Rabu, 04 Desember 2013

MENULIS ITU MENATA NALAR

Beberapa hari yang lalu, sambil menyopir saya mendengarkan radio Suara Surabaya.  Waktu itu ada ungkapan “menulis itu dapat menjadi media pengungkapan pikiran  yang mungkin tidak mudah diungkapan melalui lesan”.    Saya setuju dengan ungkapan itu, karena saya juga sering melakukan.  Biasanya saya masukkan di blog.  Hal-hal yang kita sungkan menyampaikan secara lesan dapat dengan nyaman kita tuangkan dalam tulisan.  Tentu tetap menunjung tinggi etika penulisan.

Saya juga ingin menambahkan pemikiran yang ditulis memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dibanding yang disampaikan secara lesan.  Mengapa?  Karena tulisan dapat dibaca banyak orang.  Di era cyber, sekali tulisan masuk ke dunia maya, pembacanya menjadi tak terbatas.  Apalagi sekarang beberapa mesin pencari (searching engine), seperti Google menyediakan fasilitas terjemahan, sehingga naskah yang ditulis dalam bahasa Indonesia dapat dengan mudah diperoleh terjemahannya dalam bahasa Inggris atau bahasa lain.

Oleh karena itu saya mendukung gagasan untuk mengembangkan budaya literasi.  Harus jujur diakui bahwa membaca dan menulis belum menjadi kebiasaan keseharian orang Indonesia.  Konon budaya kita adalah budaya tutur.  Pada saat naik kereta, menunggu kereta, dan menunggu antrean, biasanya kita ngobrol dengan sebelah.  Bahkan banyak orang yang memberi ceramah, tetapi tanpa menggunakan naskah.  Sudah saatnya budaya tutur dilengkapi dengan budaya baca dan tulis.  Dan pendidikan literasi merupakan wahana cocok untuk mengembangkannya.

Budaya tulis dan baca tampaknya juga memegang peran dalam penyebaran gagasan.  Mengapa pemikiran orang Barat banyak mempengaruhi kita, salah satunya karena pemikiran mereka ditulis.  Sementara pemikiran kita banyak yang tersimpan menjadi cerita lesanyang ditularkan secara turun temurun.  Sebagai contoh, taksonomi Bloom yang banyak dikutip oleh ahli pendidikan di Indonesia ditulis pada tahun 1956.  Konsep itu sama tepat dengan yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara pada Konggres Taman Siswa Pertama  pada tahun 1930.  Jadi 26 tahun lebih dahulu dibanding tulisan Bloom.   Jangan-jangan Bloom “meniru” Ki Hajar Dewantara.  Atau mungkin karena, pemikiran Ki Hajar tidak ditulis dan disebarluaskan, seakan-akan konsep Bloom lebih diketahui oleh pendidik di Indonesia.

Sekian tahun lalu saya mendapat tugas untuk membaca naskah beberapa teman dosen di Unesa.   Karena sifatnya rahasia, maka halaman yang berisi nama penulis dihilangkan.   Saya berkelakar, walaupun tanpa nama saya dapat mengenali tulisan siapa yang saya baca.  Beberapa teman juga menyampaikan hal serupa.  Artinya, kita dapat mengenali tulisan seseorang yang sering kit abaca tulisannya. 

Saya ingat betul, ada senior di Unesa yang tulisannya sangat runtut.  Kalimatnya pendek-pendek dan sangat cermat menggunakan titik-koma.  Ada senior lain yang kalau membuat naskah, kalimatnya panjang-panjang.  Kadang-kadang satu kalimat terdiri dari 10 baris ketikan.  Ada teman yang tulisannya sangat mudah dimengerti.  Ada juga teman yang tulisannya sangat sulit difahami.  Tampaknya setiap orang memiliki pola tulisan yang khas.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tulisan menggambarkan pola pikir penulisnya.   Pengalaman saya membimbing mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis dan disertasi mendukung pendapat tersebut.  Biasanya mahasiswa yang nalarnya tertata, tulisannya juga runtut.  Sementara mahasiswa yang masih rancu nalarnya, tulisannya juga sudah difahami.  Mahasiswa jenis kedua ini memerlukan waktu untuk menata nalar dan latihan menulis yang runtut tampaknya membantu yang bersangkutan menata nalar berpikirnya.


Itulah alasan kedua saya mendukung ide pendidikan literasi.  Dengan belajar menulis diharapkan kita dapat mengasah nalar agar menjadi lebih runtut dan logis.  Dengan belajar menulis kita menghidupkan budaya baca-tulis.  Dengan belajar menukis kita dapat menuangkan gagasan yang dapat dibaca banyak orang.  Semoga.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Terima kasih prof dengan membaca artikel ini saya termotivasi untuk belajar menulis