Senin, 18 Februari 2013

CREDIT EARNING DAN DOUBLE DEGREE


Kunjungan saya ke Utrecht University dan Groningen University kali ini relatif agak longgar.  Saya sempat mengamati aktivitas mahasiswa di luar kelas, laboratorium dan perpustakaan.  Misalnya saat di kantin dan di beberapa lokasi mereka duduk-duduk.  Saya mencoba membanding-bandingkan dengan ingatan saya ketika mengunjungi beberapa kampus, baik di dalam maupun di luar negeri.

Di Utrecht dan Groningen, banyak mahasiswa yang membaca buku teks atau mengerjakan tugas di berbagai sudut kampus.  Diskusi kecil juga terjadi di kantin dan tempat lain.  Saya sempat melirik apa yang dibaca mahasiswa dari laptop. Kebetulan dia sedang makan sandwich di dekat saya di kantin. Waduh dengan bahasa Belanda.  Namun dari tampilan, saya dapat menduga mahasiswa tersebut sedang membaca journal online.

Saya jadi teringat diskusi saya dengan mahasiswa S3 yang mengikuti program sandwich-like di Ohio State University tahun 2010.  Saat itu diskusi sangat gayeng, karena sebagian besar dari mereka adalah dosen yang sedang menempuh S3 di beberapa universitas di Indonesia.  Ketika saya bertanya: “Apa yang membedakan perkuliahan yang Anda ikuti di Indonesia dan yang Anda lihat di sini?”   Jawabannya hampir seragam, iklim akademiknya yang berbeda.

“Memang sarana perpustakaan di sini lebih bagus, tetapi itu masih dapat dicari lewat internet”.   “Namun iklim akademik yang benar-benar membuat kami harus belajar”. “Jika kami tidak membaca, membuat resume dan berdiskusi justru menjadi aneh di sini”.  “Ketika kuliah mahasiswa di sini selalu mengajukan pertanyaan dengan mengacu bacaan mereka dari buku atau jurnal”.  “Situasi perkuliahan di sini mirip ajang diskusi untuk membandingkan hasil bacaan”.

Pak Martadi, rekan di Unesa pernah mengajukan metaphora, “beras disosoh menjadi putih bukan karena kena alu, tetapi karena gesekan satu dengan yang lain”.  Berarti, mahasiswa menjadi pandai bukan karena diajar oleh dosen, tetapi lebih karena interaksi sesama mahasiswa.  Fungsi dosen hanya memicu agar mereka berdiskusi dan berinteraksi secara akademik.  Mirip, fungsi alu ketika menyosoh beras, hanyalah membuat butiran beras bergesek satu dengan lainnya.

Harus diakui tidak mudah membangun iklim akademik.  Utrecht University, Groningen University, Ohio State University dan beberapa perguruan tinggi tenama yang berusia tua dan sudah menjadi research university mungkin sudah berhasil membangun iklim akademik tersebut.  Namun bagi perguruan tinggi baru atau yang masih berkutat dalam pengajaran (teaching university) tentu tidak mudah untuk mengembangkannya.  Sementara iklim akademik tampak mendesak untuk mendongkrak mutu lulusan.

Oleh karena itu, sambil secara bertahap mendorong perguruan tinggi membangun iklim akademik, harus diciptakan cara agar mahasiswa di perguruan tinggi “biasa” mendapat kesempatan mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi yang sudah memilii iklim akademik bagus.  Itulah yang saya maksud dengan program credit earning (perolehan kredit) bahkan jika mungkin dengan double degree (gelar ganda) atau joint degree (gelar tunggal diberikan oleh dua perguruan tinggi).

Pada program credit earning mahasiswa “Universitas X” dapat mengambil matakuliah di Universitas Y” dan kreditnya diakui.  Artinya kredit yang diperoleh dari Universitas Y diakui sebagai kredit di Universtas X. Jika perlu di transkrip disebut, diambil di Universitas Y. Tentu matakuliah tersebut yang tercantum di kurikulum pada universitas asal dan silabusnya juga hampir sama.  Dengan cara itu, mahasiswa universitas biasa dapat merasakan bagaimana  kuliah di universitas bagus dan mudah-mudahan kebiasaan itu terus dilakukan saat kembali di universitas asal. 

Credit earning tidak harus dengan universitas di luar negeri.   Dapat saja mahasiswa Unesa mengambil matakuliah di UI atau ITB.  Manfaat lain dari credit earning, khususnya bagi jenjang S2/S3,  mahasiswa dapat memperoleh kuliah atau bertemu dosen “hebat” yang cocok dengan rancangan tesis/disertasi yang sedang disusun.  Saya punya pengalaman mengisi matakuliah penunjang disertasi (MKPD) dari beberapa universitas.  Yang diperlukan adalah kesediaan kedua belah pihak dan untuk itu kebijakan dan dorongan Kemdikbud sangat diperlukan.

Untuk program double degree, Unesa sudah memiliki yaitu dengan Curtin University di Australia untuk S2 Pendidikan Matematika dan Pendidikan Sains.  Saat ini sedang dirintis untuk S2 Pendidikan Bahasa dengan Northern Illinois University.  Program S2 Internasional untuk Pendidikan Matematika kerjasama dengan Utrecht University juga segera ditingkatkan menjadi double degree.

Pada double degree, sebagian matakuliah diambil di “Universitas X”, sebagian diambil di “Universitas Y” sebagai partnernya.  Setelah lulus mahasiswa mendapatkan dua ijasah, baik Universitas X maupun Universitas Y.  Jadi mendapatkan dua ijasah dan otomatis mendapatlan dua gelar.  Program ini relatif lebih “mudah” dibanding dengan joint degree, karena birokrasi perguruan tinggi yang tidak mudah membuat satu ijasah dengan dua tanda tangan rektor.

Bagi universitas yang baru berkembang seperti Unesa, pola double degree memiliki keuntungan lain.  Unesa harus menerapkan kurikulum dan pola perkuliahan yang mutunya setara dengan partnernya di luar negeri.  Dan jika program ini berjalan cukup lama, maka mutu tersebut akan menjadi mutu Unesa.   Harapannya, dimasa datang mutu kurikulum dan perkuliahan S2 Pendidikan Matematika dan Pendidikam Sains Unesa setara dengan di Curtin University dan Utrecht University,  mutu S2 Pendidikan Bahasa Inggris Unesa setara dengan Northern Illinois University di Amerika Serikat.  Dan jika pola seperti itu diterapkan di berbagai program studi di berbagai universitas, akan mempercepat peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.  Semoga.

Tidak ada komentar: