Senin, 14 Agustus 2017

TUGAS MANUSIA MENJAWAB “WHY” DAN “HOW”



Sekitar dua bulan lalu, seorang kawan bercerita sedang risau dengan putranya. Suatu saat putranya menunjukkan youtube yang dibuat oleh artis terkenal yang saat ini sedang menjadi host suatu acara di TV.  Youtube itu intinya mengatakan sekolah itu tidak penting, yang penting tekuni apa yang kamu suka. Belajar kepada ahli tentang apa yang kamu suka.  Pada saatnya kesukaanmu itu akan menjadi keahlian yang menjadi menghasilkan dan jika kami benar-benar ahli, kamu akan menjadi orang terkenal dan kaya raya.

Saya juga ingat sebuah film pendek, entah siapa yang membuat, yang isinya mengkitik habis-habisan pendidikan selama ini.  Film pendek itu menunjukkan contoh anak muda belia yang sudah menjadi penemu ini dan itu.  Penemuan itu dilakukan secara otodidak dengan terus mencoba-coba dan bekerja keras. Seingat saya dua anak muda yang dicontohkan adalah penemu di bidang teknologi kedokteran dan teknologi robotik.

Saya juga baru saja selesai membaca buku dengan judul The Industry of The Future karangan Alec Cross. Buku itu menceritakan bahwa robot akan menjadi bagian kehidupan sehari-hari, sehingga ada satu bab yang menyarankan agar kita membiasakan diri hidup berdampingan dengan robot.  Buku itu juga menceritakan pada saatnya setiap orang dapat menitipkan sel punca pada suatu “pabrik/pusat riset” dan dengan sel punca itu, dapat diketahui apa penyakit yang mungkin dialami.  Yang sangat menakjubkan, kita akan segera memiliki pabrik organ tubuh, sehingga jika ada orang kecelakaan atau atau sebab tertentu harus mengganti organi tubun tidak perlu lagi ribut mencari donor.

Sabtu tgl 12 Agustus saya ikut rapat dan sebelum rapat dimulai diputarkan film pendek tentang kemajuan teknologi dan dampakanya pada kehidupan manusia.  Film itu meyakinkan bahwa disruption akan menjadi new normality.  Gangguan atau lebih tepatnya kekagetan adanya hal baru akan menjadi kebiasaan kita sehari-hari.  Ilmu dan teknologi akan berkembang cepat dan semakin cepat dan bahkan sering terjadi lompatan.  Pekerjaan yang bersifat dapat diprediksi akan dikerjakan oleh robot.  Semua yang sudah telah disistimatisasi akan dikerjakan oleh robot. Bagian manusia adalah mengerjakan hal-hal yang tidak dapat disistimatisasi atau menyusun sistematisasi yang selanjutkan dikerjakan oleh robot.

Merenungkan empat kejadian tersebut, sebagai guru saya jadi bingung.  Pendidikan itu secara hakiki membantu anak didik untuk menyiapkan diri menghadapi masa depan.  Trilling dan Fadel (2009) mengajarkan bagaimana merancang pendidikan dengan panduan empat pertanyaan: (1) bayangkan/prediksi seperti apa kehidupan di dua puluh tahunan ke depan, (2) jika itu sudah dapat dibatangkan/diprediksi, kemudian, pelajari apa kemampuan yang diperlukan agar anak-anak dapat sukses hidup di zama itu; (3) berikutnya bayangkan/pikirkan model belajar seperti apa yang membuat anak-anak akan belajar maksimal, dan (4) berdasar jawaban tidak pertanyaan itu, bagaimana desain pendidikan yang seharusnya.

Jika kita menghadapi situasi yang digambarkan pada paragraf 1,2,3 terus seperti apa pendidikan kita seharusnya?  Saya jadi teringat methapora bahwa kerja pendidikan itu mirip dengan geologi.  Kita mengeksplorasi potensi alam dalam geoologi dan potensi anak-anak dalam pendidikan untuk diolah dan dikembangkan.  Tentu itu harus sesuai dengan potensi yang terkandung di dalamnya.  Secara kelakar, saya sering mengatakan jangan menambang emas di Bojonegoro, tidak akan pernah ketemu.  Sebaliknya jangan menambang minyak di Cikotok tentu juga tidak akan ketemu.

Setelah kandungan potensi ditambang tentu harus diolah untuk menjadi produk yang diperlukan pasar.  Nah, pasarnya itu yang terus berubah dengan cepat seperti yang digambarkan oleh buku Alec Cross maupun film pendek yang kami saksikan pada 12 Agustus lalu.  Jika betul semua yang telah disistematisasi itu nanti menjandi tugas robot, maka tugas manusia adalah merancang apa yang dikerjakan robot.  Jadi kemampuan  berpikir analitis-sintesis, imajinasi dan kreativitas untuk menghasilkan inovasi itulah salah satu yang tidak mungkin dikerjakan robot. 

Saya jadi teringat sebuah studi Bank Dunia yang menyimpulkan bahwa harga suatu produk itu terbagi menjadi nilai bahan mentah sebesar 10%, teknologi yang mengolahnya 20%, networking yang memasarkan 25% dan 45% nilai inovasi.  Jadi memang inovasi yang memiliki nilai paling tinggi.  Nah bagaimana mengembangkan kemampuan berinovasi itulah yang harus ditumbuhkan dalam pendidikan kita.

Tidak ada komentar: