Jumat, 21 Oktober 2016

TIDAK MUDAH MENJADI GURU “SMK” DI JERMAN



Istilah SMK pada judul tersebut diberi tanda petik (“) karena apa yang dinamakan Vocational Education and Training (VET) School di Jerman tidak sepenuhnya sama dengan SMK di Indonesia. Pembahasan tentang persamaan dan perbedaan keduanya tidak dilakukan dalam tulisan ini, karena memerlukan uraian yang panjang dan cukup rumit.  Jujur, walaupun sudah 2 minggu di Bermen, sampai saat ini saya belum dapat membuat gambaran tentang itu secara utuh, karena terkait dengan sistem pendidikan dan budaya Jerman yang berbeda dengan Indonesia.  Mudah-mudahan sebelum balik ke kampung halaman di akhir bulan ini, saya sudah menemukan jawabannya dan bisa berbagi dengan pembaca.  Untuk keperluan cerita tentang guru berikut ini, sementara anggap saja VET School di Jerman sama atau paling tidak sejenis dengan SMK di Indonesia dan untuk sementara digunakan istilah VET school.

Di Jerman semua atau hampir semua sekolah dan universitas adalah sekolah/perguruan tinggi negeri. Dengan demikian VET school, paling tidak yang saya ketahui, semuanya sekolah negeri.  Oleh karena itu guru di VET school termasuk civil servant, seperti pegawai negeri sipil  di Indonesia.  Profesi guru di Jerman cukup bergengsi.  Gajinya cukup baik, memperoleh jaminan sosial dan kesehatan secara penuh, sehingga banyak anak muda ingin menjadi guru.






Namun demikian perlu diketahui, untuk menjadi guru-apalagi guru VET schools di Jerman tidaklah mudah.  Gambar di atas menunjukkan bagaimana tahapan yang harus dilaluinya.  Untuk dapat mendaftar ke universitas yang menyiapkan calon guru VET school (anggaplah sama dengan Fak Teknik di LPTK di Indonesia), seseorang haruslah memiliki pengalaman kerja di DUDI.  Jika ada lulusan gymnasium (anggaplah sama dengan SMA di Indonesia) yang ingin masuk, mereka harus mengikuti program apprenticehip (magang) di DUDI minimal 1 tahun.  Itupun harus pada program apprenticeship yang baik dan pada bidang keahlian yang sama dengan yang akan ditempuh di universitas.  Oleh karena itu, mahasiswa pada Fak Teknik LPTK di Jerman pada umumnya mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja di DUDI.  Bahkan ada beberapa diantaranya meister (teknisi ahli/supervisor di workshop).

Guru di Jerman, baik guru sekolah umum (gymnasium) maupun SMK (VET school) harus memiliki pendidikan minimal master (S2), yang khusus untuk calon guru. Jadi lulusan S2 “murni” tidak dapat menjadi guru.  Di Jerman, program S1 dan S2 seakan menerus, karena memang sebelum “dipaksa” mengikuti pola Bologna process, Jerman hanya mengenal satu jenjang program di perguruan tinggi yaitu Diploma, seperti yang banyak kita kenal bergelar Dipl. Ing.  Program itu ditempuh selama 5 tahun.  Mungkin mirip pendidikan di Indonesia sebelum tahun 1978, yang bergelar Drs/Dra/Ir dan sebagainya. Waktu itu programnya juga 5 tahun dan pada beberapa perguruan tinggi dibagi menjadi dua, disebut jenjang sarjama muda dengan waktu 3 tahun dan lulusannya begelar BA/BSc/BEng, sedangkan selanjutnya jenjang doktoral/sarjana selama 2 tahun dan lulusannya bergelar Drs/Dra/Ir dan sebagainya.

Apakah ada jalur lain untuk menjadi guru VET school? Ada, walaupun tidak banyak dan itu biasanya disebut side entry.  Ada yang sudah lulus S1 atau bahkan S2 bidang “murni” dan ingin menjadi guru VET school. Untuk itu mereka dapat langsung menempuh jenjang master (S2) pada Fak Teknik LPTK, tetapi tetap harus menempuh matakuliah  kependidikan di jenjang sarjana.  Bagi maister (teknisi ahli) harus mengikuti program sarjana (S1) dengan ada pengakuan pengalaman lapangan dengan pola RPL (Recognition of Prior Learning).

Setelah lulus master di Fak Teknik LPTK, mereka masih harus mengikuti preparatory service selama 1-2 tahun yang di Jerman disebut dengan referendariat.  Pada program ini calon guru melakukan program induksi/magang di sekolah yang diakhiri dengan ujian cukup ketat.  Program referendariat sepenuhnya dikelola oleh LIS (Landes Institut fur Schule), yang walaupun bernama institut tetapi tidak ada hubungannya dengan universitas.  Jadi LIS lebih merupakan semacam Diklat untul calon guru dibawah pemerintah negara bagian (state). Jika lulus dari program referendariat, sesorang mendapatkan sertifikat sebagai lisensi untuk mengajar.  Dengan sertifikat itu, si pemilik dapat mulai mengajar di sekolah.

Nah dapat dibayangkan tidak mudahnya menjadi guru VET school di Jerman.  Harus pernah bekerja di DUDI atau paling tidak pernah magang minimal 1 tahun.  Setelah itu menempuh program S2 yang dikhususkan untuk calon guru.  Setelah itu masih harus magang di sekolah selama 1-2 tahun.  Lebih dari itu, pada setiap jenjang, S1, S2 dan Referendariat, ada ujian yang sangat ketat.  Jadi dapat difahami jika guru VET school di Jerman berkualitas baik dan banyak dijadikan rujukan negara lain.  Semoga kita juga dapat belajar dari pengalaman Jerman itu.

1 komentar:

Maharani Siswanto mengatakan...

Mohon izin bertanya pak. Kalo ingin menjadi guru sekolah dasar di Jerman apakah prosedurnya juga sama? Terimakasih