Kamis, 21 Maret 2013

TIDAK ADA SATUPUN LAMPU YANG MATI


Bahwa masjid Nabawi itu besar dan indah rasanya sudah banyak orang yang tahu.  Masjid yang dibangun Nabi Muhammad itu semula kecil dan sederhana, namun seiring dengan banyaknya jamaah yang datang dan seiring kemajuan teknologi, kini masjid diperbesar, diperindah dan dipermodern.  Halaman yang luas, kini diberi payung raksana yang dibuka pada siang hari dan ditutup pada malam hari.

Sound sistem masjid Nabawi, menurut saya sangat bagus.  Saya tidak mengerti seperti apa teknologinya.  Tetapi yang saya rasakan, suara di setiap sudut masjid sama kerasnya.  Tidak keras tetapi suara imam sampai di seluruh pojok masjid dengan derajat kekerasan yang kurang lebih sama. Tida ada “kemresek”,  apalagi ngadat.

 Bahwa jamaah masjid Nabawi ribuan bahkan jutaan orang dapat difahami.  Saya tidak punya informasi berapa rata-rata jumlahnya.  Yang jelas selalu memenuhi masjid yang sangat besar itu.  Layanan masjid juga sangat bagus.  Di dalam masjid tersedia air zamzam yang diletakkan di drum-drum kecil.  Ada yang dingin dan ada yang tidak dingin.  Kalau kita haus tinggal ambil gelas plastic yang ada di dekat drum itu, pencel keran drum, minum dan letakkan gelas bekas ditempat yang disediakan.  Kalau pulang juga boleh mengambil air zam-zam tersebut untuk diminum di penginapan.

Yang menarik untuk dicermati, lampu-lampu di masjid sangat banyak dan indah.  Dan yang mengherankan tidak ada satupun lampu yang mati.  Waktu menyalakan sepertinya tidak bareng.  Ada yang diyalakan sepanjang waktu.  Ada yang dinyalakan waktu sore (asar) dan pagi (subuh), dan ada yang hanya dinyakan waktu malam (isya).  Namun yang saya lihat saat dinyalakan semua lampu hidup.  Artinya tidak ada satupun lampu yang dinyalakan tetapi tidak menyala.  Entah lampunya mati atau ada kerusakan.  Jadi intinya semua lampu menyala, jika memang dinyalakan.

Saya juga mengamati, tembok, pilar-pilar dan lantai sangat bersih.  Tidak tampak debu yang menempel.  Saya beberapa kali bersandar di pilar saat membaca Al Qur’an dan tiangnya bebas dari debut.  Gantungan lampu yang berwarna kuning (konon dilapis emas) juga tampak bersih mengkilat.  Tidak ada coretan di tembok ataupun pilar.  Tembok dan pilar sangat sederhana hiasan dan tata warnanya, tetapi tampak bersih dan terpelihara.

Untuk  lantai saya mengamati selalu dipel setiap malam.  Saat setelah sholat Isya dan sebagian besar jamaah sudah pada keluar (jam 22an) robongan alat pembersih (pengepel dengan mesin) masuk ke dalam masjid.  Petugas vacuum karpet terus bekerja sepanjang waktu.  Namun saya tidak tahu kapan pilar-pilar itu dibersihkan.  Dan juga bagaimana dan kapan lampu dan gantungannya yang jumlahnya sangat banyak itu dibersihkan.

Dalam hati timbul pertanyaan, bagaimana manajemen pemeliharaan masjid Nabawi ya.  Masjid sebegitu besar dengan jamaah ribuan orang dan tidak pernah terputus.  Konon masjid ditutup jam 23 dan dibuka  lagi jam 03 dini hari.  Perilaku jama’ah juga sangat beragam, karena mereka datang dari berbagai negara.  Petugas pembersian sepertinya juga bukan orang Saudi Arabia.  Mungkin orang-orang dari Afrika atau dari Pakistan dan Banglades.

Saya yakin ada konsep manajemen pemeliharaan masjid yang bagus dan kemudian dilaksanakan secara konsisten.  Memang dana tidak menjadi masalah bagi pemerintah Arab Saudi.  Tetapi kalau manajemennya tidak bagus saya ragu apakah uang yang banyak dapat membuat situasi fisik gedung dan sarana masjid begitu prima.  Dengan pula layanannya.  Bagaimana itu dapat terjadi?

Saya menduga, sekali lagi menduga ada beberapa faktor yang menjadi penopang fenomena tersebut.  Pertama, memang ada tekat kuat dari pemerintah untuk memberikan layanan terbaik kepada jamaah.  Buktinya, segala keperluan jama’ah selama di lingkungan masjid disediakan dengan kondisi yang prima.  Air minum ada, toilet sangat bersih, karpet tebal dan bersih, lampu sangat terang untuk membaca di segala sudut masjid.  Bahkan di halaman disediakan blower yang pada siang hari (waktu panas) keluar semburan air dan dihembus bolwer.  Oleh karena terasa sejuk di sekitar blower tersebut.

Kedua, ada konsep manajemen yang bagus.  Alur pekerjaan pemeliharaan sepertinya sangat prima.  Saya melihat penyedopan debu pada karpet berjalan sepanjang waktu.  Dan sungguh menarik bagaimana mereka melakukan pekerjaan di saat aktivitas di masjid tidak pernah berhenti.  Hanya untuk pengepelan sepertinya menggunakan mesin dan dilakukan di malam hari.

Ketiga, tentu didukung dengan dana besar.  Mungkin pemerintah Arab Saudi secara ekonomi juga sangat diuntungkan dengan kedatangan jamaah.  Bayangkan kalau setipa hari ada 5-10.000 jamaah, berarti turisme yang luar biasa besar.  Apalagi pemerintah Arab Saudi tidak perlu membuat kegiatan pemasaran untuk jama’ah haji maupun umrah.

Ke-empat, konsep pemeliharaan dan layanan yang bagus tadi dilaksanakan secara konsisten.  Saya melihat petugas masjid (biasanya disebut askar) tegas.  Misalnya setiap selesai sholat, dilakukan pengaturan jama’ah yang ke raudah.  Untuk dilakukan penyekatan lokasi dengan semacam kain pembatas tebal.  Siapapun tidak boleh melanggar aturan pembatas itu.  Demikian juga saat dilakukan pengepelan lantai atau pemvakuman karpet, semua orang disitu harus pindah.  Saya lihat, pengawas (mandor) yang mengawasi pekerja juga terus mengontrol pekerjaan anak buahnya.

Kita perlu belajar bagaimana manajemen pemeliharaan seperti itu.  Bukankah di Indonesia terkenal belum punya tekat untuk menyiapkan dan menangani pemeliharaan.  Kita lebih suka membuat saja gedung dan fasilitas baru, dari pada memelihara yang sudah ada.  Semoga kita dapat belajar ke Takmir Masjid Nabawi.

Tidak ada komentar: