Senin, 05 September 2016

MENGOPTIMALKAN PRODUK LOKAL ALA KOREA SELATAN



Lima hari berada di Seoul saya menadapat suatu pelajaran yang menarik, yaitu bagaimana Korea Selatan mengoptimalkan produk lokal. Tidak jelas siapa yang melakukan dan bagaimana awalnya, tetapi sangat terasa semua produk lokal dikemas dengan baik dan dipasarkan dengan canggih pula.  Produk lokal yang ditawarkan beraneka ragam, mulai dari ginseng yang selama ini dikenal sebagai trade mark Korea, sampai berbagai jenis makanan.

Ketika mengunjungi sebuah penghasil suplemen dari ginseng, kami agak terkejut. Gedungnya sangat bagus bahkan dapat dikatakan mewah.  Begitu datang, kami disambut seorang wanita muda dengan usia sekitar akhir 20an atau awal 30an dan pandai berbahasa Indonesia.  Ternyata dia memang orang Indonesia.  Oleh petugas tersebut kami diajak keliling melihat foto-foto besar yang menunjukkan bagaimana bentuk tanaman ginseng dan bagaimana menanamnya.  Di suatu sudut juga dipajang tanaman ginseng yang konon berusia 6 tahun dan diawetkan akan sebuah bejana berisi arak. Wanita tadi dengan sangat fasih menjelaskan.

Terakhir kami dibawa masuk ke dalam suatu ruangan yang sangat indah.  Di dalamnya sudah menungu seorang pria muda dan wanita muda lainnya.  Keduanya juga fasih berbahasa Indonesia.  Ketiganya, kemudian secara bergantian menerangkan berbagai produk yang dijual dengan penjelasan sangat baik tentang kasiatnya.  Tampak sekali mereka sangat terlatih, berpenampilan bagus dan dilengkapi dengan peralatan lengkap, sehingga kami yang mendengarkan sangat terkesan.

Ginseng yang ditawarkan sudah berupa produk olahan dengan kemasan sangat baik.  Pada hal, tahun 2008an saat saya ke Korea Selatan saat itu, ginseng banyak dijual masih berupa ginseng mentah, ginseng goreng, ginseng yang direndam di cairan tertentu. Jadi sekarang sudah jauh berbeda. Yang juga mengherankan produk suplemen ginseng dijual dengan harga dolar Amerika, sehingga mengesankan produk bertaraf internasional.  Orang yang semula tidak tertarikpun dapat menjadi tertarik, dengan situasi seperti itu.

Produk suplemen kedua yang kami kunjungi red pines (pinus merah). Persis seperti di produk ginseng, gedungnya juga sangat mewah.  Kami juga dijemput dan dilayani oleh wanita muda dari Indonesia.  Bahkan di toko yang memproduk red pines, pengunjung diajak mengetes kondisi pembuluh darah. Mengapa?  Karena keunggulan suplemen red pines (konon) membersihkan kerak/plag kolesterol yang menempel dalam pembuluh darah.  Caranya, pengunjung diminta menempelkan jari kelingking kiri (konon yang terdekat dengan jantung), kemudian ditunjukkan tayangan di layar TV.  Tampak ada semacam batang-batang kecil dan itu dijelaskan sebagai kerak dari kolesterol yang menempel di dinding pembuluh darah.

Setelah itu, wanita muda yang melayani kami, dengan sangat meyakinkan melakukan demonstrasi bagaimana produk suplemen red pines mampu menghancurkan kerak/plag kolesterol yang menempel di dinding pembuluh darah.  Caranya, dia mencuil foam menjadi butiran kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam gelas berisi air.  Setelah itu, ke dalam gelas tersebut diteteskan cairan suplemen dari red pines.  Setelah diaduk ternyata foam tersebut hancur. Seperti itulah konon suplemen red pines menghacurkan plag kolesterol.  Dengan gedung yang mewah, peralatan yang canggih, suplemen red pines yang dikemas dengan sangat baik, dan ditawarkan oleh penjual yang terlatih baik, bukan mustahil pengunjung menjadi tertarik.

Siapapun yang pernah ke Korea tentu mengenal kimchi, karena menjadi makanan pembuka andalan di Korea.  Apapun makanannya, selalu ada kimchi sebagai pelengkap.  Bagaimana Korea Selatan menawarkan kimchi?  Ternyata pegunjung diajari bagaimana membuatnya.  Kami berenam, begitu datang sudah disediakan enam piring berisi sawi putih dan sambal.  Di sebelahnya diletakkan sarung tangan dari plastik tipis dan celemek berwara merah.  Diawali dengan penjelasan singkat, kemudian kami dipandu membuat kimchi dan difoto.  Tentu kami senang dan bangga mendapat kesempatan membuat kimchi.

Di tengah rasa senang dan bangga, kami disuguhi hasil olahan rumput laut.  Jadi yang ditawarkan bukan kimchi tetapi rumput laut.  Ada beberapa jenis makanan olahan rumput laut.  Hampir semua rombongan, termasuk saya membeli.  Harganya tidak mahal, rasanya enak dan ditawarkan ketika hati sedang berbunga-bunga karena behasil membuat kimchi.   Apakah itu sudah dipelajari dengan pendekatan psikologi pemarasan?  Jujur saya tidak tahu.  Mungkin teman-teman yang mendalami marketing yang dapat menjawab.

Karena di Seoul selama lima hari, temu kami berkali-kali makan. Oleh guide lokal kami selalu diajak makan khas Korea Selatan, misalnya sop ayam ginseng, ayam babercue ala Korea, sop jamur ala Korea dan sebagainya.  Restoran tempat makan, cukup sederhana tetapi bersih dan begitu kami datang, meja untuk kami telah siap dan beberapa menit makanan segera dihidangkan.

Kami juga berkesempatan ke toko kosmetik produk lokal Korea Selatan.  Di toko itu dijual antara lain kosmetik dari Lidah Buaya, dari daun teh, dari berbagai tumbuhan lain yang saya tidak tahu.  Juga ada kosmetik dari keong merah (atau keong emas-saya lupa).  Yang menarik, foto besar bahan kosmetik itu dipajang dan dengan fasil penjual menerangkan bagaimana proses pengolahan dan tentu terutama manfaatnya.  Tentu dengan prinsip “kecap selalu nomor satu”.  Tidak segan-segan beberapa penjual mengatakan “mengapa kulit wanita Korea putih mulus karena kasiat kosmetik itu”.

Saya tidak tahu apakah di rIndonesia penjualan kosmetik seperti Mustika Ratu, Sari Ayu dan sejenisnya juga seperti itu.  Saya juga tidak tahu apakah kita sudah mengemas rumput laut seperti di Korea Selatan. Saya juga tidak tahu apakah Indonesia yang sangat kaya jenis makanan dapat dikemas dan dipopulerkan seperti di Korea Selatan. Yang saya tahu (ini mungkin salah), produk UMKM kita baru ditawarkan lewat pameran atau stan milik Dinas Koperasi yang tidak begitu menarik. Makanan kita juga masih dijual secara tradisional.  Saya tidak merendahkan bangsa sendiri, karena saya bangga sebagai bangsa Indonesia.  Namun secara jujur saya mengatakan, tampaknya kita perlu belajar kepada Korea Selatan bagaimana mempopulerkan produk lokal kita.  Saya tidak tahu dan tidak ahli, tetapi saya menduga Korea Selatan mengoptimalkan produk lokal dengan sungguh-sungguh dengan rancangan komprehensif dan melibatkan segala potensi (mungkin di Indonesia-Dinas-dinas).  Semoga kita menjadi pebelajar yang cerdas dan segera mengejar atau bahkan melebihi Korea Selatan.  Semoga.

Tidak ada komentar: