Senin, 09 November 2015



Pagi sekitar pukul 7.45 saya menuju kampus Lidah dan mampir mengantar menantu ke kantornya di Jl. Basuki Rahmat.  Seperti biasanya sambil jalan saya menyetel Radio SS.  Nah saat itu penyiarnya Mas Yoyong menyampaikan ungkapan yang meggelitik.  Kata Mas Yoyong: “Apakah saat ini masih ada pahlawan”. Orang yang rela mengorbankan kepentingan diri bahkan sampai nyawa untuk membela negara”.
Walaupun terkesan agak menohok, tetapi pertanyaan itu layak untuk direnungkan.  Memang kita juga tidak tahu pasti apa yang ada di hati mereka yang disebut pahlawan kemerdekaan.  Karena yang tidak mengalami era itu, kita hanya dapat memahami peristiwa 10 Nopember dari bacaan atau dari cerita orang.  Cerita yang sangat heroik, walaupun kadang-kadang terbersit pertanyaan “betulkah peristiwanya seperti itu heroiknya”.  Jangan-jangan dilebih-lebihkan.  Teman saya memberi analogi dengan ketika kita menceritakan masa kecil kita kepada anak-anak, yang seringkali dilebih-lebihkan.  Bukan apa-apa, karena itu semua dimaksudkan agar anak-anak kita tidak manja dan punya daya juang seperti kita waktu kecil.
Dalam konteks belajar sejarah, pertanyaan tersebut sangat penting.  Bukan kita meragukan heroisme para pahlawan kemerdekaan, tetapi mengapa mereka memiliki semangat juang yang sangat hebat.  Mengapa mereka mau mengorbankan kepentingan dirinya bahkan nyawanya untuk memperjuangkan kemerdekaan.  Siapa penggerak perjuangan itu?  Apa yang melatarbelakangi yang bersangkutan?  Yang lain hanya ikut-ikutan atau memang memahami gerakan menentang penjajah?  Jika kita dapat menemukan jawabannya, akan sangat berguna untuk menjawab pertanyaan Mas Yoyong di atas.
Memang zaman telah berubah.  Pola pikir dan pola kehidupan juga berubah.  Tantangan kehidupan, termasuk dalam berbangsa dan bernegara juga sudah berubah.  Dengan demikian pola perjuangan juga harus berubah. Apakah dengan demikian pengertian berkorban juga berubah?   Apakah dengan demikian pengertian bela negara juga berubah?  Menurut saya, memang diperlukan pemaknaan baru tentang hal-hal diatas, agar lebih sesuai dengan konteks zamannya.
Acara Kick Andy di Metro TV sering menunjukkan pejuang era sekarang.  Apakah dokter yang rela bekerja di pedalaman, apakah bidan dan guru yang rela bertugas di daerah terpencil dan sebagainya. Butet Manurung pendiri Sakola Rimba dan teman-teman yang aktif di Mer C, menurut saya juga dapat dikategorikan pejuang. Istri saya pernah bercerita, ada temannya yang mengajar anak-anak jalanan dan anak-anak terlantar di dekat Jembatan Merah dan untuk itu dibuatkan bedeng atas biaya sendiri.  Dan masih banyak lagi yang lain, yang dalam skala tertentu dapat disebut penjuang kemerdekaan.  Mereka-mereka itu memang bukan pejuang yang mengangkat senjata untuk melawan penjajah, karena sekarang sudah tidak ada penjajah.  Tetapi mereka adalah pejuang dalam melawan kebodohan, kemiskinan, keterpurukan hidup.
Memang kita tidak tahu pasti apa motivasi mereka mengerjakan kegiatan itu.  Hanya mereka sendiri dan Yang Maha Mengetahui yang mengetahuinya.  Namun seperti halnya kepada para pejuang kemerdekaan, kita berprasangka baik saja.  Kita percaya saja, mereka itu dengan tulus ingin membantu orang lain, tanpa diembel-embeli “udang dibalik batu”.
Dengan contoh itu berarti pertanyaan Mas Yoyong terjawab, sekarang ini masih ada dan bahkan banyak pejuang.  Hanya saja bentuknya yang tidak sama dengan pejuang kemerdekaan, karena tantangan zamannya juga berubah.
Apakah dengan demikian pertanyaan Mas Yoyong tidak relevan?  Sangat relevan, karena saya yakin Mas Yoyong bukan tidak tahu adannya para pejuang kemerdekaan era kini.  Tetapi dengan pertanyaan itu mungkin Mas Yoyong ingin memanfaatkan Hari Pahlawan untuk menggugah semangat kita untuk mau berjuang untuk kemerdekaan dari kebodohan, kemiskinan, keterkungkungan dan derita lainnya. Masih banyak derita yang harus kita bebaskan.  Masih banyak mereka para penderita yang menunggu uluran tangan kita. Dirgahayu Hari Pahlawan 10 Nopember 2015.

Tidak ada komentar: