Sabtu, 09 Desember 2017

ANTARA POTENSI DAN JAM TERBANG



Beberapa hari lalu saya mendapat tugas sebagai Panitia Seleksi (pansel) eselon 1 di suatu kementerian.  Pansel terdiri dari 7 orang, 2 orang pejabat dari kementerian yang bersangkutan, 1 orang pejabat dari Kementerian PAN dan RB, dan 4 orang orang dari luar.  Ke-4 orang ini disebut sebagai profesional, karena memang semuanya bukan pejabat.  Satu orang mantan wakil ketua KPK, satu orang mantan wakil rektor universitas ternama, satu orang aktivis pendidikan dan saya sendiri.

Ketika pertama kali pansel rapat, kami mencoba menyusun kriteria yang diyakini cocok untuk jabatan eselon 1 tersebut.  Jabatan tersebut sangat vital dan terkait dengan kepentinga banyak pihak.  Oleh karena itu, pansel mengajukan syarat cukup berat, misalnya pernah menjadi eselon 2 dalam bidang yang sama minimal 2 tahun, dan minimal di tingkat propinsi.  Jika dari kalangan perguruan tinggi, minimal pernah menjadi dekan selama 2 tahun.  Masih ada syarat lain yang cukup berat.

Ketika masa pendaftaran usai, pansel rapat untuk mencermati berkas lamaran.  Ternyata yang memenuhi syarat hanya sedikit dan itupun “meragukan”.  Misalnya ada yang usianya baru 33 tahun tetapi menyebutkan sudah golongan IV.C.  Ada juga guru SD tetapi berpengalaman macam-macam, sehingga menganggap setara dengan eselon 2 di level propinsi.  Oleh karena itu, pendaftaran diperpanjang dengan harapan mendapatkan tambahan calon yang cukup baik.

Setelah pendaftara diperpanjang selama satu minggu dan kemudian dilakukan seleksi administrasi ada 14 orang pendaftar yang memenuhi syarat.  Sesuai prosedur yang telah ditentukan, seleksi terdiri dari dua tahap, yaitu “assessment psikologi” oleh lembaga yang ditunjuk dan wawancara oleh pansel.   Kami juga sepakat, hasil assessment diberikan sebelum wawancara, sehingga dapat dijadikan masukan dan arahan wawancara.

Wawancara untuk ke 14 calon tersebut dilaksanakan selama 2 hari dan setiap calon diwawancarai oleh 7 orang pansel dalam waktu 30-60 menit.  Masing-masing anggota pansel berusaha mengganti kemampuan calon untuk melaksanakan tugas beratnya jika nanti terpilih.  Walaupun wawancara dibuat santai, ternyata sebagian besar calon grogi dan bahkan tangannya dingin saat bersalaman setelah selesai wawancara.

Sungguh menarik, walaupun masing-masing anggota pansel mengajukan pertanyaan sendiri-sendiri dan juga melakukan penilaian secara independen hasilnya hampir sama. Pada hal aspek kemampuan yang harus digali selama wawancara cukup banyak.  Ketika wawancara selesai dan hasil penilaian masing-masing anggota pansel di-input dalam axel dan ditayangkan, kemudian diambil 6 calon yang mendapat skor tertinggi hasilnya hampir sama. Empat calon terpilih oleh semua anggota pansel sebagai 6 terbaik.  Bahkan calon yang mendapatkan skor tertinggi sama oleh semua anggota pansel.  Oleh karena itu, inter rater pansel sangat baik.

Dengan data itu, pemilihan 6 calon terbaik praktis tidak mengalami kesulitan.  Dengan diskusi tidak sampai 30 menit, semua anggota pansel menyepakati 6 orang calon yang terbaik. Masalah muncul ketika harus memilih dari 6 menjadi 3 orang.  Pertanyaan yang sulit dijawab adalah mana yang lebih diutamakan, potensi atau jam terbang.  Diantara 6 calon itu ada yang potensinya sangat bagus, tetapi “jam terbangnya” sangat sedikit, sehingga yang bersangkutan memerlukan waktu belajar cukup untuk dapat mengatasi problem yang dihadapi.  Di lain pihak ada calon yang jam terbangnya panjang, tetapi kemampuan membuat terbosan tidak terlalu baik.

Setelah diskusi panjang, pansel menyimpulkan keduanya sama-sama penting.  Namun demikian mengingat tugas eslon 1 tersebut segera menyelesaikan masalah pelik yang saat ini dihadapi dan urusannya terkait dengan banyak pihak, maka kemampuan menjalin komunikasi dengan berbagai pihak juga mendapat penekanan.  Nah, ketika kriteria tersebut disepakati dan bobotnya juga disepakati, pemilihan 3 terbaik dan enam yang baik-baik dapat dilakukan dengan mudah dan semua anggota pansel menyetujui.  Semoga salah satu dari 3 yang terpilih tersebut pada saatnya menjadi pejabat eselon 1 yang mampun menyelesaikan masalah pelik dan belum dapat diselesaikan pejabatan sebelumnya.

Tidak ada komentar: