Senin, 04 Maret 2013

APA KARATERISTIK GURU YANG BAIK


Ketika mengisi acara seminar atau pelatihan kepada para guru, saya sering mengakhiri presentasi dengan mengutip ungkapan: “bad teacher tells, good teacher shows, great teacher inspires”.  Guru yang tidak baik bercerita, guru bagus memberi contoh, guru yang hebat memberi inspirasi.  Biasanya tidak ada yang mempertanyakan, karena caption itu saya tampilkan di akhir presentasi dan tidak saya bahas.

Dalam suatu seminar dengan topik “Guru Masa Depan”, caption itu saya tampilkan di awal dan saya elaborasi.  Akibatnya banyak yang mempertanyakan.  Ada peserta yang menyatakan bahwa para guru sudah memiliki pegangan “guru sebagai EMASLIM”, artinya guru sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator.

Saya senang peserta dapat menjelaskan guru sebagai EMASLIM.  Artinya guru sudah memahami tugas dan fungsinya, sebagai educator sampai motivator.  Itu adalah tugas atau fungsi guru.  Jadi tugas guru tidak hanya mengajar dalam pengertian menjelaskan materi ajar, memberi tugas, memberikan tugas dan sebagainya. Itu hanya salah satu tugas guru, yaitu sebagai pengajar.  Guru masih memiliki tugas lain dan lengkapnya yaitu EMASLIM.

Lantas apa hubungannya dengan ungkapan bad teacher tells, good teacher shows, great teacher inspires?   Ungkapan ini merupakan kegiatan guru saat menjalankan tugas dan fungsinya.  Jika saat mengajar, membimbing serta tugas lainnya, guru hanya bercerita “begini dan begitu” maka yang bersangkutan tergolong guru yang kurang baik.  Jika guru mampu memberikan contoh bagaimana melakukan sehingga menjadi teladan itulah guru yang baik.  Jika kemudian mampu memberi inspirasi kepada siswanya, sehingga siswa terdorong melakukan itu tanpa disuruh/diawasi bahkan terdorong berbuat lebih baik, itulah yang disebut memberi inspirasi.  Dan guru yang mampu memberi inspirasi itulah guru yang hebat.

Ketika mendapat penjelasan itu, masih ada peserta yang bertanya.  “Ya pak, itu akan seakan dampak dari bagaimana guru mengajar dan membimbing murid”.  “Lantas untuk dapat berbuat seperti itu apa modal yang diperlukan guru?”.  Saya senang mendapat pertanyaan itu, karena menunjukkan yang bersangkutan ingin belajar.  Oleh karena itu, saya mencoba menjelaskan dengan rinci sebagai berikut.  Saya teringat methapora yang digunakan oleh Gus Ipul (Wakil Gubernur Jawa Timur) sehingga saya gunakan sebagai contoh.

Kalau ingin menjadi guru yang baik, diperlukan empat bekal pokok.  Pertama, harus pandai.  Harus “lebih pandai dari siswanya”.   Jika guru kalah pintar dengan murid, dapat dibayangkan guru tersebut tidak akan dihormati atau bahkan disepelekan.  Guru yang pandai akan membuat murid percaya dan bahkan berwibawa di hadapan murid.  Wibawa karena kepandaian akan memberikan dampak besar dalam proses belajar mengajar.  Siswa akan memperhatikan penjelasan guru.   Siswa akan mengerjakan serius tugas yang diberikan guru.

Namun guru yang pandai itu tidak cukup, maka bekal yang kedua dan ini sangat penting, yaitu guru harus siap dan berusaha sungguh-sungguh membuat muridnya lebih pandai dari dia sendiri.  Artinya sang guru harus berusaha membuat muridnya lebih pandai dari dirinya.  Berarti sang guru harus siap “dikalahkan” oleh muridnya.  Jangan sampai seperti cerita guru silat, yang konon selalu “menyembunyikan” jurus pamungkas agar tidak dikalahkan oleh muridnya.

Konskwensi dari syarat kedua tadi, maka dalam proses belajar mengajar guru harus siap didebat oleh murid.  Mengapa demikian?  Karena ketika siswa didorong dan dimotivasi untuk belajar keras, mencari informasi dari segala sumber dan menggunakan pola pikir lateral, sangat mungkin siswa memiliki gagasan dan pendapat yang berbeda dengan gurunya.  Dengan demikian, guru harus siap didebat dan bahkan kalah ketika adu argumen dengan siswa.  Dan, sebenarnya ketika kalah argumen itulah, sang guru telah berhasil.  Artinya, telah berhasil membuat siswanya lebih pandai dari dirinya.

Apakah prinsip tersebut bersifat universal?  Menurut saya, ya.  Kalau siswa lebih pandai dari gurunya, berarti generasi muda lebih pandai dibanding generasi yang lebih tua.  Bayangkan, jika murid lebih “bodoh” dibanding gurunya, berarti generasi muda lebih “bodoh” dibanding generasi sebelumnya.  Berarti akan ada penurunan peradaban bangsa.

Bekal ketiga, meminjam methapora Gus Ipul, ibarat dokter tahu dosis obat yang harus diberikan kepada pasien.  Inilah sebenarnya sari pati dari pedagogik.  Yaitu, tahu bagaimana cara mengajarkan dan membimbing siswanya.  Maksudnya cara mengajar dan membimbing yang sesuai dengan karateristik siswa, materi yang sedang dipelajari dan situasi dan kondisi saat itu.  Guru harus faham karateristik siswa dan karateristik bahan ajar.  Dengan dua dasar tersebut dan dengan bekal ilmu pedagogik yang mumpuni, guru dapat menentukan bagaimana memandu siswa agar dapat belajar dengan optimal.

Bekal ke-empat, adalah kesediaan menjadi panutan atau teladan.  Perilaku keseharian guru harus dapat menjadi contoh bagi murid.  Guru harus bersedia “mengendalikan diri” agar perilakunya layak menjadi teladan siswa.  Apa itu penting?  Sangat penting.  Sudah ada pepatah lama “guru kecing berdiri, murid kencing berlari”.  Artinya, jika ada perilaku guru yang kurang baik, akan ditiru murid dan bahkan lebih jelek lagi. 

Tidak hanya itu.  Jika perilaku guru tidak baik di mata murid dan masyarakat, biasanya rasa hormat yang terbangun oleh ketiga bekal di atas akan hilang.  Wibawa yang terbangun dari kepadaian dan kemampuan mengajar seakan terhapus oleh perilaku yang tercela.  Dan jika hal itu terjadi, ketaatan siswa terhadap arahan guru akan hilang.  Semoga kita memiliki empat bekal tadi dan pada saatnya dapat memberi inspirasi kepada murid kita.  Semoga.

Tidak ada komentar: