Minggu, 02 Februari 2020

KOMPETENSI-KONTEN-KARAKTER: Dimuat Kompas.com Tanggal 20 Januari 2020, dengan judul diubah Redaktur menjadi Lionel Messi Gantikan UN 2021 dengan Kompetensi dan Karakter

Ujian Nasional (UN) akan diganti dengan Uji Kompetensi dan Survai Karakter.  UN yang berbasis konten tidak cocok dengan kebutuhan anak-anak menghadapi masa depan, sehingga harus diganti denga uji kompetensi.  Dengan kompetensi, orang akan dapat belajar sendiri apa yang dia perlukan dalam kehidupannya. Begitu kira-kita ungkapan yang saya dengar, ketika beberapa teman membahas kebijakan Kemdikbud.

Apa yang dimaksud kompetensi?  Ternyata, sama dengan apa yang sering disebut dengan istilah 4-C (critical thinking, creativity, communication, collaboration).  Kadang ditambah satu C lagi yaitu confident, sehingga menjadi 5-C.  Ditambang satu C lagi yaitu curiosity, sehingga menjadi 6-C. Bahkan ada yang menambahkan 1-P yaitu problem solving dan 1-E yaitu empathy, sehingga menjadi 6C+1P+1E. 

Jika ditelusur, aspek-aspek kompetensi tersebut telah disebut oleh Tony Wagner (2007) dalam buku The Global Achievement Gap, dan diberi istilah the survival skills.  Bernie Trilling dan Thomas Fadel (2009) menyebutnya dengan istilah 21st century skills for live in our time.  The Economist-Intelligence Unit menyebutnya dengan istilah the future skills.  Kemdikbud (2003) dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) menyebut kemampuan seperti itu dengan istilah generic skills.  Walaupun menggunakan istilah yag berbeda-beda tetapi intinya sama, yaitu kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan, apapun profesinya.

Penelitian Samani dkk (2014) yang menggabungkan berbagai konsep dan memverifikasi di lapangan, menyimpulkan dua kemampuan pokok yang diperlukan dalam kehidupan, yaitu memecahkan masalah secara kreatif (solving problem creatively) dan hidup bersama di masayarakat secara harmonis (living together in a harmony).  Kemampuan pertama disebut personal skills karena diperlukan setiap orang walaupun dalam keadaan sendiri, sedangkan kemampuan kedua disebut social skills karena diperlukan ketika yang bersangkutan bekerja dana tau hidup berkelompok.  Critical thinking, creativity, problem solving merupakan bagian bari personal skills, sedangkan communication, collaboration, empathy merupakan bagian dari social skills.  Sementara confident dan empathy lebih merupakan karakter. Namun perlu dicatat, karakter semestinya tidak hanya terkait dengan baik terhadao orang lain, seperti jujur, sabar, suka menolong dan sejenisnya, tetapi juga kerja keras, tangguh dan pantang menyerah (grit) yang menurut penelitian Angela Duckworth (2016) merupakan kunci kesuksesan dalam kehidupan.

Lantas apa hubungannya dengan konten dan karakter? Untuk membahasnya, saya ingin mengajukan pertanyaan:  Ketika Leonel Messi sukses membuat gol kemampuan apa yang diterapkan?  Saya yakin dia memerlukan critical thinking untuk memahami situasi lapangan saat itu, creativity untuk menemukan posisi tembak yang paling ideal.  Dia juga harus memiliki keterampilan menggiring bola dan menembakkan ke gawang lawan. Inilah konten yang dimiliki oleh Messi dalam bermain bola.  Messi pasti juga memiliki karakter hebat, misalnya kerja keras, pantang menyerah, tidak emosi walaupun diganjal lawan dan sebagainya.  Jadi performa hebat Messi dalam bermain bola, didukung oleh kompetensi, konten dan karakter.  Performa adalah interseksi antara ketika aspek tersebut, seperti tampak pada Gambar berikut. Pola ini tentu tidak hanya berlaku pada pemain bola, tetapi juga profesi lain, misalnya insinyur, dokter dan guru.

Performa akan maksimal jika ditunjang oleh ketiga aspek tersebut secara poporsional, sesuai dengan karateristik tugas yang dihadapi seseorang. Yang pasti tidak mungkin performa akan baik kalau salah satu dari aspek tersebut tidak ada.  Dengan kata lain, ketiga aspek terebut diperlukan, sehingga harus ditumbuh-kembangkan dalam pendidikan.

Dalam konteks pendidikan, ketiganya tidak dapat dilepaskan. Sepertinya pesan Ki Hajar Dewantara pengembangan aspek intellect, karakter dan raga tidak dapat dipisahkan agar anak kita tumbuh dengan sempurna.  Konten dapat diibaratkan sebagai wahana, sedangkan kompetensi dan karakter sebagai isi.  Wahana, dalam konteks pendidikan, dapat berupa matapelajaran, tugas, proyek dan sejenisnya.  Tidak dapat dibayangkan bagaimana menumbuhkan critical thinking tanpa wahana, misalnya magnet dalam IPA atau Perang Diporegoro dalam IPS.  Tidak dapat dibayangkan mengembangkan karakter percaya diri tanpa wahana misalnya tugas yang sederhana dan anak pasti dapat mengerjakan. Dengan demikian antara kompetensi, karakter dan konten tidak perlu dipertentangkan.  Yang perlu dicari bentuknya adalah wujud performa, yang mengandung ketiganya.  Bagaimana wujud pembelajaran yang dapat mengembangkannya.  Misalnya bagaimana dirancang ketika siswa SMP memperlajari topik magnet di IPA, mengapa suatu benda mengandung magnet, mengapa yang tidak. Bagaimana menggunakan magnet untuk keperluan sehari-hari, dan sebagainya. Ketika belajar topik Perang Diponegoro, siswa didorong berpikir mengapa Diponegoro melawan Belanda, bagaimana seandainya Diponegoro justru menang dalam perang tersebut.  Jika pembelajaran IPA dan IPS tersebut dikerjakan dalam bentuk tugas kelompok, bagaimana karakter sabar, tenggang rasa dan juga kerja keras dapat ditumbuhkan.

Jika AKSI akan menggantikan UN, bagaimana soal-soal AKSI dapat mengukur kompetensi dalam wadah konten.  Misalnya dapat mengukur critical thinking, creativity dan problem solving dalam konten persamaan kwadrat di Matematika SMP.  Dapat mengukur kompetensi yang sama dalam topik Pemerintahan Daerah di PPKn. Dan sebagainya.

Lebih dari itu, perlu dirancang upaya bagaimana agar guru mampu melaksanakan konsep tersebut. Tidak hanya tahu teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan di kelas.  Tidak hanya yang terkait dengan pembelajaran, tetapi juga bagaimana mengukur ketercapaikan targetnya, sehingga dapat melaksanakan remidial bagi yang belum mencapai dan pengayaan bagi yang melaju lebih dahulu.

Terkait dengan karakter, perlu dicatat bahwa pendidikan karakter yang paling efektif adalah melalui budaya sekolah (Samani dan Haryanto, 2011).  Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak dapat diserahkan kepada guru agama dan PPKn saja, tetapi semua guru adalah guru karakter. Lebih dari itu, karakter tidak dapat diajarkan melalui ceramah tetapi harus ditularkan, sehingga semua guru harus menjadi contoh bagaimana berkarakter yang baik.


1 komentar:

share and care mengatakan...

Terima kasih prof