Selasa, 19 Mei 2015

PTK ATAU CG?



Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan istilah yang sangat populer di kalangan guru.  Ketika ada pelatihan guru, PTK selalu menjadi salah matalatih.  Saat PLPG (Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru) PTK juga menjadi salah satu mata pelajaran.  Dalam PPG (Pendidikan Profesi Guru), PTK juga menjadi satu topik. Oleh karena itu saya yakin sebagian besar guru kita mengenal dan bahkan pernah melakukannya.

Saya termasuk orang yang mendorong guru melakukan PTK sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari.  PTK yang terdiri dari tahapan desain-pelaksanaan-refleksi dan diulang menjadi redesain-pelaksanaan-refleksi dan seterusnya, merupakan upaya secara terus menerus dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.  Jika itu dilaksanakan secara terus menerus dan secara sungguh-sungguh saya yakin kualitas pembelajaran akan semakin baik.

Sayangnya seringkali PTK direduksi menjadi proyek penelitian untuk mendapatkan kredit point atau sekedar untuk mendapatkan dana penelitian.  Akibatnya PTK kehilangan esensi pokoknya, yaitu menjadi upaya terus menerus memperbaiki mutu pembelajaran.  Bahkan seringkali tahapan refleksi yang menjadi tahapan sangat penting kurang mendapatkan perhatian.  Tahapan redesain (perencanaan ulang pada tahap berikutnya) seringkali tidak didasarkan analisis yang mendalam.  Ibarat dalam dunia kedokteran, seringkali pemberian obat (analogi dari redesain) tidak didasarkan atas diagnosa (analogi refleksi) yang baik.

Banyak teman bertanya, berapa siklus sebaiknya PTK dilakukan.  Menurut saya, jika PTK difahami sebagai upaya terus menerus untuk memperbaiki mutu pembelajaran (continous improvement), maka jumlah siklus tidak terbatas.  Mengapa?  Karena situasi belajar selalu berubah.  Topik yang dipelajari berubah dan situasi kelas juga selalu berubah.  Oleh karena itu sangat wajar kalau akan selalu ada yang perlu disempurnakan dari waktu ke waktu.  Bukan berarti tidak dapat ditemukan pola pembelajaran yang ideal, tetapi pastilah selalu diperlukan penyesuaian karena situasi dan topiknya berbeda.

Kalau begitu kapan PTK selesai.  Idealnya PTK tidak pernah selesai.  Namun kita harus juga faham kalau diperlukan juga sebuah laporan dari suatu penelitian.  Kalau keperluannya itu maka dapat diambil beberapa siklus tertentu dan disusun laporannya.  Siklus mana yang diambil dan berapa jumlah siklusnya tentu mereka yang melakukan yang paling tahu.  Mungkin diambil siklus yang aling signifikan temuannya.

Keluhan yang juga sering diungkap oleh teman-teman guru adalah format laporan yang dianggap terlalu ruwet, sehingga menyita waktu banyak untuk membuatnya.  Bahkan ada yang mengatakan aspek administrasnya justru lebih banyak dibanding substansinya, sehingga membuat para guru kehilangan waktu untuk menunaikan tugas pokoknya yaitu melaksanakan pembelajaran.

Untuk itu mungkin dapat dipertimbangkan model Catatan Guru (CG) untuk kegiatan sehari-hari.  CG atau Teacher Note sudah dilakukan di beberapa sekolah/daerah.  CG merupakan catatan guru dalam mengajar sehari-hari.  Guru punya buku catatan yang mencatan singkat apa yang dilakukan saat mengajar, bagaimana respons siswa dan bagaimana hasil belajarnya.  Mungkin berupa tulisan tangan dan hanya ¼ halaman buku tulis biasa.  Namun kalau itu selalu dilakukan selesai mengajar dan kemudian dilakuka refleksi mendalam “mengapa itu terjadi” untuk menemukan ide perbaikan untuk diterapkan minggu berikutnya, maka CG tidak jauh berbeda secara esensial dengan PTK.  Bedanya CG tidak telalu dibebani format yang “rumit”, sehingga dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Jika catatan dalam CG itu kemudian dibahas dengan rekan guru lain maka refleksi akan menjadi lebih bagus.   Di sekolah/daerah lain, CG itu menjadi bahasan dalam MGMP/KKG tingkat sekolah yang dilakukan setiap minggu.  Dengan demikian, setiap guru menerima masukan dari teman guru lain, sehingga refleksi menjadi lebih mendalam.  Konon para dokter itu selalu mendapat second opinion dari melakukan tindakan peting terhadap pasien.  Bukankah guru sebaiknya seperti itu bagi teman guru.

Jika CG dapat dilakukan secara kontinyu dan pertemuan MGMP/KKG tingkat sekolah itu dapat dilakukan secara periodik, maka mutu pembelajaran dapat terus membaik.  Sama seperti PTK, guru dapat mengambil bagian penting dari CG itu untuk diformulasi menjadi laporan penelitian jika yang bersangkutan memerlukan untuk kepentingan tertentu. 

Tidak ada komentar: