Senin, 08 Juni 2015

PENDIDIKAN SEBAGAI REKAYASA SOSIAL



Pagi tanggal 7 Juni 2015 saya diundang Lab School Unesa untuk peresmian Lab School Lidah Wetan.  Saya sangat bahagia, karena itu sejak awal saya ikut mencita-citakan.  Menurut saya, secara sosiologi daerah Surabaya Barat itu tidaklah terlalu ideal.  Di masa lalu, rumah di Surabaya Barat itu “njlirit” di kiri kanan jalan Kedurus-Menganti.  Bahkan sebagian besar di sebelah utara jalan, yaitu Babatan, Lidah Wetan, Lidah Kulon dan sebagainya.  Di sebelah utara perkampungan itu tanah tegalan yang tidak subur.  Kalau musim kemarau tampak kering dan umumnya ditanami singkong.  Saya tidak ingat pasti perkampung di sebelah utara tegalan.  Setahu saya memang sudah ada perkampungan di sekitar jalan dari Banyuurip ke Tandes, misalnya daerah Lontar dan sebagainya. Yang jelas tegalan itu cukup luas.

Di sebelah selatan jalan Kedurus ke Menganti, merupakan sawah yang ditanami padi.  Bahkan ada semacam waduk di daerah itu. Kontur tanahnya memang miring, bagian utara lebih tinggi sehingga cocok untuk tegalan. Sementara itu di bagian selatan rendah, sehingga cocok untuk sawah.

Nah ketika pembanguna perumahan berkembang pesat, tegalan di utara perkampungan itu sekarang menjadi Citra Land, Pakuwon, Graha Famili dan sebagainya.  Sebelah selatan yang dahulu sawah sekarang menjadi perumahan Prambanan dan kompleks lain yang berderet sepanang jalan dari Kedurus sampai Jeruk.  Oleh karena itu wilayah itu sekarang menjadi daerah elit dan penuh dengan perumahan kelas atas.  Juga muncul kompleks mall kelas atas dan lapangan golf juga kelas atas.  Mobil mewahpun berseliweran setiap hari.

Bagaimana masyarakat asli di kampung itu?  Tentu ada perkembangan, tetapi jauh tertinggal dari kompleks perumahan baru.  Sawah dan tegalannya sudah menjadi perumahan dan mall mewah, sehingga tentu pekerjaan petani sudah tidak lagi dapat dilaksanakan.  Bekerja sebagai apa mereka?  Saya tidak punya data, tetapi dari pengamatan sepintas sebagian besar mereka menjadi pengrajin, buka warung-toko kecil, dan juga bekerja serabutan.  Seperti cerita lama, masyarakat semacam itu belum mampu mengelola dana hasil penjualan tanah, sehingga lebih banyak dikonsumsi dan tidak menjadi modal yang berkembang cepat.

Mengamati itu, saya teringat sinetron Si Doel Anak Sekolahan, pada pada suatu episot menampilkan keluarga Si Doel rekriasi di lapangan golf dan di situ Pak Tile nyeletuk, ini dulu tanah gue.  Jadi bukan mustahil  suatu saat ada orang datang ke PTC dan di dalam mall besar itu nyeletuk, ini dulu tanah gue.

Tentu tidak ada yang salah dalam proses pembangunan itu.  Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana masyarakat mantan pemilik lahan yang sekarang menjadi rumah dan mall mewah itu juga ikut maju.  Dari kata mata pendidikan, sudahlah yang tua biar meneruskan perjalanan hidupnya dengan alamian, tetapi anak-anaknya harus mendapat pendidikan yang baik, agar segera mengejar ketertinggalan.  Itulah yang kami ajukan sebagai argumentasi ketika Unesa meminta dana pembangunan Lab School di Kampus Lidah Wetan.

Memang sudah ada sekolah di daerah itu, baik negeri maupun swasta.  Namun pengamatan saya, sekolah negeri maupun swasta di dalam perkampungan lama mutunya belum  bagus.  Sementara sekolah swasta yang ada di perumahan baru umumnya “kelas atas” yang tentu SPPnya mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat kampung lama.  Lab School Unesa di Lidah Weta diharapkan dapat menjadi jembatan.  Mutunya bagus dan dapat terjangkau oleh warga kampung lama.

Ketika diberi kesempatan berbicara dalam diskusi, argumen di atas saya sampaikan.  Bukan untuk mengatakan itu Lab School Lidah Wetan adalah ide dan rintisan kami, tetapi sekedar mengingatkan apa tujuan mendirikan Lab School di Lidah Wetan, walaupun Unesa sudah punya Lab School di Kampus Ketintang.

Saya juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekedar upaya membantu perkembangan anak didik secara individual, tetapi sekaligus merupakan bentuk rekayasa sosial.  Singapura dan Australia adalah dua negara yang sukses menggunakan pendidikan sebagai bentuk rekayasa sosial.  Kita tahu Australia penduduk Australia itu awalnya para penjahat dari Eropa yang dibuang, tetapi dalam sekian tahun mereka sudah berubah menjadi bangsa maju.  Singapura di awal kemerdekaan adalah pulau kecil dengan penduduk yang konon bertabiat buruk, kotor, penjudi dan sebagainya.  Tetapi kini telah berubah menjadi negara maju.  Keduanya menggunakan pendidikan sebagai salah satu lembaga utama pembangunan karakter bangsa. 

Bagaimana langkah-langkahnya?  Saya tidak ingin menguraikan itu.  Leih baik pembaca membuka web berbagai lembaga pendididkan di kedua negara itu dan tentu saja kementerian yang menangani bidang pendidikan. Semoga kita dapat belajar dan Lab School Unesa di Lidah Wetan dapat menjadi salah satu bagian pembangunan karakter bangsa.

Tidak ada komentar: