Minggu, 19 November 2023

TERKECOH DI TASHKENT

 Tanggal 15 November 2023, saya bersama rombongan LAMDIK ke Uzbeckistan untuk menjalin kerjasama dengan beberapa universitas dan Kementerian Pendidikan Tinggi setempat. Kami naik Turkish Airline via Istambul dan mendarat di bandara Tashkent, ibukota Uzbeckistan.  Pesawat takeoff dari Jakarta jam 9 pagi dan tiba di Istambul sekitar pukul 18 waktu setempat atau pukul 22 WIB.  Jadi kami terbang sekitar 13 jam.  Tampaknya waktu transit tidak lama, sehingga begitu masuk di gedung bandara, sudah ada petugas yang mengarahkan untuk langsung boarding.  Jadi kami tidak sempat melihat-lihat bandara Istambul, apalagi minum kopi.

Kami tiba di bandara Tashkent sekitar jam 02.00  waktu setempat atau 04.00 wib, tgl 16 November dini hari.  Urusan VOA (visa on arrival) berjalan lancar, mungkin berkat surat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Uzbeckistan. Begitu keluar imigrasi dan sambil mengambil bagasi, saya mengamati situasi bandara. Kesan saya sangat sederhana, kurang bersih dan pengambilan bagasi juga kurang teratur.  Setelah mendapatkan bagasi masing-masing, kami mendapat informasi kalau penjemputan belum datang, sehingga kami harus menunggu di ruang tunggu yang berada di gedung lain. Situasi ruang tunggu juga tampak kurang bersih. Bahkan ketika ada teman yang ingin ke toilet harus keluar gedung dan membayar.

Setelah penjemputan datang, kami segera meluncur ke hotel Hyatt tempat kami mengingat.  Begitu mendekati hotel, artinya masuk kota saya kaget karena jalan-jalan lebar dan tampak sangat rapi dan bersih.  Karena tengah malam, saya masih belum percaya.  Besuk pagi, ketika bangun tidur dan melihat keluar jendela, saya baru sadar bahwa tadi malam saya terkecoh.  Memang situasi bandara masih tampak belum maju, bahkan ketika check ini saat mau terbang ke Istambul antrean penumpang tampak belum teratur. Tetapi ketika masuk kota situasi jalanan sangat tertata bagus, mirip di Eropa.  Hotel kami menginap juga jangat bagus dan layanannya seperti di negara maju. Demikian juga sajian sarapan pagi mirip hotel Bintang 5 di negara maju. Sarapan pagi dengan menu campuran ala Eropa dan loka Uzbeckistan sangat lengkap. Perbedaan yang menyolong itu mendorong saya mengamati dan mencari tahu mengapa seperti itu.

Tanggal 16 November kami harus mengunjungi 3 universitas dengan diantar oleh mobil kedutaan dan ditemani oleh dua orang staf, yaitu Mbak Sintia Kristiani Saeh, seorang diplomat muda asal Manado dan mbak Jamilah seorang staf lokal yang cantik dan padai berbahasa Indonesia.  Begitu mobil keluar hotel melewati jalanan yang tertata bagus, kami mendapat penjelasan dari mbak Jamilah bahwa itu sudah sejak Uzbeckistan menjadi bagian dari Uni Soviet.  Jadi tata kota Tashkent memang mengikuti gaya Rusia. Semua gedung dibangun agak jauh mundur dari jalan, sehingga memiliki taman yang luas dan umumnya tertata bagus. Apalagi sebagian besar jalannya kembar dengan masing-masing 3 sampai 4 jalur, sehingga terkesan sebagai kota modern.   Hanya saja lalu lintas kurang teratus, khususnya ketika sampai daerah yang lalu lintasnya padat.

Pertama kali kami mengunjungi Tashkent State University of Oriental Studies, kemudian ke Uzbeckistan State World Language University dan setelah makan siang kami ke Tashkent State Pedagogical University. Malamnya kami dijamu oleh Pak Dubes (Prof. Sunaryo Kartadinata) yang kebetulan menjadi salah satu pendiri LAMDIK.  Jika siangnya kita makan makanan ala Uzbekistan yang mirip makanan Timur Tengah dan ada semacam sate sangat besar, makan malam di wisma KBRI  dengan menu masakan Indonesia.  Kami juga sempat melaporkan perkembangan LAMDIK kepada Pak Dubes sebagai pendiri LAMDIK.

