Sabtu, 05 September 2015

MY SON, THE ROAD OF SUCCESS IS ALWAYS UNDER CONSTRUCTION!


Judul diatas saya pinjam dari tayangan penutup Dr. Lazaro Moreno Herrera, orang asal Cuba yang menjadi dosen di University Stockholm Swedia dan tampaknya sudah menjadi warga negara Swedia.  Judul makalahnya “Vocational Education and Training in Sweden: From Work Based Learning to School Based Learning-and back?”.  Mungkin karena beliau orang Cuba dan memperoleh PhD di Finlandia, maka tinjauannya sangat jernih dan tajam.  Mengenal betul karateristik pendidikan di Scandinavia, termasuk perpolitikan yang berpengaruh terhadap arah pendidikan di negara-negara Scandinavia, tetapi tidak terikat secara kultural, karena bukan kelahiran Swedia dan tidak pernah sekolah di Swedia juga.

 


 
Beliau menjelaskan bahwa pada awalnya pola pendidikan di Swedia, khususnya VET (pendidikan kejuruan—mohon dicatat itu lebih luas dari SMK, karena mencakup pelatihan dan politeknik) menggunakan work based learning. Artinya program yang ada, kurikulum maupun pelaksanaan pendidikan banyak melibatkan dunia industri.  Anak muda di Swedia senang masuk VET karena mudah mendapatkan pekerjaan dan dihargai di masyarakat.  Industri juga sudah terbiasa terlibat dalam pendidikan. 

Namun seiring dengan perkembangan zaman, dan menurut Dr. Lazaro juga ada pengaruh politik, pola itu dianggap menimbulkan segregasi sosial.  Anak-anak yang masuk VET pada umumnya dari kalangan menengah kebawah yang ingin segera bekerja. Walapun mudah mendapatkan pekerjaan, tetapi pada umumnya ada tataran blue color worker yang rendah gengsinya.  Oleh karena itu atas nama persamaan hak, semua anak didorong masuk universitas dan berpendidikan setinggi mungkin, dengan meminimalkan pembiayaan.  Dengan demikian anak-anak dari keluarga kelas menengah kebawah juga dapat menyamai mereka yang dari menengah ke atas.

Namun akhir-akhir ini angka pengangguran sangat tinggi di Swedia, sampai sedikit di atas 20%. Anehnya menurut Dr. Lazaro pengangguran yang tinggi itu tidak menjadi gejolak, karena Swedia merupakan wellfare state, sehingga mereka yang tidak punya penghasilan disubsidi oleh negara.  Dan anak-anak muda tetap tenang saja, dengan menyandang pendidikan tinggi tetapi tidak punya pekerjaan.  Yang justru mulai risau adalah pemerintahnya.  Mulai ada wacana ingin mengembalikan pola pendidikannya ke work based learning.

Nah, wacana itulah yang dibahas oleh Dr. Lazaro dengan panjang lebar.   Konon terjadi perdebatan sengit dan berkepanjangan tanpa simpulan yang jelas tentang kemana kebijakan pendidikan akan diarahkan. Di satu pihak ada kelompok yang ingin mengurangi pengangguran denga menggalakkan VET, sebaliknya pihak lain mempertanyakan apakah ingin menimbulkan segregasi sosial seperti di masa lalu.

Ketika diskusi muncul berbagai tanggapan dari peserta.  Seperti biasanya, setiap peserta akan membawa faham negaranya masing-masing.  Yang saya tangkap dari anggapam peserta dari Jerman dan Swiss, pola VET di Jerman dan negara sekitarnya itu memiliki sejarah tersendiri.  Secara tradisi VET itu bagian dari industri dan industri sudah sejak dulu merasa berkuwajiban membantu VET.  Jadi pola yang sekarang menjadi aturan pemerintah sebenarnya hanya memformalkan apa yang sebelumnya sudah terjadi.  Itulah sebabnya dual system berjalan dengan baik d Jerman.

Sebaliknya di Amerika Serikat tidak punya tradisi itu.  Amerika Serikat menggunakan school based learning.  VET bagian dari pelajaran di sekolah umum. Siswa belajar keterampilan di sekolah atau vocational center.  Tujuannya bukan agar siswa siap bekerja, tetapi agar siswa mengenal, menghargai dan punya pandangan positif terhadap pekerjaan yang bersifat manuan skills.  Nanti kalau akan bekerja mereka mengikuti OJT di industri tempat bekerja.

Jadi indutri di Amerika Serikat tidak punya tradisi melayani siswa VET, sehingga akan sulit melaksanakan dual system.  Sebaliknya mereka terbiasa memberikan OJT bagi karyawan baru. Menurut peserta dari Amerika, industri di sama mau memberi OJT karena sudah menjadi karyawannya, sedang jika dual system, siswa belum tentu menjadi karyawannya.

Dari diskusi yang hangat, saya menangkap pendidikan tidak bisa sekedar “meminjam” pola yang baik di negara lain, tanpa mempertimbangkan budaya dan tradisinya.  Saya berpikir, jangan-jangan kekurangberhasilan pendidikan sistem ganda di Indonesia, karena ketika meminjang pola Jerman tanpa mepertimbangkan bahwa budaya kita berbeda dengan budaya Jerman.

Pelajaran kedua yang dapat saya tangkap dari diskusi itu adalah, kita tidak boleh begitu saja pindah-pindah dari satu sistem ke sistem lain.  Perpindahan sistem memiliki konskwensi besar, karena masing-masing sistem punya rangkain komponen untuk melaksanakan.  Jika sistem berubah, tida begitu saja komponennya dapat berubah.  Apalagi jika itu menyangkut budaya dan tradisi.  Apa yang diuraikan Dr. Lazaro tentang pendidikan di Swedia merupakan pelajaran berharga bagi kita di Indonesia.  Jangan sampai tayangan penutup Dr. Lazaro “anakku, jalan untuk menuju sukses selalu saja masih dalam perbaikan”.  Artinya kita tidak pernak punya siswa

Tidak ada komentar: