Senin, 20 Mei 2013

PEMBALAP TIDAK PUNYA MOBIL BALAP, YANG PUNYA MOBIL BALAP TIDAK OPTIMAL PENGGUNAANNYA


Tanggal 14 Mei 2013 pukul 15an, rombongan dari Koni Jatim, Koni Kota Surabaya dan Dinas Dikpora Jatim datang ke Sport Science Center (SSC) Unesa.  Rombongan dipimpin oleh Ir. Erlangga Satriagung, Ketua Umum Koni Jatim.  Kebetulan beliau teman saya di banyak kegiatan sosial.  Pertemuan menjadi sangat santai diselingi kelakar segar, karena sudah saling mengenal.  Apalagi sebagian pengurus Koni sebenarnya juga dosen Unesa, yaitu dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan.

Pada awalnya tujuan utama pertemuan adalah mendiskusikan peluang para atlet Jawa Timur yang mendali PON untuk masuk ke Unesa.  Tahun 2012 sebenarnya hal itu sudah didiskusikan dan bahkan sudah dilaksanakan.  Namun baru dalam tahap uji coba dan sekarang ingin diformalkan dengan MoU.  Namun karena Unesa memiliki sarana Lab Keolahragaan yang cukup baik, sementara Koni Jatim ingin menerapkan iptek dalam pengembangan olahraga, maka diskusi kemudian juga membahas bagaimana Koni Jatim dan Unesa dapat bekerjasama.

Ketika diminta memberi sambutan di awal diskusi, saya menyampaikan untuk urusan peraih medali emas masuk ke Unesa itu mudah.  Bagi Unesa “ujian” untuk meraih medali eman di PON sudah dapat menggantikan tes masuk.  Kompetisi di PON itu ujian yang sesungguhnya, sedangkan SNMPTN dan SBMPTN untuk bidang olahraga itu sekedar prediksi.  Tentu prediksi tidak akan seakurat yang sesungguhnya.  Jadi Unesa siap menerima peraih medali emas di PON.

Tentang penggunaan peralatan, saya sampaikan bahwa semua peralatan di SSC Unesa adalah milik negara, Koni adalah organ negara, dan para atlet adalah petugas negara.  Jadi mari kita gunakan semua peralatan yang ada untuk pembinaan atlet, mari semua peralatan kita operasional bersama dan juga kita pelihara bersama. 

Pak Erlangga menyambut baik “uluran tangan” Unesa tersebut.  Apalagi setelah Prof. Hari Setijono memaparkan data kondisi atlet dan dikaitkan dengan peralatan yang dapat mengetes kondisi atlet dan sekaligus juga dapat meningkatkannya.   Data tersebut semakin meyakinkan perlunya menggunakan iptek (baca: peralatan di SSC) untuk memperbaiki kondisi atlet dan sekaligus meningkatkan prestasinya.

Setelah diskusi, rombongan meninjau SSC untuk melihat alat apa saja yang dimiliki dan apa kegunaannya.  Saya sendiri belum pernah melihat alat-alat yang dimiliki SSC secara detail, sehingga saya juga ikut rombongan melihat-lihat sampai di lantai atas.  Satu persatu perlatan dilihat dan dijelaskan apa gunanya dan bagaimana mengoperasikannya.  Termasuk apa sarana pendukung yang diperlukan agar penggunaan peralatan tersebut dapat optimal.

Mendapat penjelasan Prof Hari Setijono dan juga petugas yang menangani peralatan tersebut, rombongan termasuk saya “terkagum-kagum”.  Ternyata peralatan yang dimiliki sungguh sangat bagus dan mahal harganya.  Konon ada satu alat yang harganya 3 M.  Pada hal peralatannya cukup banyak.  Juga ada peralatan untuk uji renang yang arus airnya dapat diatur baik arah dan kecepatannya.  Dengan cara itu, penerang dapat berlatih di air dengan arus deras.  Konon alat tersebut juga untuk terapi bagi orang yang cedera tulang belakang.  Konon, ahli olahraga dari Autralia yang diundang untuk mendampingi Koni Jatim juga heran Unesa memiliki peralatan tersebut.  Australia Barat-pun belum memiliki beberapa peralatan canggih seperti yang dimiliki Unesa.

Nah, ketika dijelaskan apa sarana pendukung yang diperlukan agar peralatan tersebut dapat berfungsi maksimal, saya jadi tertegun.   Ada alat yang untuk mengoperasikan memerlukan daya 30 KVA, sehingga untuk itu diperlukan genset, karena daya listrik SSC tidak mencukupi.  Alat uji renang baru digunakan sekali, yaitu waktu uji coba saat serah terima dari pemborong.  Setelah itu belum pernah digunakan karena untuk mengoperasikan diperlukan daya listrik lebih besar lagi.

Melihat kondisi itu, saya jadi teringat kelakar yang sering saya munculkan kalau kebetulan lewat di depan rumah mewah, misalnya di Citraland Surabaya dan Pondok Indah Jakarta.  “Saya diberi rumah mewah itu tidak mau, karena takut tidak dapat membiayai pemeliharaannya”.  Bayangkan berapa untuk membayar listrik dan berapa untuk menggaji pembantu yang merawat rumah sebesar itu.  Saya takut Unesa juga tidak mampu memelihara peralatan itu, karena besarnya biaya operasional.

Sambil jalan saya berseloroh kepada teman-teman Koni, “ini ibarat si pembalap tidak punya mobil balap, sementara yang punya mobil tidak dapat menjalankan”.  Maksud saya, Unesa memiliki peralatan canggih tetapi tidak mampu menggunakan secara maksimal karena tidak memiliki anggaran, sementara Koni Jatim memerlukan peralatan tersebut dan punya anggaran tetapi tidak memiliki alat.  Nah, sangat bagus kalau bersinergi.  Kita gunakan bersama peralatan tersebut dan Koni dapat mendukung anggaran untuk mengoperasikan serta memeliharanya. 

Pagi ini, tanggal 21 Mei 2013 saya diundang sarapan pagi oleh Dr. Hallam Pereira, International Project Director dari Department of Sport and Recreation Australia Barat.  Dr. Harllam ditemani oleh Mbak Ririn, staf Koni Jawa Timur.  Seloroh di atas saya sampaikan ke beliau dan beliau mengatakan itu metaphora yang pas dan harus dipecahkan.  Sebagai orang yang menekuni pengembangan olahraga di negara maju, Dr. Harllam menyakinkan saya akan pentingnya menerapkan iptek dalam olaharaga.  Dia mencotohkan, bagaimana Australia negara “muda usia” dengan penduduk sedikit mampu bertengger di urutan atas dalam olimpiade.  Sementara negara yang sudah “tua” dengan penduduk besar seperti India, Mesin dan Indonesia dikalahkan.  Jawabannya karena Australia menerapkan iptek dalam pengembangan olahraga.  Dia memberikan banyak contoh.

Diskusi mengarah kepada satu pertanyaan, bagaimana cara meyakinkan pihak pengambil kebijakan, seperti Koni Jawa Timur, Dispora Jatim, dan Unesa untuk meniru pola tersebut.  Dalam taraf retorika sangat mudah.  Bahkan Gubernur Jawa Timur sudah menyebutkan hal itu pada pelatikan pengurus Koni Jatim tahun lalu. Namun implementasinya ternyata tidak mudah. Saya usulkan dibuat program riset yang sederhana tentang penerapan iptek dalam pengembangan olahraga, tetapi yang segera tampak hasilnya.  Cara itu akan dapat meyakinkan pihak pengambil kebijakan.  Dan mengingat kita masih “silau” dengan “bule”, maka program riset tersebut saya usulkan berupa kolaborasi antara Dispora Jatim, Koni Jatim, Unesa dan Departmen of Sport and Recreation Australia Barat.  Jika perlu beberapa orang dari ketiga lembaga di Jatim tersebut melihat contoh yang sudah berjalan di Autralia Barat.  Semoga.  

Tidak ada komentar: