Rabu, 04 Januari 2017

SISWA DAN MAHASISWA KITA GENERASI “Z”



Apakah para rekan guru dan dosen faham bahwa siswa dan mahasiswa yang mereka bimbing sekarang ini termasuk generasi Z?  Saya takut tidak banyak yang faham tentang itu.  Jujur, saya sendiri juga belum lama tahu tentang teori generasi itu.  Pada hal konskwensinya sangat besar dalam dunia pendidikan.

Sejauh yang saya fahami, yang termasuk generasi Z adalah yang lahir antara tahun 1995-2010.  Jadi usia mereka saat ini antara 6 – 21 tahun. Jadi praktis sebagian besar siswa kita mulai dari SD s.d SMA/SMK/MA dan juga mahasiswa S1/D3 termasuk kelompok ini.  Saya menduga batasan usia itu tidak kaku, karena menurut teori ini pemisahan kelompok generasi lebih dilihat dari karateristik perilakunya.

Menurut teori yang saya baca, generasi Z adalah digital native yaitu mereka yang sejak anak-anak sudah terbiasa dengan gadget dan peralatan yang sejenisnya.  Internet dan aktivitas online sudah menjadi kegiatan sehari-hari, sehingga ada kelakang generasi ini dapat mati gaya kalau ketinggalam gaget atau tidak dapat akses intenet sehari saja.

Karena terbiasa dengan pola online, generasi Z lebih senang membaca di gadget/tap/laptop dibanding membaca buku tercetak.  E book, e journal, dan e-e yang lain lebih disukai dengan barang-barang yang tercetak.  Lebih jauh lagi, mereka terbiasa membaca yang singkat-singkat sesuai dengan karateristik bacaan online. Mereka lebih suka membanding-bandingkan berbagai sumber bacaan tetapi singkat-singkat dibanding membaca satu sumber yang panjang dan rinci.

Mungkin karena ciri-ciri media online yang banyak gambar, animasi dan film, generasi ini lebih ke visual.  Lebih senang membaca gambar atau film dibanding membaca uraian tulisan yang panjang.  Bacaan yang panjang akan ditinggalkan dan memcari bandingan yang lebih pendek. Akan lebih sedang jika itu disertai gambar atau film.  Youtube menjadi salah satu pilihan yang disenangi.

Generasi Z lebih fokus pada hasil dan bukan pada proses.  Bagi kelompok ini proses dapat dikreasi yang penting hasilnya. Oleh karena itu mereka tidak senang sesuatu yang dibakukan atau diwajibkan ini dan itu.  Yang dikejar apa tujuan atau apa hasil yang diharapkan, mereka akan mencari sendiri cara mencapainya.  Kesukaan coba-coba merupakan salah satu cirinya.

Anak-anak generasi ini termasuk multitasking yang dapat membaca atau mengerjakan sesuatu sambil mendengarkan musik atau menyanyi atau aktivitas lainnya.  Mungkin generasi sebelumnya mereka tidak fokus, pada hal mereka dapat multi fokus.  Tampaknya kebiasaan pindah-pindah perhatian dengan sangat cepat di gadget membuat kemampuan multitasking mereka tumbuh.

Dalam interaksi sosial mereka lebih multikultural dan lebih toleran terhadap perbedaan.  Sekali lagi kebiasaan membaca dan berkomunikasi melalui gadget membuat mereka berteman dengan orang lain yang multikultural, sehingga lebih mudah memahami teman yang berbeda budaya.  Pergaulan mereka cenderung tidak tatap muka, tetapi virtual.  Seringkali mereka lebih “akrab” dengan teman walaupun jarang ketemu tatap muka tetapi sering ketemu online.

Generasi Z sudah sejak awal memiliki pilihan apa yang ingin dipelajari, apa yang ingin dikerjakan.  Mereka akan berusaha dengan berbagai cara untuk mempelajari dan mengerjakan apa yang disukai.  Pemaksaan untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu yang tidak disukai dapat membuat mereka fustrasi atau bahkan melawan.

Nah, dengan karateristik semacam itu apakah model pembelajaran yang selama ini kita gunakan masih efektif? Bukankan agar pembelajaran berjalan efektif, model pembelajarannya yang disesuaikan dengan karateristik peserta didik.  Saya khawatir jika kita, guru dan dosen, masih menggunakan model yang selama ini kita gunakan, siswa dan mahasiswa tidak kerasan di kelas. Pepatah kita dapat memaksa kuda kedanau tetapi kita tidak dapat memaksa kuda minum air danau.  Kita dapat memenjara fisik seseorang tetapi kita tidak dapat memenjara pikirannya.  Kita, guru dan dosen yang pada umumnya tergolong generasi Y atau bahkan X, sebaiknya memahami bahwa siswa atau mahasiswanya berbeda dengan dirinya.

1 komentar:

Blogspotku mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.