Selasa, 21 April 2015

JOYFUL LEARNING BAIK TETAPI MEANINGFUL LEARNING JUGA PENTING



Tanggal 16 April 2015 saya ditugasi oleh USAID Prioritas untuk menghadiri LTPK Show Case di Banda Aceh.  FKIP Unsyah dan Fakultas Tarbiah dan Pendidikan UIN Arraniri bekerjasama dengan sekolah mitranya menampilkan berbagai kreasi dalam pembelajaran.  Kegiatan dilaksanakan di aula UIN Arraniri dan dihadiri antara lain oleh Rektor Arraniri, Wakil Rektor-1 Unsyah, Wakil dari Kemdikbud, Wakil dari Pemda dan banyak guru serta mahasiswa.
Selain pameran, dalam acara itu ditampilkan dipanggung beberapa inovasi pembelajaran yang dikembangkan oleh FKIP Unsyah dan FTP UIN Arraniri bersama sekolah mitranya.  Demonstrasi pertama adalah untuk “penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, baik positif atau negatif”.  Siswa yang memeragakan membawa semacam tali dan diberi tanda-tanda bilangan.  Di tengah-tengah ada tanda “NOL”.  Sebelahnya berturut-turut “plus 1, sampai plus 20”.  Di seberangnya berturut-turut “minus 1 sampai dengan minus 20”.  Jadi seperti rentangan dari “minus 20 sampai dengan plus 20”.
Dua orang siswa memeragakan bagaimana menjumlah atau mengurangi bilangan bulat.  Seorang siswa berdiri di samping tanda “NOL” dan menghadap ke sisi “bilangan plus”.  Siswa lainnya memberi aba-aba.  Ketentuannya: bilangan plus berarti maju, bilangan minur berarti mudur.  Ditambah berari mengahapnya tetap.  Dikurangi berarti balik badan.  Dengan pedoman itu, pemberi aba-aba mengatakan “plus 12” ditambah “minus 4”.  Siswa pemeraga berjalan ke depan 12 langkah, berhenti dan mundur 4 langkah.  Akhirnya berhenti di samping tanda “plus 8”.  Berikutnya, pemberi aba-aba mengatakan “minus 10” ditambah “plus 7” dikurangi “plus 2”.  Pemeraga berjalan mundur 10 langkah, berjalan maju 7 langkah, balik badan dan maju 2 langkah.  Akhirnya dia berhenti di sebelah tanda “Minus 5”.
Peragaan atau demonstrasi kedua tentang lokasi dalam sumbu cartesius.  Siswa mengajar Rektor UIN Arraniri memeragakan posisi pemain bola dengan sumbu cartesius.  Salib sumbu diletakkan di tengah-tengah peragaan mirip lapangan sepak bola.  Secara bergantian disebutkan posisi bola.  Posisi ditandakan dengan dua bilangan.  Jika bilangan pertama positif posisi bergeser ke kanan, jika negatif begeser ke kekiri.  Jika bilangan kedua positif posisi bergeser ke depan, jika negatif bergeser ke belakang.
Ketika disebutkan dua pasangan bilangan (maksudnya sumbu X dan Y), bola digeser menuju posisi tersebut.  Misalnya disebutkan posisi (+6,+4), berarti bola digeser ke kanan 4 petak dan ke depan 4 petak.  Jika selanjutnya disebutkan bola bergeser (-11, - 7), maka bola digeser ke kiri 11 petak di ke belakang 7 petak.
Ketika siswa bermain tampak sekali mereka gembira dan antusias.  Jadi joyful learning telah terjadi.  Pertanyaannya apakah siswa mengerti apa makna dari apa yang dipelajari.   Apa makna “minus 10” ditambah “plus 7” dikurangi “plus 2” sama dengan “minus 5”.  Bahkan saya memikirkan apa siswa mengerti apa sebenarnya yang dimaksud “minus 5” dalam contoh sehari-hari.
Dengan kata lain, apakah joyful learning tadi sudah dibarengi dengan meaningful learning.  Saya memang tidak sempat menanyakan kepada guru atau dosen yang mengkreasi contoh tadi.  Juga tidak sempat mengecek apakah siswa yang memeragakan atau yang melihat mengerti makna apa yang diperagakan atau dilihat.  Mengapa tidak dikontekskan saja dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika saya mendapat kesempatan menyampaikan kesan, saya menyatakan selamat karena pada guru dan dosen sudah suskes mengembangkan pola pembelajaran yang menyenangkan (joyful).  Yang perlu dipikirkan adalah kebermaknaannya.  Apakah mungkin “plus 10” itu dianalogkan dengan punya uang 10 rupiah.  “Minus 8” dianalogkan dengan punya utang 8 rupiah.  Jadi “plus 10” ditambah “minus 8” itu seperti punya uang 10 rupiah tetapi punya utang 8 rupiah, sehingga jika digabungkan uangnya tinggal 2 rupiah.
Cara yang diperagakan memang baik untuk memudahkan untuk teknis menghitung, tetapi harus dibarengi dengan pengertiannya.  Hitungan yang mekanistik memang membantu, tetapi dapat menjerumuskan kalau pengertiannya salah.

Tidak ada komentar: