Rabu, 01 April 2026

OTOMASI DAN AI MENGANCAM PEKERJA KITA

 Pada tahun 2020, World Economic Forum (WEF) menerbitkan hasil kajiannya dan diberi judul “The Future Jobs Report”, di dalamnya dicantumkan jenis pekerjaan yang kebutuhannya menurun, misalnya data entry clerk, accounting, construction labor dsb.  (Gambar bawah – daftar sebelah kanan).  Jika dicermati, yang kebutuhan tenaga kerjanya menurun merupakan pekerjaan yang sifatnya mengulang, karena akan digantikan oleh mesin yang bekerja secara otomatis. Berikut ini barangkali contoh sederhana.

Beberapa bulan lalu, seorang kawan yang memiliki perusahaan kosmetik.  Lebih tepatnya perusahaan itu adalah pabrik yang dipercaya perusahaan asing  untuk memproduksi kosmentik dengan standar dan bahannya sudah ditentukan. Demikian juga penjualannya. Jadi pabrik teman itu hanya bertugas memproses bahan baku menjadi produk yang siap dipasarkan.

Karena persaingan ketat, maka efisiensi menjadi salah satu upaya yang terus menerus diupayakan. Untuk itu, pabrik tersebut membeli “filling machine” yang fungsinya memasukan cairan kosmetik ke dalam botol. Dan ternyata sangat efisien. Harga mesin tersebut setara dengan gaji satu setengah tahun karyawan yang selama ini menanganinya. Artinya setelah satu setengah tahun, seakan ada penghematan setara dengan gaji karyawan.  Bisa dibayangkan betapa senangnya teman tersebut.

Di Sidoarjo ada sebuah SMK Swasta yang nekat membeli mesin CNC canggih dengan harga cukup bahal, karena dipercaya oleh sebuah pabrik besar untuk membuat beberapa spare parts mesin. Saya bertanya bagaimana perbandingan membuat pesanan tersebut dengan mesin bubut dengan mesin CNC, termasuk perhitungan secara ekonomi?  Kepala SMK tersebut mengatakan jauh. Diperkirakan secara ekonomi dengan CNC pekerjaan menjadi 4 kali lebih efisien, lebih presisi dan lebih cepat.

WEF juga mencantumkan jenis pekerjaan akan banyak diperlukan, misalnya data analysts and scientists, information security analysts, robotics engineers, risk management specialists dsb.  Sepertinya pekerjaan yang sifatnya memerlukan analisis dan kreativitas.  Mungkin seperti kata Jack Ma (pemilik Ali Baba), anak muda harus belajar sesuatu yang tidak dapat dikerjakan oleh mesin. Dan tampaknya penelitian WEF dan nasehat Jack Ma itu ibarat tuah, karena lembaga pendidikan, termasuk kursus, kemudian menggeser programnya ke arah itu.


Nah, sekarang terbit hasil penelitian Universitas Tuft menyebutkan AI akan mengambil oper 10 jenis pekerjaan yang selama ini dianggap aman oleh MEF.  Menurut penelitian Universitas Tuft, jenis pekerjaan  yang akan digantikan oleh AI, yaitu:  (1) web and digital interface designer, (2) web developer, (3) database architects, (4) computer programmers, (5) data scientists, (6) financial risk specialists, (7) reporter lapangan dan juru tulis dadakan, (8) information security analysists, (9) database administrators, dan (10) medical record specialists. 

Jujur, saya menjadi bingung, karena jenis pekerjaan yang akan digantikan oleh AI banyak yang sebelumnya oleh WEF disebut sebagai pekerjaan yang menjanjikan, karena memerlukan banyan tenaga kerja. Pekerjaan yang memerlukan analisis dan juga kreativitas.  Seakan-akan hasil penelitian Universitas Tuft tersebut menegasikan hasil kajian WEF.

Penelitian Universitas Tuft juga menyebutkan 10 jenis pekerjaan yang tidak tergantikan oleh AI adalah: (1) pekerjaan pemasangan baut atap, pertambangan, (2) operator mesin penggalian dan pemuatan  serta dragline, pertambangan permukaan,  (3) petugas perawatan, (4) pengatur, operator dan pengawas mesin pelapis, pengecatan, dan penyemprotan, (5) pelapis dan fabricator fiberglass, (6) asisten bedah, (7) operator mesin pemuatan dan pemnindahan, pertambangan bawah tanah, (8) pembentuk, pencetak dan pengecor logam dan plastic, (9) terapi pijat, dan (10) tukas jagal dan pengemas daging.  Pertanyaannya bukankan beberapa jenis pekerjaan tersebut menurut WEF akan digantikan oleh yang bekerja secara otomatis?  Memang AI tidak akan menggantikan pekerjaan tersebut, karena sifatnya lebih pada manual dan berulang yang menurut WEF akan digantikan oleh mesin.  Jadi mana yang benar?

Tampaknya perlu ada studi yang serius untuk menganalisis adanya dua penelitian yang hasilnya justru bertolak belakang.  Mungkinkan itu terjadi karena metoda penelitiannya berbeda?  Atau lokus penelitiannya berbeda, sehingga hasilnya berbeda?  Atau karena perkembangan teknologi membuat situasi dunia kerja berubah?  Semoga ada penelitian yang dapat mengkalirifikasi perbedaan tersebut.