah kita” sebagai pembeli itulah outcome sedangkan acuan lidah yang memasak itu output.  Dalam konteks pendidikan, lidah kita (sebagai pembeli) itu ibarat ukuran pengguna lulusan, sedang lidah juru masak itu ibarat ukuran sekolah/universitas yang menghasilkan lulusan.

Setelah kita cocok dengan rasa nasi goreng yang akan kita beli mungkin kita ingin tahu bagaimana memasaknya.  Apakah bersih dan bagi yang muslim mungkin ingin yakin apakah memasaknya tidak kecampuran bahan yang tidak halal.    Dalam konteks pendidikan setara dengan proses pendidikan.  Apakah kita mematok bagaimana cara menggoreng?  Menurut saya tidak penting, yang penting rasanya enak, memasaknya bersih dan tidak tercampur dengan bahan-bahan yang tidak halal dan bahan-bahan yang membayakan kesehatan.  Dalam konteks pendidikan, bagaimana guru mengajar itu sebaiknya diserahkan kepada para guru/dosen, karena mereka yang lebih tahu cara yang paling cocok. Yang penting di sekolah/universitas tidak diajarkan hal-hal yang membayakan bagi pengguna lulusan.

Bagaimana kalau cara mengajarnya tidak bagus?  Kita dapat “mencegat” di outcome.  Jika mengajarkan tidak bagus tentu outcome-nya tidak baik.  Ibaratnya, jika cara memasaknya tidak baik tentunya nasi gorengnya tidak enak.   Lah, mengapa kita perlu melihat kebersihan dan memastikan tidak tercampur bahan yang tidak halal?  Ya, karena kita ingin nasi goreng yang enak, tetapi juga sehat dan benar-benar halal, bagi yang muslim.  Kita ingin dalam proses pendidikan tidak diajarkan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan dan kemasyarakatan.

Dalam diskusi ada yang menanyakan bagaimana dengan standar pendidikan yang selama ini digunakan?  Misalnya SKL (standar kompetensi lulusan), standar isi, standar proses, standar penilaian, standar pendidik, standar biaya, standar pengelolaan.  Untuk universitas ditambah dengan standar penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.  Saya menjelaskan, standar-standar itu dibuat oleh pemerintah untuk memandu bagaimana sekolah/madrasah/ universitas menyelenggarakan pendidikan.  Jadi standar tersebut mungkin cocok untuk SPMI (sistem penjaminan mutu internal), sedangkan LAMDIK adalah SPME (sistem penjaminan mutu eksternal) yang tidak harus melihat hal-hal yang bersifat internal secara detail. Toh LAMDIK memiliki waktu yang terbatas dalam proses akreditasi program studi.

Lantas, apakah LAMDIK sama sekali tidak memperhatikan faktor input dalam melakukan akreditasi. Jawabnya, tetap memperhatikan.  Tetapi bobotnya sangat kecil dibanding output/outcome dan proses.   Dalam tabel tampak bobot output/outcome 33%, proses 29%, sedangkan input hanya 15%.  Faktor proses cukup besar, karena ciri khas “pendidikan” yang menghasilkan calon guru.  Kita meyakini mahasiswa calon guru itu banyak meniru dosennya saat mengajar/memberi kuliah.  Oleh karena itu, bagaimana dosen mengajar dan sebagainya mendapat perhatian khusus.

Disamping itu, keruntutan bagaimana menjabarkan outcome turun menjadi output, kemudian memastikan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan tututan output juga mendapat perhatian. Sesuai dengan metaphor nasi goreng, seperti apa fasilitas kampus dan bagaimana kualifitasi dosen tidak mendapat bobot besar, walaupun tetap diperhatikan.  Yang penting proses pembelajaran berjalan baik dan layak menjadi inspirasi bagi mahasiswa saat besuk menjadi guru.  Lebih dari itu lulusannya cocok dengan standar yang diharapkan oleh penggunanya.

 Mengapa ada faktor Profil UPPS dan Analisis Permasalahan dan Tindak Lanjut?  Pemikiran tersebut berangkat dari kenyataan bahwa program studi (PS) adalah sebuah program, maksimal sebagai unit pelaksana, sedangkan kebijakan dan sumberdaya dimiliki oleh UPPS. UPPS yang membuat kebijakan, mengatur sumberdaya dan mengendalikan pelaksanaanya. Oleh karena itu apa yang dikerjakan UPPS menjadi salah satu titik penilaian.

Siklus “kebijakan-implementasi-evalasi-tindak lanjut” menjadi salah satu yang mendapat perhatian, untuk memastikan bahwa terjadi peningkatan mutu secara berkelanjutan.  Oleh karena itu dalam setiap komponen dievaluasi terjadi-tidaknya siklus tersebut, sebagai bagian dari penilaian.