Senin, 07 November 2016

PASAR LOAK


Kalau orang Surabaya mendengar kata pasar loak, saya yakin yang terbayang adalah pasar loak yang ada di dekat Jalan Demak.  Pasar barang bekas yang konon apa saja ada. Mulai dari barang yang kecil-kecil seperti spion sepeda motor, baju sampai yang sangat besar, misalnya mesin disel untuk penggilingan padi.  Pokoknya lengkap.  Jika Anda tidak menemukan barang yang dicari, konon dapat biang kepada penjual mencari barang “ini”, mereka akan berusaha mencarikan dan sangat mungkin dapat.

Seingat saya, pasar loak seperti itu juga ada di kota-kota lain, walaupun saya belum pernah menemukan yang sebesar dan selengkap di Jalan Demak.  Apa di luar negeri ada?  Ternyata juga ada, walupun bentuk dan ukurannya bervariasi.  DI Negeri Belanda saya pernah menemukan dan kalau tidak salah disebut Flee Market.  Di Inggris saya belum pernah menemukan yang seperti itu.  Yang pernah saya temukan dan bahkan pernah membeli barangnya yaitu di Charity Shop.  Konon barang yang dijual di toko seperti itu merupakan barang bekas yang disumbangkan oleh orang.  Mereka pilihi dan layak jual kemudian dijual.  Hasilnya disumbangkan kepada pihak yang memerlukan.

Apakah di Jerman juga ada?  Semula saya mengira seperti di Inggris, yang berupa toko yang cukup baik.  Apalagi ketika naik tram dari St Jurgenstasse ke HBF (stasiun sentral) saya membaca ada toko yang ada tulisannya “second hand”.  Namun saya kaget ketika di hari terakhir saya di Bremen menemukan pasa loak yang cukup besar.

Pada hari terakhir di Jerman, kami (saya dan isteri) punya waktu lebih setengah hari nganggur.  Pesawat kami baru terbang sekitar jam 18, berarti jam 15 saya baru perlu di bandara.  Jadi mulai bangun pagi sampai jam 14an kami nganggur.  Oleh karena itu kami memutuskan untuk jalan-jalan, apalagi hari Sabtu yang bagi orang Jerman merupakan hari libur.  Kami mencari lokasi yang tidak terlalu jauh, sehingga memutuskan akan jalan-jalan di sekitar Domside atau city center.  Di daerah itu juga ada Snoor, yaitu daerah yang konon merupakan lokasi rumah-rumah kuno di Bremen.

Ketika turun dari tram, hari masih pagi dan matahari baru saja terbit, sehingga kami ingin jalan-jalan di pinggir sungai.  Seperti pernah saya ceritanya, di pinggir sungai itu ada jalan pavingan selebar kira-kira 15 m, dh ketinggian sekitar 2 m di bawah jalan raya.  Jalan pavingan itulah tempat orang jalan-jalan.  Namun hari itu, keadaan sangat berbeda.  Ketika menuruni tangga dari jalan raya, kami menemukan pada loak yang cukup besar.  Di pinggir jalan pavingan itu dipenuhi penjuah barang loak, mulai dari baju, celana, jaket dan sejenisnya, juga ada tas, sepatu dan sejenisnya.  Juga ada orang yang menjual barang-barang golongan seterika, gembok dan sejenisnya.  Pokoknya macam-macam barang bekas di jual di pinggir jalan yang biasanya untuk rekreasi.

Banyak penjual barang-barang bekas itu yang saya duga orang Turki atau sekitarnya.  Juga ada beberapa orang kulit putih yang saya tidak dapat membedakan orang dari mana itu.  Juga ada beberapa orang yang berkulit gelap.  Pembelinya atau orang yang hilir mudik disitu juga beraman, yang berkulit putih banyak, yang berkulit gelap juga banyak, dan mirip Timur Tengah juga banyak.  Orang Asia tidak terlalu banyak, karena memang kabarnya orang Asia yang tinggal di Bremen tidak banyak.

Bagaimana kondisi barangnya?  Menurut saya relatif baik-baik.  Pakaian misalnya, jaket yang dijual masih sangat baik.  Kalau kita beli mungkin orang tidak tahu kalau itu barang bekas.  Sepatu juga banyak yang baik, demikian pula tas.  Yang tampak kalau itu barang bekas adalah yang golongan dari besi, seperti kunci, seterika dan sebagainya.

Bagaimana harga barang-barang disitu?  Kami tidak tahu secara detail, karena memang tidak membeli.  Uang Euro sudah dirancang hanya untuk makan hari itu saja, sehingga tidak dapat membeli sesuatu walaupun sebenarnya ada beberapa barang yang menarik.  Akhirnya kami hanya melihat-lihat saja.

Tidak ada komentar: