Kamis, 20 November 2014

APA INI TANDAN GLOBALISASI?



Tengah malam tanggal 18 Nopember 2014 saya transit di Dubai, untuk ke Jerman.   Sekitar pukul 00.30 waktu setempat saya sampai di Dubai setelah terbang sekitar 7 jam dari Jakarta. Sebenarnya sudah beberapa kali saya singgah di bandara Dubai, walaupun belum pernah keluar untuk melihat kotanya.  Kali ini saya singgah cukup lama, karena tiba sekitar pukul 00.30 tengah malam dan baru berangkat lagi ke Munich Jerman pukul 08.55. 

Karena waktu transit cukup lama, saya sempatkan melihat-lihat bandara Dubai.  Ketika pindah dari lokasi kedatangan kedatangan ke terminal A tempat kami akan terbang ke Munich, kami menggunakan kereta listrik otomatis tanpa pengemudi, terus dilanjutkan naik lift ukuran besar ke lantai 3.  Ketika naik kereta dan naik lift saya mencoba mengamati orang-orang di sekitar saya.  Rasanya tidak banyak yang “bewajah Timur Tengah”.  Wajah yang saya amati sangat beragam.  Saya menduga, sebagian besar malah wajah orang “bule” dan Asia. Ada beberapa yang saya duga orang Afrika. Dan banyak yang sepertinya yang mix blood alias campuran, hasil pernikahan orang tuanya yang berbeda ras.  Petugas yang mengarahkan pengunjung naik kereta api juga berwajah Asia, dengan bahasan Inggris yang lumayan bagus.

Begitu masuk hall terminal A, ada mobil sport warna abu-abu (saya sulit mengenal merknya) yang dipajang sebagai iklan.  Di dekat mobil itu tertulis kalimat “win the car”.  Ternyata itu hadiah undian bagi orang yang berbelanja di duty free bandara Dubai.  Penjaga yang ada di sebelahnya juga bukan berwajah Timur Tengah.  Dari wajahnya, saya menduga gadis tersebut mix blood, antara  Asia dan Eropa.  Saya dengan dia bicara dengan teman sebelahnya juga berbahasa Inggris.

Seperti bandara internasional pada umumnya, hall bandara Dubai juga dipenuhi dengan toko dan restoran.  Yang menarik barang yang dijual di toko-toko maupun jenis makanan yang ditawarkan di restoran tidak tampak “warna Timur Tengahnya”.  Saya tidak menjumpai makanan Timur Tengah di restoran.  Yang dijual hampir sama dengan yang dijual di bandara Eropa, Amerika, Jepang dan sebagainya.  Misalnya berbagai jenis roti, burger, kopi, teh dan sebagainyanya.  Dan ada beberapa restoran yang menjual minuman keras dan bahkan ada yang memasang nama “Heinekan Lounge”.  Pada hal, seingat saya heineken itu sebuah merk bir.  Dimana ya, makanan Timur Tengah?

Barang-barang yang dijual di toko juga tidak berbeda dengan di bandara Eropa. Saya lihat yang banyak dijual arloji, perhiasan, parfum, pakaian, coklat, rokok dan berbagai kue yang lazim dijual di bandara negara lain.  Mana yang barang Dubai atau barang-barang Timur Tengah.   Pada toko yang menjual buah, yang dijuah juga buah seperti anggur, apel, pisang, pear dan sebagainya.  Saya tidak menjumpai buah khas Timur Tengah.  Satu-satunya yang khas Timur Tengah adalah satu petak toko yang diisi oleh panjangan Al Qur’an dan beberapa kaligrafi.  Toko itu dibiarkan kosong tanpa penjaga.

Sambil menunggu penerbangan ke Munich, saya merenung.  Jika tidak ada tulisan Dubai, mungkin orang tidak tahu kalau mereka sedang di Dubai.   Orang yang berlalu lalang berwajah berbagai negara dan hanya sedikit yang berwajah Timur Tengah.  Yang berpakain gamis sangat jarang terlihat.  Saya tidak menjumpai wanita yang berpakaian hitam bercadar yang biasa kita lihat di Saudi Arabia.  Ada satu-dua wanita berkerudung tetapi tidak banyak.

Wanita yang duduk di sebelah kiri saya, berkulit hitam dengan rambut sangat pendek, memakali rok dan kaus serta menenteng tas bermerk Eropa.  Laki-laki di sebelah kanan saya, saya duga mix blood antara Jepang dengan Eropa. Memegang hp dengan huruf Jepang tetapi berbadan tinggi besar seperti orang Eropa.  Pelayan toko dan restoran banyak yang berwajah Asia tetapi berbicara bahasa Inggris logat Asia.  Ketika kami membeli minuman, yang melayani wanita dari Myanmar.  Petugas kebesihan tampak seperti orang Banglades.

Apakah ini tanda-tanda globalisasi?  Atau Dubai tidak punya produk yang layak dijual di bandara internasional?  Kan juga ada barang dan makanan khas Timur Tengah dari negara lainnya.  Juga ada kerajinan asli Timur Tengah.  Apakah orang Dubai tidak cukup percaya diri untuk memasarkan produk lokal atau produk regional Timur Tengah?   Apakah itu stategi marketing, toh orang Timur Tengah tidak banyak di bandara?

Sampai tulisan ini selesai, saya tidak menemukan jawabnya.  Akhirnya saya membuat simpulan sementara, bahwa itu semua merupakan dampak globalisasi dan seperti pada umumnya interaksi sosial, yang kuat mendominasi yang lemah.  Yang lemah tidak cukup percaya diri dan akhirnya berusaha menyesuaikan diri atau mengidentikan diri seperti yang kuat.   Mungkin orang-orang Dubai, walaupun kaya dalam sisi ekonomi tetapi tidak cukup percaya diri atas bangsanya.  Oleh karena itu, mereka mengidentikan diri kepada bangsa yang lebih “kuat” yaitu bangsa Barat.

Sebagai argumen, kita dapat membandingkan dengan bandara internasional di China dan Jepang.  Di bandara Jepang, kita dapat menjumpai barang dan makanan khas Jepang yang dijual berdampingan dengan barang-barang produk negara lain.  Demikian pula di bandara internasional di China.  Mungkin orang China dan Jepang cukup percaya diri untuk menjual produk negaranya kepada dunia luar.  Sedangkan orang Dubai belum seperti itu.  Semoga orang Indonesia cukup percaya diri berdampingan dengan bangsa lain, seperti China dan Jepang.

Saya jadi teringat pengalaman ke Vietnam beberapa tahun lalu.   Kondisi kota di Vietnam jauh lebih jelek dibanding Jakarta, Surabaya dan kota lain di Indonesia.  . Lalu lintas semrawut, kotanya terkesan kotor dan bangunan didominasi banguna tua.  Namun orang Vietnam sangat percaya diri dan merasa setara atau bahkan merasa lebih hebat dibanding bangsa lain di Asia Tenggara.  Mereka dengan bangga mengatakan, hanya Vietnam yang mampu mengalahka Amerika Serikat.  Di bandara yang kondisinya jauh lebih jelek dibanding bandara Dubai juga baynak dijual makanan dan kerajinan asli Vietnam.  Saya teringat saat pulang, memanfaatkan sia uang Dong (mata uang Vietnam) untuk makan mie khas Vietnam yang mirip dengan suun di Indonesia.

Saya menduga kota Dubai jauh lebih baik.  Konon kota Dubai sudah sekelas dengan kota-kota besar di Eropa.  Seingat saya Dubai memiliki pulau buatan yang bentuknya mirip pohin kurma dan di pulai buatan itu dibangun gedung pencakar langit yang sangat hebat.  Iklan di pesawat Emirates menjelang landing di Dubai menggambarkan betapa glamornya kota Dubai.  Saya tidak tahu dimana sebabnya mereka kurang percaya diri untuk memamerkan produk da budayanya ke mata dunia.  Pada hal, menurut saya rasa percaya diri itu penting bagi generasi muda kita. Semoga orang Indonesia percaya diri seperti bangsa Jepang, China dan Vientam.  Dan tidak seperti dugaan saya terhadap orang Dubai,

1 komentar:

Pratiwi Retnaningdyah mengatakan...

Menarik pengamatannya pak. Saya jadi ingat bagaimana Emirate menjadi sponsor utama Melbourne Cup Day. Acara tahunan ini adalah lomba pacuan kuda, yang diwarnai dengan fashion. Orang Melbournians amat 'gila' dengan perayaan Melbourne Cup Day. Emirate nampaknya menjadi simbol kapitalisme yang tidak lagi melulu dikuasai dunia Barat. Eh, tapi siapa tahu juga bahwa sebenarnya orang-orang di balik Emirate sama-sama mixed-nya dengan mereka yang bekerja di Dubai.