 

Dalam obrolan dengan Pak Dubes dan beberapa staf kedutaan, saya mendapat informasi bahwa ketika awal kemerdekaan (1971) Uzbeckistan pernah mengalaman kemunduran ekonomi yang menyebabkan kriminalitas meningkat tajam. Namun sekarang sudah jauh mengalami perubahan. Pembangunan berjalan sangat  cepat dan perekonomian tumbuh dengan baik. Keamanan juga sudah sangat baik.  Tidak heran kalau semakin banyak turis datang ke Uzbeckistan, khususnya untuk ke Samarkan ke peninggalan Al Buhari, sang perawi hadits yang sangat terkenal.

Pada hari kedua kami berkunjung ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Inovasi dengan ditemani oleh Pak Dubes.  Setelah itu kami sholat Jum’at.  Saya memang ingin ikut sholat Jum’at di negara tempat kelahiran beberapa ulama besar, antara lain Al Buhari yang terkenal sebagai perawi hadits dan Al Tirmizi.  Di bagian belakang masjid tempat kami ikut sholat Jum’at dan musium yang menyimpan Musag Utsmani. Kamu juga sempat mengunjungi juga.  Untuk masuk ke dalam musium, kami tidak perlu melepas sepatu tetapi membungkus sepatu dengan kantong plastik yang sudah disediakan di pintu masuk.

Beberapa saat setelah kami masuk masjid dan melaksanakan sholat sunah dua rakat, ada ulama yang awalnya saya mengira berkotbah.  Anehnya tidak didahului oleh adzan seperti di Indonesia.  Ternyata setelah selesai, muadzin berdiri mengambil tongkat dan adzan. Sementara ulama tadi berpindah ke mimbar lain yang lebih tinggi dan memberikan kotbah.  Ternyata yang pertama itu bukan kotbah tetapi tausiah yang disampaikan dengan bahasa Uzbeck sedangkan yang kedua merupakan kotbah yang disampaikan dalam bahasa Arab. Konon pola seperti itu juga dilaksanakan di masjid LDII di Indonesia.  Sebelum kotbah, jamaah melaksanakan sholat sunah 4 rakaat. Selesai sholat Jum’at ada dholat jenasah. Yang menarik ketika membaca takbir kedua, ketiga dan ke empat jamaah tidak mengangkat tangan.  Saya sebagai jamaah pendatang ya mengikuti saja tata cara setempat.

Selesai sholat Jum’at kami diantar ke sebuah pasar, menuruti permintaan ibu-ibu yang ikut dalam rombongan.  Pasar yang menual baju mirip pasar Tanah Abang. . Situasi di pasar terkenan masih sederhana, lebih sederhana dibanding Tanah Abang. Menurut mbak Jamilah, pasar tersebut sudah ada sejak jaman Uni Soviet dan belum ada renivasi. Ternyata juga ada tawar-menawar seperti di Indonesia.  Memang harganya lebih murah.  Kopiah ala Uzbeckistan yang di halaman masjid dijual 35 zoom (mata kuang Uzbeckistasn) di pasar ditawarkan 30 zoom, dan konon kalau ditawar bisa dapat harga 25 zoom. 

Sabtu, 18 November 2023

THE POWER OF KEPEPET -2

Judul tulisan kali ini meniru judul sebuah buku yang saya lupa siapa pengarangnya. Saya teringat judul buku itu ketika mengamati fenomena di Dakha Bangladesh.  Jujur saya membaca buku tersebut hanya sepintas dan itupun milik teman.  Namun dari judul dan beberapa halaman saja, saya menyetujuinya.  Rasanya itu sesuai dengan apa yang saya saksikan di berbagai tempat.

Sekian puluh tahun lalu untuk pertama kalinya saya punya kesempatan keluar Jawa dalam suatu penelitian yang dibiayai Unesco. Saat itu lokasi penelitian di pelosok Sulawesi dan kami (saya bersama dua orang teman) harus tinggal di daerah itu sekitar dua minggu.  Di hari kedua di daerah itu, ketika mencoba jalan pagi saya dikagetkan oleh suara orang agak berteriak “kuncine neng ngendi” (kuncinya dimana).  Kenapa saya kaget, karena berada di pelosok Sulawesi mendengar ucapan bahasa Jawa.  Ternyata di daerah itu cukup banyak orang Jawa dan umumnya berdagang, khususnya makanan. Orang yang berteriak tersebut berjualan bakso dan menurut ceritanya cukup laris, sehingga dapat mengontrak sebuah rumah yang cukup baik.

Pada tahun-tahun berikutnya, ketika mendapat kesempatan menjelajah daerah luar Jawa saya menjumpai fenomena serupa.  Banyak orang Jawa dan umumnya mereka berkehidupan cukup baik.  Rumahnya relatif baik dan lebih baik dibanding rumah rata-rata pendudukn setempat.  Bahkan ketika tahun 2021 pertama ke Berau Kalimantan Utara saya terperanjat melihat nama-nama rumah makan. Ada rumah makan Madiun, Tulungagung dan sebagainya.  Ternyata pemilik rumah makan itu memberi nama sesuai asal mereka.  Ketika ke Meraoke, saya diajak ke daerah transmigran dan ternyata kehidupan mereka relatif lebih baik dibanding penduduk asli.

Dengan pengalaman itu akhirnya saya memahami dan cenderung membenarkan buku The Power of Kepepet yang menjelaskan orang yang kepepet akan keluar akalnya, tekatnya dan semangat berjuang untuk berkerja keras agar keluar dari situasi kepepet.  Itulah yang menyebabkan para pendatang biasanya lebih sukses dibanding penduduk asli.  Si pendatang merasa kepepet sehingga harus berjuang dan bekerja keras, sementara si penduduk asli santai karena merasa aman di tanah lelulur sendiri.

Ketika mengamati kehidupan di Dakha Bangladesh itu saja jadi teringat apa yang dijelaskan buku tersebut.  Bangladesh, khususnya kota Dakha yang sangat padat penduduk dengan kondisi perekonomian masih terbatas tampaknya membuat banyak orang merasa kepepet, sehingga mengeluarkan kreativitasnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.   Menurut teman di sana, di Dakha banyak orang yang berasal dari pedesaan yang merantau mencari pekerjaan.  Konon sebagian pengemudi rigsaw, yaitu becak ala Bangladesh, berasak dari pedesaan yang merantau ke kota untuk mendapatkan pekerjaan.  Itulah sebabnya mereka rela bekerja keras, menggenjot rigsaw yang tampak sangat berat. Jika pengemudi becak lazimnya duduk di atas sadel, pengemudi rigsaw tidak.  Ketika ada penumpang, pengemudi rigsaw harus menggenjotnya sambil berdiri, mirip pembelap sepeda ketika harus meningkatkan kecepatan.

Di Dakha banyak sekali apartmen yang sedang dibangun. Saya tidak tahu apakah itu kebijakan pemerintah karena penduduk sangat banyak sementara negaranya sangat kecil, sehingga untuk menghemat laham, apartmen menjadi pilihan hunian.  Yang jelas, sepanjang jalan yang saya lewati, di kanan-kiri jalan sangat banyak apartmen yang sedang dibangun.  Saya mencoba mencermati umumnya 5-10 lantai.  Yang menarik tidak satu pembangunan tersebut menggunakan crane, sehingga bahan bangunan dinaikkan dengan semacam kerekan yang dilakukan oleh manusia.  Tampak sekali mereka membangun apartmen secara tradisional.  Saya lihat betapa berat kerja mereka.

Di Dakha ada kendaraan seperti bemo roda tiga yang sekian tahu lalu menjadi kendaraan umum di Indonesia. Mereka menyebutnya CNG, singkatan dari Compressed Natural Gas, karena kendaraan tersebut menggunakan gas alam.  Di beberapa tempat saya melihat rigsaw yang tidak lagi digenjot tetapi diberi motor listrik.  Mereka menyebutkan Electric Bike.  Ternyata itu produksi lokal, artinya dibuat oleh bengkel lokal, bukan buatan pabrik.  Oleh karena itu bentuknya sangat bervariasi. Menurut saya itu suatu keberanian berinovasi

Ketika makan malam dan mencari makanan non Bangladesh ternyata sangat mudah, Banyak restoran di mall yang menyediakan makanan berbagai negara. Namun saya melihat semua yang melayani orang Bangladesh. Iseng-iseng saya bertanya mengapa begitu.  Ternyata itulah inovasi mereka.  Karena banyak orang asing di Dakha dan makanan asli Dakha tidak cocok, maka mereka belajar memasak masakan negara lain dan kemudian menyajikan di restoran.  Sebuah inovasi yang jitu.

Mengamati berbagai fenomena itu dalam hati saya bertanya, apakah itu juga bukti the power of kepepet ya.  Karena kepepet sulitnya kehidupan orang Bangladesh mengeluarkan segala akal agar mampu mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Menurut saya itu contoh Teknologi Tepat Guna yang sesuai dengan konteksnya.  Mestinya SMK di Indonesia juga bisa, apalagi perguruan tinggi sekelas ITS. Dari pada buat Gesits yang seperti hilang dari peredaran, inovasi yang dapat dikerjakan secara lokal akan memberi manfaat nyata buat masyarakat kecil.

Selasa, 07 November 2023

KETEMU YANG DICARI

Seperti saya sebutkan sebelumnya, kami ikut dalam academic conference di Dakha Bangladesh bukan semata-mata ingin memaparkan makalah, tetapi juga ingin bertemu beberapa orang yang kami yakini dapat membantu keinginan Lamdik menjadi full member dari APQN. Oleh karena itu nanti begitu mendapatkan rundown acara, kami akan mencermati dan mencari nama orang yang kami yakini dapat membantu memperlancar keinginan Lamdik untuk menjadi anggota APQN, dan jika mungkin menjadi anggota INQAAHE, seperti disarankan oleh Prof Chan Basaruddin.

Academic conference dilaksanakan di AIUB (American International University-Bangladesh). AIUB merupakan universitas swasta ternama di Dakha yang menurut informasi didirikan oleh keluarga kaya disana.  Panitia conference sangat baik, kami dijemput dan diantar pulang dari hotel ke universitas.  Sesuai jadwal kami dijemput jam 08.00 oleh staf bernama Orun yang memang khusus ditugasi untuk itu datang menjemput.  Jalan masuk menuju AIUB melewati jalan kecil yang dikiri-kanan dipenuhi orang berjualan, seperti kaki lima di Indonesia.  Juga banyak bajaj dan rigsaw mangkaldisana.  Oleh karena itu mobil yang menjemput kami berjalan pelan-pelan yang berkali-kali membunyikan klakson.

Namun demikian, begitu masuk gerbang kampus keadaan berbalik 180 derajat. Kampusnya lumayan besar dan bersih, walaupun gedung-gedungnya sederhana.  Conference dilaksanakan di salah satu gedung berlantai 10.  Pembukaan dilaksanakan di auditorium yang berada di lantai 1.  Tampaknya kami datang relatif awal, karena belum banyak perserta yanh hadir. Kami disambut oleh Ketua Panitia bernama Prof. Dr. Farheen Hasaan.  Belakangan kami tahu bahwa beliau pernah tinggal di Makassar karena suaminya saat itu menjadi pilot Garuda.  Hanya karena ada pandemic Covid 19 suaminya berhenti.


Pada saat registrasi dan kami mendapat rundown acara segera tampak ada beberapa nama yang akan kami dekati, antara lain: Prof.  Jagannath Patil, Chairperson APQR dan mantan President APQN, Stephane Laudwick dari EQAR dan Prof. Olgun Cicek dari INQAAHE. Alhamdulillah kami dapat menemui mereka secara personal dan menyampaikan keinginan Lamdik untuk menjadi full member dari APQN dan INQAAHE.  Ternyata mereka sangat welcome dan meminta kami mengirim email.  Ternyata Prof Olgun Cicek teman Prof. Chan Basaruddin dan titip salam untuk beliau. Foto kami dengan Prof. Olgun segera saya kirim ke Prof. Chan sambil menyampaikan salam Prof. Olgun.

Tepat jam 09.00 acara dimulai dan Prof Farheen merangkap menjadi MC.  Pembukaan diisi dengan sambutan 4 orang, yaitu Prof. Galina Motova sebagai Vice Presiden APQN (beliau dari Rusia), Mr. Ishtiaque Abedin sebagai Chairman dari Board of Trustees AIUB, Dr. Haseena Khan sebagai University Grant Commission Bangladesh, dan Prof. Mesbahuddin Ahmed sebagai Chairman Bangladesh Accreditation Council.  Setelah itu diputarkan video ucapan selamat ulang tahun APQN dari berbagai orang tokoh. Selesai video diputar, Prof. Jagannath Patil sebagai APQR Chairperson dan mantan President APQN dan Prof. Jianxin Zhang sebagai President APQN memberi sambutan.

Setelah sesi foto bersama dan rehat sebentar, dimulai sesi keynote speeches dengan menampilkan dua orang tokoh, yaity Prof. Mesbahuddin Ahmed dan Dr. Stephane Lauwick yang menyampaikan topik Digital Quality Assurance and Journey to Quality Enhancement. Ada dua pertanyaan yang mucul setelah presentasi keduanya, yaitu: (1) jika sains dan teknologi yang didorong menjadi acuan pengembangan universitas, bagaimana dengan sistem nilai yang juga sangat penting dalam kehidupan bangsa, dan (2) jika universitas didorong untuk mengadopsi perkembangan sains dan teknologi dengan membongkar kurikulum yang saat ini digunakan, bagaimana kesiapan dosennya. Prof. Jagannath Patil yang menjadi moderator merespons dengan sangat cerdas dengan mengatakan modernisasi memang harus tetapi jangan meninggalkan humanisasi karena pada ujungnya semua untuk kesejahteraan manusia.

Selesai sesi keynote speeches ada rehat, makan siang dan sholat Jum’at.  Kami diantar ke sebuat tempat sholat Jum’at. Informasinya di lokasi itu ada ruang ibadah untuk beberapa agama.  Lokasi sholat Jum’at tidak terlalu besar dan saya tidak tahu apakah itu memang khusus untuk ibadah orang Islam atau juga dapat digunakan oleh agama lain.  Khotbah Jum’at cukup pendek dan berbahasa Arab seluruhnya. Yang sholat Jum’at juga tidak banyak. Mungkin karena hari Jum’at merupakan hari libur di Bangladesh.

Selesai sholat Jum’at dan makan siang, dilanjutkan dengan sesi pleno dengan lokasi di lantai 10.  Ada dua sesi pleno. Pleno pertama menampilkan tiga paper, yaitu: (1) Digital Technologies and Ethical Approach in Quality Assurance: A Case of JUAA oleh Akinori Matsuzaka dari Jepang, (2) Three Development Trends of Higher Education Quality Assurance in the Asia-Pasific Region in Post COVID Era oleh Dr. Jianxin Zhang dan China, dan (3) The Journey towards Quality Enhancement through Quality Assurance: A Case Study on AIUB oleh Md. Imranul Haque.  Ketiga presenter tampak seiring dengan menyoroti apa yang terjadi pada perkuliahan pasca covid-19 dan bagaimana konskuesinya pada akreditasi.  Diskusi setelah presentasi tidak begitu ramai. Mungkin sama-sama sedang mencari pola.

Sesi kedua juga menampilkan tiga makalah, yaitu: (1) 4IR: Needs for Vitalizing Education Curriculum in Bangladesh oleh Sultan Mahmud Bhuiyan, (2) Adoption of Metaverse in Education Sector: Identifying the Enablers and Barriers for Developing Country oleh Nazia Farhana, dan (3) Artificial Intelligence in Higher Education: A Bibliometric Overview oleh Maria Islam. Ketiganya disampaikan oleh teman-teman Bangladesh. Diskusi sesi ini cukup intens karena semua ingin menyampaikan pendapatkan tentang kesiapan universitas terhadap AI dan tantangan yang harus dihadapi.

Setelah magrib, diadakan Gala Dinner di Hotel Westin.  Muncul masalah bagi rombongan dari Indonesia. Kami sepakat pada isteri dan suami yang ikut ke Dakha tetapi tidak ikut conference kita daftarkan ikut gala dinner.  Masalahnya acara molor sehingga kami tidak sempat pulang dulu ke hotel. Akhirnya diputuskan kami yang ikut conference langsung ke hotel Westin, sementara yang dari hotel berangkat pakai mobil hotel.  Alhamdulillah, semua dapat teratasi.   Sebelum gala dinner ada tarian dan musik khas Bangladesh.

Hari kedua terdiri dari sesi parallel dan tim Lamdik kebagian di grup 1 bersama dua pemakalah dari Bangladesh.  Kami berbagi tugas. Yang presentasi Bu Pratiwi dan Pak Eko, sementara saya masuk ke grup 3 yang menampilkan empat makalah, yaitu: (1) The Impact of ChatGPT on Modern Education: Beneficial or Detrimental, (2) Towards Continuous Quality Improvement in Higher Education: Enhancing Educational Quality through Course Outcome, Program Outcome and Program Educational Objectives, (3) Transformative Education: QA Solution for Cross Boundary Education, dan (4) Enhancing Academic Integrity: A Multi-model Deep Learning Approach for Reliable Test Supervision and Dishonesty.  Paper ketiga yang dibawakan oleh Pavel dan Rusia ternyata menyampaikan gagasan tentang double degree.  Oleh karena itu saya menyampaikan pol aitu sudah lama dilakukan di Indonesia, bahkan saat ini mahasiswa didorong mengambil matakuliah di universitas lain atau internship di industri. Topi ke-empat juga mendapat banyak tanggapan, karena mencoba membuat alat deteksi kecurangan saat ujian.

Di acara penutupan, diumumkan bahwa Academic Conference 2024 diadakan di Rusia dan Pavel sebagai calon tuan rumah diminta untuk memberi sambutan.  Pavel memulai sambutan dengan memutar video kota St Petersburg. Tampaknya dia berharap banyak peserta tertarik dan tahun depan ikut conference. Sambutan penutupan dilakukan oleh Timur Kanapyianov sebagai Vice President APQN. Sebelumnya ada penandatangan MoU antara BAC dengan Kementerian Pendidikan China.  Lamdik diberi kesempatan menyerahkan cinderamata ke APQN dan AIUB.  Penutuan diakhiri dengan berfoto bersama.

Sabtu, 04 November 2023

DAKHA BANGLADESH

 Tanggal 2 – 4 Nomber saya ke Dakha Bangladesh untuk ikut academic conference yang diadakan oleh APQN (Asia Pacific Quality Network), sebaga utusan LAMDIK.  Kami hadir ber enam, Prof Aceng, Prof Sofia, Prof, Ivan, Prof Ekohariadi, Prof Pratiwi dan saya.  Isteri saya juga ikut. Keikutsertaan Lamdik di conference tersebut bukan semata-mata memaparkan hasil studi, tetapi ingin mengenalkan diri kepada APQN dengan harapan Lamdik dapat menjadi full member dari APQN.  Tentu juga membangun jaringan dengan lembaga sejenis di luar negeri.

Ini pertama kali saya ke Bangladesh, sehingga sebelum berangkat mencoba mencari informasi seperti apa kota Dakha.  Informasi yang saya dapatkan melalui internet kurang menyenangkan, karena informasinya Dakha merupakan kota yang sangat padat penduduk, sangat macet.  Lebih padat dan lebih macet dibanding Jakarta.  Mungkin karena negara yang relatif baru berkembang dan sedang berbenah diri.  Bangladesh Merdeka pada tahun 1971 setelah melepaskan diri dari Pakistan.  Sebelumnya merupakan Pakistan Timur setelah merdeka dari koloni Inggris.  Konon Indonesia banyak mengimpor kain dari Bangladesh dan setahu saya memang banyak “baju bermerek” kalau dilihat name tage-nya dibuat di Bangladesh.

Kami ke Dakha dengan naik Singapore Airline (SQ) dan transit di Singapore.  Waktu transit ketemu dan ngobrol dengan seorang ibu muda dengan dua anaknya kecil-kecil.  Dia orang Bangladesh yang sekarang tinggal di Sidney.  Anaknya lucu-lucu dan mau bermain dengan saya. Keduannya cewek berusia lima dan tiga tahun, namanya Yara dan Yala.  Ketika tahu Bu Pratiwi alumni Melbourne University dan sekarang mengajar di Unesa, dia tampak kaget. Mengapa tidak mencari pekerjaan di Australia, toh sebagai doktor tidak sulit mendapatkan pekerjaan dan memperoleh PR.  Pertanyaan wajar dari orang-orang dari negara yang memang punya tradisi ber-diaspora, yaitu menetap di negara lain yang memberikan kehidupan lebih baik dibanding di negara asalnya.  Mereka umumnya berpendapat di negara manapun dapat berperan membantu negaranya.

Tiba di bandara Hazrat Shahjalal Dakha hampir jam 11 malam waktu setempat.  Kami harus mengurus visa on arrival (VOA)  karena memang dari Indonesia belum mengurus visa. Ternyata cukup banyak yang antri, apalagi ada beberapa orang yang antri di depan kami  yang bermasalah, sehingga lama sekali. Akhirnya kami pindah antrian dan alhamdulillah, sekitar jam 12 malam selesai. Petugas imigrasi seorangg wanita muda, namanya Sharmin, sehingga teman-teman berseloroh “petugas imigrasinya Bu Sarmini”. Mungkin teman tadi teringat Prof. Sarmini dari Unesa. Di dekat tempat mengurus visa ada bank, sehingga kami menukar uang dolar dengan uang setempat yang bernama Taka. Petugasnya ramah dan lucu, sehingga kami merasa senang.

Selesai urusan visa dan sudah memegang uang Taka, kami menuju ke tempat pengambilan bagasi. Ternyata ada petugas yang memegang kertas bertuliskan Prof. Pratiwi.  Yang berangkutan merupakan petugas bandara yang diminta oleh staf American International Universitity Bangladesh (AIUB – universitas penyelenggara conference) untuk membantu kami.  Jadinya  urusan bagasi lancar.  Selanjutnya kami dipandu keluar bandara dan disitu sudah ada dua orang, satu pertuas AIUB dan satunya petugas dari hotel yang menjemput kami.  Kami menginap di Bengal Blue Berry Hotel. Hotelnya kecil, di tengah kota, dengan style internasional dan memang banyak orang non Bangladesh yang menginap.

Dalam mobil penjemputan dari bandara ke hotel saya dan teman-teman agak takut. Mobil minibus berjalan sangat cepat meliuk-liuk diantara bis, truk, bajaj, motor dan rigsaw.  Lalu lintas di Dakha tampaknye belum teratur. Jalanan jug relatif gelap dan di tengah malam ada saja orang menyeberang jalan.  Banyak pekerja yang sedang memmperbaiki jalan tetapi tanpa penerangan yang memadai. Barier juga dipasang tampa penerangan. Mungkin itu mobil yang kami tumpangi harus meliuk-liuk dan sangat sering membunyikan klakson. Pengalaman yang sangat menarik di Dakha.

Kami sampai hotel sekitar pukul 01 malam. Berarti sudah berganti hari menjadi Kamis tanggal 2 November 2023. Saya dengan isteri mendapat kamar 706. Kamarnya lumayan baik, hanya AC nya bersuara keras, sehingga agak bising. Ketika berwudhu, air panas tidak jalan sehingga lumayan dingin. Setelah sholat jamak magrib-isya, saya segera tidur karena besuknya sudah harus mulai acara.

Ketika makan pagi Bu Pratiwi mendapat informasi bahwa kami tidak perlu ke lokasi conference karena hari itu hanya berisi board meeting dan kami dapat registrasi besuk pagi menjelang acara hari kedua. Oleh karena itu kami sepakat menggunakan hari itu untuk melihat-lihat kota Dakha. Namun ketika ngobrol dengan staf hotel, disarankan kami tidak pergi jauh dari hotel karena situasi di Dakha sedang tidak kondusif karena menjelang pemilihan umum.  Setelah berunding, kami memutuskan hari itu akan keluar hotel setelah sholat dhuhur, terus akan mencari makan siang kemudian jalan-jalan di sekitar hotel.

Kami makan siang di rumah makan Bernama SANTOOR, kira-kita 200 m dari hotel.  Kami jalan kaki dari hotel dan siang itu menyaksikan lebih detail betapa semrawutnya lalu lintas di Dakha.  Mobil, bajaj dan rigsaw (seperti becak tetapi pengemudi di depan atau seperti sepeda ontel dibelakangnya diberi tempat penumpang seperti bejak) parkir tidak teratur. Apalagi banyak penjual kaki lima di pinggir jalan. Mobil, bajaj dan rigsaw banyak yang melawan arus dan sepertinya itu sudah biasa.  Saya juga tidak melihat rambu lalu lintas di sepanjang perjalanan. Mungkin itu yang membuat pengendara mobil, bajaj dan rigsaw berjalan semaunya disertai suara klakson saut-sautan.  Sepanjang jalan saya juga melihat banyak bus yang penuh dengan bekas serempetan. Namun sopir yang kami tumpangi seperti tenang-tenang saja, sepertinya hal seperti itu biasa. Teman-teman berkomentar sopir di Dakha harus sangat mahir dan sabar.

Di rumah makan Santoor kami makan nasi briyani dengan kambing dan ayam. Ketika kami bertanya seberapa besar porsinya dijawab untuk “share”.  Akhirnya kami memesan  3 porsi untuk 10 orang.  Ternyata betul, nasi briyani yang disajikan dalam wadah seperti periuk dari kuningan itu tidak habis dimakan 10 orang. Nasi briyaninya sangat enak, menurut saya lebih enak dibanding yang saya dapatkan di Surabaya.  Sayangnya daging ayam dan kambing di dalamnya tidak banyak, sehingga teman-tema berkomentar nasinya terlalu banyak, tetapi daging ayam dan kambingnya sedikit.  Selesai makan ada yang usul menambah pesan ayam panggang untuk dibawa pulang bersama nasi yang tersisa.  Namun akhirnya tidak jadi, karena bingung bagaimana cara makannya karena kita tinggal di hotel.

Setelah selesai makan, kami ingin melihat taman yang informasinya kami dapat di internet. Petugas yang kebetulan berdiri di depan restoran menunjukkan jalan menuju taman tersebut.  Orang Bangladesh memang ramah dan suka menolong. Jadi betugas tersebu dengan antusias menunjukkan arah taman. Kami berjalan hati-hati sesuai saran tersebut, khususnya ketika menyebarang jalan.  Isteri saya berkomentar bagaimana takutnya Roy (menantu saya yang asli Scotland) jika harus menyebarang jalan di Dakha, karena di Surabaya saja dia takut menyeberang jalan.

Ketika pertama melihat taman dari pintu masuk, kami merasa tamannya tidak lebih baik dibanding taman di Indonesia.  Memang cukup luas tetapi tampak kurang terpelihara.  Namun begitu masuk kami melihat sebuah gedung kecil yang di depannya ada tulisan BOOKWORM.  Awalnya saya bingung, karena biasanya worm diartinya cacing. Tetapi setelah mencari di google, ternyata artinya kutubuku.

Kami segera masuk dan sungguh kaget, karena toko kecil tersebut menjual buku-buku bagus yang bias akita jumpai toko buku Peripluss yang ada di bandara.  Beberapa buku yang pernah saya beli di Periplus, misalnya The History of God tulisan Karen Amstrong dan sebagainya.  Harganya juga jauh lebih murah dibanding di Periplus. Saya lihat buku-buku tersebut banyak terbitan India dengan kertas berwarna coklat muda. Mungkin itu yang membuat harganya murah. Bu Pratiwi tampak sangat antusias dan membeli beberapa buah.  Melihat toko buku itu saya berpikir, jangan-jangan itu salah satu indicator kepedulian Bangladesh terhadap pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Sepulang dari taman, kami membeli degan yang dijajakan di pinggir jalan. Hanganya 150 taka atau sekitar 25 ribu rupiah.  Kami menikmati karena degannya segar.  Yang menarik penjual degan tersebut dapat berbahasa Inggris, sehingga komunikasi kami dengan dia lancar.  Terpikir di benak saya, apakah orang Bangladesh pada umumnya dapat berbahasa Inggris ya.  Mungkinkah itu karena sebelum merdeka Bangladesh yang masih merupakan bagian dari Pakistan merupakan jajahan Inggris, seperti halnya Malaysia.