Sabtu, 14 November 2015

BUKAN 26.000 TETAPI 60.000



Bulan Nopember 2015 saya dapat penawaran setengah memaksa untuk ke Jepang dan Sabah Malaysia.  Keduanya untuk urusan pendidikandan kedua tim yang akan pergi sangat ingin saya berangkat.  Sayang waktunya berhimpitan.  Jadwal ke Jepang berangkat tanggal 1 Nopember dan kembali tanggal 15 Nopember, sedangkan ke Sabah Malaysia berangkat tanggal 11 dan pulang tanggal 15 Nopember.

Semula saya akan memilih ke Jepang.  Disamping tentu lebih menarik, juga karena saya masih memiliki visa Jepang sehingga tidak perlu mengurus lagi.  Namun ketika membaca acara keduanya secara detail, saya berubah pikiran dan memilih ke Sabah Malaysia.  Mengapa?  Karena dalam acaranya akan mengunjungi CLC (Center for Learning Community) yaitu semacam PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar) bagi anak-anak TKI yang bekerja di Kebun Kelapa Sawit.

Saya sudah agak lama mendengar kalau di Malaysia, khususnya di Serawak dan Sabah banyak orang Indonesia yang bekerja di perkebunan Kelapa Sawit.  Mereka itu banyak yang TKI ilegal, bahkan yang TKI legalpun anak-anaknya ilegal, karena mereka seharusnya tidak boleh membawa anak-anak.  Pada hal banyak diantara mereka yang tinggal berkeluarga dan bahkan anaknya lahir di Malaysia.  Nah, karena diangap ilegal anak-anak itu tidak boleh sekolah di sekolah-sekolah milik Malaysia.  Bahkan seringkali mereka dikejar-kejar polisi Malaysia.  Akibatnya anak-anak itu tidak dapat bersekolah dan menurut istilah Pak Fasli (Prof Fasli Jalal, mantan Wamendikbud) mereka itu dapat dikategorikan buta huruf.  Bayangkan, zaman gini masih ada anak-anak yang buta huruf.

Oleh karena itu, dengan seijin pemerintah Malaysia, pemerintah Indonesia mendirikan CLC di lingkungan perkebunan kelapa sawit.  Menurut informasi di Kemdkbud jumlah anak-anak itu 26.000 orang, sehingga jumlah CLC sekitar 200 buah. Dapat dibayangkan dengan jumlah sebesar itu tentu memerlukan perhatian serius dan itulah yang mendorong saya memilih ke Sabah.  Jujur saya ingin tahu seperti apa kondisi CLC di tengah kebun sawit yang menurut istilah Malaysia disebut ladang.

Rombongan berangkat dari Jakarta tanggal 11 Nopember pukul 20.50 dan tiba di Kota Kinibalu (bisa disebut KK) sekitar pukul 00.45 dinihari waktu setempat atau pukul 23.45 WIB.  Kami langsung masuk Hotel Sabah Oriental dan tidur.  Nah, paginya ketika sarapan saya bertemu dengan Pak Muhhamad Soleh, kepala perwakilan RI di Tawau.  Saya kaget karena jumlah anak-anak seperti itu di negara bagian Sabah sekitar 60.000 orang dan baru sekitar 26.000 orang yang tertangani, sehingga masih sekitar 34.000 orang lagi yang harus dijangkau.

Sungguh saya sangat kaget.  Dapat dibayangkan ada 60.000 anak-anak yang teraniaya tidak dapat bersekolah.  Bukankah pendidikan merupakan salah satu hak dasar anak-anak yang harus dilayani, tanpa memandang apa suku, ras atau agamanya.  Bukankah anak-anak terlantar menjadi tanggung jawab negara untuk mengurusnya. 

Walaupun belum tahu kondisi yang sebenarnya, saya menduga kondisi ekonomi para TKI yang bekerja di ladang sawit tentu tidak terlalu baik.  Logikanya jika kondis ekonominya baik tentu tidak akan membiarkan anak-anak tanpa pendidikan.  Jika anaknya dibiarkan buta huruf, kemungkinan besar mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari orangtuanya.  Lingkaran setan akan terus terjadi, karena orangtuanya miskin anaknya tidak berpendidikan dan akhirnya bekerja seadanya dan tetap miskin.  Oleh karena itu, lingkaran setan itu harus dipotong dan cara yang terefektif adalah memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak itu.

Pertanyaan yang muncul, bagaimana cara memberikan pendidikan bagi mereka, mengingat mereka tinggal di wilayah negara lain, sehingga kita tidak bebas melakukannya.  Jenis pendidikan seperti apa yang paling tepat untuk mereka, mengingat kondisi ekonomi orangtua yang kurang menguntungkan dan banyak keterbatasan untuk melaksanakan berbagai hal.  Semoga kita dapat menemukan jawabannya dan mulai memotong lingkaran setan kemiskinan bagi saudara-saudara kita itu. Do'a orang yang teraniaya itu terkabul, semoga usaha kita menolong mereka berhasil.  

Tidak ada komentar: