Rabu, 20 Maret 2013

BUDAYA KITA TUTUR


Pernahkan Anda mencermati apa yang dilakukan banyak orang ketika lagi nunggu bis, nunggu kereta, di ruang tunggu pesawat, di dalam kereta atau dalam pesawat?   Umumnya ngobrol atau bercanda.  Fenomena itu juga saya jumpai bersama rombongan umrah sepanjang perjalanan.  Dua buku tulisan Agus Mustofa yang dibagikan (setiap jamaah disuruh memilih dua buku secara gratis) saat manasik, tampaknya tidak menarik untuk dibaca.  Ngobrol tampaknya lebih menyenangkan.  Dan mungkin itu aktivitas bagus juga.  Dapat mengakrabkan teman yang baru kenal,  menghilangkan kejenuhan dan mengakrabkan kekeluargaan bagi yang pergi bersama keluarga.  Mungkin saat dirumah jarang punya waktu bersama-sama lebih dari 10 jam.

Memang sekarang juga banyak orang Indonesia yang membaca koran atau majalah saat nunggu sesuatu atau dalam perjalan naik kereta atau pesawat.  Ada juga yang membaca buku, tetapi jumlahnya tidak banyak.  Itulah sebabnya sekarang banyak pedagang asongan yang menawarkan koran atau majalah di terminal, stasiun dan bandara.  Bahkan beberapa penerbangan memberi koran secara gratis sekita penumpang masuk pesawat.

Apakah itu hanya ciri khas orang Indonesia?  Saya tidak faham. Mungkin mereka yang mendalami sosiologi dan antropologi atau bidang sejenis itu yang dapat menerangkan. Yang saya amati, kalau turis asing ke Indonesia dan naik kereta atau pesawat biasanya membaca sepanjang perjalanan.  Biasanya buku yang dibaca tebal dan sepertinya buku sejenis novel.  Demikian pula kalau kita naik kereta di Eropa hampir semua penumpang membaca dan hampir tidak ada yang ngobrol.  Bahkan di Belanda ada gerbong kereta yang ditulisi “Gerbong Tenang”, maksudnya jangan rebut atau berbicara keras di dalam gerbong tersebut.

Mengapa kita senang ngobrol dan tidak suka membaca?  Mungkin itulah yang oleh beberapa orang disebut bahwa budaya kita bukan budaya tulis tetapi budaya tutur.  Masyarakat kita tidak terbiasa menuliskan apa yang dia ketahui atau apa yang dia pikirkan.  Yang biasa dilakukan adalah apa yang diketahui atau yang dia pikirkan itu dituturkan (disampaikan secara lisan) kepada orang lain.

Apakah itu jelek?  Menurut saya tidak, karena menuturkan secara lisan juga salah satu cara berbagai pengalaman dan berbagi pemikiran.  Bahkan budaya tutur mungkin berkontribusi terhadap keramahan masyarakat kita.  Hanya saja, daya jangkauan penuturan secara lisan sangat terbatas hanya kepada orang yang dijumpai.  Itu berbeda dengan seandainya apa yang diketahui dan dipikirkan itu ditulis akan dibaca orang banyak.  Bahkan di era internet itu akan dibaca oleh orang “sedunia”.

Budaya tutur yang kita miliki juga membuat banyak nilai-nilai luhur yang hilang, paling tidak berpotensi untuk  hilang.   Ketika saya masih kecil dan tinggal di kampung ada kebiasaan yang disebut dengan “MOCOPAT”.  Ketika ada orang melahirkan, sampai bayi berumur 5 hari (sepasar) atau bahkan 35 hari (selapan), setiap malam ada jagongan.  Setelah isya, bapak-bapak berkumpul di rumah keluarga yang baru [unya bayi dan menembangkan apa yang disebut Mocopat tadi.

Saya pernah mencermati apa yang ditembangkan tadi.  Nadanya sederhana da tidak diiringi alat musik apapun.  Namun isi tembang itu berupa petuah dan harapan tentang kebahagian dan harapan kesuksesan sang bayi.  Tentu dengan bahasa simbul (sanepo) seperti biasanya penyampaikan harapan dalam budaya Jawa.  Sangat indah dan sangat filosofis.

Nah, kebiasaan Mocopat itu kini hampir tidak pernah lagi dilakukan.  Dan karena tidak ada tulisan atau buku yang mengabadikan, sangat mungkin pada saatnya akan punah.  Hal yang sama akan terjadi pada PRANOTO MONGSO dan sebagainya.  Saya masih ingat, almarhun ayah saya memberi tahu, kalau gadung dan uwi (jenis tumbuhan yang merambat) sudah keluar batangnya, yaitu menyebul dari tanah dan menjalar ke pohon terdekat, itu artinya sudah mendekati “labuh” atau awal musim hujan.  Dan kalau batang tersebut sudah keluar daunnya itu artinya labuh sudah datang.

Sayang nasehat seperti itu tidak ditulis dan hanya disampaikan secara lisan dan turun temurun.  Pada hal itu “ilmiah” karena keluarnya batang gadung dan keluarnya daun tadi konon terkait dengan kelembaban udara.  Ketika mendekati musin bujan dan udara lembab akan memancing tumbuhnya batang gadung dan seterusnya.

Budaya tutur yang kita miliki mungkin juga menyebabkan kita kurang senang dan terbiasa membacab dab menulis.  Itu mungkin juga berkontribusi sedikitnya karya tulis dari bangsa kita, temasuk tulisan ilmah (buku dan artikel) dari para ilmuwan.  Bahkan mungkin juga terkait dengan apa yang pernah saya tulis bahwa kemampuan menulis kita rendah.  Konon paling rendah dibanding negara tetangga.

Pada surat pertama yang diturunkan ke Nabi Muhammad adalah perintah membaca.  Saya yakin membaca dalam konteks tersebut juga dimaksudkan untuk menulis.  Apa yang dibaca kalau tidak ada yang ditulis?  Jadi membaca dan menulis adalah ajaran penting dalam Islam.  Dan yakin itu juga berlaku bagi agama lain.  Bahkan dalam peradaban umat manusia.

Jika pemikiran kita ingin diketahui orang banyak, jika budaya kita ingin dapat bertahan lebih baik, maka kita harus mulai menumbuhkan budaya tulis.  Tentu tidak harus dengan membuang budaya tutur, karena budaya tutur juga punya manfaat.  Misalnya menjadikan kita lebih ramah, karena terbiasa ngobrol dengan orang lain.  Jika budaya tulis dapat ditumbuhkan bersama mempertahankan budaya tutur, mungkin kita akan menjadi bangsa yang ramah sekaligus bangsa yang pemikirannya dikenal oleh bangsa lain.  Semoga.

Tidak ada komentar: