Rabu, 26 Oktober 2016

KEBUTUHAN ATAU KESADARAN YA?



Ketika membantu bersih-bersih di rumah anak di Edinburgh, saya menemukan botol berisi biji-bijian. Ada beras, ada semacam gandung dan berbagai bijian lain.  Tempatnya botol kaca yang mungkin bekas botol selesai atau sejenis itu.  Saya agak lama mengamati, karena bingung itu bijian apa dan untuk apa disimpan di almari bareng perlengkapan dapur.  Apa untuk dimasak?  Kalau ya, mestinya tidak dicampur seperti itu.  Apa itu sisa?  Jika ya, untuk apa disimpan.

Karena tidak menemukan jawabannya, saya bertanya kepada Kiki-anak saya, untuk apa bijian-bijian itu.   Jawabannya dan penjelasannya sungguh mengagetkan.  Biji-bijian untuk dipersiapkan untuk makanan burung ketika musim dingin (winter) tiba. Di musin itu sangat sedikit pohon yang berbuah, sementara tanah akan banyak salju.  Dahulu ketika belum banyak perumahan dan masih banyak pohon-pohon besar, burung masih dapat mencari buah-buahan dari pohon seperti itu.  Sekarang pohon besar sudah banyak berkurang, karena ditebang dan lahannya untuk perumahan.  Oleh karena itu, agar burung tidak mati kelaparan pada musim dingin, orang pada memberian makanan.  Sambil menunjuk ke rumah sebelah, Kiki menunjukkan bahkan tetangga sebelah memiliki tempat untuk menaruh makanan burung itu.  Mirip kandang merpati, dengan tinggi sekitar 1,5 meter, lebih kecil dan tidak punya dinding.

Mendengar penjelasan itu, isteri saya berkomentar “di rumah tenggilis juga da tampah yang digantung di lantai atas dan disitu diletakkan nasi basi”.   Memang itu benar, namun rasanya alasannya berbeda.   Di kampung saya, Tenggilis Mejoyo Surabaya, mungkin banyak orang yang menjemur nasi basi dan membiarkannya dimakan burung.  Namun saya menduga, tujuannya bukan memberi makan burung, tetapi agar nasi basi dapat dimanfaatkan.  Sedangkan di Edinburgh, orang yang menaruh makanan burung di luar rumah bertujuan agar di musin dingin burung tetap mendapatkan makanan, sehingga tidak mati kelaparan.

Selesai itu, saya mencoba mengingat kejadian di kampung saya, pedesaa pinggiran Ponorogo, tahun 1960 akhir atau tahun 1970an.  Waktu itu hama tikus merajalela dan merusak segala macam tumbuhan yang ditanam petani.  Padi, kedele, jagung hampir tidak ada yang panen.  Kemudian muncul pestisida, yang kalau tidak salah nama endrin.  Petani berusaha membasmi tikus dengan racun itu. Caranya endrin dicampur dengan berbagai bahan atau makanan yang diyakini disenangi tikus.  Seingat saya, tikus memang berkurang, tetapi burung-burung juga banyak yang mati.  Mungkin ikut makan racun yang sebenarnya untuk tikus.  Seingat saya, waktu itu burung perkutut, derkulu, dan burung-burung lain yang biasanya banyak bertebangan di kebun hampir tidak ada lagi.  Kicau burung yang biasanya ramai di pagi hari juga sangat jarang terdengar.

Saya tidak tahu pasti bagaimana persaan masyarakat saat itu.  Seingat saya, kami-orang di pedesaan itu, juga tidak pernah memikirkan. Tidak merasa kehilangan atau risau denga tidak banyaknya burung di sekitar rumah.  Memang kami sering “rasan-rasan” tentang burung yang banyak mati karena makan racun tikus.  Namun seingat saya, kami tidak pernah risau dan tidak merasa bersalah dengan kejadian itu.

Baru sekitar awal tahun 1990an ketika burung kembali banyak, saya gembira ketika di RT kampung kami ada larangan menembak burung.  Saya pikir ada kemajuan pemikiran, agar burung tidak habis lagi.  Lebih gembira lagi, ketika larangan seperti itu sekarang banyak diterapkan di berbagai lokasi dan kampus.  Tampaknya kehadiran burung di sekitar rumah telah menjadi kenikmatan yang dibutuhkan orang-orang di kampung, baik di Ponorogo maupun Surabaya atau daerah lain.

Kembali pada fenomena memberi makan burung pada musim dingin di Edinburgh, itu karena masyarakat memerlukan kehadiran burung sebagai bentuk kenyamanan lingkungan atau karena kesadaran masyarakat untuk memberi makan burung agar mereka tidak mati kelaparan di musim dingin.  Pada alasan pertama, burung difahami sebagai bentuk hiburan yang harus ada, sedangkan yang kedua burung difahami sebagai makhuk yang harus dijaga kehidupannya.  Jujur saya tidak tahu.

Tidak ada komentar: