Sabtu, 14 November 2015

DIJEMPUT MENOLAK DIBUKA



Bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia memiliki istilah yang berbeda untuk sesuatu yang sama sudah sering kita dengar.  Bahkan sering digunakan sebagai guyonan.  Misalnya rumah sakit bersalin disebut rumah sakit korban lelaki, angktan darat disebut pasukan injak-injak bumi, dan seterusnya.  Tentu itu hanyalah kekalar. 

Saya juga sudah tahu kalau ada istilah yang makna di Malaysia dan Indonesia artinya berbeda.  Mobil di Malaysia disebut kereta, sejuk itu artinya dingin, boleh itu artinya dapat, tipex di Malaysia disebut pemadam. Namun cerita Pak Muhammad Soleh, Konsul di Tawau ini, memang benar terjadi.

Konon ada pembantu laki-laki baru dari Indonesia yang bekerja di suatu keluarga di Malaysia.  Suatu sore sang majikan akan pergi ke acara tertentu bersama anak-anaknya.  Sebelum pergi, majikan berpesa kepada pembantu barunya “nanti lampu ini dibuka ya”.  Sang pembantu menjawab “baik tuan”.  Nah, ketika malamnya pulang sang majikan mendapati lampu ruang keluarga terlepas dan diletakkan di atas meja.  Dia kaget dan bertanya “kok lampunya copot, memangnya kenapa?”.  Sang pembantu menjawab “lho tadi tuan pesan agar lampunya dibuka, jadi ya saya buka dan saya letakan di meja”.  Sang majikan bengong, demikian juga sang pembantu baru.  Akhirnya, diketahui bahwa di Malaysia “dibuka” itu artinya “dinyalakan” (switch on).  Jadi “nanti lampu ini dibuka” maksudnya nanti lampu ini dinyalakan.

Konon Pak Solah sendiri punya pengalaman yang menggelikan ketika baru-baru bertugas di Tawau.  Saat ini ada orang Indonesia yang sedang diadili karena membunuh anak majikannya.  Seperti biasanya, Konsul RI di Tawau juga punya pengacara orang Malaysia.  Nah, ketika sidang selesai sang pengacara menilpun Pak Soleh yang mengatakan “Pak Konsul, alhamdulillah Fulan mendapat keringanan hukuman, tidak dihukum gantung melainan dihukum 20 tahun”.  “Ditolak masa yang sekarang ini”.  Kontak Pak Soleh mengatakan “He jangan ditolak, itu sudah baik”.  Sang pengacara menjawab: “Harus ditolak Pak Konsul, biar Fulan lebih cepat keluar penjara”.  Bingunglah Pak Soleh.  Akhirnya baru diketahui, dalam bahasa Malaysia “ditolak” itu artinya dipotong.  Jadi “ditolak masa yang sekarang ini” artinya dipotong masa tahanan yang sekarang ini.

Cerita ketiga, konon Pak Soleh baru-baru saja bertugas di Tawau dan diundang makan malam oleh beberapa pejabat setempat.  Ketika menjelang berangkat, ada tilpun dari temannya “Pak Konsul ajak isteri yang saya jemput juga ibu”.  Pak Soleh menjawab “tidak usah Pak, saya berangkat sendiri dengan sopir”.  Kawan tadi terus mengatakan “Jangan pak Konsul, ajak isteri ya. Ibu juga saya jemput”.  Bingunglah Pak Soleh.  Akhirnya baru faham “dijemput” di Malaysia artinya diundang.  Jadi maksudnya ibu Konsul juga diundang.

Masih ada beberapa istilah lain, tetapi tigas istilah itulah yang menurut saya  cukup membingungkan bagi orang yang belum banyak mengenal Malaysia.  Walaupun sudah beberpa kali ke Malaysia dan sudah tahu beberapa istilah yang memiliki makna beda, saya juga kaget dengan tiga istiah itu.  Memang kita harus hati-hati, cerita yang sering kita dengan tidak sepenuhnya benar.  Tiga istilah dalam kelakar di awal tulisan ini tidak betul.  Saya tidak tahu siapa yang mengkreasi, tetapi sudah saya tanyakan ke teman Malaysia itu tidak benar.

Nah, ketika masuk kota Sandakan dalam perjalanan bermobil dari Kinabalu,saya membaca papan nama berbunyi “IBU PEJABAT POLIS”.  Saya kaget dan bertanya-tanya apa artinya.  Saya sudah tahu kalau “jabatan” di Malaysia artinya kantor. Saya juga tahu kalau “polis” aitu makasudnya polisi. Tetapi IBU PEJABAT POLIS apa ya?  Untunglah, di dalam mobil ada Mas Ndaru staf lokal Konjen Kinabalu yang dapat menjelaskan.  Ternyata IBU PEJABAT itu artinya kantor pusat untuk level kabupaten.  Jadi IBU PEJABAT POLIS itu seperti kantor Resort Kepolisian yang di Indonesia biasa dikenal dengan istilah POLRES.

Tidak ada komentar: