Rabu, 09 September 2015

MAN POWER PLANNING vs HUMAN DEVELOPMENT



Ketika menempuh S2 tahun 1985-1987 saya mempelajari dengan sungguh-sungguh perdebatan dua mazab perencanaan pendidikan (kalau boleh disebut begitu), yang biasa disebut dengan Man Power Planning dan Human Development Approach.  Perdebatan yang tidak berujung, karena keduanya memiliki asumsi dan titik tolak yang berbda.  Ketika 2-4 September 2015 (30 tahun kemudian), saya mengikuti International Vocational Education and Tranining (VET) Conference di Bremen Jerman, dua aliran itu masih terasa sangat kental.

Aliran man power planning intinya pendidikan diarahkan untuk mendukung pembangunan suatu bangsa, dengan asumsi dasar orang (individu) itu bagian dari suatu masyarakat dan bangsa.  Oleh sebab itu pendidikan harus membekali anak-anak muda untuk pada saatnya dapat berperan aktif dalam proses pembangunan masyarakat dan bangsanya.   Jabaran selanjutnya, jenis pendidikan dan tingkatannya harus didasarkan atas prediksi atau arah pembangunan bangsanya.  Negara-negara Eropa kontinental merupakan negara-negara yang menganut faham itu, walaupun ada yang sangat ketat ada pula yang longgar.

Untuk mendukung pola itu dan sekaligus untuk mengupayakan agar seseorang dapat menempuh pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, maka bimbingan dan konseling menjadi sangat penting.  Sejak awal anak-anak sudah diarahkan untuk mengikuti alur pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.  Jalur pendidikan juga sudah disesuaikan dengan lapangan kerja yang tersedia.  Harapannya, setiap orang akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya, dan pekerjaan itu memang merupakan bagian dari pembangunan negara.

Negara yang menganut faham ini biasanya memiliki pendidikan kejuruan (lebih luas dari sekolah kejuruan) atau yang biasa disebut dengan VET atau TVET (Technical and Vocational Education and Training) yang kokoh.  Jerman, Swiss merupakan dua negera contoh.  Lebih longgar sedikit, misalnya Belanda dan negara-negara sekitarnya.

Di lain pihak, human development approach bertolak dari pandangan bahwa pendidikan itu bertujuan untuk mengembangkan potensi seseorang dan tidak terkait langsung dengan pekerjaan.  Sementara setiap orang memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri dan tidak ada orang lain yang memaksanya.  Oleh karena itu, jenis dan tingkatan pendidikan tidak dikaitan dengan pembanguna suatu bangsa, katakanlah perkembangan industri, tetapi dengan ilmu pengetahuan yang diyakini menjadi bekal utama seseorang dalam mengembangkan diri.

Derivasi dari faham itu, setiap orang boleh memilih jenis dan jenjang pendidikan apa saja, sesuai dengan keinginannya. Orang juga boleh zig-zag dalam menempuh pendidikan, misalnya S1 Biologi tetapi melanjutkan ke S2 Taknik. Yang membatasi hanyalah kemampuan untuk menempuh pendidikan itu.  Dengan pembatasan itu, orang akan apakah Anda mampu secara akademik dan secara finansial menempuh suatu jalur dan jenjang pendidikan.

Negara yang paling mencolok mengiktu faham itu adalah Amerika Serikat yang sebenarnya diwarisi dari Inggris.  Demikian pula Australia.  Oleh karena itu, di Amerika Serikat dan Australia istilah VET atau TVET tidak banyak dikenal.  Amerikan menggunakan istilah CET (Career and Technical Education) dan Australia menggunakan istilah TAFE (Techical and Futher Education).