Sabtu, 23 Maret 2013

DAYA TARIK PARIWISATA RELIGI LEBIH KUAT?


Sekian tahun lalu saya pernah diskusi dengan seorang teman tentang fenomena pariwisata di Pulau Bali.  Bali merupakan tujuan wisata paling menarik di Indonesia, baik untuk wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing.  Coba tanya anak-anak muda, kalau diberi bonus untuk berwisata dalam negeri tanpa membayar pilih kemana?  Saya yakin, sebagian besar akan menjawab ke Bali.  Demikian juga kaum orang tua.

Konon banyak orang asing yang tahu tentang Bali dan bahkan pernah ke Bali.  Tetapi mereka tidak tahu Indonesia.  Paling tidak, baru tahu Indonesia ketika di Bali. Mereka tidak tahu kalau Bali itu salah satu pulau di Indonesia.  Kalau toh mereka tahu, ya hanya tahu Bali itu di Indonesia.  Mungkin mereka pernah ke Bali, tetapi sama sekali tidak tertarik berkunjung ke wilayah lainnnya.

Topik diskusi saya dengan seorang teman tadi, mengapa Bali menjadi tujuan wisata yang begitu menarik.  Apakah pemandangan alamnya yang sangat bagus? Atau pantai Kuta yang konon bagus untuk serving? Atau adanya tarian Bali yang banyak macamnya?  Atau adanya upaca Ngaben yang kolosal itu?  Atau iklan wisata ke Bali begitu kuat, sehingga orang yang semula tidak tertarik menjadi tertarik?

Dari diskusi santai itu, saya sampai pada kesimpulan orang senang berwisata ke Bali karena budaya Bali yang khas.  Kalau pemandangan alam, rasanya Sumatra Barat dan Papua tidak kalah dengan Bali.  Pantainya indah?  Rasanya juga tidak.  Mungkin pantai di Jayapura dan Kupang tidak kalah indah.  Di Sulawesi Tenggara akan temoat serving yang lebih bagus.  Tariannya beragam?  Rasanya tari-tarian di Jawa lebih banyak dibanding di Bali.  Upacara ngaben khas?  Iya, tetapi toh upacara ngaben tidak ada setiap saat. Orang tetap datang ke Bali, walupun waktu itu tidak ada acara ngaben.

Lantas mengapa kami, saya dengan teman tadi, sampai pada kesimpulan orang datang ke Bali karena Budaya?  Budaya Bali sangat khas.  Budaya Bali bersumber dari ajaran Agama Hindu yang menyatu dengan adat-istiadat membuat kehidupan di Bali sangat khas. Di setiap sudut desa ada pura.  Upacara keagamaan sangat banyak.  Tarian dikaitkan dengan nilai-nilai keagamaan, sehingga seringkali mengadung ritual yang khas.

Budaya seperti itu akhirnya membentuk tata cara bermasyarakat, pola pertanian, pola kesenian dan segala aspek pola kehidupan menjadi sangat khas.  Coba kita amati, lukisan, patung, pola pertanian dan peternakan, cara memandang pohon besar, batu besar dan apa saja selalu diwarnai dengan nilai-nilai keagamaan.

Mungkin saja kita tidak menyadari itu.  Ketika kita ke Kuta kok ada pecalang yang menjaga pantai, sehingga menarik perhatian.  Kemana kita pergi selalu ketemu pura besar maupun kecil.  Kemanapun kita pergi kita selalu ketemu orang Bali yang berpakaian khas, karena ada upacara.  Menurut kami, itulah yang menyebabkan Bali menarik untuk dikunjungi.  Belum lagi, masyarakat Bali yang sangat terbuka dan tidak melarang wisatawan untuk membaur dengan masyarakat dalam berbagai aktivitas.  Dan itu ternyata merupakan salah satu nilai-nilai religi.

Muncul pertanyaan, jika Bali menjadi tujuan wisata karena budaya, apakah daerah lain yang memiliki budaya khas juga menjadi tujuan wisata kuat?  Jawabnya ya. Coba kita perhatian Jogya, Toraja dan Pagaruyung.  Ketiganya merupakan tujuan wisata yang menarik.  Jika berwisata ke Jawa Tengah tentu kita akan ke Jogya, Prambanan dan Borobudur.  Jika kita ke Sumatar Barat, tentu Pagaruyung merupakan tujuan wisata yang kuat.  Jika kita ke Sulawesi Selatan, pasti ingin ke Toraja.  Jadi ketiganya menjadi tujuan wisata kuat, karena budaya di daerah itu menghasilkan sesuatu yang khas.

Namun beberapa bulan lalu, saya berubah pendapat.  Itu dimulai ketika suatu sore (mungkin dapat disebut juga malam), saya bersama beberapa teman menyertasi Pak Nuh (Mendikbud) berkunjung ke Tebuireng.  Setelah silaturahim dengan Gus Sholah (pemimpin pondok Tebuireng/adik almarhum Gus Dur) dan menikmati suguhan makan malam, sekitar jam 10an kami diantar melihat makam  Gus Dur.  Masya Allah penziarah sangat banyak.  Kata Gus Sholah, pada hari-hari biasa penziarah sekitar 2-3 ribu orang.  Kalau malam Jum’at dan Minggu biasa sampai 10 ribu orang.

Saya jadi berpikir, begitu kuatnya minat masyarakat berziarah. Sampai akhirnya pemerintah mengatur dan memberikan fasilitas.  Dibuatkan pintu khusus, agar kehadiran penziarah tidak megganggu aktivitas pondok pesantren. Konon juga sedang mulai dibangun fasilitas parkir bis agar tidak mengganggu lalu lintas.  Juga muncul penjualan makanan dan oleh-oleh, sehingga menjadi aktivitas ekonomi yang sangat potensial.

Melihat itu, saya jadi ingat kunjungan ziarah ke makam Walisonggo.  Memang tidak sebanyak penziarah ke Gus Dur.  Namun rasanya juga cukup banyak.  Pada hal, tidak pernah ada iklan atau pengemasan wisata ke lokasi seperti itu.  Kalau toh boleh dikatakan ada promosi, hanyalah di pengajian-pengajian yang mengajak berziarah dengan alasan religius.  Jadi wisata religi tampaknya tidak kalah kuat menariknya. 

Mirip dengan itu, juga terjadi wisata religi yang lain, misalnya penziarah ke Petilasan Jayabaya di Kediri, petilasan Raja Brawijaya di Trowulan Mojokerto, Gunung Kawi di Malang, Gua Maria, dan tempat lain. Tentu dengan segmen pasar yang berbeda.  Tetapi logikanya sama, yaitu mereka mengunjungi tempat tersebut karena terkait unsur religi yang dipercayai.

Keyakinan itu menjadi semakin kuat, saat saya mencermati jama’ah umrah di Madinah dan Makah.  Saya tidak punya data yang akurat.  Tetapi dengan penuhnya masjid Nabawi saat sholat fardu, saya menduga jumlah jama’ah tidak kurang dari 5 ribu orang.  Dengan membudaknya jama’ah sholat di masjidil Haram, saya menduga jumlah jama’ah bisa mencapa 8 ribu orang.   Dan mereka itu umumnya juga melakukan wisata religi, seperti ke Arafah, Jabal Nur, Jabal Tsur, Jabal Uhud, masjid Quba dan sebagainya.  Semua lokasi itu terkait dengan sejarah Islam dan kemudian seakan menjadi bagian dari wisata religi.

Pada hal tidak pernah ada promosi untuk umrah.  Juga tidak ada promosi untuk gunung-gunung batu tanpa pepohonan atau padang pasir yang gersang.  Secara fisikal, lokasi tersebut jauh dari indah.  Saya yakin, mereka yang datang bukan ingin menikmati keindahan.  Mereka berkunjung ke gunung-gunung tersebut karena ingin “napak tilas” perjalanan Nabi Muhammad dan sejarah Islam.  Jadi terkait dengan keyakinan keagamaan.

Kembali pada kasus Bali, Jogya dan Toraja, budaya yang khas itu juga terkait dengan religi.  Budaya Bali dipengaruhi sangat kuat oleh Agama Hindu.  Toraja dengan makam-makam yang khas juga dipengaruhi oleh “Agama Todolo”, yaitu kepercayaan masyarakat Toraja tempo dulu.  Candi Borobudur merupakan salah satu produk Agama Buda.  Candi Prambanan produk Agama Hindu.  Budaya Jogya yang khas terkait dengan kraton yang dipengruhi kuat oleh Agama Islam yang mengakomodasi ajaran-ajaran Kejawen. 

Saya membayangkan berapa devisa yang didapat Arab Saudi dengan kedatangan jama’ah umrah.  Belum jama’ah haji yang sangat banyak dan bahkan pemerintah Arab Saudi membatasi.  Jama’ah umrah dan haji seakan menjadi captive market bagi hotel, toko sovernir, rumah makan dan tentu saja biro perjalanan.

Pada hal, infra struktur layanan perhotelan, transportasi dan makanan tidaklah istimewa.  Bahkan dapat dikatakan kurang memadai.  Fasilitas dan layanan hotel bintang 5 di Madinah dan Makah hanya setara dengan hotel bintang 3 di Indonesia.  Lalu lintas sangat semrawut.  Yang baik adalah jalan-jalan lebar dan mulus. Namun karena perilaku berkendara semrawut, akhirnya sering macet.  Tapi toh, jumlah jama’ah umrah terus meningkat.

Tampaknya wisastawan religi tidak mengutamakan layanan.  Namanya juga berziarah. Mereka lebih mengutamakan “manfaat spiritual” setelah melaksanakan kunjungan tersebut.  Oleh karena itu, kualitas layanan menjadi nomor dua.  Namun, kalau instrastruktur dasar seperti jalan, penginapan, transportasi dan rumah makan tersedia secara memadai, saya yakin penziarah akan semakin banyak.  Semoga teman-teman yang menekuni dunia pariwisata memikirkannya

Tidak ada komentar: