Senin, 23 Mei 2016

TEPAKNO AWAKMU DEWE: Menggugah Empati yang Mati



Orang Surabaya terkenal lugas dalam berbicara.  Walaupun menggunakan bahasa Jawa, tentu dengan dialek Suroboyoan, yang difahami oleh pengguna bahasa Jawa lainnya, namun cara orang Surabaya mengungkapkan pikiran berbeda dengan masyarakat Jawa Tengah ataupun masyarakat Jawa Timur Mataraman (masyarakat Jawa Timur bagian barat).  Konon orang Surabaya dengan budaya Mentaraman, menggunakan bahasa simbul dalam menyampaikan pemikiran, sementara orang Surabaya cederung menyampaikan secara lugas, to the point apa adanya.

Beberapa hari lalu ada diskusi tentang linieritas guru, yaitu kaitan matapelajaran yang diampu guru dengan pendidikan S1/D4 ketika kuliah.  Karena berbagai sebab, selama ini banya guru yang mismatch yaitu guru yang antara latar belakang pendidikan dan matapeajaran yang diampu tidak cocok.  Tentu guru mismatch tidak ideal, karena tugas mengajar yang dilakukan tidak pas dengan bekal yang dipelajari ketika kuliah.  Oleh karena itu program sertifikasi dan pemberian tunjangan profesi digunakan untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi jumlah guru mismatch.  Ketika mengikuti program sertifikasi, guru didorong untuk mengambil bidang keahlian yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya sehingga sertifikat pendidik yang nanti diperoleh juga sesuai dengan itu.  Ketika, mereka sudah memiliki sertifikat pendidik dan kembali bekerja, juga didorong untuk mengajar matapelajaran yang pas.

Persoalan muncul karena cukup banyak guru yang mismatch.  Guru berijasah Pendidikan Bahasa Indonesia mengajar bahasa Daerah, guru berijasah PAI mengajar TIK, guru berijasah Olahraga mengajar Seni Budaya dan sebagainya.  Mereka ini mengajar mapel itu sudah bertahun-tahun, sehingga menjadi dilema kalau harus kembali ke bidang studi asalnya.  Apalagi di sekolah tempat mengajar tidak ada guru yang berijasah mapel itu, misalnya bahasa Daerah, Seni Budaya dan TIK.  Kalau mereka mengikuti program sertifikasi seperti ijasah yang dimiliki dan ketika kembali ke sekolah mengajar mapel yang selama ini dipegang, tentu tidak memperoleh tunjangan profesi.

Dalam diskusi itu yang hadir sebagian besar dosen dan pejabat atau staf di Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud.  Tampaknya keinginan untuk mengembalikan guru ke bidang aslinya begitu kuat.  Oleh karena itu linieritas dalam sertifikasi dan pemberian tunjangan profesi ingin diterapkan dengan cukup ketat.  Alasan yang diajukan sangat bagus, yaitu agar mutu pembelajaran yang diampu guru itu menjadi bagus.  Guru juga akan menjadi ringan dalam menjalankan tugas, karena materi yang diajarkan sudah dipelajari dengan baik ketika kuliah.

Namun lapangan ternyata tidak seideal itu.  Para guru mismatch itu sebagian besar justru “mengorbankan diri menjadi dewa penolog”.  Ketika TIK muncul sebagai matapelajaran baru, LPTK belum menghasilkan lulusan untuk mengajar itu.  Akhirnya sekolah mengambil kebijakan guru yang memiliki kemampuan TIK diminta mengajarkannya.  Banyak diantaranya guru berijasah Fisika atau ijasah apa saja yang penting punya kemampuan TIK.  Nah tidak sedikit yang latar belakang pendidikan formalnya jauh dari TIK, tetapi menyenangi TIK dan bahkan sehari-hari menggunakannya untuk berbagai aktivitas.  Misalnya ada yang belajar belakang PAI (Pendidikan Agama Islam) dan seingat saya di Unesa dan staf yang ijasahnya S1 Filsafat tetapi jagoan dalam TIK.  Mencari guru Seni Budaya dan bahasa Daerah ternyata tidak mudah, sehingga banyak sekolah meminta guru yang memiliki kemampuan bidang itu untuk mengajar.

Persoalan menjadi ebih serius untuk sekolah di daerah terpencil.  Pengalaman melaksanaan program SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Terpencil) kita dapat menyaksikan sulitnya mendapatkan guru.  Mendapatkan guru sekedar berijasah S1/D4 saja bukan main sulitnya, apalagi harus pas antara ijasah dengan matapelajarannya.  Ada sebuah SMP Negeri di daerah SM3T dengan 6 rombongan belajar, yang sejak berdiri tidak punya guru dengan latar belakang IPA dan bahasa Inggris.  Yang megajar IPA adalah guru dengan ijasah S1 Olahraga yang kebetulan SMA-nya IPA.  Yang mengajar bahasa Inggris adalah guru dengan S1 Theologi.  Nah, guru IPA itu harus ikut sertifikasi IPA atau Olahraga?  Guru bahasa Inggris itu harus ikut sertifiasi bahasa Inggris atau Agama Katolik?

Ketika terjadi diskusi sengit dan para dosen cenderung mendorong guru ikut sertifikasi sesuai ijasah S1/D4nya, muncul ungkapan Surabaya: “mbok ditepakno awake dewe opo’o rek” (coba dipikirkan seandainya itu terkena dengan diri kita sendiri).  Bukankah di perguruan tinggi banyak dosen yang mengajar tidak pas dengan ijasah S2/S3nya.  Bukankah para pejabat dan staf di Kemdikbud itu banyak yang menangani pekerjaan yang tidak pas dengan ijasah S1/S2/S3nya.  Mestinya kita justru berempati kepada guru seperti itu, karena mereka sudah kerja keras, bejalar keras karena mengajar bukan bidang aslinya.

Empati seperti itu seringkali dikalahkan dengan idealisme akademik dan tidak dilengkapi dengan wawasan lapangan.  Empati kita seringkali menjadi tumpul karena tidak memahami pengorbanan orang lain.  Empati kita tidak mucul karena ego kita terlalu tinggi tinggi.  Empati kita sirna karena kita tidak mampu mengidentikan diri seperti orang yang sedang kita nilai.  Ungkapan “tepakno awakmu dewe” rasanya cocok untuk menggugah empati yang hampir mati.

2 komentar:

adriono mengatakan...

Pak Muchlas.saya sedang membaca-baca tulisan Bapak. Sangat menarik Pak,
Familiar dan mengena. Sya sedang download ini... Tks

mahesa putra mengatakan...

sangatlah bijaksana jika para stakeholder seperti Bapak mampu "nepakno awak" dengan empati yang lebih tinggi dari idealisme buta tanpa tahu keadaan di lapangan yang sebenarnya. . .
~The Best Appreciate~