Sabtu, 14 Maret 2020

MEMBANGUN RUMAH DI LAHAN YANG ADA BANGUNGANNYA

Awal Maret ini ada kecelakaan di Rungkut Surabaya.  Bukan kecelakaan lalu lintas, melainkan kecelakaan saat membangun masjid.  Ketika dilakukan pemasangan tiang pancang untuk membangun suatu masjid, ternyata tiang pancang tersebut mengena pipa air besar (pimer) sehingga bocor.  Akibatnya sekitar 17.000 pelanggan PDAM Surabaya terkena dampaknya, karena tidak mendapatkan aliran air.  PDAM Surabaya sigap, malam itu pula dikerahkan pasukan untuk mengatasinya.  Ternyata tidak mudah, karena pipa air primer tersebut berukuran besar dan tertanam cukup dalam.  Dikerahkan alat-alat berat untuk mempercepat pekerjaan.  Walikota Surabaya Tri Rismaharini menyempatkan untuk datang langsung ke lokasi.

Bagaimana itu bisa terjadi?  Ternyata pihak yang membangun masjid tidak tahu kalau di lahan tersebut tertanam pipa air pimer PDAM.  Kok bisa?  Karena lokasi tersebut merupakan kompleks perumahan baru, dan warga yang membangun masjid umumnya para pendatang.  Apalagi pipa tersebut dipasang pada tahun 1990an atau sekitar 30 tahun yang lalu.  Jadi masuk akal jika mereka tidak tahu kalau ada pipa PDAM disitu.  Apa tidak mencari informasi ketika membuat desain masjid?  Mungkin itu kekhlifanan mereka.  Namun juga dapat difahami, karena masjid dibangun swadaya masyarakat sekitar.  Jadi tidak menggunakan SOP sebagaimana konsultan dan kontraktor besar.  Kalau rancangan masjid dibuat oleh konsultas professional, pasti mereka akan mencari data lahan tempat masjid akan dibangun.  Jika pelaksananya kontraktor pofesional pastilah akan mencari tahu apa saja bangunan atau jaringan pipa, kabel yang sebagainya yang ada di lahan tersebut.

Apa pelajaran yang dapat dipetik oleh kejadian tersebut?  Tampaknya, setiap orang yang mendirikan suatu bangunan perlu mencari informasi tetang hal-hal yang terkait dengan lahan tempat bagunan itu akan didirikan.  Adakah aturan zoning, garis sepadan, ketinggian bangunan, adakah pipa air, pipa gas, kabel listri, kabel telepon yang melalui lahan tersebut dan sebagainya.  Berdasar informasi yang lengkap dapat dihindari adanya bangunan yang melanggar aturan dan terutama kecelakaan seperti yang terjadi di Rungkut Surabaya itu.

Kehatian-hatian lebih diperlukan lagi jika di lahan calon bangunan itu sudah ada bangunannya.  Apalagi jika di bangunan lama itu ada penghuninya.  Lebih-lebih lagi jika bangunan baru itu nanti berhimpitan atau merupakan penyempurnaan bangunan lama.  Apalagi jika bangunan lama digunakan untuk aktivitas yang tidak boleh berhenti.  Mungkin itulah salah satu bidang yang dipelajari dalam bidang manajemen konstruksi. Bagaimana agar pembangunan Gedung baru dapat berjalan dengan lancer, tetapi aktivitas kerja di bangunan lama tetap dapat berjalan.  Mungkin manajemen konstruksi yang mengatur pembangunan Masjidil Haram mungkin bisa dijadikan contoh.  Bagaimana mengatur tahapan pembangunan masjid, sementara masjid tetap berfungsi dan didatangi ribuan jamaah.

Apakah prinsip tersebut diatas hanya berlaku di pembangunan fisik atau juga berlaku di bidang social?  Bukankah teori masa kritis (critical mass) yang sekarang popular di bidang sosial itu diadopsi dari teori Fisika?  Merenungkan kejadian itu, saya jadi teringat nasehat teman senior kepada yuniornya yang baru saja terpilih menjadi rektor suatu perguruan tinggi negeri.  Begini kira-kira nasehatnya.  Sebagai rektor baru yang memiliki keinginan besar menggebrak agar universitasnya cepat maju, kamu memang bisa menggunakan filosofi the winner takes all.  Artinya kamu dapat mengganti semua staf inti dan mengganti semua kebijakan yang kamu rasa kurang pas.  Namun, kamu harus ingat konskwensinya.  Crew kamu yang baru belum tentu faham terhadap apa yang sudah dikerjakan selama ini, dimana dokumennya, apa yang sudah dicapai dan sebagainya.  Jika crew kamu itu “orang luar” artinya orang yang selama ini tidak terlibat dalam aktivitas kampus selama ini, bukan mustahil akan salah memahami dinamika kampus.  Juga kamu harus ingat, bukan mustahil ada demotivasi bagi orang-orang lama yang kami singkirkan.

Lantas bagaimana sebaiknya?  Begitu sang yunior bertanya. Ada dua pilihan, pertama kamu bisa mix, orang lama dengan orang baru.  Tentu orang lama dipilih yang kamu yakini dapat memahami ide-idemu.  Mereka digabungkan dengan “orang-orang baru” yang kamu pilih.  Pastikan kedua kelompok orang ini dapat berkomunikasi dengan baik, dapat bersinergi dan akhirnya menjadi tim baru yang handal.  Pilihan kedua, biarkan orang-orang lama bekerja dan bersamaan dengan itu dimasukkan “orang-orang baru” untuk belajar memahami kondisi universitas.  Sambil diamati orang-orang lama yang memiliki pandangan sama dengan kamu.  Setelah waktunya cukup, mulailah dilakukan restrukturisasi.

Rektor baru itu tampaknya memilih alternatif kedua.  Yang menarik ternyata banyak “orang lama” yang dipertahankan, dengan alasan ternyata mereka juga memiliki pandangan dan kemauan yang sama dengan yang diharapkan rektor baru.  Mereka juga senang dan sanggup melaksanakan gebrakan itu. Mencermati itu, saya jadi teringat metaphora “segerombolan kambing yang dipimpin oleh singa akan bisa mengaum, segerombolan singa yang dipimpin oleh kambing akan mengembik”. 

Tidak ada komentar: