Jumat, 26 November 2021

GO DIGITAL MARKET?

 Seperti biasanya di hari minggu saya menemani isteri belanja ke pasar.  Didahului jalan sehat menyusuri jalan kampung di sekitar pasar tersebut. Pasar krempyeng di dekat rumah merupakan tempat belanja bagi orang-orang yg tinggal di perumahan Tenggilis, tempat tinggal saya.  Pasar yang diinisiasi oleh RT setempat, kemudian menjadi ramai menjual kebutuhan masak-memasak yang cukup lengkap.  Bahkan belakangan mulai muncul kios yang menjual baju dan kebutuan rumah tangga lainnya.

Sesampai halaman pasar saya heran, kon tidak banyak mobil seperti biasanya.  Pak tukang parkir, yang merupakan teman sekolah saya dulu itu, juga tidak kelihatan.  Saya lebih heran setelah pasar kok tidak banyak orang yang belanja. Mungkin  hanya sekitar 20 orang. Pada hal baru sekitar jam 06.30an.  Biasanya jam-jam sekian yang berbelanja sangat banyak, sampai harus antre kalau ingin memberi barang tertentu.  Beberapa kios juga tutup. Ada apa ya?

Sambil jalan pulang, saya menanyakan fenomena itu kepada isteri.  Dia malah tercita kalau beberapa hari lalu, Mbak Ida-ART kami, mengeluh karena saat belanja hanya beberapa kios yang buka, lainnya kosong.  Akhirnya dia menilpun Pak Sabar, tukang welijo-tukang sayur yang berkeliling kampung, untuk belanja.  Ternyata Mbak Sri, salah satu penjual sayuran di pasar tersebut, juga mau melayani pesanan online.  Isteri saya biasa pesan ikan atau sayur via WA, kemudian barangnya diantar kerumah.

Siang hari saya dengan isteri ke toko buku Gramedia, mencari buku bacaan untuk cucu. Kami merencanakan mengunjungi anak yang tinggal di Bintaro dan punya dua anak kecil-kecil.  Sampai di basement tempat parkiran saya juga heran, karena hanya ada 2 mobil yang parkir. Pada hal baru jam 12.30a.  Lebih heran, mbak yang jaga di gerbang tampak berjalan ke dekat saya memarkir mobil, bahkan ikut membantu mengarahkan.  Mungkin karena tidak ada mobil masuk, dia bisa membantu mengatur parkir.


Ketika naik ke lantai 1 saya lebih heran, karena hanya kami berdua yang masuk.  Ketika naik ke lantai 2 tempat display buku, hanya ada tamu 2 orang selain kami berdua. Jadi saat itu hanya ada 4 orang tamu  pengunjung.  Lebih sedikit dari petugas toko yang rasanya ada sekitar 12 orang.  Pada hal dahulu kalau hari Minggu Gramedia selalu ramai pengunjung.  Apalagi jika tahun ajaran baru, banyak orangtua yang bersama anaknya berkunjung.  Mungkin membeli buku dan perlengkapan sekolah lainnya.  Konon juga banyak yang hanya membaca buku yang dianggap menarik, sambal “ngadem”, karena took ber-AC sementara di luar sangat panas.

Ketika pulang, dalam mobil, seperti biasa isteri mencermati struk pembelian.  Dia kaget ternyata Gramedia juga melayani pembelian buku secara online.  Bukan sekedar melalui Tokopedia, Bukalapak dan sejenisnya, Gramedia membuka layanan pembelian online secara mandiri.  Apakah Gramedia akan menuju seperti Amazon ya? 

Menerungkan fenomena itu dalam hati saya bertanya, apakah kita akan “GO ONLINE MARKET” ya?  Apakah kita sedang menuju pola jual beli online?  Apakah toko buku seperti Gramedia akan tutup dan beralih ke online?  Apakah pasar-pasar tradisional juga akan menghilang dan berganti menjadi online?  Bukankah toko kebutuhan sehari-hari, seperti Superindo, Alfamart, dan sejenisnya akhir-akhir ini bermunculan?  Apakah juga akan bermetamorfoma menjadi online? Apakah itu hanya karena pandemi atau akan tetap berjalan terus, walaupun pandemic corona-19 berakhir. Jika semua jual-beli “go online”, bagaimana nasik toko kelontong di kampung-kampung ya?  Jujur saya tidak tahu jawabnya.


Saya jadi teringat cerita anak saya yang tinggal di Edinburgh beberapa tahun lalu.  Saat itu saya mengunjungi dia dan terus diajak jalan-jalan termasuk ke toko buku. Dia cerita toko tersebut hampir saja tutup karena tidak mampu bersaing dengan toko buku online, seperti Amazon dsb. Pada toko buku tersebut sangat legendaris, lokasinya dekat kampus Edinburgh University, berlantai 3 dan banyak menjual buku-buku referensi, novel dan lainnya.   Akhirnya sejumlah warga kota Edinburgh sepakat “menyelamatkan” toko buku tersebut dengan tetap membeli buku di situ dan tidak secara online, walaupun harganya sedikit lebih mahal.  Dan Gerakan itu terbukti manjur.  Toko buku tersebut tetap buka dan lumayan banyak pengunjungnya.

Tidak ada komentar: