Kamis, 27 Juni 2013

KARGOORLIE: TAMBANG EMAS YANG ADUHAI

Semula saya enggan ikut ke Kargoorlie.  Memang ada kampus Western Australia School of Mines (WASM) untuk Departemen Mining dan Metallurgy.  Sekolah Pertambangan (S1,S2,S3) terbaik di Australia dan konon “sekelas” dengan yang di Colorado Amerika Serikat.  Tetapi jaraknya 600 km dari Perth kearah timur dan berada di gurun pasir dan menyatu dengan lokasi pertambangan. Penempatan kampus disitu dengan maksud mendekatkan dengan industri terkait, agar mahasiswa dapat menggunakan fasilitas yang relevan.

Namun setelah mendapat penjelasan dari beberapa teman bahwa Kargoorlie merupakan model pertambangan emas yang sangat baik, saya tertarik untuk ikut.  Walaupun harus menunda kepulangan ke Indonesia dan tidak dapat ikut melihat ujian keterampilan calon mahasiswa baru.  Kami terbang dari Perth jam 10.45 dan sampai di Kargoorlie pukul 11.45. Waktunya makah siang.  Namun karena acara cukup padat, jadi kami tidak sempat makan siang.  Untungnya sarapan di bandara Perth cukup “besar” dan di pesawat dari roti, jadi cukup untuk mengganjal perut di siang hari.

Dari bandara kami langsung ke WASM dengan menumpang mobil sewaan dengan sopir mahasiswa WASM dari Kashmir.  Saya duduk di samping sopir sambil mendengarkan cerita sang sopir, yang dengan semangat bercerita penderitaan masyarakat di sana.  Tentang itu sudah sering kit abaca, namun yang baru saya dengar adalah bahwa 20% wilayah Kashmir sudah menjadi bagian dari China.

Di WASM kami ditemui oleh Prof Stephen Hall, direkturnya dengan beberapa staf lain.   Kita dapat informasi menarik.  Kargoorlie ternyata bukan desert (padang pasir) tetapi woodland. Lahan yang banyak ditumbuhi pohon, walaupun relatif kecil dan tidak rapat seperti hutan.   Jadi seperti lahan yang di sana-sini banyak pohon setinggi kurang lebih 20 m, dengan diameter pohon hanya sekitar 30 cm.  Di sela-sela pohon tersebut tumbuh semak yang mirip dengan semak di daerah tandus.

Kargoorlie mulai dibangun awal tahun 1900an, bersamaan dimulainya eksplorasi tambang emas.  Konon sebelumnya juga sudah ada penduduk asli.   Tentunya suku Aborigin.  Kami juga berkesempatan melihat sekelompok mereka duduk-duduk di bawah pohon. Namun seiring perkembangan tambang emas yang sangat besar, pada akhirnya penduduk Kargoorlie menjadi multi ras dan yang dominan tentu kulit putih.  Namun ketika melihat data staf pengajar di WASM, ternyata sangat  beragam.  Ada orang Jepang, China, India, Timur Tengah.  Juga da orang Indonesia, Dr. Adrian, alumni S1 ITB dan S2, S3 dari perguruan tinggi di Australia. Juga banyak mahasiswa Indonesia yang studi di WASM.  Waktu jamuan sore kami bertemu dengan mereka.  Ada sekitar 7 orang mahasiswa Indonesia yang hadir.

Wilayah Kargoorlie ternyata cukup luas dan asri.  Walaupun penduduknya hanya sekitar 22.000 orang, tetapi jarak dari ujung-ke ujung sekitar 8 km.  Perumahan tertata rapi dengan halaman cukup hijau.  Pertokoan dan fasilitas perbelanjaan juga tersedia.   Kami juga menjumpai ada beberapa toko mobil bekas.  Juga da hotel dan beberapa penginapan.  Pada hal, sebelumnya saya membayangkan Kargoorlie mirip daerah gersang dengan banyak bangunan industri yang mengerluarkan debu.  Ternyata sangat jauh dari itu.  Kotanya bersih dan cantik.  Tampak juga fasilitas hiburan.

Kami diajak berkeliling kota Kargoorlie dengan ditemani staf WASM bernama Louis.  Dia asli Kargoorlie yang sudah bekerja di WASM selama 33 tahun, semenjak berusia 16 tahun.  Orangnya ramah dan dengan diselingi humor terus bercerita tentang Kargoorlie.  Misalnya bagaimana dia menikahi anak kepala sekolah tempat di bersekolah.  Juga bagaimana penduduk Kargoorlie dengan penduduk Bourder yang pada masa lalu tidak mau saling berkunjung.  Mereka dapat saling berbicara atau bercanda, tetapi tidak berani “melewati garis batas” daerahnya.

Salah satu lokasi spesial yang kami kunjungi adalah super pit.  Sebuah lubang sangat besar, tempat penambangan emas dilakukan sampai sekarang.  Lokasi tersebut juga difungsikan sebagai obyek wisata, sehingga pengunjung (termasuk kami) dapat melihat aktivitas karyawan mengeruk batuan dari lubang besar tersebut.  Lokasi super pit hanya sekitar 4 km dari pinggiran kota Kargoorlie.  Jalan ke lokasi juga sangat bagus, sehingga orang mudah kesana.

Dari lokasi yang diperuntukkan bagi wisatawan, kami dapat melihat lubang yang menurut Louis dalamnya sekarang sekitar 600 m.  Diamenternya sekitar 2 km.  Tampak dengan jelas jalan truk besar pengangkut batuan tambang dari dasar sampai ke puncak bukit, tempat truk keluar dari lokasi tambang.  Tampak banyak alat-alat berat yang sedang bekerja di super pit.   Juga tampak adanya debu berhamburan dari lokasi tertentu.  Saya menduga itu lokasi yang sedang ada peruntuhan dinding untuk selanjutnya dipecah-pecah dan diangkut truk.

Louis bercerita waste atau sampah sisa pengolahan emas dibuang berupa lumpur yang ditempatkan berupa gundukan batu di pinggiran kota Kargoorlie.  Louis juga menjelaskan bahwa dari 1 ton batuan rata-rata diperoleh 4,5 gram emas.  Dan kandungan emas yang berhasil diambil hanya sekitar 65% bahkan di masa lalu, ketika teknologi belum semaju sekarang, hanya 45%.  Artinya dalam gunung batu hasil buangan sisa pengolahan tersebut emas tersebut, masih ada kandungan emas cukup banyak.  Oleh karena itu, Louis saya goda, mungkin besuk gunung  batu akan dibongkar untuk mengeluarkan kandungan emas yang tersisa.  Louis hanya tertawa terbahak-bahak.

Ketika akan pulanh saya memilih beberapa buah batu kecil yang warnanya merah kehitaman dengan bintik-binting kuning mengkilat.   Di pintu bis batu tersebut saya tunjukkan Louis dan saya katakana bahwa saya yakin di dalamnya ada butiran emas yang cukup besar.   Dia hanya tertawa dan mengatakan, semoga saya menjadi orang kaya.  Saya juga tertawan dan menyimpan beberapa buah pecahan batu ke dalam tas, sebagai kenang-kenangan.

Apa yang dapat dipelajari dari Kargoorlie?  Pertama, penempatan WASM disana.  Dengan penempatan itu, mahasiswa WASM dapat “menghirup udara dan budaya pertambangan” dan tidak sekedar belajar teori maupun keterampilan.  Kedua, penataan dan pengelolaan Kota Kargoorlie  yang rapi, lengkap dan bersih.  Jauh dari kesan kota tambang yang biasanya kotor dan berdebu.   Ketiga, bagaimana memanfaatkan fasilitas pertambangan sebagai obyek wisata.  Di satu sisi turis tentu tertarik untuk berkunjung dan di pihak lain, pengelola tambang dipaksa selalu menjaga kerapian karena menjadi obyek wisata. 

Tidak ada komentar: