Minggu, 08 April 2018

MENERAPKAN MODEL I-CARE PADA TOT ASESOR


Selama 5 hari, tanggal 4-8 April 2018,  BAN-SM (Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah) melakukan TOT (training of trainer) asesor.  Ketika mempersiapkan ada keinginan kuat dari teman-teman BAN-SM untuk “memulai” era baru dalam pelatihan.  Era baru diwujudkan dalam 2 hal yaitu: (1) melaksanakan TOT 40 jam benar-benar dilaksanakan selama 40 jam dan bukan “disunat” menjadi 30 jam. Jangan pelatihan yang teorinya dilaksanakan 5 hari “disunat” menjadi 3 hari. (3) melaksanakan TOT dengan prinsip andragogi dan active learning, sehingga peserta benar-benar aktif belajar dan merasa mendapatkan manfaat.  Untuk itu Bu Itje yang ditunjuk sebagai koordinator pelatihan mengajukan model pelatihan yang menurut saya I-CARE (Introduction-Conection-Aplication-Reflection-Extention).

Ketika Bu Itje menjelaskan jadwal pelatihan, saya nyeletuk “wah Bu Itje mengharap semua peserta sehat”.  Sepertinya beberapa teman bingung mendengar komentar tersebut.  Namun Bu Itje cepat tanggap dan menjawab “lha gimana lagi, kan pelatihannya 40 jam, sementara hari pertama hanya 5 jam dan hari terakhir juga hanya 5 jam.  Jadi terpaksa pada 3 hari yang lain pelatihan mulai jam 08.00 s.d 21.00”.   Berarti dalam sehari peserta mengikuti pelatihan selama 13 jam.  Tentu dikurangi istirahat, baik break pagi, ishoma siang, break sholat ashar dan ishoma magrib. Bukan main.

Karena menggunakan pola I-CARE atau lebih tepatnya modified I-CARE peserta sangat aktif, sehingga mereka tidak mengantuk.  Pada pola I-CARE, fasilitator (pelatih) hanya mengantar dalam beberapa menit, yaitu sekitar 5 menit untuk pengantar (introduction).  Pada tahap connection, peserta sudah mulai aktif karena ditanya ini dan itu, untuk menyadari apa yang dipelajari ada manfaatnya dan atau apa yang dipelajari terkait dengan apa-apa yang sudah diketahui sebelumnya.  Tahap ini juga hanya sekitar 5-10 menit.  Nah tahap application, dimana peserta membaca, membuat resume, presentasi atau kunjung karya atau karya kunjung-nya yang paling lama.  Bisa sampai 40 menit atau bahkan 60 menit, tergantung pada materi yang dibahas.  Tahap reflection, dimana fasilitator memandu membuat simpulan konsep apa yang dipelajari diteriuskan dengan extention untuk memberikan pesan apa yang perlu dikerjakan selanjutnya.  Kedua tahap ini juga hanya sekitar 5-10 menit.

Tampaknya pola I-CARE juga merupakan hal baru bagi beberapa anggota BAN-SM yang bertugas menjadi fasilitator, sehingga Bu Itje harus menjelaskan atau bahkan mensimulasikan. Namun setelah itu, semua mengatakan pola ini bagus dan pastilah peserta aktif selama pelatihan.  Saya berpesan kepada staf administrasi, jangan lupa mengecek ruangan tempat pelatihan untuk memastikan tempat duduk dapat digeser-geser karena pelatihan banyak menggunakan kerja kelompok.  Juga tidak lupa menyediakan kertas flip chart dengan spidol bagi peserta ketika mereka harus membuat resume untuk dipajang di dinding.  Juga menyediakan selotip atau sejenisnya untuk menempelkan kertas flip chart di dinding.

Pelatihan dilaksanakan di hotek Aston Bekasi Barat dan diikuti oleh 170 peserta dari seluruh propinsi.  Ketika pelatihan dimulai, muncul kendala yaitu sistem IT yang rewel saat pre test.  Pelatihan memang dirancang paperless, sehingga semua bahan diberikan dalam bentuk soft copy yang bisa diunduh di web tertentu.  Pre test juga menggunakan sistem computerized.  Sayangnya waktu pre test IT ngadat, sementara paper based tidak dapat dilakukan karena memang tidak disiapkan soal dalam bentuk kertas.

Pelatihan selanjutnya berjalan lancar.    Peserta sebanyak 170 orang dibagi dalam 5 kelas, sehingga setiap kelas terdiri dari 34 peserta dan setiap kelas dipandu oleh 3 fasilitator.   Saya kebagian memandu Kelas C bersama dengan Bu Capri (Dr. Capri Anjaya, M.Hum dan Pak Marjuki (Dr. Marjuki, MPd). Peserta tampak senang karena aktif bekerja. Beberapa peserta menyatakan dengan pola I-CARE merasa dapat memahami materi pelatihan lebih baik dari pelatihan lain yang pernah diikuti.  Saya timpali, ya memang dengan pola ini peserta belajar sendiri, fasilitator hanya memandu saja.  Bahkan seorang peserta menyatakan akan menerapakan pola saat melaksanakan pelatihan di daerah. Semoga ini merupakan penyempurnaan terhadap pelatihan yang selama ini berjalan. Seperti kata Bu Itje, tidak megurangi jam pelatihan dan menggeser dari teaching ke learning, sehingga peserta benar-benar belajar.

Tidak ada komentar: