Minggu, 16 Mei 2021

SELAMAT DATANG EDUCATION 6.0

 

Sabtu 15 Mei 2021 pagi saya kedatangan tamu istimewa.  Istimewa bukan karena jabatannya, bukan karena kekayaannya tetapi karena idenya yang brilian dan lebih dari itu tekat serta keuletannya mewujudkan ide tersebut, sehingga beberapa teman menyebutnya bertangan dingin karena lembaga yang dipimpin berjalan baik.  Saya sudah lama mengenal beliau dan bahkan pernah menulis tentang beliau di blok ini beberapa tahun lalu.  Kalau tidak salah judulnya Infoglobal.  Siapa dia?  Pak Kadir Baradja (Dr. Ir. Abdulkadir Baradja), pendiri sekolah Al Hikmah, Ketua Yayasan Dana Sosial Al Falah dan masih banyak aktivitas sosial lain yang beliau lakukan.

Sebelum ada pandemi covid 19, Pak Kadir selalu mengundang rekan-rekan aktivis sosial dan pendidikan di untuk semacam halal bil halal di rumahnya di daerah Ampel.  Biasanya hari Minggu setelah Idul Fitri.  Yang hadir banyak sekali dan datang dari beberapa kota di Jawa Timur, misalnya Jember, Bojonegoro, Tulungangung dan sebagainya.  Bahkan suatu saat ada yang dari Bekasi.

Pertama kali saya ikut acara itu, saya bingung.  Dijemput oleh Pak Edy Kuncoro (Dr. Edy Kuncoro) yang sekarang menjadi Kepala Sekolah Al Hikmah Boarding School Batu, selepas sholat subuh kami meluncur ke Ampel. Nah, ternyata Pak Edy parkir di jalan raya terus mengajak saya masuk gang.  Masya Allah, ternyata rumah Pak Kadir di gang kecil yang mobil tidak bisa masuk.  Rumahnya ternyata juga kecil, rumah khas daerah Ampel.  Waktu itu, dalam hati saya bertanya-tanya, orang sekelas Pak Kadir kok mau ya tinggal di daerah seperti itu dan di rumah seperti itu.

Ketika pagi-pagi Pak Kadir menilpun dan ingin mampir ke rumah tentu saya senang dan bangga, karena didatangi orang sekelas Pak Kadir.  Lebih bari itu saya sudah menduga pasti ada sesuatu yang baru dan yang penting ingin diobrolkan.  Dan betul, beliau menyampaikan ide yang kalau boleh saya sebut Education 6.0.  Jika Jerman mengenalkan Industrial Revolution (RI) 4.0 dan Jepang mengenalkan Society 5.0, mengapa tidak boleh mengenalkan School 6.0. Toh ketiganya mengajukan pemikiran bagaimana industri, masyarakat, dan pendidikan merespons era digital.

Ternyata sebelum ada pandemi dan anak-anak sekolah harus belajar dari rumah (daring/online), pak Kadir sudah memikirkan itu.  Beliau telah mengembangkan program (software) untuk melaksanakan pendidikan secara daring sejak tahun 2018, dengan memperkerjakan 4 orang programmer.  Program sudah jadi, ternyata guru-guru Al Hikmah enggan menggunakan, karena harus mengembangkan bahan ajar dan perangkat lainnya untuk digandengkan dengan software tersebut.  Nah, ketika ada pandemi covid 19 terjadi akhirnya guru-guru “terpaksa” menggunakan dan berjalan lancar.  Yang menggembirakan, menurut Pak Kadir, orangtua murid sangat senang karena dapat mengetahui perkembangan anaknya dan bahkan mengetahui bagaimana guru mengajar dan membimbing anaknya, karena semua terekam.  Demikian juga manajemen sekolah.  Istilah Pak Kadir proses pembelajaran menjadi controlled.

Mendengarkan informasi itu, saya jadi teringat apa yang saya lihat di SMP Penabur di dekat Jalan Gajah Mada Jakarta.  Ruang kelas sekolah itu tidak punya pintu dan dinding ke arah teras/selasar hanya setinggi sekitar 1,5 meter.  Kalau siswa duduk tidak terlihat dari luar tetapi jika berdiri kepalanya tampak dari luar.  Selasar terasnya lebar dan digunakan untuk kantor pimpinan sekolah dan tata usaha.  Jadi apa yang dikerjakan guru dapat dilihat oleh pimpinan maupun tata usaha dan sebaliknya guru dapat melihat apa yang dikerjakan oleh pimpinan maupun tata usaha.

Lantas apa yang saya sebut Education 6.0?  Pak Kadir ternyata tidak berhenti di pembelajaran online.  Beliau mengajak diskusi kemungkinan mengembangkan semacam blended learning, sebagian mengunakan daring dan sebagian tatap muka.  Pak Kadir menggunakan istilah untuk pengajaran menggunakan daring, sedangkan untuk pendidikan menggunakan luring (tatap muka).  Maksudnya untuk belajar hal-hal yang bersifat pengetahuan menggunakan daring, sedangkan bagaimana mengaplikasikan pengetahuan itu dalam kehidupan, termasuk akhlak, kerjasama, problem solving dan sebagainya.  Pak Kadir membayangkan saat daring siswa belajar dari rumah, sedangkan untuk luring di sekolah.  Dengan asumsi proporsinya 50% : 50%, maka daya tampung sekolah akan meningkat 2 kali.  Kelas dibuat grup A dan grup B.  Saat grup A belajar secara daring, grup B belajar secara luring dan sebaliknya.  Dengan demikian daya tampung sekolah (secara fisik) akan meningkat dua kali.

Lantas apa isi kegiatan ketika luring?  Bagaimana menghitung kebutuhan guru, baik jumlah maupun karakteristiknya.  Itu yang akan dibahas lebih lanjut, karena tidak ingin setengah-setengah.  Saya membayangkan saat luring siswa mengerjakan contextual project work.  Dalam kelompok kecil, mereka akan mengerjakan proyek untuk memecahkan problem yang terkait dengan kehidupan sehari-hari tetapi dengan memanfaatkan teori yang dipelajari selama daring. Dengan begitu siswa akan belajar bagaimana bekerjasama, menelaah secara kritis problem di project tersebut dan mencoba mencari solusinya.  Dengan demikian kemampuan berpikir kritis, kreativitas dan problem solving akan terasah.  Demikian pula kemampuan komunikasi, kerjasama bahkan manajemen waktu dan leadership.  Bersamaan dengan itu karakter kerja keras, tangguh juga akan tersemaikan. 

Jika pemikiran tersebut terwujud akan terjadi revolusi pendidikan di Indonesia yang memanfaatkan teknologi digital, sekaligus menyiapkan siswa untuk menghadapi kehidupan abad 21.  Dan itulah yang saya sebut dengan Education 6.0.  Pertanyaannya, apakah kira-kira pola pembelajaran seperti itu dibolehkan oleh Dinas Pendidikan dan atau Kemdikbus.  Itu pertanyaan Pak Kadir kepada saya.  Jujur saya tidak dapat menjawab.  Jawaban yang saya berikan, Dinas Pendidikan dan Kemdikbud mungkin terlalu sibuk untuk memikirkan itu.  Lebih baik dicoba saja dengan sungguh-sungguh nanti dilaporkan hasilnya.  Insya Allah jika berhasil baik, Dinas Pendidikan dan Kemdikbud akan mengadopsi untuk kebijakan daerah atau bahkan kebijakan nasional.

Tidak ada komentar: