Minggu, 12 Mei 2013

CHILD CARE DI LAB SCHOOL UNESA


Ada perubahan signifikan dalam pola kehidupan keluarga muda, khususnya keluarga terdidik di kota.  Dan itu terkait dengan pendidikan, sehingga para ahli dan praktisi pendidikan harus memikirkannya.  Fenomena itu sangat mungkin berpengaruh kepada perilaku anak-anak saat ini.  Sangat mungkin perubahan itu sudah dimulai tahun 1980an dan kita luput memperhatian, sehingga dampaknya tidak terantisipasi.

Apa itu?  Ibu-ibu yang bekerja penuh waktu di luar rumah.  Di masa lalu, pada umumnya ibu tidak bekerja penuh waktu.  Kalau toh bekerja di sekitar rumah, sehingga tetap dapat mengasuh dan membimbing anak-anak.  Kalau toh bekerja di luar rumah, tidak untuk penuh waktu.  Oleh karena itu, ibu dapat mengasuh dan membimbing anak-anak ketika pulang sekolah.

Saat ini ibu-ibu muda dan terdidik pada umumnya bekerja penuh waktu di luar rumah.  Tidak sedikit ibu-ibu yang “mengejar” karier, sehingga seringkali sore bahkan larut malam baru pulang ke rumah.  Pertanyaan yang mucul, terus dengan siapa anak-anak di rumah?  Mungkin pagi hari anak-anak sekolah, tetapi setelah pulang dengan siapa di rumah?  Siapa yang mengasuh atau membimbing ketika mereka di rumah?

Di negara maju, misalnya di Inggris konon ada undang-undang yang menyatakan anak sampai usia 12 tahun tidak boleh di rumah tanpa ditemani oleh orang dewasa.  Karena itu undang-undang, maka jika ada yang melanggar akan dikenakan tindakan hukum.  Akibatnya keluarga yang memiliki anak usia di bawah 12 tahun, pada umumnya memilih bekerja paruh waktu atau menitipkan anaknya di Day Care.  Sore hari saat orangtua pulang kerja, anak dijemput untuk pulang.

Indonesia belum memiliki undang-undang seperti itu.  Dan lagi, tenaga pembantu rumah tangga banyak.  Oleh karena itu, pada umumnya keluarga muda yang bekerja penuh waktu di luar rumah, menyerahkan pengasuhan dan pembimbingan anak-anak kepada pembantu rumah tangga.  

Sayangnya, pada umumnya pembantu rumah tangga tidak memiliki bekal pengetahuan bagaimana mengasuh dan mendidik anak-anak.  Pada akhirnya, yang penting anak tidak menangis dan yang paling sering diajak nonton TV.  Jadilah anak-anak tersebut dididik oleh TV.  Sayangnya lagi, tayangan TV di Indonesia saat ini kurang mendidik.  Itulah yang terjadi pada anak-anak di negeri ini.

Berangkat dari pemikiran itu, Unesa mendirikan Child Care (CC) yang lokasinya di kompleks PAUD Lab School Kampus Ketintang.  Diharapkan CC tersebut dapat menjadi tempat para ibu muda yang bekerja penuh untuk “menitipkan” putranya.  Kata menitipkan sengaja diberi tanda “….”, karena selama di CC anak akan mendapat pengasuhan yang sesuai dengan perkembangan fisik maupun psikologisnya.

Paragraf di atas terkesan seperti iklan.  Namun memang itu tekat Unesa.  Kita tahu usia anak-anak tersebut adalah usia emas (golden age)  yang menentukan perkembangan anak di masa depan.  Oleh karena itu, anak harus mendapat asuhan dan rangsang yang tepat untuk memicu perkembangan kea rah yang positif dan maksimal.

Ketika ide membuat CC itu dibahas, saya menyampaikan itu bahwa ide bagus. Ide  cermelang untuk menghindari munculnya “anak pembantu dan anak TV”, namun ada catatannya.  Apa itu?  Unesa harus sungguh-sungguh dalam mengelola CC.  Tidak boleh setengah-setengah.  Mengapa?   Karena kualitas pengasuhan di CC akan menentukan masa depan anak.  Jangan samai pengasuhan di CC tidak beda signifikan dengan pengasuhan oleh pembatu atau oleh TV.

Untuk itu, CC di Unesa harus ditangani oleh mereka yang benar-benar faham dan terampil dalam tugasnya.  Sarana juga harus disediakan sesuai kebutuhan perkembangan anak-anak.  Dan alhamdulillan, CC di Unesa sudah dimulai dan konon sudah ada tujuh orang yang menitipkan putranya.  Semoga Unesa dapat berkontribusi dalam pengasuhan anak-anak dari keluarga yang suami dan istri bekerja penuh waktu di luar rumah. 

Tidak ada komentar: