Minggu, 04 Januari 2015

BANGGA DENGAN KA SANCAKA



Saya mengisi liburan tahun baru dengan pulang kampung bersama isteri.  Ingin santai saya naik kereta api dari Surabaya ke Madiun dan nanti akan disambung dengan naik bis Madiun-Ponorogo.  Belum tahu naik apa nanti dari terminal bis Ponorogo ke rumah keluarga yang berjarak sekitar 8 km.

Singat saya, terakhir naik kereta api sekitar 5 bulan lalu dari Solo ke Jogyakarta. Waktu itu diundang suatu acara ke UNS dan diteruskan dengan diundang oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.  Naik kereta Pramex dengan jadwal tepat dan nyaman walaupun penumpangnya penuh dan agak panas karena berjalan siang hari dan tanpa AC.  Waktu itu saya posting di facebook tentang kereta Pramex yang sudah sangat bagus.

Pagi hari di awal tahun baru 2015 saya terkejut dan bangga dengan PT KAI.  Kemarin saya sudah kagum karena dapat membeli tiket secara online di toko Indomaret dekat rumah.  Pagi ini saya dibuat lebih kagum di stasiun Gubeng.  Dengan bekal struk print out toko Indomaret, saya dapat mencetak sendiri tiket kereta api hanya dengan mengetikan kode booking.  Lingkungan stasiun juga tampak bersih. Ada petugas kebersihan yang berkeliling dengan membawa sapu dan cikrak kecil.

Ketika masuk ke ruang tunggu saya lebih kagum.  Sangat tertib dan rapi.  Masuk harus menunjukkan tiket dan tanda pengenal.  Ketika saya menunjukkan KTP dan dua tiket (untuk saya dan isteri), petugas meminta kartu pengenal isteri saya.  Saya bertanya apa tidak cukup satu saja, petugas menjawab dengan sopan: “harus keduanya, kalau tidak nanti saya yang kena”.  Ruangan untuk calon penumpang dan pengantar juga dipisah dengan pagar, dengan demikian hanya penumpang yang dapat mendekat kereta.

Kereta api Sancaka berangkat jam 08.15, tetapi saya sudah datang sekitar pukul 07.30, sehingga saya sempat mengamati situasi di stasiun sambil menunggu kereta datang.  Stasiun Gubeng cukup besih dan tidak ada pedagang yang menjajakan dagangan seperti dulu.  Toko-toko yang dulu mepet dengan peron juga sudah tidak ada, sehingga calon penumpang dapat duduk dengan tenang.  Apalagi iringan musik dan penyanyi tunggal juga tetap menghibur dengan lagu-lagu tempo dulu.

Saya amati banyak penumpang yang berombongan.  Mungkin sedang liburan, karena membawa koper atau tas yang agak besar.  Juga banyak yang mengajak anak-anak.  Walaupun cukup penuh jumlah kursi di ruang tunggu cukup untuk calon penumpang. Oleh karena itu tidak terlihat calon penumpang yang lesehan seperti waktu lalu.  Situasi yang tenang dan nyaman tampaknya menyebabkan calon penumpang juga duduk dengan tertib.

Sekitar pukul 08.00 diumumkan kalau kereta Sancaka akan masuh stasiun Gubeng dari arah stasiun kota dan penumpang dipesilahkan menyiapkan diri.  Sayapun mengajak isteri berjalan menuju peron dan bertanya kepada petugas dimana gerbing ekskutif 3 akan berhenti.  Petugas tersebut menunjukkan kira-kira di dekat angka 7.  Dan betul, gerbong ekskutif 3 berhenti diatara tanda angak 7 dan 8.

Begitu naik saya mendapati gerbongnya bersih dan bahkan sangat bersih dalam ukuran kereta api Indonesia selama ini.  Toilet juga bersih dengan air lancar dan bahkan disedikan tisu tolit gulungan seperti toilet di pesawat.  Di pojok gerbong juga ada tempat menaruh koper besar seperti gerbong kereta api di nagara maju.  Di dinding gerbong ada tulisan “Customer Service on Train: Hani Setiawati, diserta dengan foto dan nomer Hpnya”.

Tepat pukul 08.15 kereta Sancaka berangkat pelan-pelan dibarengi dengan pengumuman bahwa kereta menuju Jogyakarta dan akan berhenti di stasiun Mojokerto, Jombang. Nganjuk, Madiun, Solo Balapan dan terakhir di stasiun tugu Yogyakarta”.  Pengumuman disampaikan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.  Walaupun dengan “bahasa Inggris Jaw” tetapi lumayan.  Saya yakin jika ada turis asing dapat mengerti pengumuman tersebut.  KA Sancaka berangkat on time dan mulus.

Sekitar 20 menit kereta berjalan, petugas pengecek tiket (kondektur) datang.  Sangat sopan dan selalu “mohon maaf mengganggu” ketika minta tiket kepada penumpang.   Saya menduga pak kondektur berusia 50 tahunan, sehingga tentu sudah lama menjadi kondektur kereta api.  Saya tidak tahu apakah sejak dulu beliau sangat sopan seperti pagi ini.  Namun sepanjang pengalaman naik kereta api, biasanya pak kondektur tidak sesopan yang bertugas pagi ini.  Tampaknya ada perubahan sikap mereka, seperti perubahan sikap petugas pengecek tiket saat masuk ke ruang tunggu di stasiun.

Saya sudah lama mendengar kalau di kereta api tidak ada lagi pedang asongan.  Bahkan di stasiun juga tidakakan yang menawarkan dangan saat kereta berhenti.  Saat baik KA Pramex dari Solo ke Yogyakarta, rasana masih ada, walaupun tidak secara terang-terangan.  Namun sampai KA Sancaka berhenti di Madiun betul-betul tidak ada pedang asongan.  Dengan demikian situasi di kereta menjadi tenang.

Ketika membeli tiket online di toko Indomaret, saya membaca kalau KA Sancaka tiba di stasiun Madiun pukul 10.40.  Saya sendiri ragu-ragu, apakah memang demikian.  Apakah betul Surabaya-Madiun dapat ditempuh dalam waktu 2 jam 25 menit.  Oleh karena itu saya amati jalanya kereta dan setiap pemberhentian.  Rasanya kereta berjalan biasa-biasa saja dan tidak terasa “ngebut”.   Namun kereta tidak pernah berhenti di luar stasiun yang disebutkan saat kerera berangkat, kecuali di stasiun Kertosono.  Itupun hanya sekitar 2 menit.

Ketika kereta tiba di stasiun Nganjuk pada pukul 10.11 dan berangkat lagi pada pukul 10.13 saya mulai percaya kalau kereta Sancaka dapat menempuh Surabaya-Madiun dalam waktu 2 jam 25 menit.  Sayang sekali, menjelang masuk kota Madiun kereta Sancaka berhenti sekitar 18 menit.  Akhirnya kereta sampai di stasiun Madiun pukul 11.02.  Jadi terlambat 22 menit. Menurut saya, itu sudah bagus.  Jauh dari apa yang selama ini saya bayangkan, yaitu kereta api selalu terlambat.

Pagi ini saya mendapat pengalaman yang membanggakan.  Ternyata telah terjadi “perubahan besar” dalam perkeretaapian di Indonesia.    Gambaran stasiun yang kumuh sudah tidak ada, paling tidak untuk stasiun Gubeng.  Gambaran gerbong kereta yang kotor dengan toilet yang bau juga sudah tidak ada. Keruwetan pedagang asongan yang mengganggu, namun juga merarik, pada saat kereta berhenti di stasiun juga sudah tidak ada.   Dan yang paling mencolok, kesan kereta api itu selalu telat juga sudah hilang.

Ternyata kita bisa berubah dan itu tidak memerlukan lama.  Dugaan saya perubahan ini baru dimulai sekitar 2 tahun lalu.  Acungan jempol untuk PT Kereta Api Indonesia.  Jika betul inilah buah kerja keras teman-teman PT KAI dibawah Pak Ignatius Jonan, pantaslah beliau diangkat menjadi Menteri Perhubungan.  Semoga perubahan hebat di KAI juga menular di angkutan umum lainnya. 

Tidak ada komentar: