Minggu, 02 Februari 2014

GENERIC SKILLS SEBAGAI RUH, SPECIFIC SKILLS SEBAGAI WADAG

Sudah beberapa kali saya gagal untuk ke Pondok Pesantren Al Fitrah di Kendiding Lor Surabaya.  Gagal karena waktunya tidak cocok.  Saya ingin pas  ke Al Fitrah ada Pak Wawan Setiawan, kawan lama yang sekarang menjadi salah satu pembinanya.   Karena saya belum pernah ke Al Fitrah, jika ada Pak Wawan maka saya tidak kikuk bagaimana menyesusikan diri.

Saya tahu Ponpes Al Fitrah adalah ponpes salafiah besar yang didirikan oleh almarhum Kyai Asrori.  Salah seorang tokoh Tariqoh di Indonesia.   Saya menjadi lebih tertarik ke Al Fitrah, setelah mendapat cerita Mas Pratama, mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan Unesa.  Akhirnya saya dapat datang ke Al Fitrah pada Jum’at tanggal 31 Januari 2014, bertepatan dengan Tahun Baru Imlek
 
Di Al Fitrah saya diminta menyampaikan pemikiran tentang Tantangan Pondok Pesantren Menghadapi Era Bonus Demografi 2020-2030.  Saya agak terkejutm tetapi bangga.  Pondok salafiah tetapi peduli dengan tantangan era tekonolgi.  Sebelum mulai saya minta ijin untuk mengganti kata “Tantangan” menjadi “Peluang” dalam topik tersebut.  Mengapa?   Karena menurut saya pondok pesantren memiliki peluang tinggi di era bonus demografi.

Forum diskusi tersebut hanya  diikuti oleh sekitar 30 orang dan semuanya dari pengurus dan pengajar pondok.  Jadi forum kecil, sehingga diskusi menjadi gayeng.  Apalagi semua peserta adalah”orang” pondok yang tentu secara psikologis ingin mengembangkan pondoknya.  Hanya saja waktunya sangat pendek, sekitar 1,5 jam, karena sebelum acara dimulai ada sholat jenasah di masjid pondok.

Salah satu pokok bahasan yang saya sampaikan adalah hasil survai Bank Dunia Tahun 2010 yang dikutip oleh  Wapres Boediono saat pidato di Australia.  Isinya sebagai berikut: “the skills of Indonesian secondary school leavers do not match the expectations of employers, due to their inadequate generic skills”.  Sebenarnya temuan survai Bank Dunia itu, jauh-jauh hari sudah disinyalir oleh banyak pakar.  Tony Wagner (2008) dalam bukunya yang berjudul The Global Achivement Gap sudah menjelaskannya panjang lebar.  Trilling dan Fadel juga menjelaskan hal serupa dalam bukungan the 21st Century Skills.

Mengapa saya mengajukan hasil survai Bank Dunia tersebut sebagai salah satu bahasan utama?  Karena saya yakin itulah trend ke depan.   Ketika kemajuan ilmu dan teknologi semakin pesat, pola kerja dan keterampilan kerja akan sangat cepat berubah.  Globalisasi telah masuk ke semua belahan bumi, sehingga orang bekerja bersama-sama bangsa lain. Dengan situasi seperti itu, setiap orang harus mampu bekerjasama dalam tim, memiliki integritas tinggi, harus mampu berpikir logis dan kritis, harus mampu memecahkan masalah, harus memiliki kelincahan dan sekaligus adaptasi dengan situasi dan sebagainya.  

Beberapa tahun lalu, saya dengan beberapa teman penah diminta JICA untuk untuk melakukan studi pelacakan (tracer study), terhadap lulusan politeknik.  Setelah mendatangi banyak perusahaan yang memperkerjakan lulusan Politeknik, kami menemukan hal yang sangat menarik.  Untuk aspek keterampilan (specific skills), hampir tidak akan komplain.  Yang dianggap kurang adalah kebiasaan mencatat pekerjaan, kemampuan komunikasi dan bekerjasama, dan kemampuan memimpin tim.  Bukankah ini juga sejalan dengan temuan Bank Dunia?

Menutut saya kekuatan pondok pesantren justru terletak mengembangkan generic skills.  Pondok pesantren salafiah seperti Al Fitrah tentu tidak memberikan bekal specific  skills, misalnya kompetensi khusus sebagai pengacara, sebagai insinyur, sebagai dokter dan sebagainya.  Kalau toh ada mungkin sebagai da’i.  Namun yang jelas, selama menyantri para santri akan digembleng generic skills-nya.   Selama di pondok, santri akan mendapat gemblengan dan pembiasaan tentang berkomunikasi, bekerja sama, berintegritas, berpikir logis dan kritis dan sebagainya.

Sejauh pengetahuan saya, hampir tidak ada alumni (boleh disebut lulusan?) pondok pesantren yang melamar pekerjaan.  Mungkin karena mereka tidak memiliki ijasah dan memang pada umumnya orang mondok (belajar di pondok) tidak mengharapkan mendapat ijasah.  Dengan bekal kemampuan yang diterima selama mondok (dan juga dari sumber lainnya), kemudian pada alumni bekerja sesuai dengan minatnya.

Oleh karena itu pada umumnya alumni pondok pesantren memiliki jiwa kemandirian yang kuat. Rasa percaya diri dan keyakinan akan bimbingan Sang Pencipta menjadi bekal utama dalam bekerja dan mengarungi kehidupan.  Mereka yakin, dengan mengamalkan prinsip-prinsip Islam dan kehidupan, maka Sang Pencipta akan membimbing langkah menuju sukses.  Sering kita dengar ungkapan sederhana, “bekerja apa saja asalkan halal dan dikerjakan dengan baik hasilnya akan barokah”.  “Semua ini bumi Allah, sehingga kita dapat bekerja dimana saja”.

Memang banyak alumni pondok pesantren yang kemudian menjadi pegawai atau karyawan. Namun pada umumnya itu terjadi pondok pesantren yang sudah memiliki lembaga pendidikan formal, seperti MI, MTs, MA dan sebagainya.  Jadi bukan lagi pondok salafiah seperti Al Fitrah.  Atau orang yang disamping mondok juga menempuh pendidikan formal.

Dalam sesi tanya jawab, semua peserta yang meberikan respons setuju dengan pemikiran yang saya ajukan.  Pertanyaannya bagaimana menumbuhkan generic skills itu secara baik.  Bagaimana cara menggabungkan antara generic skills dan specific skills.  Di satu sisi ada keinginan pengasuh pondok untuk juga memberikan specific skills yang cocok dengan dunia kerja (marketable skills) agar lulusannya mudah mendapatkan kerja atau memulai usaha.  Namun di sisi lain, pengasuh juga setuju pentingnya generic skills.

Saya tidak memiliki pengalaman mondok, sehingga saya tidak berani memberikan solusi yang pasti.  Yang saya ajukan adalah analogi dari apa yang saya ketahui dan apa yang pernah saya lakukan.  Memang tidak perlu ada pelajaran atau pokok bahasan kerja keras, kerja sama, kreativitas dan sebagainya. Namun ketika kuliah mahasiswa harus didorong kerja keras, memecahkan masalah secara kreatif dan diberi pengalaman untuk kerjasama.  Misalnya mengerjakan tugas bersama-sama.  Misalnya dalam setiap saat kepada mahasiswa diberi tugas yang “memaksa” dia bekerja keras.  Jika semua dosen melakukan itu, maka kerja keras dan bekerja sama akan menjadi kebiasaan sehari-hari.  Dan jika pada saatnya dijelaskan bahwa kerja keras dan bekerjasama itu penting, maka itu akan menjadi proses pembudayaan.

Trilling dan Fadel dalam buku The 21st Century Skills menceritakan dialog antara delegasi China dengan Direktur Napa New Tech Hogh School, sebuah sekolah inovatif di Northern California.  Delegasi China bertanya bagaimana atau pada kurikulum bagian mana, sekolah itu mengajarkan kreativitas dan inovasi.  Jawaban yang didapat kurang lebih: “It is not in our curriculum guide”. “It is more in the air we breathe or maybe the water we drink, the history of our country-Thomas Edison, Henry Ford, Benjamin Franklin, it is I our business culture, our entrepreneurs, our willingness to try new ideas, the tinkering and inventing in our garages, the challenge of tackling tough problems and the excitement of creating something new, in being rewarded for our new ideas, taking risks, failing and trying again”.

Saya menggunakan istilah budaya sekolah.  Jadi generic skills pada siswa atau santri diharapkan tumbuh karena sehari-hari mereka hidup dalam komunitas yang jujur, kerja keras, berpikir kritis, memecahkan masalah secara arif dan kreatif dan sebagainya.  Jadi generic skills itu sebagai ruh kehidupan.  Apapaun kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan itulah yang menjadi ruh dan nilai-nilai yang mengilhaminya.  Generic skills sebagai ruh sedangkan pekerjaan real (penerapan specific skills) sebagai wadahnya.  Semoga. 

2 komentar:

Maharti Rn mengatakan...

ijin share pak, supaya teman-teman juga membaca untuk efek manfaat isi tulisan ini, terima kasih
semoga bisa mendampingi generasi bangsa untuk indonesia lebih baik.

rikamumtaz mengatakan...

izin share pak