Minggu, 27 Februari 2022

PENDIDIKAN MERUPAKAN KERJA SINERGIS SELURUH MASYARAKAT

 Malam minggu kemarin, 26 Februari 2022, saya difasilitasi oleh KPI (Kualita Pendidikan Indonesia) untuk bertemu dan berdiskusi dengan beberapa yayasan yang mengelola lembaga pendidikan. Ada yang mengelola sekolah (SD/SMP/SMA/SMK), ada yang mengelola madarsah (MI/MTs/MA) dan bahkan ada yang mengelola pondok pesantren.  Ada yang dari Banyuwangi, Blitar, Treggalek, bahkan ada yang dari Binjai-Sumatra Utara dan Balikpapan- Kalimantan Timur.

Diskusi sekitar 2 jam itu menambah keyakinan saya bahwa pendidikan itu usaha bersama untuk mencerdaskan bangsa, menyiapkan anak-anak kita menyongsong masa depannya.  Mereka menceritakan merintis lembaga pendidikan dari “nol” dengan jerih payah bukan main.  Apalagi sebagian besar berada di daerah pedesaan yang tergolong “miskin”.  Saya dapat membayangkan bagaimana tidak mudahnya memulainya.  Pengalaman kami merintis MI di kampung halaman yang tidak terlalu jauh dari kota dan juga tidak terlalu “miskin” saja sangat tidak mudah.  Anda dapat membayangkan MI yang full day itu SPP-nya  25 ribu rupiah dan tidak ada uang gedung saat masuk.  Gurunya belum ada yang dapat tunjanan profesi karena memang anak-anak muda yang belum punya sertifikat pendidik. Yang senior yang punya sertifikat pendidik sangat mungkin juga enggan mengajar di sekolah/madrasah kecil di pedesaan.

Jujur saya banyak belajar dari teman-teman pengurus yayasan tersebut.  Tidak hanya belajar tentang kiatnya memulai sekolah/madrasah/pondok di desa semacam itu, tetapi dedikasi mereka dengan semangat ibadah untuk ikut serta mencerdaskan anak-anak.  Ketulusan dan keikhlasan teman-teman tersebut rasanya layak menjadi renungan bagi siapapun yang merasa sebagai insan pendidikan.

Sepulang dari pertemuan tersebut, saya lama merenung.  Teringat tulisan Ki Hajar Dewantara bahwa membangun pendidikan tidak dapat dan tidak boleh melupakan peran sekolah swasta. Tentu termasuk madrasah dan pondok pesantren.  Ciri khas sekolah seperti itu harus dihargai karena menujukkan budaya daerah dan keyakinan masyarakatnya.  Yang sekolah di lembaga seperti itu juga anak bangsa, yang punya hak serta kuwajiban dengan anak yang bersekolah di sekolah negeri.  Oleh karena itu menurut Ki Hajar seharusnya pemerintah mengatur agar anak-anak di sekolah swasta juga menerima hak-hak yang sama dengan temannya yang bersekolah di sekolah negeri.  Katankanlah untuk yang wajib belajar, mereka juga harus tidak membayar.

Mungkin Anda berkomentar bukankah sekolah/madrasah juga mendapat BOS sama dengan sekolah negeri?  Bukankah guru mereka juga mendapat tunjangan profesi sama dengan guru sekolah negeri?  Jawabnya ya.  Tetapi yang jelas mereka harus membayar SPP.  Tidak gratis seperti temannya yang bersekolah di sekolah negeri.  Mengapa sekolah/madrasah swasta tidak dapat menggratiskan SPP seperti sekolah negeri? Saya yakin Anda tahu jawabnya.  Ya sudahlah, toh menurut cerita teman-teman yang ketemu malam Minggu kemarin sekolah/madrasah/ponpesnya mereka berjalan dengan baik.  Mereka punya kiat masing-masing bagaimana mengelolanya.  Tampaknya konsep PDIA (problem driven iterative adaptation) telah mereka fahami dan terapkan.

Saya membayangkan tanpa peran orang-orang semacam tersebut, pemerintah akan kuwalahan mengangi pendidikan di negara tercita ini.  Bayangkan menurut data Kemendikbudristek, jumlah sekolah swasta lebih banyak dibanding sekolah negeri. Belum termasuk pondok pesantren.  Memang ada sekolah swasta di perkotaan dengan siswa dari keluarga kaya, tetapi dugaan saya jumlahnya masih lebih banyak sekolah swasta seperti yang dikelola teman-teman yan ketemu malam minggu kemarin.

 

Bagaimana yang “menghimpun” teman-teman itu supaya dapat sinergis dalam mencerdaskan anak bangsa?  Saya jadi teringat konsep share vision dari Peter Senge, visionary leadership dari Burt Nanus dan reinventing government dari David Osborn.  Bagaimana agar arah pendidikan, kebijakan pendidikan menjadi milik bersama.  Semua orang tidak hanya faham, tudak hanya sepakat, tetapi merasa ikut memiliki arah dan kebijakan tersebut.  Meminjam istilah yan sering digunakan oleh Mark Heyward, ownership sangat penting agar semua pihak menjalankan kebijakan tersebut dengan sepenuh hati dan bukan karena diinstruksikan.  Menurut saya mengajak mereka untuk menyusun berbagai kebijakan pendidikan merupakan salah satu kuncinya.  Jika itu dapat dilakukan, mudah-mudahan pendidikan menjadi kerja sinergis seluruh masyarakat.

Senin, 07 Februari 2022

AGAMA DATA

 Judul tersebut merupakan bab terakhir dari buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia, tulisan Yuval Noah Harari.  Buku aslinya terbit tahun 2015 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia tahun 2015. Sampai pertengahan tahun lalu telah mengalami 8 kali cetakan.  Artinya buku tersebut dibeli dan dibaca banyak orang.

Sebagai profesor sejarah, tampaknya Harari ingin mengungkapkan renungannya tentang manusia.  Tentu berdasarkan pemikirannya dan kita boleh saja tidak setuju, setelah membacanya.  Pada bukunya yang terdahulu yang berjudul Sapiens, Harari menganalisis dari mana kita (manusia), pada buku Homo Deus ini dia mengajukan analisis masa depan manusia.  Sekali lagi, kitab oleh setuju dan boleh juga tidak.

Harari mengawali bab Agama Data dengan menguraikan bahwa orchestra, lolongan anjing, perilaku bisnis, bahwa proses pemilu sebenarnya merupakan alogaritma dari aliran data yang terangkai.  Penganut “faham data” (dataisme) menyatakan ke depan alogaritma dapat menyatukan berbagai disiplin ilmu, misalnya ekonomi, psikologi, biologi dan sebagainya. Bahkan organisme juga dapat difahami sebagai alogaritma biokimia. Bagaimana jarapah tumbuh dan bahkan berperilaku juga merupakan alogaritma biokimia. 

Alogaritma seperti tersebut juga dapat menjangkau pemahaman terharap kesadaran atau perasaan seseorang.  Biro jodoh yang memasangkan dua calon yang diyakini saling cocok akan menggunakan cara tersebut, yaitu menggandengkan

Dengan menggunakan alogaritma, pelaku bisnis dapat melakukan prediksi tentang perkembangan ekonomi, pergeseran perilaku konsumen dan sebagainya, sehingga dapat melakukan investasi secara baik.  Bursa saham, oleh Harari dianggap contoh alogaritma yang menggambungkan berbagai aliran data dalam dunia bisnis, sehingga setiap detik orang dapat melakukan prediksi terhadap bisnis yang diincar.

Menggunakan logika tersebut, Harari menjelaskan perbedaan perilaku di negara kapitalis dan negara komunis yang keduanya juga merupakan alogaritma.  Di negara komunis alogaritma dikendalikan secara terpusat, sedangkan di negara kapitalis pengendalian alogaritma terdistribusi.  Bahkan tidak jelas lagi siapa yang mengendalikan.  Dengan alogaritma yang dikendalikan secara terpusat, maka pengambilan keputusan menjadi lambat.  Dengan terdistrubusinya pengendali alogaritma, maka pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat.  Juga dapat saling mengoreksi. Itulah yang menurutkan Harari menjadi kunci mengapa kapitalis “menang” sebenarnya bukan karena masalah ideologi, tetapi karena pengambilan keputusan yang lebih cepat dibanding komunis.

Harari juga menyampaikan kecenderungan keterbukaan informasi.  Dengan slogan “rekam, unggah, bagikan” dengan menggunaan Wikipedia sebagai contoh bagaimana manusia ingin pendapatnya atau pemikirannya dibagi kepada banyak pihak.  Harari juga mencotohkan kasus anak muda di Amerika Serikat yang bunuh diri karena diadili karena “menjebol” beberapa web jurnal dengan tujuan agar dapat dibaca oleh semua orang.  Yang bersangkutan bersikukuh informasi mestinya milih public, sehingga tidak boleh “ditutup” dan hanya boleh dibaca oleh yang membayar.

Karena perilaku manusia, termasuk dalam pemilu juga merupakan alogaritma, jika sudah ditemukan machine learning yang canggih, mungkin pemilu tidak lagi diperlukan.  Perangkat canggih tersebut sudah memprediksi dengan akurat pilihan orang, sehingga pemilu seperti saat ini dilakukan menjadi tidak perlu.  Logika semacam itu bisa diterapkan dalam kehidupan yang lain dan Harari yakin pada saatnya akan digunakan.

Dengan menggunakan film fiksi, Harari membayangkan pada saatnya akan muncul robot canggih yang dapat berkembang mandiri (self developed), sehingga tidak tergantung pada manusia yang mengembangkan.  Robot seperti itu akan “lepas” dari yang mengembangkan dan berperilaku dan berkembang berdasarkan data yang masuk dan diolah dengan logika logaritma.  Dengan logika itu, Harari mempertanyakan, jika dimana lalu pola pikir homo sentris sangat mungkin ke depan bergeser ke data sentris. Dan itulah yang oleh Harari disebut Agama Data.

Di akhir buku ternyata Harari sendiri masih ragu terhadap renungan tersebut di atas sehingga meminta pembaca mempertanyakan 3 hal yaitu:

1.  1. Apakah organisme memang benar-benar alogaritma, dan kehidupan ini hanya benar-benar hanya pemrosesan data?

2.      2. Apa yang lebih berharga kecerdasan atau kesadaran.

3.  3. Apa yang akan terjadi pada masyarakat, politik dan kehidupan sehari-hari ketika alogaritma non kesadaran tetapi sangat pintar mengenal kita lebih baik dibanding kita sendiri?

Sekali lagi kita boleh setuju atau tidak setuju dengan tulisan Harari di atas.  Mari kita juga merenung berdasar keyakinan kita dengan bertanya kepada diri sendiri, dari mana kita berasal dan kemana akhirnya kita akan pergi.