Selasa, 18 September 2018

MEMPERTANYAAKAN PENDAPAT SENDIRI TENTANG PROGRAM AKSELERASI

Saya termasuk orang yang tidak mendukung program akselesari di sekolah.  Program yang memperpendek masa studi, dengan cara memberikan kesempatan siswa melompat kelas agar masa studi yang lebih pendek dibanding program biasanya.  Misalnya siswa kelas 2 boleh melompat langsung ke kelas 4, siswa kelas 4 boleh langsung melompat ke kelas 6 dan sebagainya, sehingga masa studi di SD yang lazimnya ditempuh selama 6 tahun dapat ditempuh dalam 5 tahun atau bahkan lebih pendek.  Bahkan ada sekolah yang memiliki program 5 tahun untuk SD, 2 tahun untuk SMP, 2 tahun untuk SMA.  Intinya memberi peluang siswa yang pandai agar lebih cepat menyelesaikan studinya.

Saya tidak menentang program itu, tetapi tidak mendukung.  Mengapa? Karena menurut saya, sekolah tidak hanya untuk urusan kognitif, untuk urusan penguasaan materi ajar, tetapi juga menyangkut pengembangan psikologis anak didik. Mungkin saya dipengaruhi oleh cerita teman yang mengatakan, adiknya sangat pandai dan loncat-loncat kelas, sehingga lulus sebagai dokter pada usia 20 tahun.  Namun karena yang bersangkutan “terlalu sibuk” belajar dan tidak memiliki waktu bermain, sehingga sudah menjadi dokter tetapi masih suka main-main seperti anak-anak.  Teman saya juga mengeluhkan, adiknya yang dokter itu kurang ramah, sehingga terkesan sombong.

Apakah itu hanya kasus atau benar-benar akibat dari proses sekolah yang sangat cepat?  Saya tidak tahu.  Namun saya juga belum memiliki bukti bahwa anak yang menempuh pendidikan akselerasi (dipercepat), nanti akan menjadi orang yang suskes setelah dewasa.  Bukankah kesuksesan orang tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan kognitif.  Bukankah kemampuan dalam bidang sosial seringkali ikut berperan besar dalam kesuksesan seseorang.  Argumen seperti itulah yang membuat saya lebih setuju, biarlah anak sekolah sesuai waktu studi yang normal, mendapatkan interaksi sosial yang cukup, dan bahkan membangun jejaring sejak awal.

Namun pendapat saya yang selama ini saya pegang menjadi goyah, ketika beberapa hari lalu mendapat dikiriman rekaman anak Indonesia yang berusia 12 tahun tetapi sudah semester 4 di Waterloo University Canada.  Konon anak itu dari Bogor.  Tidak jelas dimana anak itu menempuh SD, SMP dan SMA. Juga tidak diceritakan bagaimana ceritanya anak itu sampai kuliah di Waterloo University.  Bidang apa yang dipelajari juga tidak disebutkan, walaupun tampaknya bidang MIPA atau teknologi.

Mengapa saya menjadi ragu terhadap pendapat sendiri, setelah menonton video anak itu?  Karena dalam video itu, anak berbicara “sangat dewasa”, walaupun wajahnya memang tampak masih anak-anak.  Bahasanya terstruktur baik, apa yang disampaikan sangat jelas, intonasinya juga sangat baik.  Tampak sekali anak itu secara psikologis sangat dewasa.  Memang tidak jelas apakah yang yang direkam video itu natural atau diskenario ibarat sebuah film.  Dengan asumsi bahwa yang tampil di video itu natural, ternyata anak yang mengikuti program akselerasi tampak sangat dewasa.

Apakah itu hanya kasus khusus?  Hanya terjadi pada orang tertentun yang kebetulan hebat baik IQ maupun EQ bahkan SQnya, saya tidak tahu.  Ataukan anak itu anak cerdas seperti adiknya teman saya, tetapi mendapatkan bimbingan atau perlakukan khusus, sehingga perkembangan psikologis berjalan “cepat” seiring dengan perkembangan kognitifnya?  Jika betul, seperti apa perlakuan tersebut?  Di sekolah atau di rumah oleh orangtuanya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat penting diajukan, karena jika benar perkembangan psikologis dan sosiologis dapat dipercepat berbarengan dengan program akselerasi, maka kasus adik teman saya tersebut tidak terjadi.  Anak dapat menyelesaikan studinya lebih cepat dan secara psikologis dan sosilogisnya berkembang seiring dengan itu.

Pertanyaan tersebut saya ajukan, karena sejauh pengamatan saya di kelas akselerasi tidak ada perlakukan khusus kecuali hanya untuk materi ajar.  Bahkan terkesan, anak dibebani berbagai tugas yang membuat tidak memiliki kesempatan bermain lazimnya anak-anak lainnya.  Moga-moga ada teman yang dapat menjelaskan.

Tidak ada komentar: