Jumat, 05 Desember 2014

PELAJARAN DARI ITB BREMEN UNIVERSITAT



Tanggal 24 Nopember 2014 kami, rombongan Unesa ke ITB - Institut Technik und Bildung Universitat Bremen (Institute Technology and Education - Bremen University).  Sebenarnya saya sudah pernah ke ITB beberapa tahun lalu, kalau tidak salah tahun 2008 atau 2009.  Waktu itu saya datang ke ITB Bremen University sebagai Direktur Ketenagaan Ditjen Dikti dan menyampaikan presentasi tentang program-program Dikti.

Waktu itu saya praktis tidak memiliki waktu cukup, baik untuk persiapan maupun melihat-lihat di kota Bremen.  Saya diberitahu kalau harus ke Bremen pagi hari dan sorenya sudah harus berangkat.  Dengan menumpang pesawat SQ saya tiba di bandara Frankfrut pagi-pagi.  Setelah ganti baju dan mengenakan jas saya mencari minuman hangat dan mengerjar pesawat lokal (seingat saya Lutfansa) untuk terbang ke Bremen.  Saya ingat betul membeli minuman hangat (kalau tidak salah capucino atau sejenis itu) dan harganya “selangit”.  Minum capucino dan jalan cepat menuju gerbang keberangkatan sambil menggerutu. 

Sampai di bandara Bremen cepat-cepat mencari taksi dan langsung ke ITB.  Sampai di ITB, acara sudah mulai sehingga saya termasuk terlambat datang.   Untunglah giliran presentasi saya siang, sehingga tidak mengganggu jadwal secara keseluruhan.  Acara workshop selama dua hari, sehingga saya menginap satu malam di hotel IBIS di dekat kampus.  Pada hari kedua, pagi-pagi saya sudah check out dari hotel dan selesai workshop saya langsung ke bandara untuk pulang ke Indonesia.  Jadi praktis saya tidak punya waktu untuk melihat-lihat kampus maupun kota Bremen. 

Yang saya ingat, selama workshop tidak disediakan makan siang.  Jadi ketika waktu makan, semua peserta pergi ke kantin (seingat saya namanya Menzana) untuk antre membeli makang siang bersama-sama dengan dosen dan mahasiswa.  Saya mengambil kentang dan ayam yang porsinya besar sekali, sehingga saya hanya mampu menghabiskan separuhnya.

Sekarang saya ke ITB Bremen Univesity bersama rombongan Unesa dengan acara agak longgar.  Acara pokoknya hanya penandatangan MoU antara Dekan FT Unesa dengan Direktur ITB Bremen University, dilanjutkan dengan diskusi penjajagan item-item yang dikerjasamakan.  Dalam diskusi itulah kami mendapatkan pelajaran yang sangat menarik.  Memang kondisinya berbeda, sehinga tidak begitu saja dapat ditiru.  Namun sangat menarik untuk menjadi bahan banding.

Kami datang di gedung ITB pukul 08.45an, sedangkan menurut jadwal acara akan dimulai pukul 09.00.  Jadi kami tidak terlambat dan juga tidak terlalu awal datang.  Sebagaimana difahami, orang Jerman biasa tepat waktu.  Kalau kita terlambat (seperti pengalaman saya pada tahun 2009) dianggap tidak baik.  Tetapi kalau datang terlalu awal juga dianggap aneh, apakah kita tidak punya kegiatan lain atau tidak dapat mengatur waktu jadwal kegiatan  yang lebih efisien.

Ketika berhenti menunggu tema-teman yang naik taksi berbeda, tiba-tiba muncul Prof. Georg Spottl, mantan direktur ITB.  Saya sudah lama mengenal beliau dan menjelang berangkat ke Jerman, saya juga mengirim email untuk “say hello”, sekaligus mengatakan kalau saya ingin mendiskusikan sesuatu.  Beliau merespons baik dan mengatakan akan senang kalau nanti dapat berdiskusi.  Oleh karena itu, saya senang sekali bertemu pagi itu.  Paling tidak beliau berada di tempat sehingga dapat berdiskusi.  Setelah saling menyapa seperti kebiasaan orang barat, dia mengatakan nati acaranya di latai 3 seperti biasanya.  Mungkin dia mengira saya masih ingat ruang yang dulu untuk diskusi.  Pada hal jujur, saya sudah lupa.

Setelah rombongan lengkap, Mas Bowo dosen muda Unesa yang sedang pelatihan di ITB, memandu kami naik ke lantai dua dan masuk ke ruangan yang mirip ruang kuliah.  Tepat pukul 09.00 Prof Michael Gessler, direktur ITB yang menggantikan Prof Georg Spottl muncul dan beberapa saat diikuti oleh Prof Spottl.  Setelah mengucapkan “good morning” dan “welcome to ITB”, dia mengatakan tempat pertemuan di lantai 3. “Please follow me” dan kami mengikuti beliau berdua menuju ruang diskusi di lantai 3.

Selama diskusi ya hanya dua orang itu yang menemui kami.  Sepertinya tidak ada panitia atau apapun.  Di luar ruangan disiapkan minuman dengan self service seperti biasanya di negara barat.   Di ruangan juga tidak ada tulisan apapun.  Prof Spottl menenteng laptop, sedangkan Prof Gessler tidak membawa apa-apa.  Kalau LCD memang sudah siap, karena itu bagian perlengkapan ruangan yang memang terpasang secara permanen disitu

Walaupun acara pokoknya penandatangan MoU, seperti tidak ada persiapan apa-apa.  Tanpa mike, tanpa tulisan apapun di ruangan.  Acara dimulai oleh Prof Gessler dengan menjelaskan apa itu ITB, kapan didirikan, apa misi khususnya, apa prestasi yang dicapai dan berapa orang staf pendukungnya.  ITB sebenarnya merupakan lembaga penelitian di bidang TVET (Teachnical and Vocational Education and Training), tetapi juga memiliki mahasiswa S1, S2 dan S3 untuk bidang Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (TVET).

Ada enam bidang kajian di ITB, yaitu (1) technology and skill dependecy, (2) work organizaion and curiculum development, (3) pedagogogic, teaching and learning, (4) transistion from school to work, (5) vocation and skill formation, dan (6) industrial culture and innovation.  Di luar bidang itu, ITB melaksanakan pendidikan guru TVET, baik untuk pra jabatan maupun dalam jabatan.  Juga melaksanakan pendidikan jenjang bachelor, master maupun doktor.

Ada berberapa yang menarik untuk jadi bahan pelajaran di ITB Bremen University. Pertama, semua serba sederhana, terawat dan efisien.  Acara sangat sederhana, ruangan sederhana, peralatan sederhana tetapi terawat baik. Menerima rombongan dari Indonesia sebanyak 12 orang dengan acara penandatangan MoU, tetapi tanpa panitia, tanpa acara formal.  Namu semua terlaksana dengan rapi.  Tanpa basa-basi, tanpa protokol, tanpa spanduk, tanpa pengeras suara dan yang terlibat hanya 2 orang.

Kedua, staf ITB berasal dari berbagai fakultas dan hanya yang tertarik dalam bidang TVET saja.  Sebagai contoh  Prof Gessler berasal dari Faculty of Education dan mendalami teaching-learning untuk TVET.  Prof Spottl berasal dari Faculty of Mechanical Engineering yang banyak mendalamani  kompetensi lulusan TVET.  Dan sebagainya.  Jadi, yang menjadi pertimbangan utama perekrutan atau lebih tepatnya tawaran untuk bergabung adalah apakah punya minat melakukan penelitian/pengembangan dalam bidang TVET.  Oleh karena itu sajar, kalau fokus kegiatan staf di ITB adalah penelitian.

Ketiga, walaupun menyelenggaran pendidikan S1, S2 dan S3 tetapi sebagian besar matakuliah “dititipkan” di fakultas yang relevan.  Hanya “matakuliah khusus” yang tidak ada di fakultas lain, dilaksanakan di ITB.  Misalnya matakuliah yang terkait bidang teknologi murni dititipkan di fakultas teknologi yang relavan.  Matakuliah bidang pendidikan yang bersifat umum dititipkan di fakultas pendidikan.  Namun isi matakuliah tersebut sudah dirancang sesuai dengan kebutuhan calon guru TVET.

Ke empat, sesuai dengan pola dual education mahasiswa calon guru TVET banyak melakukan kegiatan belajar di industri atau traning center.  Kesepahaman dalam pembagian tugas membimbing mahasiswa ketika melakukan kegiatan di industri dan training center, sepertinya tebangun bagus.  Pihak industri dan training center terlibat aktif dan bertanggung jawab penuh terhadap kualitas proses belajar selama di tempatnya.

Kelima, walaupun statusnya sebagai perguruan tinggi negeri (state university), namun lebih dari separuh anggaran ITB diperoleh dari luar atau bukan dari pemerintah.  ITB banyak mendapatkan dana dari program riset, pengembangan dan berbagai kegiatan lainnya.   Mahasiswa ITB memang tidak banyak.  Mahasiswa baru jenjang S1 maksimal 40 orang dan mahasiswa S2 maksimal 20 orang per tahun.  Sedangkan mahasiswa S3 tidak menentu, karena ITB menerapkan research based model untuk jenjang S3 sehingga tidak ada perkuliahan.  Oleh karena itu mungkin biaya operasional perkuliahan tidak banyak.  Apalagi banyak matakuliah yang dititipkan di fakultas lain.

Ke enam, dan paling menarik, ITB itu setengah perguruan tinggi setengah industri.  Banyak kegiatan di ITB yang sangat mirip dengan industri.  Dan bahkan di sayap gedung sebelah dari gedung ITB diisi oleh staf yang bekerja dalam aktivitas bisnis.  Tentu bisnis yang terkait dengan bidang peelitian dan pengembangan TVET dan teknologi.

Sudah waktunya PTN di Indonesia, seperti Unesa mempertimbangkan pola kerja di ITB Bremen agar lebih efisien, lebih mendekatkan dengan “pengguna lulusan” dan juga menyongsing era keterbukaan.  Pola kerja yang kental dengan birokrasi yang selama ini berlangsung di PTN tampaknya sudah tidak cocok dengan tantangan era keterbukaan.  Semoga.       

Tidak ada komentar: