Minggu, 06 Oktober 2013

AKIL, RUDI, LHI DAN ZAMAN EDAN

Melihat TV dan membaca koran tentang Ketua MK, Akil Mochtar yang ditangkap KPK saya tercenung lama.  Apalagi ketika diketahui di ruang kerjanya ditemukan ganja dan ekstasi.  Saya terus ingat Rudi Rubiandini (RR), ketua SKK Migas yang juga ditangkap dengan dugaan korupsi.  Sebelum itu Lutfi Hasan Ishaq (LHI), saat itu Presiden PKS juga ditangkap KPK dengan masalah yang sama.

Sebagai seorang guru, saya tidak begitu faham tentang bagaimana KPK dapat melakukan operasi tangkap tangan suap.  Biarlah itu menjadi salah satu kecanggihan KPK untuk dalam memberantas korupsi.  Yang terus mengganggu pikiran saya, mengapa mereka itu korupsi.

LHI adalah presiden PKS yang kata banyak orang merupakan partai dakwah.  Beliau sendiri seorang ulama.  Mengapa sampai korupsi?  RR adalah profesor dan dosen teladan ITB.  Seorang ahli perminyakan yang ketika awal-awal terjadi semburan lumpur Lapindo, banyak menyampaikan pendapat kepakarannya. Mengapa dia korupsi?  AM adalah doktor Ilmu Hukum, Ketua lembaga pengadilan “khusus” yang berwewenang menyatakan apakah undang-undang saha atu tidak.  Pasti AM faham larangan menerima suap, mengapa tetap melakukan?

Mengapa orang-orang hebat itu terjerat korupsi?  Dua diantaranya doktor, bahkan yang seorang profesor. Satu lagi da’i dan presiden “partai dakwah”.  Saya membayangkan ketiganya orang yang punya kemampuan hebat dan tentu punya idealism tinggi.  Kalau tidak, mana mungkin dipercaya mengemban jabatan seperti itu.

Sekali lagi, mengapa mereka korupsi?  Apakah penghasilannya belum mencukupi kebutuhan hidupnya? Jawa Pos memuat infomasi penghasilan mereka,  Menurut saya sudah sangat cukup. Apakah godaan begitu tinggi, sehingga ketiganya tidak mampu lagi menjadi idealism?   Saya jadi teringat “peringatan” Ronggowarsito yang sangat terkenal dengan judul Zaman Edan.  Ijinkan saya mengutipnya secara utuh termasuk terjemahan yang saya ambil di Wikipedia.

amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan, yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada.

(menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila), tidak akan mendapat bagian, kelaparan pada akhirnya, namun telah menjadi kehendak Allah, sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada).

Rasanya peringatan Ronggowarsito itu tepat.  Saya mulai membayangkan pola kehidupan sekarang yang “serba wah” dan sangat materialistik.  Kata orang itu disebut hedonis.  Kesenjangan hiduo juga sangat lebar.  Saya teringat beberapa tahun lalu  diundang “lembaga asing” makan siang di suatu tempat di Jakarta.  Karena sudah makan, saya hanya memesan minum dan disodori daftar menu minuman.  Saya memesan jus jambu dan saya lirik harganya 150 rb.  Kalau makan berapa ya?  Saya membayangkan berapa biaya yang dikeluarkan kalau orang sering maka di tempat seperti itu.

Saya pernah membaca koran saat ada pameran mobil mewah di Jakarta, konon yang memesan sangat banyak.  Pada hal harganya milyaran rupiah.  Dan konon di rumah pengusaha yang menyuap AK terdapat beberapa mobil mewah dengan harga milyaran rupiah.  Koran juga pernah memuat ada pengacara yang memberi hadiah ulang tahun anaknya sebuah mobil Ferari.  Kata orang di tempat parkir Gedung DPR juga banyak mobil mewah.

Saya membayangkan RR, LHI dan AM sering berhubungan dengan para konglomerat yang mobilnya mewah, rumahnya mewah, memakai arloji yang mewah, makan di tempat yang mahal dan sebagainya.  Jangan-jangan terus tergoda dan berguman: “edan-lha dia saja yang tanggungjawabnya tidak seberat saya punya………..apa saya………….” Kalau menggunakan istilah Ronggowarsito “kalau tidak ikut gila, tidak kebagian……..”

Semoga kita dapat belajar dari peristiwa itu dan tetap berpegang pada nasehat Ronggowarsito: “sebahagia-bahagianya orang yang lupa tetap lebih bahagia orang yang ingat dan waspada”.  Bahagia itu letaknya bukan di harta tetapi di hati.  Orang tidak akan pernah puas dalam harta, “seandainya sudah memiliki emas sebesar gunung Uhudpun akan minta gunung emas berikutnya”.  Pengendalian diri menjadi kunci.  Semoga Sang Khaliq membimbing setiap langkah kita.

Di samping itu para pengatur negara perlu memikirkan bagaimana caranya agar kemewahan hidup tidak menggoda para pejabat negara.  Bagaimana agar terjadi pemerataan lebih mengedepan, sehingga kesenjangan tidak terlalu lebar.

Tidak ada komentar: