Senin, 13 Juni 2016

NILAI GALIAN PIPA VS ONGKOS KEMACETAN



Tanggal 13 pagi saya terjebak macet di daerah Brebek.  Pagi itu saya buru-buru pulang dari Denpasar dengan pesawat Garuda jam 10.10, dengan harapan jam 12.30 dapat sampai kampus untuk memenuhi jadwal bimbingan tesis/disertasi dilanjutkan mengajar.  Perhitungansih  cukup, karena take off jam 10.00 WITA dari Denpasar sampai bandara Juanda jam 10.00 WIB.  Cukuplah waktu 2,5 jam dari bandara ke kampus mampir rumah sebentar untuk mengambil mobil dan beberapa berkas.

Pesawat take off dan landing tepat waktu.  Saya putuskan naik Uber dari bandara ke rumah. Ketika sopir Uber bertanya, lewat tol atau jalan biasa, saya jawab “lihat situasi di perempatan Mc-D mas, jika padat lewat tol tetapi kalau longgar ya lewat bawah saja.”  Ternyata longgar sehingga sopir melaju lewat jalan biasa.  Ketika sampai pasar Wadungasri mobil belok kiri untuk menuju kawasan industri Brebek.  Saya tenang saja karena itu jalan yang memang biasa saya lewat.

Baru belok beberapa saat ternyata jalan macet.  Pada jalan itu biasanya lancar dan hanya sekitar 1,5 km. Mau balik sangat sulit, karena jalannya sempit.  Saya  juga penasaran kenapa macet.  Jalan yang hanya sekitar 1,5 km itu ditempuh hampir 45 menit.  Mengapa macet?  Baru diketahui ketika sudah sampai pertigaan jalan Brigjen Katamso belokan masuk ke kawasan industri Brebek.  Ternyata pas di sudut pertigaan itu ada galian pipa yang belum diurug sehingga mobil yang masuk ke arah kawasan industri harus bergantian dengan yang keluar.  Galian yang belum diurug itu hanya sekitar 5 m dan sepertinya pipa sudah selesai dipasang.  Mungkin pekerja sedang istirahat, karena saya sampai di lokasi itu sekitar pukul 11.45.

Seandainya galian itu segera diurug mungkin tidak terjadi kemacetan yang parah.  Berapa yang biaya untuk mengurug galian selebar sekitar 50 cm, kedalaman sekitar 50 cm dan panjang sekitar 5 m.  Kalau “dilembur” karena jam istirahat atau dicarikan orang yang diberi ongkos 2 kali lipat dari biasanya, berapa yang biaya yang diperlukan?  Katakanlah masih ada pekerjaan pipa yang harus dicek, sehingga belum dapat diurug.  Nah kalau siang itu diurug dulu dan nanti digali lagi saat akan dilakukan pengecekan, berapa lama waktu mengurug dan menggali lagi  serta berapa biayanya?

Logika itu diajukan untuk dibandingkan ongkos yang terjadi karena macet.  Katakanlah macetnya selama 2 jam dan ada 1000 mobil yang terkena macet masing-masing 40 menit.  Untuk 40 menit itu setiap mobil menghabiskan besin/solar 1 liter, berarti ada 600 liter bensin/solar yang hilang karena macet.  Jika harga bensin/solag 6.500 rupiah berarti kemacetan itu mengakibatkan kerugian minimal 6,5 juta rupiah.  Itu baru kerugian bensin dan belum kerugian waktu.  Apakah biaya mengurug pipa dan menggali lagi sampai 6,5 juta ya?

Saya bukan kontrator, sehingga tidak tahu perhitungannya.  Namun dengan ukuran galian seperti disampaikan di atas, rasanya biaya untuk mengurup dan menggali lagi tidak sampai 2 juta.  Apakah kontraktor tidak peduli dengan hitungan untung-rugi yang ditunjukkan di atas?  Bukankah fenomena seperti itu sering terjadi di sekitar kita? Mobil yang parkir di tepi jalan yang membuat kemacetan, walaupun tidak parah.  Angkutan umum yang ngetem yang juga mengakibatkan kemacetan.  Jalan rusak yang mengakibatkan kendaraan harus pelan-pelan.  Dan sebagainya.

Memang ada kemacetan yang tidak dapat dihindari, misalnya karena adanya kegiatan yang tidak dapat ditunda.  Namun banyak kegiatan yang sebenarnya dapat ditunda, paing tidak dikerjaan pada saat lalu lintas tidak terlalu ramai.  Atau pekerjaan perlu digerakan agar kemacetan tidak terlalu lama terjadi.

Saya yakin kontraktor sangat peduli dengan untung-rugi, karena dalam bekerja akan selalu mencari keuntungan yang optimal.  Lantas mengapa kasus itu terjadi?  Saya khawatir, kontraktor, mandor dan pekerja berpikir ke dirinya sendiri tanpa memperhitungan akibat kepada orang lain.  Toh yang kena macet orang lain.  Toh setiap mobil hanya rugi 1 liter yang setara dengan 6.500 rupiah.  Mereka lupa jika kerugian itu dijumlahkan untuk semua orang yang terkena jumlahnya cukup besar.  Jadi intinya kita seringkali hanya memikirkan manfaat dan kerugian dilihat dari diri sendiri dan tidak dari orang lain, apalagi dalam kerangka lebih besar yaitu oleh masyarakat dan negara.

Tidak ada komentar: