Pada tahun 2020, World Economic Forum (WEF) menerbitkan hasil kajiannya dan diberi judul “The Future Jobs Report”, di dalamnya dicantumkan jenis pekerjaan yang kebutuhannya menurun, misalnya data entry clerk, accounting, construction labor dsb. (Gambar bawah – daftar sebelah kanan). Jika dicermati, yang kebutuhan tenaga kerjanya menurun merupakan pekerjaan yang sifatnya mengulang, karena akan digantikan oleh mesin yang bekerja secara otomatis. Berikut ini barangkali contoh sederhana.
Beberapa bulan lalu, seorang kawan yang memiliki perusahaan kosmetik. Lebih tepatnya perusahaan itu adalah pabrik yang dipercaya perusahaan asing untuk memproduksi kosmentik dengan standar dan bahannya sudah ditentukan. Demikian juga penjualannya. Jadi pabrik teman itu hanya bertugas memproses bahan baku menjadi produk yang siap dipasarkan.Karena persaingan ketat, maka
efisiensi menjadi salah satu upaya yang terus menerus diupayakan. Untuk itu,
pabrik tersebut membeli “filling machine” yang fungsinya memasukan
cairan kosmetik ke dalam botol. Dan ternyata sangat efisien. Harga mesin
tersebut setara dengan gaji satu setengah tahun karyawan yang selama ini
menanganinya. Artinya setelah satu setengah tahun, seakan ada penghematan
setara dengan gaji karyawan. Bisa
dibayangkan betapa senangnya teman tersebut.
Di Sidoarjo ada sebuah SMK Swasta
yang nekat membeli mesin CNC canggih dengan harga cukup bahal, karena dipercaya
oleh sebuah pabrik besar untuk membuat beberapa spare parts mesin. Saya
bertanya bagaimana perbandingan membuat pesanan tersebut dengan mesin bubut
dengan mesin CNC, termasuk perhitungan secara ekonomi? Kepala SMK tersebut mengatakan jauh.
Diperkirakan secara ekonomi dengan CNC pekerjaan menjadi 4 kali lebih efisien,
lebih presisi dan lebih cepat.
WEF juga mencantumkan jenis
pekerjaan akan banyak diperlukan, misalnya data analysts and scientists,
information security analysts, robotics engineers, risk management specialists
dsb. Sepertinya pekerjaan yang
sifatnya memerlukan analisis dan kreativitas.
Mungkin seperti kata Jack Ma (pemilik Ali Baba), anak muda harus belajar
sesuatu yang tidak dapat dikerjakan oleh mesin. Dan tampaknya penelitian WEF
dan nasehat Jack Ma itu ibarat tuah, karena lembaga pendidikan, termasuk kursus,
kemudian menggeser programnya ke arah itu.
Nah, sekarang terbit hasil penelitian Universitas Tuft menyebutkan AI akan mengambil oper 10 jenis pekerjaan yang selama ini dianggap aman oleh MEF. Menurut penelitian Universitas Tuft, jenis pekerjaan yang akan digantikan oleh AI, yaitu: (1) web and digital interface designer, (2) web developer, (3) database architects, (4) computer programmers, (5) data scientists, (6) financial risk specialists, (7) reporter lapangan dan juru tulis dadakan, (8) information security analysists, (9) database administrators, dan (10) medical record specialists.
Jujur, saya menjadi bingung,
karena jenis pekerjaan yang akan digantikan oleh AI banyak yang sebelumnya oleh
WEF disebut sebagai pekerjaan yang menjanjikan, karena memerlukan banyan tenaga
kerja. Pekerjaan yang memerlukan analisis dan juga kreativitas. Seakan-akan hasil penelitian Universitas Tuft
tersebut menegasikan hasil kajian WEF.
Penelitian Universitas Tuft juga
menyebutkan 10 jenis pekerjaan yang tidak tergantikan oleh AI adalah: (1) pekerjaan
pemasangan baut atap, pertambangan, (2) operator mesin penggalian dan
pemuatan serta dragline, pertambangan
permukaan, (3) petugas perawatan, (4)
pengatur, operator dan pengawas mesin pelapis, pengecatan, dan penyemprotan,
(5) pelapis dan fabricator fiberglass, (6) asisten bedah, (7) operator mesin
pemuatan dan pemnindahan, pertambangan bawah tanah, (8) pembentuk, pencetak dan
pengecor logam dan plastic, (9) terapi pijat, dan (10) tukas jagal dan pengemas
daging. Pertanyaannya bukankan beberapa
jenis pekerjaan tersebut menurut WEF akan digantikan oleh yang bekerja secara
otomatis? Memang AI tidak akan
menggantikan pekerjaan tersebut, karena sifatnya lebih pada manual dan berulang
yang menurut WEF akan digantikan oleh mesin.
Jadi mana yang benar?
Tampaknya perlu ada studi yang
serius untuk menganalisis adanya dua penelitian yang hasilnya justru bertolak
belakang. Mungkinkan itu terjadi karena
metoda penelitiannya berbeda? Atau lokus
penelitiannya berbeda, sehingga hasilnya berbeda? Atau karena perkembangan teknologi membuat
situasi dunia kerja berubah? Semoga ada
penelitian yang dapat mengkalirifikasi perbedaan tersebut.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar