Jumat, 25 Mei 2018

VISI DAN IMAJINASI

Sebenarnya saya kurang faham makna kedua kata itu. Saya ingin mendiskusikan karena dua istilah itulah yang saya rasa paling cocok untuk menggambarkan kemampuan yang saya bayangkan, terkait dengan pendidikan.  Mohon maaf jika ternyata secara akademik penggunaan kedua istilah itu tidak tepat.  Mohon teman yang ahli bahasa berkenan meluruskannya.

Saya sering mengagumi bagaimana orang yang mampu mengubah keadaan yang mungkin kebanyakan orang tidak pernah membayangkan.  Siapa yang membayangkan perkeretaapian berubah begitu banyak saat dipimpin Pak Jonan, yang sekarang menjadi Menteri ESDM.  Sebelumnya semua orang tahu kereta api sering telambat datang dan juga terlambat berangkat, sehingga Ivan Fals membuat lagu tentang itu.  Percaloan juga seakan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia perkeretaapian.  Demikian pedagang asongan.  Siapa yang membayangkan dalam waktu beberapa tahun saja, perkeraapian telah berubah seperti sekarang ini. Kereta api berangkat dna datang tepat waktu.  Kereta api bersih dan ber-AC serta bebas dari pedagang asongan.

Bagaimana kota Surabaya berubah demikian cepat oleh tangan Bu Risma dan sebelumnya telah dimulai oleh Pak Bambang DH.  Taman-taman menjadi begitu indah.  Kampung yang dulu langganan banjir kini telah banyak yang bebas. Layanan di kelurahan, kecamatan dan kantor pemerintahan lainnya menjadi sangat baik. Yang terakhir, ternyata pemasangan kamera di perempatan mampu menertibkan lalu lintas melebihi kehadiran petugas polantas. Jujur saya tidak tahu apakah anggaran di era Bu Risma memang lebih besar, sehingga dapat mengubah wajah kota atau karena kepiawaian beliau yang mampu mengubah kota Surabaya menjadi begitu berbeda.

Di masa lalu, juga ada almarhum Pak Cacuk yang dalam waktu singkat mampu mengubah wajah telkom.  Teman saya yang waktu itu bekerja di telkom bercerita bagaimana Pak Cacuk “membongkar” kebiasaan di telkom sehingga dapat waktu singkat berubah dari perusahaan monopoli yang “angkuh” tetapi menjadi “pelayan pelanggan”.  Karyawan yang dahulu tampak ogah-ogahan bekerja menjadi bersemangat.

Saya juga tidak tahu bagaimana Pak Ciputra “mengubah wajah Surabaya barat yang dahulu kering kerontang ibarat tempat “jin membuang anak” menjadi “kota baru” ibarat perumahan di negara maju.  Konon juga Pak Ciputra yang mampu mengubah Ancol dari pantai yang menyeramkan menjadi tempat hiburan yang begitu menarik.

Pada tahun 1970an saya masih ingat Jawa Pos itu “koran kecil” yang hampir mati.  Bagaimana Pak Dahlan Iskan mampu mengubahnya menjadi “raksana dengan anak pinak”, tidak hanya berupa koran baru, tetapi juga penerbitan, pabrik kertas, pembangkit listrik, TV dan sebagainya.   Pada hal, konon Pak Dahlan pada awalnya wartawan biasa, sebelum pada akhirnya memegang manajemen puncak di grup perusahaan itu.

Yang terbaru fenomena Gojek yang mampu mengubah pertaksian di Indonesia dan banyak diperkirakan akan mengubah pola kuliner.  Dengan pola online (go car), Nabil Makarim mampu merontokkan raksana taksi seperti Blue Bird, sehingga tepaksa bergabung dengan Go Car.  Melalui aplikasi Go Food, sekarang orang menjadi malan ke warung karena dengan Go Food makanan dapat diantar kerumah dengan cepat.

Dalam skala lebih kecil saya mengagumi seorang kawan yang mampu mengubah sekolah yang hampir tutup menjadi sekolah favorit.  Saya juga punya teman yang mampu mengubah warung kecil warisan orangtuanya menjadi warung yang sangat laris bahkan mulai membukan cabang di tempat lain.  Di Malang juga ada dokter yang mungkin bosan praktek, tetapi membuka bimbingan belajar bagi calon dokter yang akan ujian pendidikan profesi (UKM PPD).

Pertanyaan yang muncul, bagaimana mereka itu memulai perubahan itu.  Rasanya dimulai dengan imajinasi yang mungkin agak liar.  Membayangkan bagaimana kalau “menjadi begini dan begitu”. Gagasanya itulah yang mungkin dirumuskan lebih terstruktur menjadi visi dan kemudian dengan “gagah berani bahkan penuh tantangan” dilaksanakan.   Saya yakin pasti pada tahap awalnya banyak orang yang tidak setuju bahkan menentang.  Tetapi keberanian melangkah dan kepandaian mengatasi masalah tampaknya menjadi modal penting.

Pertanyaan berikutnya, dari kaca mata pendidikan, bagaimana menumbuhkan kemampuan tersebut. Menurut saya menemukan jawaban pertanyaan tersebut sangat penting, agar pendidikan kita mampu menghasilkan “orang-orang besar” dan bukan sekedar teknisi atau pekerja yang baik. 

Tidak ada komentar: