Senin, 24 Oktober 2016

SEKALI PIPIS 15 RIBU RUPIAH



Karena ke Jerman mengajak isteri, tentu tidak elok kalau hari minggu di rumah saja. Oleh karena itu, walaupun di kejar-kejar membuat  rangkuman data penelitian, hari minggu saya dan isteri jalan-jalan.  Toh punya weekly ticket, sehingga dapat naik kereta dan bus, kemana saja asal dalam kota Bremen.   Minggu pagi itu, kami memutuskan untuk melihat beberapa lokasi di sekitar pusat kota, dan dilanjutkan ke Gropelingen untuk makan siang sambil membeli kebutuhan untuk masak.  Di Gropelingen ada supermarket yang menjual daging halal.

Pada awalnya kami ingin melihat kincir angin.  Tetapi setelah kami baca informasi di internet ternyata itu hanyalah sebuah restoran yang kebetulan lokasinya di dekat kincir angin tua.  Oleh karena itu rencana ke kincir angin kami batalkan dan sebagai gantinya kami mengunjungi lokasi wisata di pinggiran sungai, yang memang disediakan untuk jalan-jalan.  Kebetulan pagi itu cerah, sehingga sangat banyak orang jalan-jalan menikmati sinar matahari.  Sebagaimana diketahui di Eropa, sinar matahari merupakan sesuatu yang “mahal”.

Sepertinya daerah itu memang dirancang untuk wisata sungai.  Ada perahu besar yang diubah menjadi restoran, ada perahu yang dapat dinaiki bagi pengunjung yang ingin menyusuri sungai, ada orang-orang latihan dayung, dan di pinggiran sungai besar itu ada jalan berpaving untuk sekedar jalan-jalan.  Tentu mobil tidak boleh lewat di situ atau bahkan tidak dapat, karena untuk masuk atau turun ke jalan paving itu, orang harus melewatu tangga cukup panjang.  Di pinggiran jalan paving itu ada tempat duduk bagi yang pengin istirahat.

Saya berdua agak lama di lokasi itu.  Ikut orang-orang bule menikmati sinar matahari pagi.  Setelah puas, kami naik kembali ke jalan umum dan naik bus ke HBF (central station).  Tujuannya untuk mencari tram ke Gropelingen sambil melihat seperti ada dalamnya central station.  Selama ini kami hanya di luar saja untuk ganti bus atau tram.  Pada hal di dalamlah tempat stasium kereta antar kota yang dilengkapi dengan pertokoan khas stasiun gaya Eropa.

Karena akan ke Gropelingen dan mungkin sampai tengah hari, maka sekalian akan mencari tempat pipis di HBF.  Oleh karea itu, begitu masuk yang kami cari toilet. Kebetulan di dekat gerbang ada penunjuk arah yang berbunyi “central toilet”. Petunjuk itulah yang kami ikuti.  Namun kami tidak menemukan.  Kami mencoba naik ke platform, karena seingat saya toilet di central station Amsterdam juga di platform.  Ternyata tidak ada.  Kami turun lagi dan mencoba menyusuri petunjuk dari gerbang masuk.  Tetap tidak menemukan.  Akhirnya isteri saya bertanya kepada gadis muda yang menjual donat.

Ternyata yang tertulis di pintu toilet bukan “toilet” atau “WC”-seperti di Belanda atau “rest room”-seperti di Amerika, tetapi “sanitair”.  Itulah yang menyebabkan kami tidak menemukan.  Setelah masuk kami kaget, karena harus bayar 1 euro.  Karena tidak punya koin 1 eoro, terpaksa kembali ke penjual donat untuk tukar uang.  Jadilah kami pipis dengan membayar 1 eoro alias 15 ribu rupiah.

Pada awalnya kami tidak merasa ada yang aneh. Toh hanya 1 eoro.  Namun sambil berjalan dan melihat-lihat barang di pertokoan, kami jadi berpikir 1 euro itu kan setara dengan 15 ribu rupiah ya.  Jadi untuk pipis di HBF orang harus membayar 15 ribu rupiah.

Selesai melihat-lihat di pertokoan dalam HBF kami ke Gropelingen dengan naik tram nomer 10.  Ternyata cukup jauh.  Isteri minta kami turun di halte pas sebelum Gropelingen, karena disitulah terletak toko yang menjual daging halal.  Namun perut sudah lapar dan kebetulan lewat di depan rumah makan Turki, sehingga kami memutuskan makan siang lebih dahulu.

Kami masuk restoran kecil itu yang kebetulan lumayan ramai.   Seingat saya, di dalam meja untuk 2 orang sudah penuh, sehingga kami harus menunggu beberapa saat.  Setelah mendapat tempat duduk kami mencoba memilih makanan.  Namun karena daftar menu menggunakan bahasa Jerman, kami memilih atas dasar gambarnya. Akhirnya kami memilih makanan yang terdiri dari paduan daging ayam yg dipanggang ala kebab, kentang goreng ala McDonald dan dicampur dengan sald.

Ketika makanan datang, ya ampun porsinya “segunung”, sehingga saya dengan isteri saling memandang sambil tersenyum.  Kami beranikan bertanya, apakah bisa yang satu dibungkus dan kami akan makan satu porsi untuk berdua.  Sepertinya penjual tidak faham apa yang kami inginkan, dan terima kasih kepada pengunjung di meja sebelah yang menterjemahkan permintaan kami.  Sambil tersenyum penjual (hanya dua orang yang di situ yang meracik makanan dan sekaligus menyuguhkan, sehingga sangat mungkin mereka itu pemiliknya), membungkus makanan kami dengan grenjeng (alumunium foil) dan dibungkus lagi dengan kertas. Jadilah kami makan siang dan pulangnya membawa bontotan.

Tidak ada komentar: