Rabu, 12 Juni 2013

PENELITIAN DESKRIPTIF DAN KUALITATIF ITU BERBEDA

Minggu lalu saya mendapat undangan untuk menguji disertasi di Universitas Negeri Malang.  Judulnya menarik karena terkait dengan Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya (SAIMS) yang saya ikut membidani kelahirannya.  Saya senang karena SAIMS akan menjadi bahan kajian, sehingga ditemukan apa kelebihan dan kekurangannya.  Oleh karena itu saya memutuskan untuk hadir.  Apalagi pada hari itu rapat Paguyuban Rektor PTN se Jatim, sehingga “sekali mendayung dua pulau terlampaui”.

Di rumah saya membaca disertasi yang telah dikirimkan.  Maksudnya agar dapat memahami isi disertasi tersebut dan sekaligus menyiapkan catatan, pertanyaan dan saran untuk perbaikan.  Setelah membaca saya menemukan sesuatu yang membingungkan.  Pada Bab III, tertulis bahwa penelitiannya merupakan penelitian kualitatif dengan multikasus.  Memang yang diteliti tiga buah sekolah alam.  Namun di Bab I, pada bagian fokus penelitian maupun tujuan penelitian tertulis dengan jelas bahwa tujuannya “mendeskripsikan dan menjelaskan…………”.  Di Bab IV tentang deskripsi data maupun Bab V tentang pembahasan, “why” sekolah alam juga tidak terungkap.  Saya bingung, penelitian ini deskriptif atau kualitatif dengan multikasus.

Selama ini saya memahami penelitian deskriptif dan penelitian kualitatif itu berbeda.  Penelitian deskriptif bertujuan mendeskripsikan sesuatu fenomena dengan apa adanya.  Jadi yang ingin dijawab adalah “what, where, when, who, dan paling jauh how”.  Misalnya mendeskripsikan fenomena sekolah alam dengan segala aspeknya secara rinci dari 4 H dan 1 H tadi.  Jadi sekolah alam akan dideskrisikan dari segala aspeknya. Namun terbatas pada yang “tampak” dan tidak “mengejar aspek mengapanya” 

Penelitian kualitatif dimaksudkan untuk mengungkap apa dibalik yang tampak.  Pertanyaan mendasar yang harus dijawab dalam penelitian kualitatif adalah “why”.  Mengapa fenomena seperti itu dan bukan sekedar seperti apa fenomenanya.  Dalam kasus sekolah alam, saya bayangkan penelitian kualitatif dapat mengungkap mengapa sekolah alam kok seperti itu.  Mengapa kuliukulumnya seperti itu, mengapa proses pembelajarannya seperti itu, mengapa evaluasinya seperti itu, mengapa  organisasinya seperti itu dan seterusnya.  Intinya mengungkap alasan mengapa seperti itu, kok tidak seperti sekolah pada umumnya.   Oleh karena itu, penelitian kualitatif fokus kepada aspek tertentu, bahkan kasus tertentu saja, tetapi diungkap secara mendalam.

Membaca disertasi tersebut, saya jadi meragukan diri sendiri.  Apakah pemahaman yang selama ini saya pegang, keliru?  Apakah ada perkembangan pengertian baru yang menyamakan penelitian deskriptif dan penelitian kualitatif?  Mengapa?  Karena saya sudah beberapa kali menjumpai kasus seperti ini. Disebut penelitian kualitatif, tetapi isinya lebih dekat dengan penelitian deskriptif.  Hal seperti itu sering terjadi pada skripsi S1 maupun tesis S2.  Namun ini kan disertasi, yang artinya mahasiswa sudah betul-betul memahami penelitian.  Bukankah disertasi adalah “test case” akhir calon doktor untuk membuktikan kemampuannya dalam penelitian?

Saya minta tolong istri membuka google dan mencari pengertian descriptive research dan qualitative research.  Alhamdulillah ditemukan penjelasannya.  Penjelasan kedua jenis penelitian itu ya seperti yang selama ini saya fahami.  Akhirnya, penjelasan di google itu di-print dan saya bawa untuk diberikan kepada promovendus saat ujian.

Sebelum ujian dimulai, saya berbincang dengan promotor utamanya, yaitu Prof. Sonhaji KH yang kebetulan kenal baik.  Saya sampaikan kebingungan saya dan ternyata beliau juga sependapat.  Oleh karena itu, saya mempertanyakan apakah promovendus belum faham perbedaan penelitian kualitatif dan penelitian desktiptif atau sebab lain.

Dari deskripsi data pada Bab IV juga tampak bahwa data yang disajikan belum mencapai data jenuh (saturated data).  Dari informan yang diwawacarai juga tampak kalau peneliti tidak menggali data sampai kepada infoman kunci (key informant).  Jadi wajar kalau data yang disajikan terkesan data “setengah matang” dan simpulannya juga terkesan tidak tuntas.  Akibatnya proposisi yang diajukan juga terkesan “menggantung”.

Pada sesi tanya jawab, saya mencoba mengorek mengapa itu terjadi.  Namun promovendus cenderung pasif dan tidak menjawab secara jelas.  Kesan saya, promovendus tidak memahami secara utuh beda antara penelitian deskriptif dan penelitian kualitatif.  Ini yang menurut saya merisaukan dan kalaunini gejala umum harus segera dibenahi.  Sekali lagi disertasi merupakan bentuk unjuk kinerja puncak dalam penelitian sebelum seseorang dinyatakan lulus sebagai doktor.

Pengalaman membimbing anak S1 dan S2, banyak mahasiswa memilih penelitian kualitatif karena “takut” statistik.  Jadi mereka menentukan metoda penelitian bukan dari masalah yang diteliti, tetapi karena “tidak mau ketemu statistik”.   Pada hal, metoda penelitian itu ibarat pisau.  Kita memilih pisau tergantung dari apa yang akan dipotong dan akan menjadikan potongannya seperti apa.  Kita perlu pisau berbeda untuk memotong kayu, memotong daging dan memotong sayur.  Untuk memotong daging juga diperlukan pisau yang berbeda, ketika daging akan dibuat dendeng dengan irisan tipis-tipis atau dibuat rawon dengan potongan besar-besar atau dibuat semur dengan daging cincang.  Semoga kita dapat memluruskan fenomena yang keliru tersebut.

Tidak ada komentar: