Minggu, 17 Maret 2013

NIAT MENENTUKAN HASIL


Saya sudah sering ketemu orang yang berangkat umrah di bandara.  Bahkan saat pergi ke Eropa Februari lalu, saya satu pesawat dengan rombongan umrah selama perjalanan dari Jakarta ke Abudabi, baik berangkat maupun pulangnya.  Saya amati pada umumnya jamaah yang akan umrah terlihat khas.  Tidak hanya pakaiannya yang biasanya serba putih atau seragam batik dengan tanda Lembaga Bimbingan Haji/Umrah tertentu.  Namun perilakunya juga tampak sabar dan santun.  Mengapa ya?

Pertanyaan itu sedikit terjawab, saat saya mengikuti manasik minggu tanggal 10 Maret lalu. Ustad Agus Mustofa, pengarang serial buku Tasawuf Modern, yang memandu manasik itu menjelaskan bahkan menyakinkan peserta bahwa ibadah umrah adalah praktek dan bukan teori.  Artinya mempraktekkan ibadah dan bukan sekedar menteorikan.  Untuk itu, niat menjadi awal ibadah yang harus dipegang teguh.  Kalau niatnya jalan-jalan nanti dapatnya ya pengalaman jalan-jalan.  Kalau niatnya ziarah ya dapatnya pengalaman ziarah.  Kalau niatnya memenuhi panggilan Sang Khalik, insya Allah menjadi tamuNya. Kalau niatnya ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, insya Allah ya akan dekat denganNya.

Ustad Agus Mustofa menjelaskan hidup adalah proses belajar dan banyak ujian.  Demikian pula selama perjalan umrah akan banyak ujian.  Orang yang menjalankan ibadah umrah akan menemuhi berbagai kejadian, bertemu dengan berbagai orang, dan semua itu merupakan proses belajar dan proses ujian.  Bejalar tentang ayat-ayat Illahi yang digelar dimuka bumi dan ujian untuk menghadapi berbagai peristiwa.  Bukankah setiap kenaikan kelas atau kenaikan jabatan ada ujian?  Mungkin ujian seperti itu juga untuk menguji apakah kita sudah waktunya naik kelas dalam keber-agama-an kita. 

Ujian tentang kesabaran, kerelaan, ketawakalan dan keikhlasan.  Kita akan diuji apakah sabar ketika menerima berbagai cobaan.  Apakah memiliki kerelaan untuk berbagi.  Apakah memiliki kerelaan untuk berkorban.  Apakah memiliki kerelaan untuk membantu orang lain.  Apakah tetap tawakal ketika apa yang diinginkan tidak tercapai.  Apakah tetap tawakal ketika menghadapi cobaan.  Apakah dapat dapat ikhlas berserah diri, ketika Sang Maha Agung membeikan takdirNya.

Mendengarkan tausiah itu, saya berpikir mungkin itu yang menyebabkan perilaku jamaah umrah tampak khas.  Mungkin niat yang kuat untuk ibadah membuat mereka sabar dan santun.  Mungkin niat yang kuat membuat mereka tidak mudah ketika menghadapi hal-hal yang kurang mengenakkan.  Saya teringat ketika pesawat Garuda terlambat lebih 5 jam di Muskat Oman, saat saya ke Eropa Februari lalu.  Banyak penumpang mengeluh, bahkan menggerutu karena kelapasan.  Namun saya amati jamahan umrah tampak tenang-tenang saja.

Saya menjadi semakin yakin akan logika itu, ketika ikut rombongan jamaah umrah.  Berangkat dari Juanda jum’at pukul 14.35 dan transit di Jakarta untuk berangkat Ke Madinah pukul 20.30.  Kami dianjurkan memakai baju putih dan celama gelap.  Menenteng tas kecil warna hijau untuk tempat paspor dan barang-barang penting lainnya.  Saya merasakan dorongan untuk berperilaku “baik” sangat kuat, karena sedang dalam perjalanan ibadah.  Apakah itu juga terjadi pada jamaah lainnya?  Saya tidak tahu. Namun pengamatan saya selama di Madinah, khususnya ketika di Masjid Nabawi tampak sekali jamaah mampu menahan diri. 

Ketika sedang sholat atau berdo’a dan dilangkahi orang, pada umumnya tenang saja.  Demikian pula digiring askar untuk bergeser juga manut saja. Bahkan ketika menunggu sholat Isya ada anak seumuran SD (mungkin berumur 8 tahubn) mengambilkan minum untuk diberikan semua jamaah di sekitarnya. Tentu dia tidak kenal siapa yang diberi, tetapi dia dengan senyum memberikan ke semua orang disekitarnya.  Mengapa begitu, mungkin teman psikolog atau yang memperlajari neuropsychology yang dapat menjelaskan.

Saya menduga, niat yang kuat akan menjadi komitmen dan akhirnya menjadi inner driver untuk mengerjakan sesuatu. Niat yang kuat tadi seakan juga menjadi kontrol diri ketika menghadapi ujian atau peristiwa yang “kurang menyenangkan”.  Niat yang kuat mungkin menjadi pegangan alam bawah sadar untuk mengontrol perilaku kita.

Memang semua itu baru dugaan saya. Sekali lagi para psikolog yang paling berwenang untuk menjelaskan.  Dan jika benar, pemaknaan prinsip dalam ibadah “innamal a’malu bin niyat”, mungkin dapat diperluas  Bukan hanya terkait dengan syah tidaknya ibadah, tetapi juga berhasil tidaknya sutau kegiatan.  Niat yang kuat menjadi inner driver seseorang untuk berusaha sekuat-kuatnya untuk mencapainya.  Dan jika hipotesis ini betul, para orang tua dan guru dapat menggunakannya menumbuhkan motivasi belajar dan motivasi kerja anak-anak.  Dan semoga dorongan berbuat baik itu uterus berlanjut dalam kehidupan keseharian. Semoga.

Tidak ada komentar: